1. Analisis Sistem

Analisis sistem berasal dari berbagai bidang pengetahuan, dan telah mempengaruhi pola pikir dalam bermacam-macam penelitian dan pengembangan, termasuk dalam bidang biologi, teori organisasi, teori sosial, dan proses belajar. Pada dasarnya analisis sistem adalah mempelajari hubungan yang terdapat pada komponen-komponen yang saling bergantung dan merupakan suatu kesatuan.

Di bidang pembelajaran, analisis sistem menekankan bagaimana pengorganisasian pengetahuan dan keterampilan, dan bagaimana menguraikan secara sistematik keterampilan kompleks menjadi komponen-komponen yang dapat diajarkan secara berurutan dan berhasil. Gagne dan Leslie Briggs (dalam Arend, 1997: 68) mengemukakan pandangannya tentang analisis sistem dalam bidang pendidikan sebagai berikut.

Pembelajaran yang dirancang secara sistematik akan berpengaruh terhadap perkembangan individu (manusia). Beberapa pakar pendidikan mengemukakan, bahwa pendidikan akan sangat berhasil jika dirancang hanya untuk memberikan kesempatan kepada siswa memperoleh lingkungan belajar yang menunjang dan berkembang sesuai dengan kemampuan dan responnya sendiri, tanpa adanya paksaan apapun. Gagne dan Briggs menganggap hal tersebut merupakan pandangan yang keliru. Pembelajaran yang tidak terarah, menurut mereka sangat memungkinkan terjadinya perkembangan pada banyak siswa menuju kearah ketidakmampuan memenuhi kepuasan pribadinya dari kehidupan masyarakat sekarang atau yang akan datang.

  1. Teori Belajar Perilaku

Prinsip yang paling penting dalam teori belajar perilaku adalah bahwa perilaku seseorang berubah sesuai dengan konsekuensi-konsekuensi langsung dari perilaku tersebut. Konsekuensi yang menyenangkan akan “memperkuat” perilaku, sedangkan konsekuensi yang tidak menyenangkan akan “memperlemah” perilaku. Berarti konsekuensi yang menyenangkan akan meningkatkan frekuensi seseorang untuk melakukan perilaku yang serupa, dan sebaliknya yang tidak menyenangkan akan menurunkan frekuensi seseorang untuk melakukan perilaku yang serupa.

Penguatan atau hukuman yang diberikan adalah untuk merubah perilaku. Menurut teori belajar perilaku, memberikan konsekuensi penguatan atau hukuman sesegera mungkin akan lebih baik dan memberikan pengaruh positif terhadap perilaku selanjutnya daripada diberikan dibelakang. Oleh karena itu, pemberian konsekuensi sesegera mungkin dalam proses pembelajaran itu penting, supaya kesalahan yang sama tidak dilakukan lagi oleh siswa. Seseorang melakukan suatu perilaku, dengan konsekuensi-konsekuensiyang tidak menyenangkan akan menurunkan frekuensi seseorang untuk melakukan perilaku yang serupa (Budayasa, 1998: 14).

Dalam pembelajaran langsung pemberian konsekuensi sesegera mungkin ini dapat diterapkan pada fase mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik.

  1. Teori Belajar Sosial

Teori belajar yang banyak sumbangannya pada pembelajaran langsung adalah teori belajar sosial, yang disebut juga belajar melalui observasi. Teori belajar sosial merupakan prinsip-prinsip pembelajaran perilaku dan penekanannya pada proses mental internal. Interaksi antara penguatan eksternal dan proses kognitif digunakan untuk menjelaskan bagaimana seseorang belajar dari orang  lain.

Bandura (dalam Nur, 1997: 4) mengemukakan bahwa: ”sebagian besar manusia belajar melalui pengamatan secara selektif dan mengingat tingkah laku orang lain”. Ada empat elemen penting yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran melalui pengamatan. Keempat elemen tersebut adalah atensi, retensi, reproduksi, motivasi dan penguatan.

Atensi (perhatian)

Seseorang harus menaruh perhatian (atensi) agar dapat belajar melalui pengamatan. Dalam pembelajaran, guru harus menjamin agar siswa memberikan atensi kepada bagian penting dari pelajaran dengan melakukan presentasi yang jelas dan menggarisbawahi poin-poin penting. Dalam mendemonstrasikan suatu keterampilan yang kompleks, guru dapat meminta siswa untuk memperhatikan demonstrasi tersebut dari belakang dan memperhatikan dari atas pundak guru pada saat guru bekerja. Melihat tangan guru dari perspektif yang sama membuat pembelajaran melalui pengamatan lebih mudah.

Retensi (ingatan)

Bandura juga menemukan bahwa retensi suatu hasil pengamatan (tingkah laku) dapat memantapkan jika pengamat dapat menghubungkan observasi dengan pengalaman-pengalaman sebelumnya, yang bermakna baginya dan mengulangi secara kognitif.

Setelah memahami hal tersebut, guru yang memanfaatkan pembelajaran langsung dapat melakukan hal-hal sebagai berikut.

Untuk mengaitkan keterampilan baru dengan pengetahuan awal siswa, guru dapat meminta siswa untuk membandingkan keterampilan baru yang telah didemonstrasikan dengan sesuatu yang telah diketahui, dan dapat dilakukannya.

Untuk memastikan terjadinya retensi jangka panjang, guru dapat menyediakan periode pelatihan yang memungkinkan siswa mengulang keterampilan baru secara bergiliran, baik secara fisik maupun secara mental.

Reproduksi

Memberikan kesempatan praktek kepada siswa untuk melakukan kegiatan yang baru mereka pelajari, merupakan hal yang penting. Salah satu cara yang dapat dilakukan oleh guru yang menggunakan pembelajaran langsung ialah melalui pemodelan korektif yang mencakup kegiatan-kegiatan berikut.

Untuk memastikan sikap positif terhadap keterampilan baru, guru seyogyanya memberikan pujian sesegera mungkin pada aspek keterampilan yang dilakukan siswa dengan benar, lalu mengidentifikasikan keterampilan yang masih sulit dilakukan oleh siswa.

Untuk memperbaiki keterampilan yang salah, guru perlu mendemonstrasikan kinerja yang benar, kemudian meminta siswa mengulanginya sampai benar-benar menguasai.

Umpan balik dapat ditujukan pada aspek-aspek yang benar dari penampilan, tetapi yang lebih penting ialah ditujukan pada aspek-aspek yang salah dari penampilan. Secara cepat memberi tahu siswa tentang respon-respon yang tidak tepat sebelum berkembang kebiasaan-kebiasaan yang tidak diinginkan.

Motivasi dan Penguatan

Siswa dapat memperoleh suatu keterampilan atau perilaku melalui motivasi atau insentif untuk melaksanakannya. Apabila siswa itu mengantisipasi akan memperoleh penguatan (reinforcement) pada saat meniru tindakan-tindakan suatu model, siswa akan lebih termotivasi untuk menaruh perhatian mengingat dan mereproduksi perilaku tersebut. Seseorang yang mencoba suatu perilaku baru tidak mungkin untuk tetap melakukannya tanpa penguatan. Secara rinci dan sistematis tahap-tahap pembelajaran langsung dan teori-teori belajar yang melandasi setiap tahap dapat dilihat pada Tabel 2.1

Tabel 2.1

Tahap-tahap Pembelajaran Langsung dan Teori Belajar yang Melandasinya

Tahap / Fase Peran Guru Teori Belajar
1 2 3
1.  Menyampaikan tuju-an pembelajaran dan mempersiapkan siswa. Guru menjelaskan TPK, informasi latar belakang pelajaran, pentingnya pelajaran, mempersiapkan siswa untuk belajar. Teori belajar perilaku, teori belajar social (Bandura; tahap retensi, motivasi dan penguatan).
2.   Mendemonstrasikan pengetahuan atau keterampilan. Guru mendemonstrasikan keterampilan dengan benar, atau menyajikan informasi tahap demi tahap. Analisis sistem teori belajar perilaku, teori belajar sosial (Bandura; tahap atensi).
3.   Pemberian pelatihan terbimbing. Guru merencanakan dan memberi bimbingan pelatihan awal. Teori belajar sosial (Bandura; tahap atensi, retensi, motivasi dan penguatan).
4.   Mengecek kesempatan untuk perluassan latihan mandiri. Guru mengecek apakah siswa telah berhasil melakukan tugas dengan baik, memberikan umpan balik Teori belajar perilaku (konsekuensi perilaku),Teori belajar sosial (Bandura; tahap motivasi dan penguatan).
5.  Memberikan kesem-patan untuk perluasan latihan mandiri. Guru mempersiapkan kesempatan melakukan perluasan latihan mandiri, dengan perhatian khusus pada penerapan kepadaa situasi yang lebih kompleks dan kehidupan sehari-hari. Teori belajar sosial (Bandura; tahap reproduksi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *