Pendahuluan
Kemajuan dalam bidang industri sampai sekarang telah menghasilkan sekitar 70.000 jenis bahan berupa logam, kimia, pelarut, plastik, karet, pestisida, gas, dan sebagainya yang digunakan secara umum dalam kehidupan sehari – hari dan memberikan kenyaman dan kemudahan bagi penduduk di seluruh dunia. Namun di lain pihak, bahan-bahan tersebut menimbulkan berbagai dampak seperti cedera dan penyakit.
Perkembangan aneka industri yang menggunakan berbagai macam bahan kimia di Indonesia kini kian pesat. Hal ini sangat berpotensi sebagai faktor penyebab meningkatnya insiden dermatitis kontak di tengah masyarakat. Dermatitis kontak adalah dermatitis yang disebabkan oleh bahan – bahan dari luar tubuh yang berkontak langsung dengan kulit yang bersifat toksik, alergi, maupun immunologis.
Penyakit ini umumnya terjadi pada orang dewasa dan sering berhubungan dengan pekerjaan ( Occupational Dermatitis ); sering terjadi pada tukang cuci, mekanis, penata rambut, perawat, koki, dan alat seperti kateter, dapat menimbulkan dermatitis kontak. Pencetusnya terdiri dari produk rambut, perhiasan, pewarna pakaian, bahan kulit, karet, semen, makanan mentah, obat – obatan topikal, tabir surya, kosmetik, pafum, dan tanaman.


Definisi
Dermatitis merupakan peradangan kulit ( epidermis dan dermis ) sebagai respon terhadap pengaruh faktor eksogen dan atau endogen, menimbulkan kelainan klinis berupa efloresensi polimorfik ( eritema, edema, papul, vesikel, skuama, likenifikasi ) dan keluhan gatal. Tanda polimorfik tidak selalu timbul bersamaan, bahkan mungkin hanya beberapa ( oligomorfik ). Dermatitis cenderung kronis dan menjadi residif. Sinonim dermatitis adalah ekzem. Ada yang membedakan antara dermatitis dan ekzem, tetapi pada umumnya menganggap sama.

Dermatitis kontak alergi adalah suatu kelainan pada kulit disertai dengan rasa gatal yang disebabkan oleh reaksi alergi kulit terhadap bahan – bahan tertentu. Kelainan ini timbul beberapa jam setelah kontak dengan bahan – bahan penyebab alergi, dan dapat menetap hingga beberapa hari.
Dermatitis kontak alergi timbul setelah kulit terpapar berulang kali dengan alergen dan menimbulkan suatu reaksi yaitu reaksi hipersensitivitas tipe lambat, dan dermatitis ini sering diakibatkan oleh bahan – bahan metal, cat, produk – produk yang terbuat dari karet, dan kosmetik. Dermatitis kontak alergi umumnya terjadi pada wanita dewasa ( lebih 10 % dari wanita menderita alergi nikel ). Lesinya berbatas tegas, sesuai dengan daerah yang terpapar ( atau kontak ) dengan alergen dan timbul dalam waktu lebih dari 48 jam. Awalnya, timbul kemerahan dan rasa gatal, yang diikuti dengan melepuh, vesikel, dan krusta, yang kemudian kulit mengalami penebalan seiring dengan waktu. Alergi terbatas pada daerah yang terpapar dan sembuh dalam beberapa minggu setelah alergen hilang.

Epidemiologi
Dermatitis kontak alergi dapat terjadi pada semua umur dan pria maupun wanita memiliki frekuensi yang sama untuk terkena.
Bila dibandingkan dengan dermatitis kontak iritan, jumlah penderita dermatitis kontak alergi lebih sedikit, karena hanya mengenai orang yang keadaan kulitnya sangat peka ( hipersensitif ). Diramalkan bahwa jumlah dermatitis kontak alergi maupun dermatitis kontak iritan makin bertambah seiring dengan bertambahnya jumlah produk yang mengandung bahan kimia yang dipakai oleh masyarakat. Namun informasi mengenai prevalensi dan insidens dermatitis kontak alergi di masyarakat sangat sedikit, sehingga berapa angka yang mendekati kebenaran belum didapat.
Dahulu diperkirakan bahwa kejadian dermatitis kontak iritan akibat kerja sebanyak 80 %, dan dermatitis kontak alergi 20 %, tetapi data baru dari Inggris dan Amerika Serikat menunjukkan bahwa dermatitis kontak akibat kerja karena alergi ternyata cukup tinggi yaitu berkisar antara 50 sampai 60 %. Sedangkan dari satu penelitian ditemukan frekuensi dermatitis kontak alergi bukan akibat kerja tiga kali lebih sering daripada dermatitis akibat kerja.


Etiologi
Penyebab dermatitis kontak alergi adalah bahan kimia sederhana dengan berat molekul umumnya rendah ( < 1000 dalton ), merupakan alergen yang belum diproses, disebut hapten, bersifat lipofilik, sangat reaktif, dapat menembus stratum korneum sehingga mencapai sel epidermis dibawahnya ( sel hidup ). Berbagai faktor berpengaruh dalam timbulnya dermatitis kontak alergi, misalnya potensi sensitisasi alergen, dosis per unit area, luas daerah yang terkena, lama pajanan, oklusi, suhu, dan kelembaban lingkungan, vehikulum, dan pH. Juga faktor individu, misalnya keadaan kulit pada lokasi kontak ( keadaan stratum korneum, ketebalan epidermis ), status imunologik ( misalnya sedang menderita sakit, terpajan sinar matahari ).
Alergen – alergen ini biasanya tidak menyebabkan perubahan kulit yang nyata pada kontak pertama, akan tetapi menyebabkan perubahan – perubahan yang spesifik setelah lima sampai tujuh hari atau lebih. Kontak yang lebih lama pada bagian tubuh yang sama atau pada bagian tubuh lainnya dengan alergen akan menyebabkan dermatitis.

Patofisiologi
Dermatitis kontak alergi,yang digolongkan dalam reaksi imunologik type IV, merupakan hipersensitivitas lambat.
Ada dua fase untuk menimbulkan dermatitis kontak alergi :
1. Fase primer ( induktiflafferen ), yaitu penetrasi bahan yang mempunyai berat molekul kecil ( hapten ) ke kulit. Yang kemudian berikatan dengan karier protein di epidermis. Komponen tersebut akan disajikan oleh sel langerhans ( LCs ) pada sel T. Dikelenjar limfe regional, komplek yang terbentuk akan merangsang sel limfosit T di daerah parakorteks untuk memperbanyak diri dan berdiferensiasi menjadi sel T efektor dan sel memori. Terbentuklah sel T memori yang akan bermigrasi ke kulit,peredaran perifer, dll.
2. Fase sekunder ( eksitasileferen ), yaitu perjalanan hapten pada individu yang telah tersensitasi, sehingga antigen disajikan lagi oleh sel langerhans ke sel T memori dikulit dan limfe regional. Kemudian terjadi reaksi imun yang menghasilkan limfokin. Terjadi reaksi inflamasi dengan perantara sel T, karena lepasnya bahan-bahan limfokin dan sitokin. Terjadinya reaksi ini maksimum 24 – 48 jam. Setelah pemajanan alergen pada kulit, antigen tersebut secara imunologi ditangkap oleh sel langerhans ( sel penyaji antigen ), kemudian diproses dan disajikan kepada limfosit T dengan bantuan molekul MHC kelas 2. Sel langerhans dan keratinosit akan menghasilkan interleukin 1 ( limphocyte aktivating factor ) dan sel langerhans akan mengalami perubahan morfologis menjadi sel langerhans yang aktif sebagai penyaji sel ( APCs ). Sel ini akan bergerak kekulit di dermis, parakortikal, kelenjar limfe. Sel langerhans menyajikan dalam bentuk yang sesuai dengan HLA DR dengan reseptor HLA DR yang dimiliki oleh sel limfosit T. APCs lain seperti sel monosit dan makrofak hanya dapat merangsang sel T memori, tidak dapat mengaktifkan sel T yang belum disensitasi. Pada fase eferent ini sel TH1 terletak di sekitar pembuluh darah kapiler di dermis. Selain itu, sel limfosit T itu harus diaktifkan oleh interlukin I yang dihasilkan oleh sel langerhans dan sel keratinosit. Dan sel T ini akan meghasilkan interlukin II ( lymphocyte proliferating cell ) dan menyebabkan sel T berfloriferasi.

Manifestasi Klinis
Gejala yang umum dirasakan penderita adalah pruritus yang umumnya konstan dan seringkali hebat ( sangat gatal ). Dermatitis kontak alergi biasanya ditandai dengan adanya lesi eksematosa berupa eritema, udem, vesikula dan terbentuknya papulovesikula; gambaran ini menunjukkan aktivitas tingkat selular. Vesikel-vesikel timbul karena terjadinya spongiosis dan jika pecah akan mengeluarkan cairan yang mengakibatkan lesi menjadi basah. Mula-mula lesi hanya terbatas pada tempat kontak dengan alergen, sehingga corak dan distribusinya sering dapat menunjukkan kausanya, misalnya: mereka yang terkena kulit kepalanya dapat curiga dengan shampo atau cat rambut yang dipakainya. Mereka yang terkena wajahnya dapat curiga dengan cream, sabun, bedak dan berbagai jenis kosmetik lainnya yang mereka pakai. Pada kasus yang hebat, dermatitis menyebar luas ke seluruh tubuh
Ciri khas dermatitis kontak alergi adalah radang yang secara perlahan meluas, batas peradangan tidak jelas ( difus ), rasa sakit dan panas tidak sehebat pada dermatitis kontak iritan. Perjalanan dermatitis kontak alergi dapat akut, sub-akut, ataupun kronis. Dermatitis kontak alergi akut ditandai dengan erupsi eksematosa dengan eritem, udem, papula, vesikula dan biasanya bula, serta patch berbatas tegas, single, ataupun multiple dengan berbagai bentuk dan ukuran, akan tetapi umumnya diskoid. Erupsi umumnya dapat saling berpengaruh, sehingga daerah yang terkena dapat meluas. Intensitas dermatitis dapat memberat pada hari ke empat sampai hari ke tujuh, jika tidak diberi pengobatan dan sudah tidak ada kontak dengan alergen. Penyembuhan biasanya terjadi pada satu sampai dua minggu hingga satu bulan.
Dermatitis sub-akut ditandai dengan eritem, udem yang minimal, vesikula dan krusta
Dermatitis kronik tampak sebagai patch kering yang meng-alami likhenifikasi dan berskuama serta fisura. Fase knonik sangat sulit dibedakan dengan dermatitis kontak iritan, baik secara klinis maupun histopatologis, karena pada keduanya sama-sama ditemukan eritema, penebalan, deskuamasi, fisura dan gatal.

Diagnosis
Diagnosis didasarkan atas hasil anamnesis yang cermat dan pemeriksaan klinis yang teliti.

Anamnesis
Anamnesis berperan sangat penting dalam menegakkan diagnosis. Anamnesis harus dilakukan dengan teliti, karena sangat menentukan terapi maupun follow-up-nya, yaitu untuk sedapat mungkin mencegah kekambuhan. Pada anamnesis perlu ditanyakan pekerjaan, hobi, riwayat kontak dengan kontaktan atau objek personal, misalnya tentang pemakaian kosmetik, pakaian baru, pemakaian jam tangan atau perhiasan. Selain itu,
perlu ditanyakan juga perihal riwayat atopi serta pengobatan yang pernah diberikan, baik oleh dokter maupun yang dilakukan sendiri

Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisik didapatkan adanya eritema, edema, papula dan vesikula yang jika pecah akan membentuk dermatitis yang basah. Lokasi lesi biasanya pada tempat kontak, tidak berbatas tegas, dan pada penderita yang sensitif dapat meluas. Dalam membantu penegakan diagnosis dikenal istilah regional diagnosis. Bagian-bagian tubuh tertentu sangat mudah tersensitisasi dibandingkan dengan bagian tubuh lainnya, misalnya: kelopak mata, leher dan genital, sedangkan pada bagian tubuh yang kulitnya tebal agak sulit terjadi dermatitis kontak alergi, seperti telapak tangan, telapak kaki dan kulit kepala. Bila terjadi kontak pada daerah itu, maka daerah yang berbatasan yang kulitnya tipislah yang mengalami dermatitis.
Kelopak mata sangat mudah bereaksi terhadap pemakaian kosmetik ( maskara ), obat ( tetes mata ), air borne alergen ( hair spray, debu, serbuk sari ) atau terhadap alergen yang terbawa oleh jari tangan ( cat kuku ). Untuk leher, penyebab umum drmatitis kontak alergi adalah kosmetik, parfum, perhiasan ( kalung ) yang mengandung nikel yang menyebabkan coin shape dermatitis. Dermatitis dan air borne alergen dan photo sensitizer akan berbatas tegas atau menggambarkan segi tiga di fossa suprasternal. Untuk daerah genital, baik pada laki – laki maupun perempuan akan bereaksi terhadap alergen dengan tanda utama udem dan gatal. Sensitizing-agent dapat dibawa ke genital ofeh tangan. Benda-benda dari karet, seperti kondom, pesarium, pakaian serta obat-obat topikal merupakan causative agent yang sering ditemukan. Bagian-bagian tubuh lain yang juga sering merupakan tempat terjadinya dermatitis, walaupun kurang sensitif (reaktif),adalah :
1 Lengan dan tangan ; hampir 2/3 kasus dermatitis melibatkan tangan. Pada kasus dermatitis karena pekerjaan, erupsi pertama muncul di tangan, kemudian menyebar ke lengan bawah. Cairan biasanya berefek di interdigital space; house wives contact dermatitis biasanya muncul di bawah cincin kawin. Pada pekerja yang menggunakan karet pelindung, dermatitis biasanya muncul pada sisi atas karet pelindung.
2. Muka ; daerah yang paling sering terkena setelah lengan dan tangan. Biasanya dipengaruhi oleh pemakaian kosmetik atau obat. Juga oleh respon terhadap suatu kontak dan daerah sekitarnya, terutama dan kelopak mata.
3. Bibir dan daerah perioral; biasanya disebabkan oleh lipstick dan bermanifestasi bibir kering dan pecah.
4. Paha dan tungkai bawah; clothing dermatitis dapat mempengaruhi bagian dalam dan bagian belakang paha, biasanya dimulai dan tepi bawah rok dan nyata pada fossa poplitea.
5. Kaki; kaus kaki merupakan penyebab paling banyak dermatitis pada kaki.

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan – pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk menunjang diagnosis suatu dermatitis kontak alergi, antara lain :
1. Pemerksaan eosinofil darah tepi
2. Pemeriksaan imunoglobulin E :
• Uji tempel ( patch test )
• Uji gores ( scratch test )
• Uji tusuk ( prick test )

Uji tempel
Tempat untuk melakukan uji tempel biasanya dipunggung. Untuk melakukan uji tempel diperlukan antigen, biasanya antigen standar buatan pabrik, misalnya finn chamber system kit dan T.R.U.E test, keduanya buatan Amerika Serikat. Terdapat juga antigen standar buatan pabrik di Eropa dan negara lain. Adakalanya test dilakukan dengan antigen yang bukan standar, dapat berupa bahan kimia murni, atau lebih sering bahan campuran yang berasal dari rumah, lingkungan kerja atau tempat rekreasi. Mungkin ada sebagian bahan ini yang bersifat sangat toksik terhadap kulit atau walaupun jarang dapat memberikan efek toksik secara sistemik. Oleh karena itu bila menggunakan bahan tidak standar, apalagi dengan bahan industri, harus berhati – hati sekali, jangan melakukan uji tempel dengan bahan yang tidak diketahui.
Bahan yang secara rutin dan dibiarkan menempel di kulit misalnya kosmetik, pelembab, bila dipakai untuk uji tempel, dapat langsung di gunakan apa adanya (as is). Bila menggunakan bahan yang secara rutin dipakai dengan air untuk membilasnya misalnya sampoo, pasta gigi, harus diencerkan terlebih dahulu. Bahan yang tidak larut dalam air diencerkan atau dilarutkan dalam vaselin atau minyak mineral, produk yang diketahui bersifat iritan, misalnya detergen hanya boleh diuji bila diduga keras penyebab alergi. Apabila pakaian, sepatu, atau sarung tangan yang dicurigai penyebab alergi, maka uji tempel dilakukan dengan potongan kecil bahan tersebut yang direndam dalam air garam yang tidak dibubuhi bahan pengawet, atau air dan ditempelkan dikulit dengan memakai finn chamber, dibiarkan sekurang-kurangnya 48 jam. Perlu diingat bahwa hasil positif dengan alergen bukan standar perlu kontrol ( 5-10 orang ), untuk menyingkirkan kemungkinan karena iritasi.
Berbagai hal berikut ini perlu diperhatikan dalam pelaksanaan uji tempel :
1. Dermatitis harus sudah tenang atau sembuh, bila masih dalam keadaan akut atau berat dapat terjadi angry back atau excited skin, reaksi positif palsu, dapat juga menyebabkan penyakit yang sedang dideritanya makin memburuk.
2. Tes dilakukan sekurang – kurangnya 1 minggu setelah pemakaian kortikosteroid sistemik dihentikan ( walaupun dikatakan bahwa uji tempel dapat dilakukan pada pemakaian prednison kurang dari 20 mg perhari atau dosis ekivalen kortikosteroid lain ), sebab dapat menghasilkan reaksi negatif palsu. Pemberian kortikosteroid topikal di punggung dihentikan sekurang – kurangnya 1 minggu sebelum tes dilaksanakan. Luka bakar sinar matahari ( sunburn ) yang terjadi 1 – 2 minggu sebelum tes dilakukan juga dapat memberi hasil negatif palsu. Sedangkan antihistamin sistemik tidak mempengaruhi hasil tes kecuali diduga karena urtikaria kontak.
3. Uji tempel dibuka setelah 2 hari, kemudian dibaca, pembacan kedua dilakukan pada hari ketiga sampai ketujuh setelah aplikasi.
4. Penderita dilarang melakukan aktivitas yang menyebabkan uji tempel menjadi longgar ( tidak menempel dengan baik ) karena memberi hasil negatif palsu. Penderita juga dilarang mandi sekurang-kurangnya dalam 48 jam dan menjaga agar punggung selalu kering setelah dibuka uji tempelnya sampai pembacaan terakhir selesai.
5. Uji tempel dengan bahan standar jangan dilakuka terhadap penderita yang mempunyai riwayat tipe urtikaria dadakan atau immediate urtikaria type karena dapat menimbulkan urtikaria generalisata bahkan reaksi anafilaksis. Pada penderita semacam ini dilakukan tes dengan prosedur khusus.
Setelah dibiarkan menempel selama 48 jam, uji tempel dilepas. Pembacaan pertama dilakukan 15-30 menit setelah dilepas, agar efek tekanan bahan yang diuji telah menghilang atau minimal. Hasilnya dicatat sebagai berikut :
1 = reaksi lemah ( non vesikular ) : eritema, infiltrat, papul ( + )
2 = reaksi kuat : edema atau vesikel ( ++ )
3 = reaksi sangat kuat ( ekstrim ) : bula atau ulkus ( +++ )
4 = meragukan : hanya makula eritematosa ( ? )
5 = iritasi : seperti terbakar, pustul, atau purpura ( IR )
6 = reaksi negatif ( – )
7 = excited skin
8 = tidak di tes ( NT = not tested )
Reaksi excited skin atau “angry back” merupakan reaski positif palsu, suatu fenomena regional disebabkan oleh 1 atau beberapa reaksi positif kuat, yang dipicu oleh hipersensitivitas kulit, pinggir uji tempel yang lain menjadi reaktif. Fenomena ini pertama dikemukakan oleh Bruno Bloch pada abad ke 20, kemudin diteliti oleh Mitchell pada tahun 1975.
Pembacaan kedua perlu dilakukn sampai 1 minggu setelah aplikasi, biasanya 72 atau 96 jam setelah aplikasi. Pembacaan kedua ini penting untuk membantu membedakan antara respon alergi atau iritasi, dan juga mengidentifikasi lebih banyak lagi respon positif alergen. Hasil positif dapat bertambah setelah 96 jam aplikasi, olek karena itu perlu dipesan kepada pasien untuk melapor, bila hal itu terjadi sampai 1 minggu setelah aplikasi.
Untuk menginterpretasi hasil uji tempel tidak mudah. Interpretasi dilakukan setelah pembacaan kedua. Respon alergi biasanya menjadi lebih jelas antara pembacaan kesatu dan kedua, berawal dari +/- ke + atau ++ bahkan ke +++ ( reaksi tipe crescendo ), sedangkan respon iritan cenderung menurun ( reaksi tipe descrecendo ). Bila ditemukan respon positif terhadap suatu alergen, perlu ditemukan relevannya dengan keadaan klinik, riwayat penyakit dan sumber antigen di lingkungan penderita. Mungkin respon positif tersebut berhubungan dengan penyakit yang sekarang atau penyakit masa lalu yang pernah dialami, atau mungkin tidak ada hubungannya ( tidak diketahui ). Reaksi positif klasik terdiri atas eritem, edem, dan vesikel-vesikel kecil yang letaknya berdekatan.
Reaski positif palsu dapat terjadi antara lain apabila konsentrasi terlalu tinggi, atau bahan tersebut bersifat iritan bila dalam keadaan tertutup ( oklusi ), efek pinggir uji tempel, umumnya karena iritasi, bagian tepi menunjukkan reaksi lebih kuat, sedang dibagian tengahnya reaksi ringan atau sama sekali tidak ada. Ini disebabkan karena meningkatnya konsentrasi iritasi cairan di bagian pinggir. Sebab lain karena efek tekan, terjadi bial menggunakan bahan padat.
Reaksi negatif palsu dapat terjadi misalnya konsetrasi terlalu rendah, vehikulum tidak tepat, bahn uji tempel tidak melekat dengan baik atau longgar akibat pergerakan, kurang cukup waktu penghentian pemakaian kortikosteroid sistemik atau topikal poten yang lama dipakai pada uji tempel dilakukan.

Diagnosis Banding
Dermatitis Seboroik
Dermatitis seboroik lokasinya di tempat seboroik, yaitu kulit kepala berambut, alis mata, lipatan nasolabial, retroaurikularis, interskapuler dan di atas sternum; selain itu, ketiak, di bawah mamae, umbilikus, dan daerah anogenital. Kelainan yang khas yaitu eritema dengan skuama kekuning – kuningan dan berminyak, sedangkan kelainan yang terjadi pada DKA adalah polimorfik dan bila akut lesi membasah.

Dermatitis Atopik
Kelainan kulit mirip dengan kelainan eritema, tetapi berbeda predileksi, dan riwayat anamnesis atopiknya
.
Dermatofitosis
Dermatofitosis adalah suatu penyakit jamur dengan kelainan kulit yang terdiri dari eritema, papul dan skuama. Kelainan di pinggir lebih aktif dan di tengah, dan pada pemeriksaan sediaan langsung dijumpai elemen dan jamur
Kandiiasis
Biasanya dengan lokalisasi yang khas. Effloresensi berupa eritema, erosi, dan ada lesi satelit

Penatalaksanaan
Hal yang perlu diperhatikan pada penatalaksanaan dermatitis kontak alergi adalah upaya pencegahan berulangnya konak kembali dengan alergen penyebab dan menekan kelainan kulit yang timbul. Fkui
Pengobatan medikamentosa terdiri dari :
A. Pengobatan sistemik
1. Kortikosteroid, hanya untuk kasus yang berat, dan digunakan dalam waktu singkat.
• Prednison
Dewasa : 5 – 10 mg / dosis, 2 – 3 kali / 24 jam
Anak : 1 mg / kgBB / hari
• Deksametasone
Dewasa : 0,5 – 1 mg / dosis, 2 – 3 kali / 24 jam
Anak : 0,1 mg / kgBB / hari
• Triamsinolon
Dewasa : 4 – 8 mg / dosis, 2 – 3 kali / 24 jam
Anak : 1 mg / kgBB/ hari
2. Anti histamine
• Klorfeneramin maleat
Dewasa : 3 – 4 mg / dosis, 2 – 3 kali / 24 jam
Anak : 0,09 mg / kgBB/ dosis, 3 kali / 24 jam
• Difenhidramin
Dewasa : 10 – 20 mg / dosis, i.m 1 – 2 kali / 24 jam
Anak : 0,5 mg / kgBB/ hari, 1 – 2 kali / 24 jam
• Loratadin
Dewasa : 1 tablet / hari
B. Pengobatan topikal
• Bentuk akut dan eksudatif diberi kompres larutan garam faali (NaCl 0,9 %) atau KMnO4 1 / 5000.
• Bentuk kronik dan kering diberi krim hidrokortison 1 – 2 %, flurosinolon 0,025 %, triamsinolon 0,1 %, atau krim betametason valerat 0,05 – 0,1 %.

Komplikasi
Infeksi kulit sekunder adalah komplikasi yang mungkin terjadi pada dermatitis kontak alergi.

Pencegahan
1. Menghindari kontak dengan alergen adalah satu – satunya cara untuk mencegah timbulnya dermatitis kontak alergi.
2. Gunakan sarung tangan atau perlngkapan lainnya jika kontak dengan alergen diharuskan dan tidak dapat dihindari.
3. Cuci permukaan kulit segera setelah kontak dengan alergen.
4. Hindari perawatan yang berlebihan terhadap kulit rusak.

Prognosis
Prognosis dermatitis kontak alergi umumnya baik, sejauh bahan kontaknya dapat disingkirkan. Prognosis kurang baik dan menjadi kronis bila terjadi bersamaan dengan dermatitis oleh faktor endogen ( dermatitis atopik, dermatitis numularis, atau psoriasis ), atau terpajan oleh alergen yang tidak mungkin dihindari, misalnya berhubungan dengan pekerjaan tertentu atau yang terdapat di lingkungan penderita.

DAFTAR PUSTAKA

1. SMF Ilmu Kesehatan Kilit dan Kelamin FK UNAIR / RSU Dr. Soetomo. 2007. Dermatitis Kontak Alergi dalam Atlas Penyakit Kulit dan Kelamin. Airlangga University Press : Surabaya. hal : 104.
2. Sularsito, Sri Adi dan Suria Djuanda. 2005. Dermatitis dalam Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. FKUI : Jakarta. hal : 129 – 138.
3. Siregar, Prof. Dr. SpKK ( K ). 2002. Dermatitis Kontak Alergi dalam Atlas Berwarna Saripati Penyakit Kulit Edisi 2. EGC : Jakarta. hal : 109 – 113.
4. Harahap, Mawali, Prof. Dr. 2000. Dermatitis dalam Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Hipocrates : Jakarta. hal : 24 – 26.
5. Mansjoer, Arif,dkk. 2000. Dermatitis dalam Kapita Selekta Kedokteran Edusu Ketiga Jilid Kedua. Media Aesculapius : Jakarta. hal : 86 – 89.
6. Anonymoys. 2007. Allergic Contact Dermatitis. Available at www.dermnetnz.org.
7. Anonymous. 2007. Contact Dermatitis. Available at www.adam-about.com.
8. Moris, Adrian, Dr. 2005. Contact Dermatitis. Available at www.alergy-clinic.co.uk.
9. Barata, Widjaja Karnen. 2004. Alergi dan Imunologi Pada Penyakit Akibat Kerja dalam Cermin Dunia Kedokteran. Available at www. google.com
10. Christijani, revilana, Dr. 1997. Diagnosis Dermatitis Kontak Alergika dalam Cermin Dunia Kedokteran. Available at www.google.com.