panglaot_cutnyakdhien
Cut Nyak Dhi’en dan Pengawalnya 
(foto sebelum beliau di tangkap di Meulaboh-Aceh Barat 
dan diasingkan ke Sumedang-Jawa Barat)
Hampir dalam seluruh aspek kehidupan, masalah perempuan selalu menjadi topik yang sangat menarik untuk dibicarakan. Di satu sisi, dengan segala sifat kefeminimannya kaum perempuan merupakan sumber mata air kehidupan, namun di sisi lain mereka juga menjadi sumber air mata penderitaan. Di balik kelemahan fisik dan kelembutan sikap kaum perempuan, sering kali tersimpan kekuatan yang dahsyat dan menakjubkan untuk merubah tatanan sosial dan corak kebudayaan suatu bangsa menjadi lebih baik, atau sebaliknya menjadi lebih buruk.

Tanpa mengurangi fungsi, peranan dan kedudukan kaum lelaki, ternyata kunci sukses tidaknya proses regenerasi sebuah bangsa kelihatan lebih banyak ditentukan oleh kaum perempuan ketimbang laki-laki, meskipun pada dasarnya tanggung jawab kepemimpinan dalam sebuah keluarga secara hukum telah dibebankan di atas pundak kaum laki-laki. Secara umum diakui, bahwa para toloh besar tentu tidak akan lahir, kecuali lewat rahim dan kasih sayang seorang ibu. Namun, sejarah Islam telah mencatat betapa Siti Aminah tanpa suaminya, Abdullah, hanya dalam rentang waktu 6 tahun sebelum wafatnya telah berhasil melahirkan seorang putera, yakni Rasulullah SAW, yang kepribadiannya bukan hanya menjadi teladan bagi kaum muslimin sendiri, tapi ketokohannya mendapat pengakuan dari musuh-musuhnya sepanjang masa.

Bahkan, dalam sejarah perkembangan dunia, betapa banyak ditemukan kaum perempuan itu sendiri tampil menjadi tokoh panutan dalam masyarakat, baik dalam bidang ekonomi, sosial, budaya dan agama maupun dalam bidang politik dan pemerintahan yang kehebatannya melebihi kaum laki-laki. Adalah Keumalahayati, yang menurut catatan Van Zeggelen, merupakan seorang wanita Aceh yang sangat cemerlang pada masanya. Dialah satu-satunya perempuan yang berpangkat laksamana pada waktu itu, yang telah berhasil memimpin armada laut dari kerajaan Aceh, tepatnya pada masa pemerintahan Sultan Alaiddin Riatsyah al Mukammil (1589-1604).37 tahun kemudian, muncul Tajul Alam dengan gelarRatu Safiatuddin atau lebih lengkapnya Paduka Sri Sultan Tajul Alam Safiatuddin Syah Berdaulat Zillulahi Fil Alam Binti Sulthan Raja Sulthan Iskandar Muda Johan Berdaulat. Dia adalah seorang janda yang ditinggal mati suaminya Sulthan Iskandar Tsani, yang pada tahun 1641 tercatat sebagai ratu pertama dari kerajaan Aceh yang dikagumi dunia internasional. Ketokohannya hampir melebihi Maria Tudor atau Blody Mary yang dalam catatan Inggris pernah menjadi ratu (1516-1588).

Naskah kuno Bustanus Salatin dengan gamblang mengatakan betapa sifat dan kepribadian ratu Safiatuddin teramat sangat mulia. Dialah satu-satunya perempuan Aceh yang bukan hanya disegani oleh dunia, tapi juga dikenal paling takut dan tawaddhu kepada Allah SWT pada masanya. Dia sangat adil, selalu mengutamakan masalah pendidikan, agama dan perekonomian rakyat kecil. Selaku perempuan, sungguh prestasi kepemimpinannya sangat besar. Bahkan, menurut catatan Haji Muhammad Said dalam bukunya Aceh Sepanjang Abad, digambarkan bahwa tidak ada perempuan yang sekaliber dengan Tajul Alam pada masa itu kecuali Ratu Elizabeth dari Inggris yang hampir menyainginya. Ratu Safiatuddin telah memainkan peranan penting dalam dalam hubungan diplomasi dunia internasional, terutama dalam mengatasi berbagai persoalan ekonomi yang mucul akibat monopoli perdagangan yang dimainkan oleh VOC.
