PENDAHULUAN

Latar Belakang
Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memiliki potensi sumber daya perikanan yang sangat besar. Sumberdaya perikanan tersebut berpeluang dan dapat sesuai apabila dikembangkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Aceh sebagai propinsi yang telah memiliki berbagai komunitas perikanan, salah satunya udang pisang (panaeus spp), udang pisang yang di duga untuk saat ini belum di temukan di wilayah lain. Potensi udang pisang (panaeus spp) sekarang dilakukan berbagai upaya untuk dapat di domestifikasikan.
Beberapa hal yang harus di perhatikan dalam usaha budidaya udang, benur udang pisang (panaeus spp) merupakan kendala pertama terhadap usaha budidaya di tambak. Pada proses pemeliharaan udang pisang (panaeus spp) sering terjadi kematian, ketika memasuki stadia post larva (PL) udang pisang sering melemah akibat stres,oleh karena itu perlu dilakukan proses upaya untuk mengatasi hal tersebut yaitu dengan mengaplikasikan vitamin C pada media pemeliharaan benur udang pisang (panaeus spp)
Vitamin C merupakan salah satu suplemen makanan bagi udang yang berguna untuk melancarkan metabolisme dalam tubuh, mengatasi stres dan untuk menjaga daya tahan tubuh udang. Aplikasi vitamin C pada pemeliharaan benur udang pisang (panaeus spp) merupakan salah satu cara untuk mengurangi mortalitas pada proses pemeliharaan udang pisang .
Dari uraian di atas, perlu di teliti aplikasi vitamin C pada pemeliharaan post larva udang pisang dengan dosis yang berbeda untuk mengetahui laju pertumbuhan dan kelangsungan hidup udang pisang (panaeus spp).
1.2 Identifikasi Masalah
Pada pemeliharaan benur udang pisang (panaeus spp) masih ditemukan tingkat kematian benur yang relatif tinggi yang disebabkan kondisi stress karena adaptasi lingkungan. Kondisi stress tersebut dapat diatasi dengan cara pemberian vitamin c karena vitamin c dapat mengatasi stress dan menjaga daya tahan tubuh.
Berdasarkan uraian diatas permalahan dalam penelitian ini diidentifikasi sebagai berikut :
Apakah pemberian vitamin C yang berpengaruh pada post larva udang pisang dapat meningkatkan laju pertumbuhan dan daya tahan tubuh bagi post larva udang pisang (panaeus spp).
Brapa dosis vitamin C yang bagus bagi kelangsungan hidup benur udang pisang (panaeus spp).
Berapa dosis vitamin C yang bagus bagi laju pertumbuhan benur udang pisang (panaeus spp)

1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui :
pemberian vitamin C berpengruh terhadap pemeliharaan udang pisang (panaeus spp)
dosis vitamin C yang berbeda terhadap kelangsungan hidup post larva udang pisang (panaeus spp) yang bagus.
dosis vitamin C yang berbeda terhadap laju pertumbuhan post larva udang pisang (panaeus spp) yang bagus.

1.4 Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang pemeliharaan post larva udang pisang (panaeus spp). dengan pencampuran vitamin C pada media air sehingga dapat menjadi pedoman bagi pengusaha hatchery swasta serta menjadi leteratur bagi proses belajar mengajar.

1.5 Hipotesis
Hipotesis yang di ajukan pada penelitian ini adalah tanpa pemberian vitamin C yang dilarutkan kedalam media, pemeliharaan post larva udang pisang (panaeus spp) dapat mengurangi laju pertumbuhan dan kelangsungan hidup udang pisang (panaeus spp).

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Klasifikasi Udang Penaeidae
Beberapa udang laut yang hidup di tambak kebanyakan dari famili penaeidae, yakni udang windu (panaeus monodon) ,udang putih (panaeus marguensis) ,udang vaname (liponeus vanamee) dan udang pisang (panaeus spp). Berikut beberapa jenis udang ekonomis penting dari hasil tambak.
Adapun dari jenis – jenis udang penaeidae yang dibudidayakan di tambak lebih unggul dari komunitas udang windu (panaeus monodon) dikarnakan dari bobot tubuh yang lebih besar, pakan yang sedikit serta udang windu dapat tembus ke pasar internasional dengan harga yang relatif tinggi.

Gambar 1. Morfologi Udang Penaeidae (Google image, 2014)

Tubuh udang agak melengkung (bongkok), udang berjalan dengan cara merayap di dasar air menggunakan kaki-kakinya (pleopod) yang juga dapat digunakan untuk berenang, sedangkan bagian ekornya yang terdiri atas telson dan uropod digunakan sebagai pengendali.
2.1.1. Udang windu (panaeus monodon)
Udang windu adalah Nama populer yang dikenal diseluruh wilayah Indonesia. Sedangkan nama – nama lokal dari udang ini yaitu udang bango, udang sotong.sedangkan nama internasional adalah tiger prawn lantaran berukuran besar dan warnanya yang bergaris- garis hitamputih seperti harimau.
Udang windu dapat di klasifikasi sebagai berikut :
Filum : Arthropoda
Kelas : Crustacea
Sub Kelas : Malacostraca
Ordo : Decapoda
Family : Penaeidae
Genus : Panaeus
Spesies : Panaeus monodon

Gambar 2. Udang windu
Menurut (Mintardjo 1970) habitat hidup udang windu stadia yuwana adalah wilayah pantai berair payau pada daerah hutan bakaudan berlumpur dengan campuran pasir subur, menjelang dewasa udang windu akan bermigrasi ke laut lepas tempat udang tumbuh dewasa serta melakukan pemijahan untuk bertelur kedalam laut bersalinitas tinggi, serta benur akan di bawa ke pinggiran pantai oleh arus air laut.
2.1.2. udang putih (panaeus marguensis)
Diwilayah Indonesia ada dua spesies udang putih yaitu panaeus marguensis dan panaeus indicus beberapa daerah mengenalnya sebagai udang cucuk atau udang pengantin. Sifat morfologi yang khas sebagai tanda pengenal udang ini ialah warna tubuhnya yang putih, sedangkan ujung dan tepi ekor serta kaki udang berwarna merah kulitnya relatif tipis dan dagingnya lebih lunak dibanding udang windu.
Adapun klasifikasi udang putih adalah sebagai berikut :
Filum : Arthropoda
Kelas : Crustacea
Sub Kelas : Malacostraca
Ordo : Decapoda
Family : Penaeidae
Genus : Panaeus
Spesies : Panaeus marguensis

Gambar 3. Udang putih

Menurut (Cook dan Rabanal) perbedaan antara panaeus marguensis dan panaeus indicus sukar dikenali oleh karna itu jenis udang ini di golongkan dalam kelompok panaeus marguensis. Meskipun pertumbuhan udang marguensis lambat jika di budidayakan di tambak hanya mencapai ukuran 20 gram selama tiga bulan tetapi benih alamnya sangat bayak. Oleh karna itu petani gemar membudidayakan udang putih karena benur udang windu sukar didapatkan.
2.1.3. udang vanname (Litopenaeus vanname)
Udang vaname adalah salah satu spesies udang yang berasal dari perairan america dan hawai yang sukses di budidayakan di beberapa negara di Asia. Secara ekologis udang vaname mempunyanyi siklus hidup indentik dengan udang windu dan udang putih yang melepaskan telurnya di perairan laut lepas.
Udang vaname dapat di klasifikasi :
Filum : Arthropoda
Kelas : Crustacea
Sub Kelas : Malacostraca
Ordo : Decapoda
Family : Penaeidae
Genus : Litopenaeus
Spesies : Litopenaeus vanname

