Menurut Suwignyo (1989) yang termasuk kedalam bivalvia (pelecypoda) adalah jenis kerang, remis dan kijing. Terdapat di laut dan di air tawar. Beberapa hidup di daerah pasang surut, kebanyakan di daerah litoral, meskipun ada yang terdapat pada kedalaman 5000 m. Lingkungan hidupnya ialah dasar yang berlumpur atau berpasir, beberapa pada substrat yang lebih keras seperti lempung, batu atau kayu.
Menurut Russel-Hunter (1983) bivalvia tersebar di perairan pesisir seperti estuari, dengan dasar perairan lumpur bercampur pasir. Beberapa diantaranya hidup pada substrat yang lebih keras seperti lempung, kayu atau batu, air tawar serta sedikit yang hidup di daratan. Bivalvia seperti mussels (kepah), clamp (kerang) dan tiram merupakan anggota bivalvia yang hidup di laut. Bivalvia yang hidup di daerah estuari, yaitu beberapa jenis kerang seperti Scrombicularia plana, Macoma balthica, Rangia flexosa dan tiram jenis Crassostrea (Nybakken 1992).

 Pada umumnya moluska bivalvia adalah pemakan deposit. Secara khusus moluska bivalvia dapat beradaptasi sebagai pemakan suspensi namun tidak dapat menyaring air dengan baik pada tingkat padatan tersuspensi yang tinggi. Akibatnya walaupun bivalvia bersifat pemakan deposit tetapi cenderung untuk menghindari wilayah yang bersubstrat halus karena di wilayah ini terjadi proses pelarutan pada partikel. Namun anggota sub famili Anadarinae umumnya mampu beradaptasi dengan memanfaatkan relung hidup (niche) sebagai pemakan suspensi di wilayah perairan dengan kandungan padatan tersuspensi yang tinggi. Anadara granosa sebagai sub famili Anadarinae diklasifikasikan sebagai pemakan deposit permukaan dasar perairan (Broom 1988 in Hery 1998).
Menurut Parson (1984) Kerang adalah organisme yang hidup dengan cara menyaring makanan, (filter feeders), terhadap material yang tersuspensi di perairan atau dari sedimen .Karena mereka hanya sedikit bergerak, maka akan terpengaruh oleh adanya logam berat yang ada di sekitarnya dapat masuk dalam tubuh kerang tersebut (Hutagalung, 1991).

Unsur logam berat yang terakumulasi sebagai akibat terjadinya interaksi antara logam berat dengan sel atau jaringan tubuh organisme. Hal ini mengakibatkan kandungan logam berat dalam tubuh kerang tersebut akan lebih tinggi dibandingkan dengan lingkungan sekitarnya (Webb, 1999). Apabila manusia mengkonsumsi kerang yang mengandung kadar logam berat dalam jumlah yang cukup tinggi maka berdampak negatif atau membahayakan kesehatan.