BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Lobster merupakan komiditas ekspor dengan nilai ekonomis yang tinggi. Oleh karenanya eksploitasi terhadap lobster cenderung meningkat, yang apabila tidak dikendalikan dapat mengarah pada lebih tangkap. Konotasi lebih tangkap umumnya selalu “hanya” dikaitkan dengan adanya penangkapan yang sangat intensif, sehingga volume yang ditangkap melebihi batas-batas produksi lestarinya. Dalam pengertian ini, ada dua penyebab terjadinya overfishing, yakni overfishing yang diakibatkan oleh terlampau banyaknya ikan ukuran kecil yang tertangkap, sehingga ikan tidak cukup kesempatan untuk tumbuh menjadi ukuran yang layak tangkap, yang dikenal sebagai growth overfishing. Lebih tangkap yang lain adalah akibat banyaknya ikan yang sedang matang gonad tertangkap, sehingga jumlah induk yang melalukan pemijahan sangat terbatas. Hal ini berakibat jumlah anakan baru (recruit) sangat sedikit, yang dikenal sebagai recruitment overfishing.

Oeh karena itu untuk  Penangkapan lobster  dari alam perlu dikurangi dan kedepan bahkan harus dihindari, untuk itu nelayan perlu beralih dari usaha penangkapan kepada usaha pembudidayaannya. Oleh karena itu perlu dikembangkan teknologi pemuliaan (breeding) lobster baik untuk tujuan budidaya (ekonomi) maupun restocking (konservasi) sehingga pasokan kebutuhan ikan ini dapat dipenuhi tanpa menganggu populasinya di alam.

Manajemen kualitas air merupakan faktor utama dalam pembudidayaan lobster. Manajemen kualitas air yang buruk dapat menyebabkan keadaan abnormal pada lobster yang ditunjukkan dengan pertumbuhan lambat, rentan terhadap penyakit dan gangguan fisiologis lainnya.

2.2 Tujuan

            Tujuan yang ingin dicapai dari penanganan manajemen kualitas air ini dalah untuk meningkatkan produktivitas udang dengan kualitas yang baik.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Klasifikasi udang adalah sebagai berikut:

Klas                 : Crustacea (binatang berkulit keras)

Sub-klas          : Malacostraca (udang-udangan tingkat tinggi)

Superordo       : Eucarida

Ordo                : Decapoda (binatang berkaki sepuluh)

Sub-ordo         : Natantia (kaki digunakan untuk berenang)

Famili              : Palaemonidae, Penaeidae

Spesies            : Panulirus longipes

Habitat spesies P. longipes adalah perairan karang atau bebatuan yang dangkal (tapi kadang-kadang dijumpai juga pada kedalaman 130 meter). Perairan yang disukai yang jernih, dengan arus seang, atau kadang-kadang sedikit keruh. Udang bersifat nokturnal dan tidak berkelompok Chan (1998).

Habitat udang barong pada umumnya adalah di perairan pantai yang banyak terdapat bebatuan / terumbu karang. Terumbu karang ini disamping sebagai barrier (pelindung) dari ombak, juga tempat bersembunyi dari predator serta berfungsi pula sebagai daerah pencari makan. Akibatnya daerah pantai berterumbu ini juga menjadi daerah penangkapan udang barong bagi para nelayan. Hal ini dapat dilihat dari cara nelayan mengoperasikan alat tangkap (bintur) di daerah bebatuan di pantai Chan (1998).

Timbulnya H2S di sedimen menjadi masalah tersendiri dalam budidaya udang karena sifat biologi udang yang termasuk hewan nocturnal, sepanjang siang banyak berada di dasar tambak, dan aktif di malam hari. Kondisi ini menyebabkan besar kemungkinan udang mengalami keracunan oleh paparan H2S. Shigueno (1986, cit. Chamberlain, 1988) dan Buwono (1993) menyatakan bahwa udang kehilangan keseimbangan pada kadar H2S antara 0,1-2,0 mg/L dan mengalami mortalitas pada kadar 4 mg/L, namun menurut Boyd (1982, cit. Boyd, 1992) konsentrasi H2S sebesar 0,01-0,05 mg/L sudah dapat mematikan organisme aquatik. Laporan Porter et al. (1986, cit. Yusoff et al., 1998) menyatakan bahwa H2S sedimen tambak kadang dapat mencapai lebih dari 500 μg/L.

