Sejarah CHLORELLA SP.
Chlorella sp. berasal dari bahasa latin chloros yang berarti hijau dan ella yang berarti kecil, kemudian diberi nama oleh Beyerinck ahli biologi Jerman. Chlorella sp. sudah berada di bumi sejak masa pre cambrian kira-kira 2,5 milyar tahun yang lalu. Tumbuhan ini merupakan yang pertama kali memiliki bentuk sel yang berinti sebenarnya. Kelangsungan generasinya yang dapat mencapai zaman modern merupakan tanda kestabilan dan ketangguhan sifat genetiknya (Steenblock, 1994).




Klasifikasi
Menurut Vashesta (1979) disitasi oleh Sri dan Achmad (1990), klasifikasi Chlorella sp. sebagai berikut :
Kingdom : Plantae
Phylum : Chlorophyta
Kelas : Chlorophyceae
Ordo : Chlorococcales
Family : Chlorellaceae
Genus : Chlorella
Species : Chlorella sp.

 Morfologi
Sel Chlorella sp. berbentuk bulat atau bulat telur dan umumnya merupakan alga bersel tunggal (unicellular), meskipun kadang-kadang dijumpai bergerombol. Diameter selnya berkisar antara 2-8 mikron, berwarna hijau, dan dinding selnya keras yang terdiri dari selulosa dan pektin, serta mempunyai protoplasma yang berbentuk cawan. Chlorella sp. dapat bergerak tetapi sangat lambat sehingga pada pengamatan seakan-akan tidak bergerak (Isnansetyo dan Kurniastuty, 1995). Morfologi Chlorella sp.

Siklus Hidup Chlorella sp.
Chlorella sp. berkembangbiak secara vegetatif. Sel anak berkembang menjadi sel induk, sel-sel induknya mengeluarkan zoospora yang masing-masing dinamakan aplanospora. Dari satu sel induk dapat dihasilkan beberapa buah spora (Isnansetyo dan Kurniastuty, 1995; Priyambodo, 2002). Tahap pertumbuhan Chlorella sp. dapat dibedakan sebagai berikut :

1. Tingkat pertumbuhan; pada tingkat ini terjadi penambahan besarnya sel.
2. Tingkat pemasakan awal; pada tingkat ini terjadi beberapa proses persiapan pembentukan sel anak.
3. Tingkat pemasakan akhir; pada tingkat ini terjadi pembentukan sel induk muda.
4. Tingkat pelepasan sel atau pelepasan autospora; pada tahap ini dinding sel induk akan pecah dan akhirnya terlepas menjadi sel-sel baru.

Chlorella sp. berkembang biak secara vegetatif (aseksual) dan generatif (seksual). Perkembangbiakan secara vegetatif diawali dengan membentuk spora. Setiap sel induk Chlorella sp. akan mengeluarkan zoospora yang disebut aplanospora sebanyak 8 buah. Selanjutnya aplanospora berkembang menjadi individu-individu baru. Setiap aplanospora yang telah dewasa akan mengeluarkan 8 aplanospora baru dan seterusnya selama kondisi lingkungan memungkinkan. Perkembangbiakan sel Chlorella sp. secara generatif belum banyak diketahui (Djarijah, 1995).
Menurut Martosudarmo dan Wulan (1990), susunan perkembangan umum Chlorella sp. ditandai dengan sedikitnya empat tahap yang terpisah yaitu :
1. Tahap induksi : Setelah penambahan bibit ke dalam media kultur, populasi Chlorella sp sementara tidak berubah, sel masih beradaptasi dengan lingkungannya.
2. Tahap eksponensial : Ditandai dengan perkembangbiakan sel yang cepat dan konstan.
3. Tahap stasioner : Kecepatan perkembangan sel sudah mulai menurun secara bertahap atau adanya keseimbangan antara tingkat kematian dengan tingkat pertumbuhan.
4. Tahap kematian : Tingkat kematian lebih tinggi dari tingkat pertumbuhan.
Menurut Isnansetyo dan Kurniastuty (1995) alga ini berkembangbiak secara vegetatif dengan pembelahan sel, tetapi juga dapat dengan pemisahan autospora dari sel induknya. Perkembangbiakan sel ini diawali dengan pertumbuhan sel yang membesar. Tahap selanjutnya terjadi peningkatan aktivitas sintesa sebagai bagian dari persiapan pembentukan sel anak yang merupakan tingkat pemasakan awal. Tahap berikutnya terbentuk sel induk muda yang merupakan tingkat pemasakan akhir, disusul dengan pelepasan sel anak. Daur hidup dan cara perkembangbiakan Chlorella sp
2.5 Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan
Faktor-faktor yang dapat mendukung keberhasilan kultur alga berkualitas baik dengan kepadatan yang diinginkan harus diperhatikan. Menurut Anonimous (1990), faktor-faktor pendukung ini antara lain faktor biologi, kimia, fisika, dan kebersihan lingkungan kultur. Faktor biologi meliputi penyediaan bibit yang bermutu (termasuk kemurniaan) dan jumlahnya yang mencukupi. Faktor fisika yang mempengaruhi antara lain suhu, salinitas, dan intensitas cahaya. Faktor kimia disini adalah unsur hara dalam media pemeliharaan harus sesuai dengan kebutuhan jenis fitoplankton yang akan dikultur. Selain faktor-faktor tersebut ada faktor lain yang perlu diperhatikan, yaitu kebersihan dari alat-alat kultur agar tidak terkontaminasi dengan organisme lain yang akan mengganggu pertumbuhan.

Ekologi dan Fisiologi
Martosudarmo dan Wulan (1990) mengemukakan bahwa alga hijau dapat ditemukan di habitat air tawar maupun air asin. Jenis alga hijau yang biasa digunakan dalam budidaya yaitu Scenedesmus dan Chlorella sp. Menurut Isnansetyo dan Kurniastuty (1995) Chlorella sp. bersifat kosmopolit yang dapat tumbuh di mana-mana, kecuali pada tempat yang sangat kritis bagi kehidupannya. Alga ini dapat tumbuh pada salinitas 0-35 ppt. Salinitas 10-35 ppt merupakan salinitas optimum untuk pertumbuhan alga ini. Alga ini masih dapat bertahan hidup pada suhu 400C, tetapi tidak tumbuh. Kisaran suhu 250C-300C merupakan kisaran suhu yang optimum untuk pertumbuhan alga ini.