Gambar 4. Udang vanname
Menurut kordi 2007 udang vanname juga dapat di serang penyakit, jamur, protozoa, bakteri dan virus. Virus spesifik yang menyerang udang ini adalah taura symdrom virus (TSV) dan pertama kali ditemukan virus ini di muara sungai Taura, Equador. Virus ini sangat mematikan menyerang benur udang di hatchery maupun di tambak pembesaran.
2.1.4. udang pisang (Panaeus spp)
Secara fisik, Udang pisang, Panaeus spp menyerupai udang windu. Mulai dari rostrum, hepatic carina, morfologis dan bagian tubuh lainnya. Tapi sifat dan warnanya mirip udang marguensis. Udang ini aktif di malam hari dan memiliki sifat kanibalisme serta hidup dan mencari makan di dasar perairan. Warna tubuh dan antenanya polos tidak berbelang serta kaki renannya merah. Sedangkan unutk ukuran tubuh udang pisang lebih besar dari marguensis dan vannamei.
Udang pisang dapat diklasifikan dengan udang windu karena jenis udang ini masih satu famili dengan udang windu adalah sebagai berikut:
Filum : Arthropoda
Kelas : Crustacea
Sub Kelas : Malacostraca
Ordo : Decapoda
Family : Penaeidae
Genus : Panaeus
Spesies : Panaeus spp

Gambar 5.Udang Pisang (subang, 2014)

Udang pisang atau udang kelong termasuk ke dalam genus Panaeus yang termasuk Decapoda, tubuhnya terdiri atas dua bagian yaitu bagian kepala dan bagian perut. Semua bagian badan beserta anggotanya terdiri dari ruas-ruas (segmen). Bagian kepala terdiri atas 13 ruas, diantaranya 5 ruas bagian utama kepala dan 8 ruas merupakan bagian dada. Sedangkan bagian perut dari udang pisang ini terdiri atas 6 ruas. Tiap ruas badan mempunyai sepasanga anggota badan yang beruas-ruas pula. Seluruh tubuhnya tertutup oleh kerangka luar yang disebut eksoskeleton yang terbuat atas chitin. Kerangka tersebut mengeras, kecuali sambungan-sambungan antara dua ruas tubuh yang berdekatan, sehingga memudahkan udang untuk bergerak.

2.2 Habitat Hidup Udang penaeidae
Lingkungan merupakan salah satu faktor eksternal yang mempunyai peranan penting. Kondisi lingkungan akan berpengaruh terhadap metabolisme tubuh udang dan kondisi lingkungan yang baik akan menunjang kecepatan pertumbuhan udang. Udang pisang ini bersifat Nocturnal yaitu aktif pada malam hari.Pada siang hari, udang ini lebih suka beristirahat.
Udang penaeidae juga mempunyai siklus hidup (Toro dan Soegiarto,1979).Adapun siklus hidup penaeidae adalah sebagai berikut :
Fase ditengah Laut
Udang dewasa berkembang biak ditengah laut.Beberapa saat sbelum kawin udang betina molting terlebih dahulu.Matang telur ditandai dengan ovari yang memanjang di bagian Dorsal yang melebar kekiri dan kekanan yang berwarna kehijauan. Keadaan tersebut menandakan udang betina sudah siap bertelur, dan spermatophora telah siap diterima dari udang jantan. Induk udang betina akan melepaskan telurnya pada malam hari dan diletakkan didasar laut dan akan menetas menjadi larva ( dalam bantuk beberapa tingkatan ) dan bersifat Planktonik.
Tingkat pertama larva adalah nauplius yang menjadi zoea dan kemudian menjadi mysis,lalu menjadi post larva ( Pl ). Setelah menjadi post larva sampai juvenil, larva akan terbawa arus ke daerah-daerah manggrov yang dekat ke muara sungai.
Fase Peranan Di Muara Sungai
Post larva hidup secara merayap atau melekat pada benda-benda didasar perairan muara sungai, di daerah-daerah hutan manggrov yang berfungsi sebagai tempat perlindungan (ajukan ) dan tempat mencari makan ( feeding ground ).
Anakan udang hidup menyesuaikan diri pada salinitas yang bervariasi, antara 4-35 ppt, dengan suhu yang tinggi dan tumbuh menjadi juvenil muda sehingga siap migrasi lagi kelaut ( Paula, 1998 ).

2.3 Kebutuhan Pakan Dan Kelangsungan Makan Udang
Semula udang Penaeid dikenal sebagai hewan bersifat omnivorous- scavenger artinya ia pemakan segala bahan makanan dan sekaligus juga pemakan bangkai. Namun penelitian selanjutnya dengan cara memeriksa isi usus, mengindikasikan bahwa udang Penaeid bersifat karnivora yang memangsa berbagai krustasea renik amphipoda, dan polychaeta.
Oceanic Institute di Hawai membuktikan bahwa bacteria dan algae yang banyak tumbuh di badan (kolom) air kolam yang agak keruh, ternyata berperan penting sebagai makanan udang, menyebabkan udang tumbuh lebih cepat 50% dibanding dengan udang yang dipelihara didalam kolam/bak yang berair sangat bersih. Catatan ini membuktikan bahwa udang tumbuh optimum dikolam.
karena adanya komunitas microbial (Wyban & Sweeney,1991). udang bersifat nocturnal. Sering ditemukan udang memendamkan diri dalam lumpur/pasir dasar kolam bila siang hari, dan tidak mencari makanan. Akan tetapi pada kolam budidaya jika siang hari diberi pakan maka udang akan bergerak untuk mencarinya, ini berarti sifat nocturnal tidak mutlak udang memerlukan pakan dengan kandungan protein 35 %. Ini lebih rendah dibanding dengan kebutuhan budidaya ikan kakap yang kebutuhan protein pakannya mencapai 45 % untuk tumbuh baik. Ini berarti dari segi pakan udang lebih ekonomis.
Gambar 6. Morfologi dan sistem saluran makanan udang windu

Keterangan gambar
A. Fase postlarva (PL-1)
B. Dewasa
1. Carapace
2. Rostrum
3. Mata majemuk
4. Antennules
5. Prosartema
6. Antena
7. Maxilliped
8. Pereopoda
9. Pleopoda
10. Uropoda
11. Telson

(Sutaman, 1993).

a. Oesophagus
b. Ruang cardiac
c. Ruang pyloric
d. Cardiac plate
e. Gigi-gigi cardiac
f. Cardiac ossicle
g. Hepatopancreas
h. Usus
i. Anus
2.4 Pertumbuhan Udang
Pertumbuhan dapat dirumuskan sebagai sebagai ukuran panjang atau berat dalam sewaktu-waktu (Effendie, 1997). Kecepatan tumbuh pada udang dipengaruhi oleh 2 faktor, yaitu frekuensi molting (ganti kulit) dan kenaikan berat tubuh setelah setiap kali ganti kulit.Karena daging tubuh tertutup oleh kulit yang keras, secara periodik kulit keras itu akan lepas dan diganti dengan kulit baru yang semula lunak untuk beberapa jam, memberi kesempatan daging untuk bertambah besar, lalu kulit menjadi keras kembali.

Proses molting dimulai dari lokasi kulit diantara karapas dan intercalary sclerite (garis molting dibelakang karapas) yang retak/ pecah memungkinkan cephalothorax dan kaki-kaki (appendiges) depan ditarik keluar. Udang dapat lepas sama sekali dari kulit yang lama dengan cara sekali melentikkan ekornya. Semula kulit yang baru itu lunak, lalu mengeras yang lamanya tak sama menurut ukuran/umur udangnya. Udang yang masih kecil, kulitnya yang baru akan mengeras dalam 1-2 jam, pada udang yang besar bisa sampai 1-2 hari.
Kondisi lingkungan dan faktor nutrisi juga mempengaruhi frekuensi molting. Misalnya, suhu semakin tinggi semakin sering molting. Ketika sedang molting, penyerapan oksigen kurang efisien, sehingga seringkali udang mati disebabkan hypoxia (kurang oksigen). Udang yang menderita stress, dapat melakukan molting secara tiba-tiba, karena itu tehnisi harus waspada dengan keadaan yang menyebabkan stress itu (molting merupakan proses fisiologi). Secara alamiah, udang yang sedang molting membenamkan diri didalam pasir dasar perairan untuk menyembunyikan diri terhadap predator.
2.5 Kebutuhan Lingkungan Benur Udang
Suhu air adalah parameter fisika yang di pengaruhi oleh kecerahan air untuk mempengaruhi suhu tubuh udang, selanjutnya akan mempengaruhi laju metabolisme dan laju pertumbuhan . DO atau Disoved Oxygen tergantung pada phytoplankton yang berada dalam perairan, karena sangat berperan penting terhadap DO yang ada di dalam perairan ( Herlena, 2005 ).salinitas sangat berpengaruh pada proses pemeliharaan benur udang di hatchery karena harus di sesuaikan dengan keadaan di laut lepas,salinitas yang optimal 30-36 ppt.

2.6 Faktor faktor penyebab daya tahan tubuh menurun pada benur udang pisang
Turunnya daya tahan tubuh benur udang pisang disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya:
Aklimatisasi
Proses aklimatisasi bisa menyebabkan benur udang stress dikarnakan pada saat pemindahan benur udang terjadi perubahan pada parameter fisika kimia.
Penurunan suhu drastis
pada saat suhu tidak stabil benur akan terkejut dan menyebabkan stress pada benur karena suhu sangat berpengaruh terhadap pemeliharaan benur udang di hatchery.
Kekurangan DO pada media
Di saat kekurangan DO pada wadah sering diakibatkan oleh banyaknya organisme yang hidup pada perairan tersebut baik protozoa maupun bakteri, hingga mengakibatkan persaingan DO dalam perairan wadah penelitian.

2.7 Sifat Sifat Umum Vitamin C
Vitamin merupakan senyawa organik yang sangat dibutuhkan bagi kehidupan sebagai pemacu metabolisme tubuh.Jumlah yang dibutuhkan sedikit,tapi bila kekurangan akan menimbulkan gangguan pertumbuhan dan penyebab penyakit ( Mujiman,1995 ). Telah banyak penelitian tentang peranan dan kebutuhan vitamin C pada udangseperti halnya untuk meningkatkan pertumbuhan,mengatasi stress,meningkatkan reproduksi dan meningkatkan imunitas terhadap serangan penyakit.Vitamin merupakan nutrien organik yang dibutuhkan dalam jumlah kecil bagi sejumlah fungsi biokimia dan umumnya tidak dapat disentesis oleh tubuh sehingga harus di campurkan pada media air.
Penambahan vitamin C yang cukup perlu diberikan karena untuk mengimbangi hilangnya vitamin C dalam proses pembuatan,penyimpanan dan pencucian selama pemberian pakan ( Kanazawa,1990). Kekurangan vitamin C dapat menimbulkan pertumbuhan yang menurun,daya tahan tubuh menurun dan kehilangan keseimbangan tubuh. Selain itu vitamin C dapat digunakan sebagai bentuk perlindungan terhadap serangan penyakit ( Sukmawati dkk, 1994 ).
2.8 Peran Vitamin C Secara Biologi
Vitamin C merupakan salah satu nutrien yang penting pada media ikan. Ikan tidak dapat mensistesis vitaminC dalam tubuh, karena tidak adanya enzim L-gulanolactoneoxidase yang diperlukan dalam sintesis vitamin C (Wilson, 1973 dalam Al-amoudi, 1992).
Masumotomo et al. (1991) menyatakan bahwa vitamin C mutlak diperlukan untuk pertumbuhan yang baik, karena vitamin mempertahankan atom besi pada status terduksi dan memelihara aktivitas enzim hydroxylase, yang berfungsi untuk pembentukan kerangka tubuh. Jika vitamin C cukup tersedia dalam tubuh, maka proses sintesis kalogen akan sempurna , sehingga pertumbuhan ikan akan baik. Hidroksilasi proline dan lysine terjadi setelah bersatunya proline dan lysine dalam rantai peptida. Proses ini membutuhkan oksigen, ion besi, a-ketoglutarat, dan vitamin C. Masumoto et al, (1991) menambahkan bahwa asam askorbat juga mempunyanyi peran khusus dalam biosintesis katekholamin terjadi di sel kromafin. Saraf pusat ikan sangat sensitif menerima rangsangan stres yang mengakibatkan peningkatan kosentrasi plasma katekholamin. Vitamin C berperan dengan efektif menjaga