BAB III

MANAJEMEN PEMELIHARAAN

            Air adalah media kehidupan lobster dan 80% masalah dalam pemeliharaan lobster berasal dari kualitas air. Kualitas air yang sangat penting diketahui mencakup yaitu:

  1. Lokasi yang cocok untuk tambak udang adalah pada daerah sepanjang pantai (beberapa meter dari permukaan air laut) dengan suhu rata-rata 26-28 derajat C.
  2. Tanah yang ideal untuk tambak udang adalah yang bertekstur liat atau liat berpasir, karena dapat menahan air. Tanah dengan tekstur ini mudah dipadatkan dan tidak pecah-pecah.
  3. Tekstur tanah dasar terdiri dari lumpur liat berdebu atau lumpur berpasir, dengan kandungan pasir tidak lebih dari 20%. Tanah tidak boleh porous (ngrokos).
  4. Jenis perairan yang dikehendaki oleh udang adalah air payau atau air tawar tergantung jenis udang yang dipelihara. Daerah yang paling cocok untuk pertambakan adalah daerah pasang surut dengan fluktuasi pasang surut 2-3 meter.
  5. Parameter fisik: suhu/temperatur=26-30 derajat C; kadar garam/salinitas=0- 35 permil dan optimal=10-30 permil; kecerahan air=25-30 cm (diukur dengan secchi disk)
  6. Parameter kimia: pH=7,5-8,5; DO=4-8 mg/liter; Amonia (NH3) < 0,1 mg/liter; H2S< 0,1 mg/liter; Nitrat (NO3-)=200 mg/liter; Nitrit (NO3-)=0,5 mg/liter; Mercuri (Hg)=0-0,002 mg/liter; Tembaga (Cu)=0-0,02 mg/liter; Seng (Zn)=0- 0,02 mg/liter; Krom Heksavalen (Cr)=0-0,05 mg/liter; Kadmiun (Cd)=0-0,01 mg/liter; Timbal (Pb)=0-0,03 mg/liter; Arsen (Ar)=0-1 mg/liter; Selenium (Se)=0-0,05 mg/liter; Sianida (CN)=0-0,02 mg/liter; Sulfida (S)=0-0,002 mg/liter; Flourida (F)=0-1,5 mg/liter; dan Klorin bebas (Cl2)=0-0,003 mg/liter.

 

BAB IV

KESIMPULAN

Kualitas air mempunyai 3 faktor yaitu faktor fisika, kimia dan biologi. Yang termasuk faktor fisika adalah suhu, kecerahan dan kekeruhan. Faktor kimia meliputi kelarutan oksigen, CO2, NH3 – N dan pH. Sedangkan faktor biologi adalah kandungan plankton dan lain-lain. Apabila suhu berubah maka faktor kimia air akan berubah, serta apabila suhu naik maka segala proses dipercepat hingga pada batas tertentu. Termasuk metabolisme dipercepat. Sudah menjadi gejala alam apabila kondisi cuaca cerah, intensitas cahaya matahari tinggi, suhu air meningkat (nafsu makan meningkat) sehingga pertumbuhan ikan pun cepat. Hal itu terjadi kebalikan apabila kondisi cuaca mendung, suhu air menurun akibatnya nafsu makan ikan menurun atau kondisi air kekurangan oksigen sehingga pertumbuhan ikan terhambat.

Kondisi kualitas air akan selalu direspon oleh ikan. Apabila kondisi kualitas airnya optimal untuk kehidupan ikan tersebut maka sudah barang tentu pertumbuhannya juga optimal. Apabila air tingkat kekeruhannya tinggi maka supsensi tersebut akan menempel pada lamela insang sehingga akan mengganggu pernafasan. Apabila pH air rendah maka lendir ikan akan menggumpal. Begitu contoh persoalan kondisi kualitas air yang akan langsung mempengaruhi pertumbuhan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *