Setiap organisme di alam pada umumnya mempunyai perbedaan yang khas, baik bentuk maupun perilakunya termasuk cara makan dan makanannya. Begitu juga dengan kima, makanannya adalah jasad renik berupa fitoplankton yang melayang dalam air. Makanan tersebut didapatkan dengan cara menyaring air melalui insangnya. Zat-zat yang masuk akan diseleksi oleh bulu-bulu getar pada insang dan selanjutnya zat yang diperlukan diserap oleh mulut dan yang tidak diperlukan akan disemprotkan kembali melalui exhalant siphon keluar tubuh.
            Kima mempunyai keistimewaan dalam mendapatkan makanannya, disamping mendapatkan makanan dari sekitarnya mereka juga mampu menanam makananya sendiri. Mantel dari kimah merupakan substrat yang baik bagi sejenis algae bersel satu yang disebut Zooxanthellae. Zooxanthellae ini mampu melakukan proses fotosintesa yang menghasilkan oksigen dan produk gula. Dalam hal ini yang menarik adalah sebagian dari hasil fotosintesa ini ditranslokasikan kepada hewan inang (dalam hal ini kima) di mana translokasi ini menjadi sumber pakan atau energi yang sangat dominan pada kima dewasa. Besarnya translokasi tersebut bahkan mencapai lebih dari 90 % hasil fotosintesa sehingga kima sebagai hewan bivalvia mendapatkan makanan tidak hanya melalui proses filter feeding atau menyaring partikel-pertikel yang ada dalam air laut yang mengalir melalui insangnya tetapi juga dari translokasi hasil fotosintesa zooxanthellae.
Selain kima ada juga beberapa jenis organisme laut yang bersimbiosis dengan zooxanthellae, yakni beberapa jenis karang (hermatipik), anemone laut, dan beberapa jenis ubur-ubur (Kastoro 1979).
 BUTUH DAFTAR PUSTAKA KLIK DISNI