bentuk reduksi ion tembaga (Cu+) sebagai kofaktor yang dibutuhkan oleh enzim dopamineb-hydroxylase pada produksi adrenalin dalam biosintesis katekkholamin, maka dalam kondisi linngkungan yang tidak normal dan perubahan lingkungan secara cepat, produksi katekholamin akan meningkat dan memacu hati untuk memproduksi glukosa sebagai sumber energi untuk mengatasi stress, sehingga ikan mampu mempertahankan tubuhnya dari goncangan fisiologis (masumoto et al, 1991)
Vitamin C dalam media air terbukti mampu meningkatkan daya tahan benur udang dan ikan terhadap stress akibat kondisi lingkungan yang buruk maupun penyakit. Kanazawa, 1996.vitamin di butuhkan untuk pertumbuhan yang normal, pemeliharaan jaringan tubuh, dan reproduksi lingkungan , dan adanya stres fisiologis. Kebutuhan vitamin C berpariasi sesuai dengan tubuh ikan Hunter et al (1979).
2.9 Definisi kebutuhan Vitamin C
Terjadinya gejala definisi vitamin C dalam tubuh. Defisiensi vitamin C pada ikan disebabkan kurang terjadinya senyawa ini dalam ransum yanng diberikan, sedangkan ikan tidak mampu untuk mensitesis Vitamin C dalam tubuh. Defisiensi Vitamin C pada ikan menyebabkan pendarahan, pertumbuhan lambat, kelainan untuk bertulang serta peka terhadap infeksi, defisiensi asam askorbat dapat menyebabkan skoliosis, lordosis, luka pada mata dan menurunkan pertumbuhan. Bedasarkan penelitiann deshimaru dan kokarkin (2002) dalam singkong terdapat p. Japonicus dilaporkan bahwa udang yang diberi ransum tanpa vitamin C atau yang kurang, menunjukan gejala menjadi abu abu pada batas karapas, bagian bawah abdomen dan pada ujung kaki penjalan.
Sedangkan litner et,al. (1979) menemukan gejala kekurangan vitamin C pada p.californiensis yaitu luka yang berwana hitam pada seluruh permukaan tubuh, pada jaringan di bawah kulit, pada dinding esophangus, usus, insang dan celah insang.

III. BAHAN DAN METODE PENELITIAN

3.1 Tempat dan Waktu
Penelitian ini dilaksanakan di BBAP II, Jln. Laksamana malahayati, km. 16 Ujong Batee, Gampong Neuhen kecamatan Baiturrahman, Aceh Besar. Dari tanggal 5 April 2014 sampai 24 April 2014.
3.2 Alat dan Bahan
3.2.1 Alat
Adapun alat yang digunakan dalam penelitian adalah sebagai berikut:
Tabel 1. Alat
No Nama Alat Satuan Kegunaan
1 Thermometer oC Alat ukur suhu
2 pH Meter Alat ukur kadar asam (pH)
3 DO Meter ppm Alat ukur kadar oksigen terlarut (DO)
4 Refraktometer ppt Alat ukur salinitas
5 Pipet suntik ml Untuk pemberian vitamin C
6 Jangka sorong cm/mm Alat ukur komoditas
7 aerasi Melarutkan oksigen
8 Timbangan digital g Alat timbangan komoditas, racun, kapur, pupuk, mollase, fermentasi dll
9 Skopnet unit Alat panen
10 Gelas ukur ml Untuk melihat benur
11 Terpal m Untuk menstbilkan suhu

3.2.2 Bahan
Adapun bahan yang digunakan dalam penelitian adalah sebagai berikut:

Tabel 2. Bahan
No Nama Bahan Kegunaan
1 Benur Udang pisang Biota Uji
2 silikat Kultur pakan alami
3 Pupuk Kultur pakan alami
4 Bibit skeletonema Pakan alami
5 PK Sterilisasi
6 Artemia Pakan Alami
7 Vitamin C Bahan uji

3.3 Prosedur Penelitian
Persiapan media/Wadah penelitian
Wadah penelitian berupa toples yang bervolume 25 liter sebanyak 12 buah, tiap-tiap wadah diisi air payau yang steril yang diambil dari bak tandon
Pemasangan aerasi pada media
Aerasi yang bertujuan untuk meningkatkan oksigen terlarut dalam media penelitian, agar oksigen terlarut dalam wadah mencapai >3,0 ppt
Penebaran benur udang pisang paneus spp
Penebaran benur udang pisang dengan jumlah tiap-tiap wadah berjumlah 1000 ekor/20 liter air, pada saat penebaran harus dengan hati-hati supaya tidak terjadi stres pada saat aklimatisas
Pemberian pakan
Pemberian pakan berlangsung selama masa pemeliharaan dengan limit waktu 4 jam sekali pakan yang diberikan berupa artemia dan monodon

Pemberian vitamin C
Pemberian vitamin C dengan dosis yang berbeda pada perlakuaan yang berbeda-beda sebanyak 2 kali sehari (pagi dan sore) dengan cara melarutkan kedalam media air dengan dosis yang berbeda-beda (1ml, 2ml, 3ml, 0 ml )
Pengontrolan
Pengontrolan setiap saat hingga mencapai masa panen benur selama 12 hari agar mengetahui agar mengtahui parameter air dan daya tahan tubuh benur udang pisang
Panen
Panen dilakukan disaat stadia PL12 agar mengetahui sulvivarate dan laju pertumbuhan benur udang pisang.

3.4 Rancangan penelitian
Rancangan percobaan yang digunakan dalam percobaan ini adalah Rancangan Acak Lengkap Non Faktorial, dengan 4 perlakuan dan masing-masing 3 pengulangan.
3.4.1. Rancangan Perlakuan
Perlakuan A = 0 vitamin C
Perlakuan B = 1 ml vitamin C/20 liter air
Perlakuan C = 2 ml vitamin C/20 liter air
Perlakuan D = 3 ml vitamin C/20 liter air

3.4.2. Rancangan Percobaan
Menggunakan Metode Rangcangan Acak Lengkap (RAL) Nonfaktorial dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan data SR, pertumbuhan benur udang pisang ,dan jenis-jenis bakteri yang di analisis dengan analisa ragam (Annova) bila berbeda nyata maka di lanjutkan dalam uji lanjut. (sleel 1997.)

3.5 Parameter Pengamatan
3.5.1. kelangsungan hidup
Kelangsungan hidup udang pisang dihitung dengan membandingkan jumlah udang pisang pada hari ke N pemeliharaan,terhadap jumlah benur udang pisang dihitung dengan menggunakan rumus (efendi 1997) :
SR = NT : NO x 100%
Keterangan
SR = kelangsungan hidup benur udang pisang
NT = jumlah benur di akhir penelitian
NO = jumlah benur di awal penelitian

Monitoring pertumbuhan udang untuk mengetahui laju pertumbuhannya dilakukan dengan cara mencatat data pertumbuhan udang pada blanko monitoring pertumbuhan yang dilakukan per minggu dengan sampling ukuran udang (Tribawono. 1972), dimana hasil pengukuran tersebut dibandingkan normal udang sehingga nantinya akan diketahui apakah terjadi stagnasi pertumbuhan atau tidak.

3.5.2. pertumbuhan benur udang pisang
Pertumbuhan udang pisang dapat dihitung berdasarkan rumus Pebriana et al. (2012) yaitu :

G = Wt – W0
Keterangan :
G = Pertambahan bobot
Wt = Bobot akhir
W0 = Bobot awal

Pengamatan pertumbuhan harian dilakukan 7 hari sekali dengan menimbang bobot total udang pisang. Laju pertumbuhan relatif udang pisang dapat di hitung berdasarkan rumus De Silva (1995), sebagai berikut:
SGR=(In (W2)- In (W1))/(t2-t1) x100%
Keterangan :
SGR= laju pertumbuhan harian (%)
W1 = Berat awal udang
W2= Berat akhir udang
t = Waktu pemeliharaan (hari)

3.5.3. parameter kualitas air
Pengamatan parameter kualitas air selama penelitian meliputi oksigen terlarut, pH, salinitas, suhu. Data parameter kualitas air dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 3. Parameter pengukuran
No Parameter yang di ukur Alat yang digunakan

1 Tingkat keasaman (pH) pH Pen
2 Salinitas Handrefrakto meter
3 Oksigen terlarut (DO) DO pen
4 Suhu Termometer

3.6 Analisa statistik
Menggunakan Metode Rangcangan Acak Lengkap (RAL) Nonfaktorial dengan 3 perlakuan dan 3 ulangan.data SR, pertumbuhan udang pisang yang di analisis dengan analisa ragam (Annova) bila berbeda nyata maka di lanjutkan dalam uji lanjut. sleel 1997.

Daftar pustaka

Cook and Rabanal .,poblem in shrimp in the south china sea region (Makati, Philiphines 1976).

Effendie, M.I. 1997. Metode Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Dwi Sri. Bogor
Fisher, W.L., 1985, Seismic Stratigraphic Interpretation and Petroleum Exloration, AAPG Department of Education, Texas

Hunter, J.E. 1979. The vitamins, pp. 32-102. In: Fish nutrition, J.E. Halver (ed.). Academic Press, Inc., California.

Kordi, 2007. Budidaya udang vanname. Surabaya : penerbit indah.

Kanazawa, A., S. Teshima, and K. Ono. 1979. Conversion of Linoleic Acid to n-3 Highly Unsaturated Fatty Acids in Marine Fishes and Rainbow Trout. Bull. Jpn. Soc. Sci. Fish.,, 46: 1231-1233.
Kokarkin, C., 2002. “Petunjuk Teknis Budidaya Udang Rostris”. Dirjen Perikanan. Jakarta.
Litner, M.C. 1979. Biokimia nutrisi dan metabolisme (terjemahan). Universitas Indonesia, Jakarta.

Novotny, V. and Olem, H. 1994. Water Quality, Prevention, Identification and Management of Diffuse Pollution. New York: Van Nostrans Reinhold.

Mintarjo,k, dkk” result of pond culture of penaidae shrimp at the jepara center in 1970 ,bul.brackishwater, jepara. 3 (1&2):213-222.,1971.

Mujiman ,A. suyanto 2001. Morfologi udang genus panaeus jakarta
_______ , A. 1987. Morfologi udang. Penebar Swadaya. Jakarta.

Mujiman. A .1995., makanan ikan . penebar jakarta swadaya.

Masumoto, T., H. Hokokawa, S. Shimeno.1991. ascorbic acid’s role in aquaculture nuttrition. P.42 in akiyama, D.M and R.K.H.Tan (editors) Proceedings of the aqua culture feed processing and nutrition workshop. American soybean Association. Singapura.

Purnomo.2008. Fisika Universitas. Erlangga. Jakarta.
Steel, R. G. D., and J. H. Torrie. 1997. Principles and procedures of statistics. McGraw-Hill, Book Company, INC. London: 487 pp.
Sukmawati, D. 1994. Stres Oksidatif, Antioksidan Vitamin dan Kesehatan.
Tribawono, D., “pengenalan yuvenile udang windu sebbagai sarana pengembangan kultur udang tambak di jawa timur”, bul Disperikan Prop. Jatim. 1(3) :1-6.1972

Toro, V., dasn K. A. Soegiarto, 1979. Udang. Biologi Potensi, Budidaya dan Produksi di Indonesia. Proyek Penelitian Potensi Sumberdaya Ekonomi. (LON. Lipi). Jakarta, 229 hal.

Wilson, R. P. 1973. Utilization of dietary carbohydrate by fish. Aquaculture, 124 : 67-80.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *