BAB XXIII
DEMENSIA DAN PENGOBATANNYA

TUJUAN BELAJAR

TUJUAN KOGNITIF
Setelah membaca bab ini dengan seksama, maka anda sudah akan dapat :
1. Menjelaskan pengertian demensia.
2. Mengetahui jenis-jenis demensia.
3. Mengetahui faktor-faktor resiko dan penyebab demensia.
4. Mengetahui gambaran klinis demensia.
5. Mengetahui cara pemeriksaan demensia.

TUJUAN AFEKTIF
Setelah membaca bab ini dengan penuh perhatian, maka penulis mengharapkan anda sudah akan dapat :
1. Melakukan penatalaksanaan pada demensia secara tepat.
2. Menciptakan hidup yang berguna bagi lanjut usia.

I. PENDAHULUAN
Dengan meningkatnya harapan hidup, perlu diwaspadai kemungkinan peningkatan jumlah orang yang menderita cacat. Pada lanjut usia sering dijumpai berbagai gangguan, antara lain : gangguan daya ingat (memori), gangguan kecerdasan (kognitif), gangguan fungsi bergerak dan rasa, serta gangguan keseimbangan dan koordinasi.
Demensia atau pikun adalah gejala lanjut usia yang amat ditakuti. Proses menua dengan sendirinya menyebabkan terjadinya demensia. Penuaan menyebabkan perubahan anatomi dan biokimi di susunan saraf pusat. Pada beberapa penderita tua terjadi penurunan daya ingat dan gangguan psikomotor yang wajar. Keadaan ini tidak menyebabkan gangguan pada aktivitas hidup sehari-hari.

Memori
Lupa merupakan keluhan yang sering dikemukakan oleh lanjut usia. Keluhan ini dianggap lumrah dan biasa oleh masyarakat sekitarnya. Kebanyakan individu mengalami gangguan memori dan gangguan belajar dengan berlanjutnya usia, terutama setelah usia 70 tahun. Memori merupakan proses yang rumit. Memori menghubungkan masa lalu dan masa kini, sebagai berikut :

Agar suatu informasi dapat disimpan perlu diperhatikan, diregistrasi, ini merupakan tingkat pertama. Informasi ini kemudian ditransfer ke dalam memori yang disebut encoding.
Kondisi encoding ikut mempengaruhi daya atau tingkatan penyimpanan, misalnya : encoding seemantik (penyimpanan menurut makna, arti) biasanya memberikan memori yang lebih mantap daripada encoding fonologis (menyimpan menurut bunyi).
Storage merupakan proses dimana informasi dipertahankan dalam memori. Ini bukan merupakan penyimpanan informasi yang statis. Jaringan informasi ini ditata kembali secara aktif. Informasi akan lebih kuat tersimpan bila digunakan berkali-kali, suatu proses yang disebut konsolidasi. Retrieval merupakan proses dimana informasi dipanggil kembali dari memori.

Definisi Dan Kriteria Diagnosis
A. Definisi Demensia
Demensia adalah suatu sindrom penurunan kemampuan intelektual progresif yang menyebabkan deteriorasi kognisi dan fungsional, sehingga mengakibatkan gangguan fungsi sosial, pekerjaan, dan aktivitas sehari-hari, (definisi demensia menurut ICD-10, DSM IV, NINCDS-ARDA, PPDGJ-III).

B. Faktor Resiko
1. Usia merupakan faktor resiko bagi semua jenis demensia. Dengan bertambahnya usia maka bertambah besar kemungkinan menderita demensia.
2. Riwayat penyakit demensia pada keluarga derajat satu (ibu, bapak, saudara kandung) meningkatkan resiko mendapatkan demensia sebanyak empat kali.
3. Kelamin. Dari semua penelitian, didapat kesan bahwa wanita mempunyai resiko yang lebih tinggi dibandingkan pria untuk mendapatkan penyakit Alzheimer. Pria mungkin mempunyai resiko yang sedikit lebih tinggi untuk mendapatkan demensia vaskular.
4. Pendidikan. Dapat dikatakan bahwa mereka yang berusia diatas 75 tahun dan tidak pernah sekolah mempunyai resiko mendapatkan demensia yang lebih tinggi.
5. Faktor resiko lainnya adalah : adanya keluarga dengan sindrom down, fertilitas yang kurang, penggunaan analgesik seperti fenasetin, kandungan alumunium pada air minum, defisiensi kalsium.

C. Penyebab Demensia
Beberapa penyakit yang disebabkan demensia, adalah :
1. Demensia Idiopatik
a. 1). Penyakit Alzheimer
2). Demensia senilis jenis Alzheimer
b. Penyakit Pick
c. 1). Khorea Huntington
2). Parkinsonisme dengan Demensia
3). Palsy supranuklear progresif
4). Sklerosis lateral amiotropik dengan demensia
2. Demensia Vaskular
a. Multi infarks
1). Subkortikal
2). Kortikal
3). Campuran kortikal – subkortikal
4). Hipoksia
5). CVD dengan demensia
3. Demensia Sekunder
a. Infeksi, misalnya : ensefalitis
b. Neoplasma
c. Intoksikasi
d. Autoimun
e. Gangguan metabolik, misalnya : DM
1). Hipoglikemik
2). Penyakit ginjal dan hepar
3). Gangguan elekrolit
f. Gangguan nutrisi, misalnya : defesiensi Vit B1, B6, B12, asam folat.
g. Obat
Tabel 1. Jenis dan Penyebab Demensia Pada Usia Lanjut
Keadaan yang secara potensial reversible atau bisa dihentikan :
 Intoksikasi (obat, termasuk alkohol, dan lain-lain)
 Infeksi susunan saraf pusat
 Gangguan metabolik
 Gangguan nutrisi
 Gangguan vaskular (demensia multi infark, dan lain-lain)
 Lesi desak ruang
 Hidrosefalus bertekanan normal
 Depresi
Penyakit degeneratif progresif :
 Penyakit Alzheimer
 Penyakit Pick

Dengan gangguan neurologik lain yang prominen :
 Penyakit Parkinson
 Penyakit Huntington
 Kelumpuhan supranuklear progresif
 Penyakit degeneratif lain yang jarang didapat
Sumber : Kane, Ouslander, Abrass : Essential of Geriatric Med,3rd ed.1994

D : Drug intoxication
E : Emotional unstability
M : Metabolisme
E : Ear & eye disturbance
N : Nutrition
T : Tumor & trauma
I : Intoxication
A : Arteriosclerosis

D. Gambaran Klinik Demensia
Secara garis besar ada 10 gejala yang biasa didapatkan pada penderita demensia, yaitu :
1. Lupa kejadian yang baru saja dialami
2. Kesulitan dalam melakukan pekerjaan sehari-hari
3. Kesulitan berbahasa
4. Disorientasi waktu dan tempat
5. Tidak mampu membuat pertimbangan dan keputusan yang tepat
6. Sulit berfikir abstrak
7. Salah menaruh barang
8. Perubahan suasana hati
9. Perubahan perilaku atau kepribadian
10. Hilang inisiatif