Sulthan Tajul Alam (atau Safiatuddin) wafat pada tanggal 23 Oktober 1675, digantikan juga oleh seorang wanita keturunan bangsawan bernama Sri Paduka Putroe dengan gelar Sulthanah Nurul Alam Nakiatuddin Syah, dia memerintah hanya 2 tahun, lalu akhirnya meninggal. Pada masa pemerintahan Nurul Alam telah berhasil membentuk tiga panglima sagi guna mengatasi berbagai persoalan yang muncul dalam tubuh parlemennya. Panglima Sagi pertama terdiri atas 22 mukim, yang kedua 26 mukimdan yang ketiga 26 mukim. Thomas Braddel dalam bukunya “On The History of Acheen” menyebutkan bahwa pembentukan tiga sagi pada masa Nurul Alam merupakan keberanian yang luar biasa dalam sebuah pembaharuan dan menjadi tolak ukur bagi kemajuan pemerintahan. Pembentukan panglima sagi menurutnya merupakan konsep demokrasi baru yang sangat konstitusional untuk pertama kalinya diperkenalkan lewat seorang wanita kepada Eropa.
Ketokohan Nurul ‘Alam dapat digambarkan melebihi Rosa Luksemburg. Seorang wanita Jerman yang pada awal abad ke 19 terkenal sebagai penganut Radikal-Marxis, terutama dalam gerakan demokrasi sosial. Nurul ‘Alam meninggal dunia tanggal 23 Januari 1 678, digantikan oleh puterinya bernama Putroe Raja Seutia dengan gelar Sulthan Inayat Zakiatuddin Syah. Dia juga telah berhasil dengan sangat cemerlang pada masanya melakukan negosiasi dalam beberapa kali melakukan perundingan dengan dunia luar. Dua kali perundingan dengan Inggris dan sekali dengan utusan Syarif Mekkah.
Snouck Hurgronje (seorang orientalis Belanda) dalam catatannya “Een Mekkaansche Gezentschap Naar Atjeh in 1683” menyebutkan bahwa berdasarkan keterangan utusan Syarif Mekkah itu diketahui kalau keadaan Aceh selama lebih kurag 10 tahun pada masa Sulthanah Zakiatuddin sangat makmur. Buktinya dia masih dapat memberikan sumbangan berupa emas dan uang sebagai bantuan untuk dibagi-bagikan kepada fakir miskin yang ada di Mekkah, sampai akhirnya dia pun menghembuskan nafasnya yang terakhir pada tanggal 3 Oktober 1688.
Sepeninggal Ratu Inayat, terjadi sedikit gejolak dan pergulatan politk dalam negeri, terutama disebabkan oleh beberapa kelompok yang tidak lagi menginginkan Aceh dipimpin oleh kaum perempuan. Tapi tiga sagi yang dibentuk yang telah dibentuk sejak masa Nurul ‘Alam sebagai penentu terakhir yang mewakili suara rakyat pada saat itu masih tetap memberikan dukungan kepada kaum perempuan. Akhirnya diangkat lagi seorang puteri bangsawan yang bernama Ratu Kamalat Syah yang dalam masa pemerintahannya banyak mendapat tantangan atas kepemimpinnya.
Namun patut dicatat bahwa Syekh Abdurrauf As Singkili tidak menentang kaum perempuan menjadi pemimpin. Dimana keulamaannya dikenal tepat pada masa Ratu Safiatuddin berkuasa. Beliau pernah belajar ke Mekkah selama 20 tahun, langsung dari dua guru besar Syekh Akhmad al Khusasyi dan Syekh Ibrahim Al Kurani, sampai akhirnya dia benar-benar sangat menguasai ilmu fiqh.
Menjelang akhir abad ke 19 muncul lagi dua orang wanita Aceh, yakni Cut Nya’ Dhien dan Cut Nya’ Meutia yang kepahlawanannya sangat luar biasa serta mendapat pengakuan dari dunia internasional. Zenttgraaf dalam bukunya “Atjeh” menyebutkan Cut Nya’ Dhien yangf kawin dengan Teuku Umar sepeninggal suaminya, Teuku Ibrahim, yang syahid dalam pertempuran di lembah Beureunun Gle Taron merupakan seorang perempuan yang keberaniannya sangat ditakuti oleh pihak Belanda. Di satu sisi, dilukiskan bahwa dalam setiap pertempuran ia diibaratkan singa betina yang sangat buas dan kejam, tapi di sisi lain dialah wanita Aceh yang memiliki kelembutan dalam melayani suami, keluarga dan kerabatnya. Wanita ini tidak mungkin dapat bertahan hidup dengan cara bergerilya di tengah hutan belantara Aceh dengan menanggung kelaparan selama berbulan-bulan jika tidak memiliki keikhlasan dan ketabahan yang luar biasa.
Perempuan Aceh lainnya yang sekaliber Cut Nya’ Dhien adalah Cut Nya’ Meuthia. Dia selalu berontak terhadap suaminya Teuku Syamsarif karena gila harta dan pangkat telah rela mengkhianati perjuangan rakyat Aceh dengan cara bekerjasama dengan pihak Belanda.Cut Nya’ Meutia lebih memilih pisah dengan suami yang pengkhianat itu, lalu menikah dengan Teuku Chik Di Tunong yang dimaklumi sangat taat dan teguh dalam perjuangannya melawan kafir Belanda. Bersama suami yang kedua inilah Cut Nya’ Meutia menemukan kembali identitas sebagai pejuang setia.
Berdasarkan fakta sejarah ringkas, bila dicermati lebih dalam besar kemungkinan bahwa ketokohan perempuan Aceh tempo dulu bisa jadi setingkat lebih hebat dari Maria Stuart yang pernah sekaligus menjadi tokoh dua negara, yaitu sebagai Ratu Inggris (1662-1694) dan menjadi tokoh politik Skotlandia (1684-1694). Atau setidaknya sekaliber bahkan mungkin juga setingkat lebih hebat dari Cory Aquino dari Philipina atau Margaret Thatcher dan Elizabeth Taylor dari Inggris atau Benazir Bhutto dari Pakistan.
Perlu dicatat bahwa setinggi apa pun karier yang bisa dicapai oleh tokoh perempuan Aceh saat itu bukanlah karena kecantikan mereka semata. Cut Nya’ Dhien misalnya, dia bukanlah wanita cantik mempesona. Dia hanyalah wanita yang senantiasa berpenampilan sangat bersahaja, berwajah lusuh dan tua. Kebesaran dan keharuman namanya lebih disebabkan oleh keteguhan jiwa yang dia miliki sebagai seorang pejuang sejati. Bukan seperti kebanyakan kaum perempuan yan gmengaku dirinya modern padahal tidak lebih dari wanita-wanita kolot yang nyaris berpakaian telanjang. Namun sayang, mereka justeru dijadikan sebagai tokoh idola di kalangan gadis remaja dewasa ini.
Di samping itu, perlu diingat bahwa setinggi apapun karier yang telah berhasil diraih oleh perempuan Aceh tempo dulu tidaklah membuat mereka pongah, lalu melupakan tanggung jawabnya sebagai isteri dan ibu. Dimata rakyat, mereka adalah seorang ratu atau seorang pejuang sejati yang selalu disegani. Demikian pula di mata musuh-musuhnya mereka ibarat singa betina yang kejam dan sangat ditakuti. Namun didalam rumahnya mereka tetap ikhlas menjadi seorang isteri dan ibu dari anak-anaknya. Mereka masih tetap setia melayani suami dengan sempurna serta mengasuh dan menyusui bayi-bayi mereka. Bukan seperti kebanyakan kaum wanita karier dewasa ini, dimana untuk mengejar karier mereka sering kali melupakan tanggung jawab sebagai seorang isteri dan ibu dari anak-anaknya.
Akhirnya, berdasarkan refleksi historis di atas, rasa humanisme kita harus mengakui bahwa antara kaum laki-laki dan perempuan memiliki kedudukan, hak dan kewajiban yang sama dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Keduanya mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing sekaligus saling membutuhkan dan melengkapi, guna melengkapi kelemahan yang ada.
Secara psikologis memang harus diakui, bahwa sering kali kaum pria yang pada awalnya memililki kepribadian yang kokoh, akhirnya menjadi luluh , bahkan ada yagn terpaksa jatuh berlutut setelah berhadapan dengan kaum perempuan. Di sisi lain, tidak sedikit kaim perempuan itu sendiri yang jatuh ke lembah yang hina dan kotor karena tak mampu mengendalikan dorongan emosinya. Ditambah dengan tuntutan emansipasi yang berlebihan dari kau perempuan, baik yang dilakukan secara sadar atau tidak, tampaknya telah ikut pula meracuni dan mengotori fitrah hati nurani mereka sendiri. Akibatnya, kaum perempuan sering hanya menjadi bulan-bulanan kaum pria, atau malah menjadi barang bisnis yang bisa diperjualbelikan di warung kopi dan kaki lima. Itulah keunikan kaum perempuan. Di situ mereka dapat meracuni kehidupan dan di pihak lainnya mereka pun dapat menjadi obat penawarnya.
Besar harapan, semoga kaum perempuan dewasa ini terutama para gadis remaja mau bercermin dari sejarah perempuan aceh tempo dulu, sehingga kelak mereka akan tumbuh menjadi perempuan yang sekaliber atau malah setigkat lebih dari Cut Nya’ Dhien dan kawan-kawannya

Comments