DRUG RESISTANT TUBERCULOSIS adalah suatu kasus dimana basil tuberculosis mengekskresikan zat yang membuat resisten terhadap satu atau lebih obat anti tuberculosis. Multi-drug resistant tuberculosis disebut sebagai penyakit dimana M. Tuberkulosis resisten terhadap Isoniazid (H) dan Rifampicin (R) dengan atau tanpa resisten terhadap obat lain.

TIPE RESISTENSI OBAT

Resistensi obat terdiri dari dua tipe yaitu primer dan didapat. Resistensi obat primer dapat didefinisikan sebagai resistensi pada pasien yang belum pernah mendapat terapi anti tuberkulosa sebelumnya. Resistensi yang berkembang pada pasien yang sudah pernah mendapat kemoterapi sebelumnya disebut resistensi obat didapat. Tetapi terminologi resistensi pada kasus baru dan resistensi pada pasien yang sudah pernah diterapi sebelumnya telah diusulkan untuk dipergunakan karena kesulitan dalam mengkonfirmasi validitas pasien yang sebelumnya sudah pernah mendapat terapi. bakteri penyebab TB menjadi resisten ketika penderita TB tidak mendapatkan atau tidak menjalani pengobatan lengkap. Resistensi obat TB, seperti drug sensitive TB juga dapat menular melalui udara dari penderita kepada bukan penderita. MDR-TB merupakan bentuk TB yang tidak me-respon terhadap standar 6 bulan pengobatan yang menggunakan obat standard atau first-line (resisten terhadap isoniazid dan rifampicin). Ketika seseorang ragu-ragu apakah resistensinya primer atau didapat berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya disebut inisial drug resisten.

Prevalensi resistensi obat secara global:
Review dari WHO setelah dilakukan 63 survey tentang resistensi obat TB antara tahun 1985-1994 menghasilkan kesimpulan bahwa masalah resistensi TB sudah menjadi global. Informasi yang available menunjukkan bahwa tingkat resistensi primer terhadap Isoniazid (H) saja sebanyak 0-16,9 %.Peningkatan resistensi primer tehadap H telah dilaporkan dari Kenya, India, Haiti dan dilaporkan rendah di Inggris tenggara, Melbourne dan Argentina. Resistensi primer terhadap Sterptomicyn berkisar antara 0,1-23,5 %.
Tingginya resistensi terhadap Streptomycin (S) dilaporkan di Zaire, Pakistan dan Brazil dan rendahnya resistensi dilaporkan di China, Ethiopia and Bosnia – Herzegovina. Resistensi primer terhadap R saja jarang ditemukan dan berkisar 0 – 3%. Resistensi terhadap Ethambutol (E) juga rendah, berkisar 0 – 4.2%2. Penelitian tentang resistensi obat didapat lebih jarang dilakukan dan jumlah resistensi obat didapat lebih tinggi dibandingkan resistensi obat primer. Jumlah resistensi didapat terhadap H saja berkisar dari 4 – 53.7%, terhadap S dari 0 – 19.4%, terhadap R dari 0-14.5% dan terhadap E dari 0 – 13.7%.
Resistensi terhadap beberapa obat juga berubah-ubah tergantung daerah geografis dan lebih sering ditemukan pada pasien dengan resistensi didapat. Jumlah MDR-TB sangat rendah pada kebanyakan survey, berkisar antara 0-10.8% pada kasus resistensi primer dan 0 – 48% untuk resistensi didapat. Multi-drug resisten dilaporkan dari 0.5 – 14.3% pada survey dimana tidak dapat dibedakan apakah resistensinya primer atau didapat. Pada banyak daerah didunia, jumlah MDR TB sangat rendah kecuali di New York dan Nepal yang sering dilaporkan akan tingginya MDR tipe didapat. Alasan terhadap berbagai variasi ini pada beberapa survey yang berbeda tergantung kepada tingkat pasien yang dipelajari dalam studi, derajat penggunaan obat yang tidak tepat, faktor dari ketidaktahuan jenis obat yang dipakai pasien pada pengobatan sebelumnya dan budaya setempat yang tidak mendukung. Kualitas permintaan keterangan mengenai perawatan yang sebelumnya dan fasilitas-fasilitas kepekaan kultur dan obat yang tidak cukup di dalam banyak benua.
Dengan mempertimbangkan studi sebelumnya, suatu survey global dari WHO-IUATLD tentang resistensi obat pada lebih dari 35 negara di 5 benua telah dilakukan dalam jangka waktu 1994-1997 dan setelah diamati didapat rata-rata prevalensi resistensi primer dan didapat adalah 9.9% (2-40.6%) dan 36% (5.3– 100%) dan rata-rata prevalensi multi drug resisten primer dan didapat adalah 1.4% (0-14.4%) dan 13% (0 – 54.4%). Prevalensi multi drug resisten ditemukan di negara pecahan Uni Soviet, Asia, Argentina dan Republik Dominica. WHO untuk pertama kali memperkenalkan terminologi MDR hotspot didaerah yang merupakan prevalensi tinggi MDR. Hotspot ini mengacu kepada daerah dimana terdapat kombinasi prevalensinya MDR TB lebih dari 5%.
Buruknya masalah TB-MDR di satu negara dapat jelas dengan berbagai cara:
• Jumlah kasus secara keseluruhan
• Proporsi kasus TB baru dengan TB-MDR (hal ini menunjukkan tempat di mana upaya pengendalian TB lini pertama mungkin paling lemah)
• Kejadian TB-MDR per 100.000 penduduk (metode ini menunjukkan daerah dengan proposi populasi TB-MDR tertinggi, sehingga merupakan tempat dengan risiko penularan tertinggi).
Berdasarkan analisa data survey, WHO memperkirakan terdapat hampir setengah juta kasus baru MDR-TB. Jumlah tersebut setara dengan 5% dari total 9 juta kasus baru TB di seluruh dunia tiap tahunnya. Angka tertinggi tercatat di Baku, ibu kota Azerbaijan, dimana terdapat hampir seperempat dari seluruh kasus baru TB (22,3%) dilaporkan sebagai multidrug-resistant. Proporsi MDR-TB pada kasus baru TB adalah 19,4% di Moldova, 16% di Donetsk, Ukraina, 15% di Tomsk Oblast di Federasi Rusia dan 14,8% di Tashkent, Uzbekistan. Angka-angka tersebut melampaui level tertinggi dari resistensi obat yang dipublikasikan melalui laporan WHO tahun 2004. Survey di Cina juga menyatakan bahwa MDR-TB menyebar luas di negara tersebut. Permasalahan yang mengemuka adalah keterbatasan kapasitas untuk memberikan data terkait resistensi obat. Sebagia contoh, di Afrika yang merupakan wilayah dengan insiden TB tertinggi di dunia hanya terdapat 6 negara mampu menyediakan data resistensi obat sebagai laporan. Sedangkan selebihnya tidak mampu melaksanakan survey karena tidak memiliki peralatan dan tenaga terlatih yang dibutuhkan untuk mengidentifikasi resistensi obat TB.
Kesimpulan dari laporan menyatakan bahwa resistensi terhadap obat anti-TB ditemukan pada seluruh 35 negara yang disurvey sehingga dinyatakan sebagai masalah global.