E. Jenis Demensia
1. Demensia Primer
a. Alzheimer disease
b. Dementia Associated with extrapyramidal symptom (Demensia Levy Bodies)
1). Progressive supra nuclear palsy
2). Corticobasal degeneration
3). Wilson’s disease
2. Demensia Sekunder
a. Vascular demensia
b. Dementia related to other disease disorder
F. Penyakit Alzheimer
Penyakit Alzheimer adalah suatu keadaan yang meliputi perubahan dari jumlah, struktur dan fungsi neuron didaerah tertentu dari korteks otak. Pada penyakit ini terjadi pula gangguan neurodegeneratif yang berlangsung progresif lambat, disebabkan karena proses degeneratif yang menyebabkan kematian sel-sel otak yang masif.
Pada awalnya pada penyakit ini ditemukan gejala mudah lupa (forgetfulness), MCI (Mild Cognitive Impairment). Gangguan kognitif yang terjadi menyebabkan perubahan tingkah laku dan juga timbul gejala neuropsikiatri.
Secara fisik umumnya pasien tidak mengalami masalah kesehatan saat awal gangguan muncul. Penyakit ini bisa berlangsung sampai 10 tahun. Biasanya penyakit pasien baru diketahui penyakitnya setelah 2 hingga 4 tahun menderita. Seringkali keluarga ataupun dokter tidak menyadari bahwa pasien sudah berasa dalam kondisi demensia, karena merosotnya fungsi kognitif sebagai bagian dari proses penuaan wajar.
Keterlambatan akan merugikan penderita karena penatalaksanaan dini biasa mencegah keadaan yang lebih berat seperti komplikasi dan bisa membantu perencanaan masa depan pasien bersama keluarga.

1. Etiologi
Penyebab pasti dari penyakit Alzheimer sampai dengan saat ini belum diketahui pasti, namun penyakit ini merupakan interaksi antara faktor keturunan dengan faktor lingkungan, seperti :
a. Bertambahnya usia
b. Kurangnya pendidikan
c. Penderita down sindrom
d. Cedera kepala
e. Tekanan darah tinggi
2. Gejala Klinis
Pada penyakit Alzheimer ini gejala klinis biasanya dimulai dengan :
a. Kehilangan daya ingat perlahan-lahan
b. Kesulitan dalam mengikuti perintah dan melakukan kegiatan sehari-hari
c. Gangguan penilaian, penalaran, konsentrasi dan orientasi
d. Kebingungan dan kegelisahan
e. Perubahan kepribadian
f. Kehilangan kemampuan untuk mengurus diri
Gangguan-gangguan tersebut akan muncul dalam perilaku pasien sehari-hari. Sikap pasien yang apatis, malas, sedikit bicara, sedih, depresi, uring-uringan dapat menjadi tanda demensia.
Gangguan perilaku dan psikologis pada demensia Alzheimer dapat muncul setiap saat dalam perjalanan penyakit dan dipengaruhi oleh sikap lingkungan terhadap pasien. Gangguan perilaku yang timbul pada penderita Alzheimer adalah sebagai berikut :
a. Delusi
b. Halusinasi
c. Depresi
d. Ansietas
e. Amarah
f. Gangguan tidur
g. Deviasi perilaku seksual
h. Sundowning
i. Wandering
j. Kekerasan

Rangkaian kesatuan gangguan memori fisiologis sampai patologis

1. Forgetfulness
Forgetfulness atau mudah lupa adalah suatu proses yang terjadi secara wajar pada usia lanjut. Biasa terjadi pada usia diatas 50 tahun, hanya terdapat keluhan gangguan memori tetapi dapat dibantu dengan mengingatnya kembali dengan isyarat atau kode. Dalam hal ini belum dapat dikatakan demensia. Tingkat kecerdasannya rata-rata atau bahkan lebih.

2. MCI
Mild Cognitive Impairment adalah gangguan kognitif ringan dimana gangguan memori diperjelas oleh pengamat. Fungsi kognitif umumnya normal. Sudah mulai terdapat penurunan fungsi memori sesuai dengan usia dan pendidikan. Pada tahap ini belum dapat dikatakan demensia.

a. Demensia Kortikal dan Subkortikal
Gejala klinik demensia kortikal tergantung kepada apakah proses patologisnya terutama mengenai neuron-neuron kortikal atau ganglia basal dan thalamus dan bagian atas dari batang otak.
Demensia kortikal, seperti yang dijumpai pada penyakit Alzheimer dan Pick, ditandai dengan defisit memori yang dini, dan biasanya penderita menunjukkan gejala defisit visuospatial, afasia, apraksia dan agnosia.
Pada demensia subkortikal, seperti yang dijumpai pada penyakit progressive supranuclear palsy, hidrosefalus komunikans, dan sindrom Parkinson, didapat gejala proses berfikir yang lamban. Pertanyaan yang diajukan dijawab lamban, membutuhkan waktu yang lama, walaupun jawabannya benar. Disamping proses berfikir yang lamban ini didapatkan pelupa dan gangguan kemampuan memanipulasi pengetahuan yang diperoleh. Juga ditemukan gejala gangguan sistem ekstrapiramidal misalnya tremor, diskinesia.

b. Demensia Vaskular
Demensia vaskular adalah sindrom demensia yang disebabkan oleh disfungsi otak yang diakibatkan oleh penyakit serebrovaskular. Ini merupakan penyebab demensia kedua paling sering setelah penyakit Alzheimer.
Demensia vaskular seringkali diidentikkan dengan demensia multi infrak, karena pada sebagian penyakit serebrovaskular yang mengakibatkan demensia terdapat lesi infark yang multipel.
Demensia vaskular ditandai oleh deteriorasi bertahap – kejut, dengan melibatkan sebagian dari fungsi intelektual. Progresi dari demensia vaskular tidak gradual lambat laun, melainkan mendadak dan melibatkan sebagian lapangan intelektual. Didapat pula tanda adanya penyakit vaskular, misalnya hipertensi, bising di arteri karotis, abnormalitas pada funduskopi, jantung membesar.
Faktor resiko demensia vaskular adalah : hipertensi, penyakit jantung koroner, infrak miokard, gagal jantung, fibrilasi atrial, EKG yang abnormal, bising di arteri karotis, diabetes mellitus, polisitemia, hiperlipidemia, merokok, obesitas, hiperurisemia, kurang olahraga.

I. Demensia Oleh Penyebab Lain
Pada lanjut usia, sekitar 80% penyakit yang banyak diderita adalah penyakit Alzheimer, demensia vaskuler atau gangguan pada kedua penyakit ini. Sekitar 20% disebabkan oleh beragam penyakit. Penyakit yang beragam ini harus dideteksi dini, karena bila terlambat dilakukan pengobatan dapat menimbulkan cacat yang menetap. Tiap penyakit yang melibatkan otak dapat mengakibatkan demensia.
Penyakit yang beragam itu antara lain :
i. Infeksi
Ensefalitis oleh virus (misalnya Herpes Simpleks), bakteri (misalnya Pneumokokus, Tuberkulosis), parasit, fungus, abses otak, dan neurosifilis.
ii. Gangguan metabolik
Contohnya : Diabetes Mellitus, Hipoglikemi, Hiperlipidemi, gangguan ginjal, gangguan hepar, gangguan tiroid, gangguan elektrolit (natrium, kalsium, magnesium).
iii. Lesi desak ruang
Contohnya : Hipotema Subdural akut atau kronik, tumor di otak, Metastase Neoplasma.
iv. Penyakit autoimun
Contohnya : Lupus eritematosus disseminate, Vaskulitis.
v. Zat toksik
Contohnya : keracunan logam (timbal, air raksa, arsen, mangan), keracunan bahan organik (pelarut dan insektisida tertentu).
vi. Gangguan nutrisi
Contohnya : kekurangan Vit B1, B6, B12, kekurangan asam folat.
vii. Obat-obatan
Contohnya : obat sedative, obat penenang, antikolinergik, antikonvulsan, antidepresan, antihipertensi, antiaritmia.

J. Diagnosa
Penyakit demensia pada praktek sehari-hari di klinik jarang ditemukan atau tidak terdeteksi, hal ini disebabkan oleh karena :
i. Pasien kurang menaruh perhatian pada gejala yang timbul.
ii. Pandangan keluarga yang menganggap hal ini biasa terjadi pada demensia.
iii. Pasien sendiri menyangkal.

K. Kriteria Diagnosa
Kriteria diagnosa untuk pasien demensia adalah :
1. Kemampuan intelektual menurun sedemikian rupa, sehingga mengganggu pekerjaan dan lingkungannya.
2. Defisit neurologis selalu melibatkan memori; biasanya didapatkan gangguan berfikir abstrak, menganalisa masalah, pertimbangan terganggu, afasia, apraksia, agnosia, kesulitan konstruksional dan perubahan kepribadian.
3. Sadar (compos mentis).

II. PEMERIKSAAN DEMENSIA
A. Langkah-Langkah Pemeriksaan Demensia :
a. Riwayat medik umum
b. Riwayat neurologi umum
c. Riwayat neurobehavioral
d. Riwayat psikiatrik
e. Riwayat keracunan, nutrisi, obat-obatan
f. Riwayat keluarga
g. Pemeriksaan obyektif
h. Pemeriksaan fisik umum
i. Pemeriksaan neuropsikologis
B. Pemeriksaan neurologis
C. Pemeriksaan aktivitas fungsional
D. Pemeriksaan psikiatri

Pemeriksaan status mental mini (MMSE) dan Clock Drawing Test (CDT) dapat dilhat pada bab pemeriksaan gerontologi medik dan evaluasi klinis.

Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan laboratorium rutin
Pemeriksaan laboratorium hanya dilakukan begitu diagnosa klinis demensia ditegakkan untuk membantu pencarian etiologi demensia, khususnya pada demensia yang reversible. Laboratorium rutin yang dikerjakan berupa :
a. Pemeriksaan darah lengkap untuk mendeteksi kelainan sistem dan blood dicrasia.
b. Urinalisa untuk infeksi saluran kemih dan diabetes.
c. Elektrolit serum untuk mendeteksi gangguan elektrolit/metabolik.
d. Kalsium darah untuk mendeteksi hiperkalsemi, hipokalsemi.
e. BUN untuk mendeteksi uremia.
f. Fungsi hati untuk mendeteksi ensefalopati hepatik.
g. Hormon tiroid untuk mendeteksi hipotirodism/hipertirodism.
h. Kadar asam folat dan Vit B12 serum untuk mendeteksi defisiensi besi.
2. Diagnostik pencitraan (imaging)
CT-Scan / MRI sangat membantu dan harus dilakukan bila perjalanan klinis demensia atipikal, onset demensia dibawah 60 tahun, ada kecurigaan meningitis, hidrosefalus, riwayat tumor/kanker, riwayat pemakaian obat antikoagulan, stroke, lesi fokal, atau curiga hematon (trauma kapatis) sebagai penyebab demensia.

Diagnosa Banding
1. Delirium
Delirium adalah keadaan akut dan serius, dapat mengancam jiwa, dapat disebabkan oleh berbagai penyakit, gangguan metabolik dan reaksi obat. Gambaran klinis berupa kesulitan dalam mempertahankan atensi terhadap rangsangan luar, penurunan kesadaran, gangguan persepsi (halusinasi, ilusi), gangguan pola tidur, disorientasi (waktu, tempat, orang), dan gangguan memori (new learning ability) yang terjadi dalam waktu yang singkat (beberapa jam sampai beberapa hari) dan berfluktuasi dalam kurva harian.

Perbedaan klinis delirium dan demensia
Delirium Demensia
Onset akut dengan waktu yang diketahui Onset tidak jelas dengan waktu tidak diketahui
Perjalanan klinis akut Perjalanan klinis perlahan
Biasanya reversible Biasanya irreversible
Disorientasi terjadi pada fase awal penyakit Disorientasi terjadi pada fase lanjut
Fluktuasi dari jam ke jam Fluktuasi ringan dari hari ke hari
Perubahan fisiologis yang nyata Perubahan fisiologis tidak terlalu nyata
Tingkat kesadaran yang berfluktuasi Kesadaran berkabut tahap akhir
Rentang waktu atensi pendek Rentang waktu atensi normal

2. Pseudodemensia
Depresi dapat mempengaruhi status kognisi penyandang, oleh sebab itu sebelum mencari etiologi demensia, perlu dipastikan apakah penyandang mengalami demensia atau pseudodemensia karena depresi.

Perbedaan klinis pseudodemensia karena depresi dengan demensia
Pseudodemensia Demensia
Onset akut Onset perlahan
Pandangan tentang diri sendiri : jelek Pandangan tentang diri sendiri : normal
Keluhan terkait : ansietas, insomnia, anoreksia Keluhan terkait : jarang, kadang insomnia
Durasi bervariasi, dapat berhenti spontan atau setelah terapi Durasi dalam bulanan sampai tahunan
Alasan konsultasi : rujukan diri sendiri, cemas adanya demensia Alasan konsultasi : keluarga yang merasakan perubahan memori, kepribadian, dan tingkah laku
Ada riwayat psikiatri atau masalah keluarga /pribadi. Seringkali ada riwayat keluarga dengan demensia

III. PENATALAKSANAAN DEMENSIA
Penatalaksanaan pada pasien demensia terdiri dari :
1. Preventif
2. Simptomatik
Simptomatik diberikan pada pasien dengan gangguan :

a. Agitasi
b. Anxietas
c. Sleep disorder
d. Psikotik

3. Kausal
Ada beberapa cara yaitu :

a. Farmakoterapi
b. Non-farmakoterapi
c. Care giving

Pendekatan farmakologis dan non-farmakologis pada demensia bertujuan untuk :
1. Mempertahankan kualitas hidup.
2. Memanfaatkan kemampuan yang masih ada semaksimal mungkin.
3. Berupaya memperlambat perburukan.
4. Membantu keluarga yang merawat, memberikan informasi yang tepat.
5. Menghindari tindakan-tindakan farmakologis dan non farmakologis yang tidak perlu, yang tidak terbukti manfaatnya dan yang mahal biayanya.
6. Menghadapai keadaan penyakit secara realistis.

a. Farmakoterapi
Pengobatan diberikan dengan tujuan untuk menghentikan progresifitas penyakit dan mempertahankan kualitas hidup pasien dengan beberapa pengobatan, diantaranya

Diagnosa Obat Dosis Keterangan
Alzheimer’s disease Denopezil (Aricept)

Tacrine (Cognex)

Ibuprofen (Mortin)
Conjugated Estrogens

Vitamin E 5- 10 mg/hr

10 mg 4x/hr, dinaikkan selama 6 minggu, dengan interval 40 mg 4x/hr
400 mg 2-3x/hr
0,625 mg/hr

800-2.000 IU/hr Efektifitas sama dengan Tacrine, dengan efek samping yang sedikit, peningkatan enzim hati jarang. Sakit pada abdomen bisa timbul.
Peningkatan enzim hati umumnya (sgot, sgpt). Prx.ALT (sgpt) setiap 2 minggu selama titrasi dosis.

Toxisitas GI-Tract atau ginjal.
Pada wanita tambahkan progesterone siklik, untuk pasien dengan uterus intake
Efek antioksidan ringan.
Vascular demensia Obat-obat antihipertensi

Aspirin salut enteric

Vitamin E Menjaga Systolic dibawah 150-160 mmhg
80-325 mg/hr

800-2.000 IU/hr Tekanan darah dibawah 85-90 mmhg. Mungkin memperburuk kognitif.
Berikan walpitin bila terjadi atrial fibrilasi.
Antioksidan ringan.

b. Non Farmakologis
1. Program harian penderita :
a. Kegiatan harian teratur dan sistematis, yang meliputi latihan fisik yang dapat memacu aktivitas fisik dan otak yang baik (brain exercise).
b. Asupan gizi yang seimbang, cukup sehat, mengandung antioksidan, mudah dicerna dan penyajian yang menarik dan praktis.
c. Mencegah dan mengatur faktor resiko yang dapat memberatkan penyakit, misalnya : hipertensi, merokok, dan diabetes.
d. Melaksanakan hobi dan aktivitas sosial sesuai dengan kemampuannya.
e. Mencegah stress psikis.
f. Tingkatkan aktivitas di siang hari, tempatkan di ruang yang mandapatkan cahaya yang cukup.
2. Orientasi realitas
a. Diingatkan akan waktu dan tempat.
b. Beri tanda khusus untuk tempat tertentu, misalnya kamar mandi.
c. Pemberian stimulasi melalui latihan atau permainan, misalnya permainan monopoli, kartu, scrable.
d. Buatlah lingkungan yang familiar, aman dan tenang.
3. Modifikasi perilaku
a. Memperlihatkan perilaku penderita dan faktor pencetusnya.
b. Gangguan perilaku yang sering dijumpai adalah depresi, agitasi, agresivitas, wandering, dan disinhibisi seksual.
c. Memberikan informasi kepada keluarga mengenai penyakit penderita dan cara pengasuhan yang benar.

Penanganan Gangguan Perilaku
Gangguan perilaku yang sering ditemukan berupa depresi, agitasi, halusinasi/delusi, ansietas, perilaku kekerasan, kesulitan tidur, dan wandering (kekhawatiran).
Gangguan Perilaku Non Farmakologis Farmakologis
Depresi Mendorong untuk melakukan aktivitas.
Menghindari tugas yang kompleks.
Bersosialisasi.
Gol. Selective Serotonine Reuptake (SSRI)
Gol. Mono Amin Oxide Inhibitor (MAO)
Gol. Antidepresan Atipikal
Gol. Trisiklik
Ansietas/Agitasi Lingkungan yang ramah, tenang dan stabil.
Tanggapi pasien dengan sabar dan penuh kasih sayang.
Hindari minuman berkafein Gol. Benzodiazepin
Neuroleptik
Halusinasi/ Delusi dan Agitasi Hindari konfrontasi
Bersikap tenang dan jangan terburu-buru Haloperidol
Thioridazine
Neuroleptik
Clozapin
Olanzapine
Quetiapine
Antikonvulsan
Antidepresan
Amarah dan Kekerasan Bersikap tenang
Hilangkan faktor resiko _
Kesulitan tidur
Biarkan pasien aktif pada siang hari dengan berolahraga.
Hindari tidur siang bila memungkinkan.
Kurangi minum menjelang tidur.
Pertahankan jadwal tidur yang tepat. _
Deviasi Perilaku Jangan bereaksi berlebihan.
Gantilah tipe pakaian.
Alihkan perhatian pasien jika ingin menanggalkan tidak pada tempatnya.
Konsultasikan ke dokter, konselor, dan anggota keluarga lainnya. _
Wandering Lindungi dan sediakan pilihan untuk penyaluran energi.
Kalung identitas atau berbentuk identitas dikenakan pada pasien.
Detektor gerak atau suara didalam rumah. _

Tabel no. 2
Prinsip Utama Penatalaksanaan Penderita Demensia

1. Optimalkan fungsi dari penderita :
a. Obati penyakit yang paling mendasarinya (hipertensi, penyakit Parkinson).
b. Hindari pemakaian obat yang memberikan efek samping pada SSP.
c. Ases keadaan lingkungan, kalau perlu buat perubahan.
d. Upayakan aktivitas mental dan fisik.
e. Hindari situasi yang menekan kemampuan mental, gunakan alat bantu memori yang mungkin diperlukan.
f. Persiapkan penderita bila akan pindah tempat.
Kenali dan obati komplikasi :
a. Mengembara dan berbagai perilaku merusak.
b. Gangguan perilaku lain.
c. Depresi.
d. Agitasi atau agresivitas.
e. Inkontinensia.
Upayakan perumatan berkesinambungan :
a. Re-ases keadaan kognitif dan fisik.
b. Pengobatan gangguan medik.
Upayakan informasi medis bagi penderita dan keluarga :
a. Berbagai hal tentang penyakitnya.
b. Kemungkinan gangguan/kelainan yang mungkin terjadi.
c. Prognosis
Upayakan informasi pelayanan sosial yang ada pada penderita dan keluarganya :
a. Berbagai pelayanan kesehatan masyarakat.
b. Nasehat hukum dan atau keuangan.
Upayakan nasehat keluarga, untuk :
a. Pengenalan dan cara mengatasi konflik dalam keluarga.
b. Penanganan rasa marah dan rasa bersalah.
c. Pengambilan keputusan untuk perumatan respite atau diinsitusi.
d. Kepentingan-kepentingan hukum/masalah etik

Sumber : Kane RL et al, 1994

IV. KESIMPULAN
Demensia merupakan kumpulan gejala yang ditandai dengan adanya penurunan kemampuan intelektual. Orang demensia tidak dapat memelihara dirinya sendiri, tidak mandiri, tidak mengenal lagi lingkungannya.
Dari sejumlah penyebab demensia, demensia akibat penyakit Alzheimer adalah yang terbanyak yaitu sebanyak 60%. Demensia Alzheimer berjalan secara kronik dan progresif dan berlangsung cukup lama.
Gangguan memori merupakan gejala yang sering ditemukan pada penderita demensia. Perlu adanya observasi yang terus menerus pada warga lanjut usia dalam upaya pendeteksian dini gejala demensia.
Dalam menegakkan diagnosis, ada beberapa tes yang dapat membantu, misalnya Mini Mental State Examination, Clock Drawing Test. Selain tes tersebut, kita juga dapat melakuan beberapa pemeriksaan penunjang, misalnya pemeriksaan laboratorium rutin dan diagnostik pencitraan (imaging).
Penderita demensia diusahakan dapat berfungsi seoptimal mungkin. Hal ini dapat dicapai dengan memberikan bimbingan, latihan, serta mengubah lingkungan tempatnya agar penderita lebih mudah melakukan segala kegiatannya.
Penanganan penderita dengan demensia terdiri dari penanganan farmakologis yang dikombinasikan dengan penanganan non farmakologis.

DAFTAR PUSTAKA

Konsensus Nasional Pengenalan dan Penatalaksanaan Demensia Alzheimer dan Demensia Lainnya. Edisi 1, Demensia Alzheimer. Asosiasi Alzheimer Indonesia. Jakarta : 2003.

Hazzard, William R, et. Al. Principle of Geriatric Medicine and Gerontology. Second edition. McGraw Hill Inc. USA, 1990.

Setiabudhi, Tony. Makalah aspek Psiko-Sosial Demensia.

Setiabudhi, Tony. Kuliah Demensia di FK UNTAR Jakarta, 2004.

Sidiarto Kusumoputro, Lily D. Sidiarto. Mengenal Awal Pikun Alzheimer. Asosiasi Alzheimer Indonesia. Penerbit Universitas Indonesia. Jakarta, 2004.

Sidiarto Kusumoputro, Lily D. Sidiarto. Pengenalan Dini dan Penanganan Gangguan Kognitif Ringan dan Stadium Awal Demensia Alzheimer. Asosiasi Alzheimer Indonesia. Jakarta, 2002.

Sidiarto Kusumoputro, Lily D. Sidiarto. Memori Anda Setelah Usia 50. Asosiasi Alzheimer Indonesia. Jakarta, 2003.

Sidiarto Kusumoputro, Lily D. Sidiarto. Pengenalan Dini dan Penanganan Gangguan Kognitif Ringan dan Stadium Awal Demensia Alzheimer. Asosiasi Alzheimer Indonesia. Jakarta, 2003.

Maslim. Dr.Rusdi. (2000). Buku saku Diagnosis Gangguan Jiwa: PPDGJ-III, Jakarta.

http://www.Alzheimer’s Disease And Dementia = New Treatments, January 22, 2005.htm

http://www.emedicine – Multiple Infark Article by Giovanni d’Avossa, MD.htm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *