Susunan Pengurus
Board of Trustee
Bambang Purwanto, dr. M.Kes
Ivon Diah W., S.Keb., Bd
Tri Novi Kurnia, SST, M.Kes.
Board of Directors
Oktaviany Ismiarika,S.Keb.,Bd
Pimpinan Umum
Khoiriyah Noviastuti
Sekretaris
Lila Ranaya Widyadari
Bendahara
Harrizky Prima An-nisa
Pimpinan Redaksi
Denny Koesumarini
Dewan Redaksi
Risya Secha Primindari
Fatimah Nuril Alifah
Santi Anggraeni
Debrina Candra Mardy Q.
Layouter
Ade Septiari Rahman
Romadhinniar Febriana
Bintang Dwita Dewantari
Humas
Diana Pratiwi
Himmatul Inayah
Winda Rinawan
Syefi Barirotul Muna
Salam dari Pimpinan
Umum
Salam Hangat,
Puji syukur atas kehadirat Allah SWT
yang atas ridhonya Bimabi dapat terbit
kembali. Ucapan terima kasih saya sampaikan
peada semua jajaran pengurus dan
pihak-pihak yang telah membantu dalam
proses penerbitan. Berkala Ilmiah Mahasiswa
Kebidanan Indonesia (BIMABI) yang
tergabung dalam Berkala Ilmiah Mahasiswa
Kesehatan Indonesia (BIMKES) merupakan
satu-satunya berkala resmi mahasiswa kebidanan
Indonesia yang khusus memuat hasil
karya tulis dan penelitian mahasiswa kebidanan
se-Indonesia. Dengan adanya berkala
ini diharapkan dengan adanya berkala ini
dapat menumbuhkan budaya menulis dan
publikasi ilmiah dikalangan mahasiswa kebidanan.
Tidak semua tulisan dapat diterima oleh
BIMABI. Tulisan yang diterima merupakan
hasil dari serangkaian seleksi dari peerreviewer
yang terdiri dari dewan redaksi dan
mitra bebestari. Besar harapan kami untuk
dapat membantu peningkatan budaya
menulis dan publikasi ilmiah mahasiswa
kesehatan khususnya mahasiswa kebidanan.
Semoga dengan adanya BIMABI dapat menjadi
simbol kompetensi sekaligus kontribusi
mahasiswa kebidanan Indonesia bagi peningkatan
ilmu pengetahuan dalam dunia kebidanan
dan kesehatan. terakhir dari saya
bahwa sebuah tulisan dapat bermanfaat
saat dipublikasikan.
Khoiriyah Noviastuti
Daftar Isi
Susunan Pengurus
Salam Pimpinan Umum
Daftar Isi
Petunjuk Penulisan
1. Pengaruh Pemberian Bimbingan Klinik Oleh Pembimbing Lapangan Terhadap Kemampuan
Kognitif Mahasiswa Praktik di RSKIA Kota Bandung
Andina Rostaviani
2. Hubungan Antara Pola Asuh Terhadap Status Gizi Balita Usia 12 – 59 Bulan di
Wilayah Kerja Puskesmas Kalirungkut, Kelurahan Kalirungkut Kota Surabaya
Ayunda Septi Virdani
3. Eclipse (Ferulic Acid-Epilepsy Therapy): Efek Antiepileptogenik Ekstrak Bekatul
(Rice Bran) Sebagai Inhibitor N-Methyl D-Aspartate Receptor (Nmdar) Pada Tikus
Putih Jantan Model Epilepsi
Debby Amalia Briliansari, Devi Arine, Defi Emilia, Lita Andriani
4. Ibross (Iron – Brown Seaweed): Pengaruh Suplementasi Rumput Laut Coklat (Sargassum
Crassifolium) Terhadap Kadar Hemoglobin, Serum Feritin, Dan Volume
Rata-Rata Eritrosit Pada Tikus Wistar Hamil Model Anemia Defisiensi Besi (Adb)
Amalia, Debby B., Novia, Vinda R., M., Alwiyah K.
5. Selai Kulit Manggis (Garcinia Mangostana) Sebagai Alternatif Pencegahan Diare
Ni Kadeknensi D. P. , Siti Halimatusnurullaila
6. Bahasa Untuk Anak Kita
Diana Pratiwi
7. Pengaruh Tumbang Anak Terhadap Orangtua Perokok
Harrizky Prima An-Nisa
ii
ii
iii
iv
1
11
18
23
29
36
37
B I M A B I Vol.II No.1 Desember 2013 [ii] B I M A B I Vol.II No.1 Desember 2013 [iii]
ISSN 2338-6460
B I M A B I Vol.II No.1 Desember 2013 [iv]
Indonesian Midwifery Student Journal
Berkala Ilmiah Mahasiswa Kebidanan Indonesia (BIMABI) adalah publikasi tiap enam bulanan
yang menggunakan sistem seleksi peer-review dan redaktur. Naskah diterima oleh redaksi, mendapat
seleksi validitas oleh peer-reviewer, serta seleksi dan pengeditan oleh redaktur. BIMABI menerima artikel
penelitian asli yang berhubungan dengan bidang ilmu kebidanan, artikel tinjauan pustaka, laporan
kasus, artikel penyegar ilmu kedokteran dan kesehatan, advertorial, petunjuk praktis, serta editorial.
Tulisan merupakan tulisan asli (bukan plagiat) dan sesuai dengan kompetensi mahasiswa kebidanan.
hasil penelitian asli dalam ilmu kebidanan. Format terdiri dari judul penelitian,
nama dan lembaga pengarang, abstrak, dan teks (pendahuluan, metode, hasil, pembahasan/diskusi,
kesimpulan, dan saran).
: tulisan artikel review/sebuah tinjauan terhadap suatu fenomena atau ilmu
dalam dunia kebidanan, ditulis dengan memerhatikan aspek aktual dan bermanfaat bagi pembaca.
: artikel tentang kasus yang menarik dan bermanfaat bagi pembaca. Artikel ini
ditulis sesuai pemeriksaan, analisis, dan penatalaksanaan sesuai kompetensi kebidanan. Format
terdiri dari pendahuluan, laporan, pembahasan, dan kesimpulan.
ilmu kebidanan: artikel yang bersifat bebas ilmiah, mengangkat topik-topik
yang sangat menarik dalam dunia kebidanan atau kesehatan, memberikan human interest karena
sifat keilmiahannya, serta ditulis secara baik. Artikel bersifat tinjauan serta mengingatkan pada
hal-hal dasar atau farmasi yang perlu diketahui oleh pembaca.
: artikel yang membahas berbagai hal dalam dunia kebidanan dan kesehatan, mulai dari
ilmu dasar kebidanan, berbagai metode terbaru, organisasi, penelitian, penulisan di bidang kebidanan,
lapangan kerja sampai karir dalam dunia kebidanan. Artikel ditulis sesuai kompetensi
mahasiswa kebidanan.
: artikel berisi panduan analisis atau tatalaksana yang ditulis secara tajam, bersifat
langsung (to the point) dan penting diketahui oleh pembaca (mahasiswa kebidanan).
Penulisan berdasarkan metode studi pustaka.
• BIMABI hanya akan memuat tulisan asli yang belum pernah diterbitkan pada jurnal lain.
• Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris yang baik dan benar, jelas, lugas, serta
ringkas. Naskah diketik di atas kertas A4 dengan dua (2) spasi, kecuali untuk abstrak satu (1) spasi.
Ketikan tidak dibenarkan dibuat timbal balik. Ketikan diberi nomor halaman mulai dari halaman
judul. Batas atas, bawah, kiri dan kanan setiap halaman adalah 2.5 cm. Naskah terdiri dari maksimal
15 halaman.
• Naskah harus diketik dengan komputer dan harus memakai program Microsoft Word. Naskah
dikirim melalui email ke alamat bimabi_ikamabi@yahoo.com dengan menyertakan identitas penulis
beserta alamat dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
>>> Artikel original B I M A B I
Berkala Ilmiah Mahasiswa Kebidanan Indonesia
B I M A B I Vol.II No.1 Desember 2013 [v]
• Untuk keseragaman penulisan, khusus naskah Penelitian asli harus mengikuti sistematika sebagai
berikut:
1. Judul karangan (Title)
2. Nama dan Lembaga Pengarang (Authors and Institution)
3. Abstrak (Abstract)
4. Naskah (Text), yang terdiri atas:
– Pendahuluan (Introduction)
– Metode (Methods)
– Hasil (Results)
– Pembahasan (Discussion)
– Kesimpulan
– Saran
5. Daftar Rujukan (Reference)
• Untuk keseragaman penulisan, khusus naskah Tinjauan pustaka harus mengikuti sistematika sebagai
berikut:
1. Judul
2. Nama penulis dan lembaga pengarang
3. Abstrak
4. Naskah (Text), yang terdiri atas:
– Pendahuluan (termasuk masalah yang akan dibahas)
– Pembahasan
– Kesimpulan
– Saran
5. Daftar Rujukan (Reference)
• Judul ditulis dengan huruf besar, dan bila perlu dapat dilengkapi dengan anak judul. Naskah yang
telah disajikan dalam pertemuan ilmiah nasional dibuat keterangan berupa catatan kaki.
• Nama penulis yang dicantumkan paling banyak enam orang, dan bila lebih cukup diikuti dengan
kata-kata: dkk atau et al. Nama penulis harus disertai dengan asal fakultas penulis. Alamat korespondensi
ditulis lengkap dengan nomor telepon dan email.
• Abstrak harus dibuat dalam bahasa Inggris serta bahasa Indonesia. Panjang abstrak tidak melebihi
200 kata dan diletakkan setelah judul makalah dan nama penulis.
• Kata kunci (key words) yang menyertai abstrak ditulis dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.
Kata kunci diletakkan di bawah judul setelah abstrak. Tidak lebih dari 5 kata, dan sebaiknya bukan
merupakan pengulangan kata-kata dalam judul.
• Kata asing yang belum diubah ke dalam bahasa Indonesia ditulis dengan huruf miring (italic).
• Tabel
• Gambar
• Metode statistik
>>> Artikel original B I M A B I
Berkala Ilmiah Mahasiswa Kebidanan Indonesia
B I M A B I Vol.II No.1 Desember 2013 [vii]
xi.Nomor halaman dalam angka Romawi
Fischer GA, Sikic BI. Drug resistance in clinical oncology and hematology. Introduction.
Hematol Oncol Clin North Am 1995 Apr;9(2):xi-xii.
i.Penulis perseorangan
Ringsven MK, Bond D. Gerontology and leadership skills for nurses. 2nd ed. Albany (NY):
Delmar Publishers; 1996.
ii.Editor, sebagai penulis
Norman IJ, Redfern SJ, editors. Mental health care for elderly people. New York: Churchill
Livingstone; 1996.
iii.Organisasi dengan penulis
Institute of Medicine (US). Looking at the future of the Medicaid program. Washington: The
Institute; 1992.
iv.Bab dalam buku
Philips SJ, Whisnant JP. Hypertension and stroke. In: Laragh JH, Brenner BM, editors. Hypertension:
patophysiology, diagnosis, and management. 2nd ed. New York: raven Press;
1995.p.465-78.
v.Prosiding konferensi
Kimura J, Shibasaki H, editors. Recent advances in clinical neurophysiology. Proceedings
of the 10th International Congress of EMG and Clinical Neurophysiology; 1995 Oct 15-19;
Kyoto, Japan. Amsterdam: Elsevier; 1996.
vi.Makalah dalam konferensi
Bengstsson S, Solheim BG. Enforcement of data protection, privacy and security in medical
information. In: Lun KC, Degoulet P, Piemme TE, Rienhoff O, editors. MEDINFO 92.
Proceedings of the 7th World Congress on Medical Informatics; 1992 Sep 6-10; Geneva,
Switzerland. Amsterdam: North-Hollan; 1992.p.1561-5.
vii.Laporan ilmiah atau laporan teknis
1.Diterbitkan oleh badan penyandang dana/sponsor :
Smith P, Golladay K. Payment for durable medical equipment billed during skilled nursing
facility stays. Final report. Dallas (TX): Dept. of Health and Human Services (US),
Office of Evaluation and Inspection; 1994 Oct. Report No.: HHSIGOEI69200860.
2.Diterbitkan oleh unit pelaksana :
Field MJ, Tranquada RE, Feasley JC, editors. Helath services research: work force and
education issues. Washington: National Academy Press; 1995. Contract no.:
AHCPR282942008. Sponsored by the Agency for Health Care Policy and research.
viii.Disertasi
Kaplan SJ. Post-hospital home health care: the elderly/access and utilization [dissertation].
St. Louis (MO): Washington univ.; 1995.
ix.Artikel dalam Koran
Lee G. Hospitalizations tied to ozone pollution: study estimates 50,000 admissions annually.
The Washington Post 1996 Jun 21;Sect A:3 (col. 5).
>>> Artikel original B I M A B I
Berkala Ilmiah Mahasiswa Kebidanan Indonesia
B I M A B I Vol.II No.1 Desember 2013 [vi]
• Ucapan terima kasih
• Daftar rujukan disusun menurut sistem Vancouver, diberi nomor sesuai dengan pemunculan dalam
keseluruhan teks, bukan menurut abjad. Contoh cara penulisan dapat dilihat
i. Artikel standar
Vega Kj, Pina I, Krevsky B. Heart transplantation is associated with an increased risk for
pancreatobiliary disease. Ann Intern Med 1996 Jun 1;124(11):980-3.
atau
Vega Kj, Pina I, Krevsky B. Heart transplantation is associated with an increased risk for
pancreatobiliary disease. Ann Intern Med 1996;124:980-3.
Penulis lebih dari enam orang
Parkin Dm, Clayton D, Black RJ, Masuyer E, Freidl HP, Ivanov E, et al. Childhood leukaemia
in Europe after Chernobyl: 5 year follow-up. Br j Cancer 1996;73:1006-12.
ii. Suatu organisasi sebagai penulis
The Cardiac Society of Australia and New Zealand. Clinical exercise stress testing. Safety
and performance guidelines. Med J Aust 1996;164:282-4.
iii.Tanpa nama penulis
Cancer in South Africa [editorial]. S Afr Med J 1994;84:15.
iv.Artikel tidak dalam bahasa Inggris
Ryder TE, Haukeland EA, Solhaug JH. Bilateral infrapatellar seneruptur hos tidligere frisk
kvinne. Tidsskr Nor Laegeforen 1996;116:41-2.
v. Volum dengan suplemen
Shen HM, Zhang QF. Risk assessment of nickel carcinogenicity and occupational lung cancer.
Environ Health Perspect 1994;102 Suppl 1:275-82.
vi.Edisi dengan suplemen
Payne DK, Sullivan MD, Massie MJ. Women`s psychological reactions to breast cancer. Semin
Oncol 1996;23(1 Suppl 2):89-97.
vii.Volum dengan bagian
Ozben T, Nacitarhan S, Tuncer N. Plasma and urine sialic acid in non-insulin dependent diabetes
mellitus. Ann Clin Biochem 1995;32(Pt 3):303-6.
viii.Edisi dengan bagian
Poole GH, Mills SM. One hundred consecutive cases of flap laceration of the leg in ageing
patients. N Z Med J 1990;107(986 Pt 1):377-8.
ix.Edisi tanpa volum
Turan I, Wredmark T, Fellander-Tsai L. Arthroscopic ankle arthrodesis in rheumatoid arthritis.
Clin Orthop 1995;(320):110-4.
x.Tanpa edisi atau volum
Browell DA, Lennard TW. Immunologic status of cancer patient and the effects of blood
transfusion on antitumor responses. Curr Opin Gen Surg 1993;325-33.
>>> Artikel original B I M A B I
Berkala Ilmiah Mahasiswa Kebidanan Indonesia
B I M A B I Vol.II No.1 Desember 2013 [viii]
x.Materi audiovisual
HIV + AIDS: the facts and the future [videocassette]. St. Louis (MO): Mosby-Year book;
1995.
i.Artikel journal dalam format elektronik
Morse SS. Factors in the emergence of infectious disease. Emerg Infect Dis [serial online]
1995 Jan-Mar [cited 1996 Jun 5]:1(1):[24 screens]. Available from: URL: HYPERLINK
http://www.cdc.gov/ncidod/EID/eid.htm
ii.Monograf dalam format elektronik
CDI, clinical dermatology illustrated [monograph on CD-ROM]. Reeves JRT, Maibach H.
CMEA Multimedia Group, producers. 2nd ed. Version 2.0. San Diego: CMEA; 1995.
iii.Arsip computer
Hemodynamics III: the ups and downs of hemodynamics [computer program]. Version 2.2.
Orlando (FL): Computerized Educational Systems; 1993.
>>> Artikel original B I M A B I
Berkala Ilmiah Mahasiswa Kebidanan Indonesia
B I M A B I Vol.II No.1 Desember 2013 [1]
PENGARUH PEMBERIAN BIMBINGAN KLINIK
OLEH PEMBIMBING LAPANGAN TERHADAP KEMAMPUAN
KOGNITIF MAHASISWA PRAKTIK DI RSKIA KOTA BANDUNG
Andina Rostaviani
D4 Kebidanan Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran
Jawa Barat – Indonesia
ABSTRAK
Informasi: Cara belajar praktikal masih banyak menghadapi masalah diantaranya karena jumlah dan kualitas
instruktur yang tidak memadai. Ini akan mempengaruhi proses belajar dan keterjangkauan standar kompetensi
dari praktek klinik.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana bimbingan klinik yang diberikan oleh instruktur
lapangan akan mempengaruhi kompetensi dari keterampilan kognitif siswa di RSKIA Bandung.
Metode: Penelitian ini menggunakan metode cross sectional analysis. Populasi mencakup seluruh mahasiswa
kebidanan yang magang di RSKIA Bandung dari Desember 2012 yaitu sebanyak 70 responden. Data yang digunakan
adalah data primer, dengan menggunakan kuesioner yang tervalidasi.
Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bimbingan klinis telah cukup (77,1%) dan 2,9% tidak cukup
memadai. Ada 37,1% siswa mendapat nilai B, sementara 8,6% mendapat nilai D dalam tes kognitif. Pengaruh
bimbingan klinis dengan keterampilan kognitif dianalisis dengan menggunakan Somers’d yang menunjukkan
korelasi r=-0.077 dan signifikansi p=0.417.
Kesimpulan: Kesimpulan menunjukkan tidak ada korelasi antara bimbingan klinis dari instruktur lapngan dengan
keterampilan kognitif siswa yang praktek di RSKIA Bandung
Kata Kunci: bimbingan klinik, kemampuan, kognitif
ABSTRACT
Information: Practical learning still faces problems because of the inadequate number and quality of the instructors.
These will affect learning process and achievability of clinical practice standards competency.
Purpose: This study aimed to know how clinical guidance provided by field instructor would affect the competency
of student’s cognitive skills at RSKIA Bandung.
Method: This study used cross sectional analysis method. This study used total population covered all midwifery
students that were interns at RSKIA Bandung from December 2012 that were 70 respondents. Data used were
primary data, using validated questionnaire.
Result: The result of this study showed that clinical guidance had been sufficient (77,1%) and 2,9% not sufficient
enough. There were 37,1% of students got B while 8,6% got D in cognitive test. The influence of clinical guidance
to cognitive skill were analyzed using Somers’d showed correlation r=-0,077 and significance p=0,417.
Conclusion: The conclusion showed there were no correlation between clinical guidance from field instructor
with cognitive skill of student trained at RSKIA Bandung.
Keywords: clinical guidance, skills, cognitive
>>> Artikel original B I M A B I
Berkala Ilmiah Mahasiswa Kebidanan Indonesia
B I M A B I Vol.II No. 1 Desember 2013 [2]
Praktik klinik kebidanan merupakan
salah satu mata kuliah keahlian berkarya
(MKB) mengandung arti bahwa ilmu pengetahuan
yang dimiliki oleh mahasiswa harus
dapat diterapkan dalam bentuk keahlian dan
keterampilan yang berbasis pada penyelesaian
permasalahan sesuai dengan dunia kerja.1
Pembelajaran praktik sebagai sarana kegiatan
belajar mengajar utama mewujudkan
profesionalitas. Mahasiswa kebidanan dituntut
agar memiliki kemampuan profesional
dalam memberikan asuhan kebidanan baik di
rumah sakit maupun di masyarakat sebagai
upaya dalam memberikan pengalaman belajar
klinik yang optimal kepada peserta didik,
khususnya dalam mengembangkan kemampuan
profesional menyangkut keterampilan
dan kemampuan pemecahan masalah.2
Mahasiswa dapat menerapkan secara
langsung keterampilan yang sudah diperoleh
sesuai dengan teori dalam pembelajaran
praktik. Lahan praktik sebagai tatanan nyata,
diharapkan dapat memberikan kesempatan
kepada peserta didik untuk mempraktikkan
keterampilan yang dipersyaratkan. Oleh karena
itu, lahan praktik harus memberikan
kesempatan seluas-luasnya dan memberikan
bimbingan seoptimal mungkin dengan tenaga
instruktur yang profesional, sehingga keterampilan
yang diharapkan terpenuhi.
Pembelajaran praktik dalam pengelolaannya
masih menemukan kendala yaitu
perbedaan persepsi tentang praktik, jumlah
pembimbing belum memadai baik kuantitas
maupun kualitas, perubahan status lahan
praktik serta bertambahnya jumlah institusi
Pendidikan Tenaga Kesehatan (Diknakes)
yang mempengaruhi ketersediaan lahan. Hal
ini akan mempengaruhi proses pembelajaran
praktik yang kurang optimal dan akhirnya
kompetensi mahasiswa tidak tercapai.3
Menurut Laura Gurenti terdapat beberapa
masalah pendidikan bidan di Indonesia,
salah satunya adalah kurang baiknya
pengawasan klinik kepada mahasiswa. Berdasarkan
hasil penelitian di salah satu Akademi
Keperawatan (Akper) di Palembang
pada tahun 2008 terhadap kedua rumah
sakit yang dijadikan sebagai lahan praktik
klinik bagi mahasiswa menunjukkan adanya
suatu fenomena ketidakpuasan dari mahasiswa
terhadap pembimbing praktik klinik.
Sebesar 65% mahasiswa menyatakan pembimbing
tidak pernah memberikan silabus
pembelajaran klinik, 79% menyatakan pembimbing
tidak memberikan bimbingan khusus
bagi mahasiswa yang bermasalah dan
nilainya tidak mencukupi, 60% menyatakan
pembimbing lapangan tidak memonitor dan
mengadakan supervisi pelaksanaan praktik,
dan 65% menyatakan apa yang didapatkan
oleh mahasiswa pada saat melaksanakan
praktik laboratorium tidak sama dengan
yang dijelaskan oleh pembimbing lapangan.
2, 4
Idealnya, pembimbing lapangan mendampingi
mahasiswa selama melaksanakan keterampilan,
melaksanakan langkah-langkah
pembelajaran klinik yang sesuai yakni
pelaksanaan pre dan post conference, serta
mengevaluasi keterampilan mahasiswa dengan
menggunakan penilaian yang ada serta
menilai sikap mahasiswa selama praktik.
Namun, kenyataannya pendampingan di
lapangan ini menjadi sesuatu yang tidak
sepenuhnya terpenuhi.
Kompetensi
Kompetensi adalah seperangkat tindakan
cerdas, penuh tanggung jawab yang
dimiliki oleh seseorang sebagai syarat untuk
dianggap mampu oleh masyarakat untuk
melaksanakan tugas-tugas pekerjaan.5
Kompetensi Bidan adalah seperangkat
tindakan cerdas, penuh tanggung
jawab yang dimiliki oleh seorang bidan sebagai
syarat untuk dianggap mampu oleh
masyarakat untuk melaksanakan tugas sebagai
bidan.5
Standar kompetensi lulusan adalah
kualifikasi kemampuan lulusan yang men-
>>> Artikel original B I M A B I
Berkala Ilmiah Mahasiswa Kebidanan Indonesia
B I M A B I Vol.II No. 1 Desember 2013 [3]
cakup sikap, pengetahuan dan keterampilan.
Berdasarkan PP No. 19 tahun 2005 tentang
Standar Nasional Pendidikan, Bab V pasal
27 (2) yaitu standar kompetensi lulusan
pendididkan tinggi ditetapkan oleh masingmasing
perguruan tinggi. Namun demikian,
dalam menetapkan standar kompetensi lulusan
harus mengacu pada Standar Kompetensi
Bidan Indonesia (SKBI).
Penyetaraan capaian pembelajaran
yang dihasilkan melalui pengalaman kerja
dengan jenjang kualifikasi pada KKNI mempertimbangkan
bidang dan lama pengalaman
kerja, tingkat pendidikan serta pelatihan kerja
yang telah diperoleh.6
Berdasarkan Standar Global Pendidikan
Kebidanan (WHO, 2009) lulusan bidan
harus dapat mendemonstrasikan kompetensi
praktik kebidanan, lulusan mampu menunjukkan
pemahaman tentang faktor-faktor
yang mempengaruhi kesehatan, lulusan
mampu memenuhi ketentuan untuk registrasi
dan lisensi, lulusan mendapatkan gelar profesional
tergantung dari level pendidikan, lulusan
harus memenuhi syarat untuk mengikuti
program pendidikan lanjut dan diperlukan
monitoring lulusan secara berkelanjutan baik
yang terkait dengan pengembangan profesi
dan pendidikan lanjut.5
Penilaian pencapaian kompetensi
pembelajaran dilakukan untuk menilai aspek
pengetahuan, keterampilan dan sikap dengan
menggunakan standar kelulusan yang akurat
dan konsisten.
Strategi penilaian untuk masing-masing
aspek adalah: (1)Penilaian pencapaian
kompetensi untuk aspek pengetahuan. (2)Penilaian
untuk aspek sikap ditekankan terhadap
sikap dalam pelaksanaan langkah-langkah
kegiatan sesuai dengan standar meliputi
perilaku yang berhubungan dengan pelaksanaan
tindakan tertentu. (3)Penilaian pencapaian
kompetensi untuk aspek keterampilan
menggunakan standar kelulusan berdasarkan
kompeten atau tidak kompeten. Apabila
ada salah salah satu komponen yang dinilai
dalam sub kompetensi yang tidak dikuasai/
tidak kompeten, mahasiswa diberi umpan
balik segera setelah penilaian selesai, selanjutnya
mahasiswa diberikan kesempatan untuk
mengikuti penilaian ulang.
Metode penilaian pencapaian kompetensi
untuk aspek pengetahuan dapat
berupa ujian tertulis atau ujian lisan. Metode
penilaian untuk aspek sikap dapat dilakukan
melalui observasi dan atau pertanyaan lisan
maupun tertulis. Metode penilaian pencapaian
kompetensi untuk aspek keterampilan,
penilaiannya dilakukan terhadap proses dan
hasil tindakan.
Bimbingan Klinik
Bimbingan merupakan upaya pembimbing
untuk membantu mengoptimalkan
individu. Donald G. Mortensen dan Alan
M. Schmuller (1976) menyatakan, Guidance
may be defined as that part of the total
educational program that helps provide
the personal opportunities and specialized
staff service by which each individual can
develop to the fullest of his abilities and
capacities in term of the democratic idea.7
Bimbingan klinik adalah segala
bentuk tindakan edukatif yang dilaksanakan
oleh pembimbing klinik untuk memberikan
pengetahuan nyata secara optimal
dan membantu peserta didik agar mencapai
kompetensi yang diharapkan.3
Beberapa metode pembelajaran
yang termasuk ke dalam bimbingan klinik
diantaranya:7
(1) Coaching. Dilakukan oleh seorang
Coach atau pelatih yakni seorang praktisi
terampil yang memberikan pemahaman tentang
sifat praktik profesional, melalui penyediaan
kesempatan belajar dan intervensi
yang mendukung. Coaching melibatkan
pemantauan konstruktif dan umpan balik
kinerja untuk membantu pembelajaran dan
pengembangan pribadi, yang memungkinkan
siswa untuk berlatih secara efektif.7
(2) Preceptoring. Dilakukan oleh seorang
preceptor atau guru yakni praktisi berpengalaman
yang diidentifikasi untuk memberi-
>>> Artikel original B I M A B I
Berkala Ilmiah Mahasiswa Kebidanan Indonesia
B I M A B I Vol.II No. 1 Desember 2013 [4]
kan dukungan peran transisi dalam hubungan
kolegial.7
(3) Supervisi klinik. Supervisi klinik dilakukan
oleh seorang supervisor klinik yaitu seorang
praktisi profesional yang menyediakan
kemitraan profesional yang interaktif, dimana
ada tanggung jawab bersama untuk merangsang
refleksi secara kritis, mengkaji dan
menilai kinerja pribadi, serta memberikan
dukungan emosional dan penyegaran.7
Tahap pelaksanaan pembelajaran
praktik terdiri dari tiga fase:3
a. Pertemuan pra praktik (pre-conference)
Menurut definisi, pre-conference adalah
kombinasi diskusi kelompok dan sesi perencanaan
segera sebelum ditugaskan pengalaman
belajar klinis.8
Tugas pembimbing: mengidentifikasi target
pencapaian kompetensi, memberikan infomasi
tentang kasus terpilih, mengorientasi
mahasiswa, menempatkan mahasiswa sesuai
dengan kesepakatan di lahan praktik.3
Tugas mahasiswa: mendiskusikan kontrak
belajar dengan pembimbing, hadir pada
jam praktik sesuai jadwal yang ditetapkan.
mengikuti kegiatan orientasi klinik. membaca
laporan klien.3
b.Pelaksanaan praktik
Tugas pembimbing: memberikan bimbingan
langsung kepada mahasiswa dalam proses
pencapaian kompetensi yang ditetapkan, menerapkan
metode bimbingan bervariasi sesuai
dengan tujuan belajar dan berorientasi pada
mahasiswa, mendampingi mahasiswa sesuai
dengan tingkat kemandiriannya, mengobservasi
mahasiswa dalam proses pembelajaran
praktik, melaksanakan kegiatan pra dan
pasca praktik dengan memberi umpan balik. 3
Tugas mahasiswa: memperkenalkan diri kepada
klien, melakukan kontrak dengan klien,
melaksanakan praktik sesuai dengan kompetensi
yang ditetapkan. Mengikuti pra dan
pasca praktik, membuat laporan pelaksanaan
praktik.3
c. Pertemuan pasca praktik (post-conference)
Menurut definisi, post-conference adalah
kombinasi diskusi kelompok dan sesi evaluasi
segera setelah pengalaman belajar klinis
didapatkan.8
Tugas pembimbing: menganalisa laporan
pelaksanaan praktik klinik mahasiswa,
memberikan nilai terhadap target pencapaian
kompetensi yang telah ditetapkan, memberikan
umpan balik kepada mahasiswa.3
Tugas mahasiswa: membuat laporan lengkap
hasil kegiatan, menyajikan laporan
pelaksanaan pembelajaran praktik, menerima
hasil penilaian dan umpan balik pembimbing.
3
Peran dan tugas yang harus dilakukan
oleh Clinical Instructors adalah menugaskan
mahasiswa untuk mengambil pengalaman
pada pasien, menemukan tujuan
khusus dalam belajar, mengawasi mahasiswa
untuk memastikan mahasiswa memberikan
asuhan yang aman, mengevaluasi
kinerja mahasiswa, memberikan umpan balik,
menetapkan nilai, menjadi role model
pemberi asuhan yang aman dan efektif,
memberikan tambahan penugasan atau latihan
dan studi kasus pada mahasiswa yang
belum mencapai kompetensi standar.3,12
Kemampuan Kognitif
Domain kognitif merupakan proses
pengetahuan yang lebih banyak didasarkan
perkembangannya dari persepsi, introspeksi,
atau memori siswa. Tujuan pembelajaran
kognitif dikembangkan oleh Bloom, dkk.
dalam taksonomi Bloom. Tujuan kognitif
ini, dibedakan menjadi enam tingkatan:
knowledge, comprehension, application,
analysis, synthesis, evaluation.
Keenam jenis perilaku ini bersifat
hierarkis, artinya perilaku pengetahuan tergolong
terendah dan perilaku evaluasi tergolong
tertinggi. Perilaku yang terendah
merupakan perilaku yang harus dimiliki terlebih
dahulu sebelum mempelajari perilaku
yang lebih tinggi. Untuk dapat menganalisis
misalnya, mahasiswa harus memiliki pengetahuan,
pemahaman, dan penerapan tertentu.
5
Berikut kata kerja yang berorientasi per-
>>> Artikel original B I M A B I
Berkala Ilmiah Mahasiswa Kebidanan Indonesia
B I M A B I Vol.II No. 1 Desember 2013 [5]
ilaku pada setiap domain.
Dalam konteks evaluasi pembelajaran,
penggunaan kata kerja juga dapat digunakan
sebagai acuan dalam membuat
item-item pertanyaan sesuai dengan tingkat
pengetahuan para siswa.15
Penelitian ini menggunakan desain
penelitian analisis cross sectional.
Data yang digunakan adalah data primer,
dengan instrumen penelitian menggunakan
kuesioner. Populasi pada
penelitian ini adalah semua mahasiswa kebidanan
yang sedang praktik di RSKIA Kota
Bandung pada Bulan Desember 2012
sebesar 70 responden. Sampel yang digunakan
adalah mahasiswa kebidanan yang sedang
praktik di RSKIA Kota Bandung pada
Bulan Desember 2012. Teknik pengambilan
sampel yaitu menggunakan total sampling.
Ditetapkan pula kriteria inklusi,
antara lain: (1) Mahasiswa kebidanan tingkat
III yang sedang praktik di RSKIA Kota
Bandung pada Bulan Desember 2012. (2)
Mahasiswa kebidanan jalur umum yang sedang
praktik di RSKIA Kota Bandung pada
Bulan Desember 2012. (3) Mahasiswa kebidanan
yang melakukan praktik di ruang
bersalin RSKIA Kota Bandung pada Bulan
Desember 2012.
Untuk kriteria eksklusi dipilih mahasiswa
yang tidak hadir pada saat pengambilan
data dan mahasiswa yang melakukan
cuti akademik.
Variabel bebas (independent) dalam
penelitian ini adalah bimbingan klinik. Variabel
terikat (dependent) dalam penelitian
ini adalah kemampuan kognitif mahasiswa
praktik.
>>> Artikel original B I M A B I
Berkala Ilmiah Mahasiswa Kebidanan Indonesia
Tabel 1. Definisi operasional penelitian
B I M A B I Vol.II No. 1 Desember 2013 [6]
>>> Artikel original B I M A B I
Berkala Ilmiah Mahasiswa Kebidanan Indonesia
Teknik analisis data variabel yang digunakan
penulis adalah dengan menggunakan
skor kriterium dengan rumus:
SK=ST×JB×JR
Keterangan:
SK= Skor kriterium
JB= Jumlah Butir Pertanyaan
JR= Jumlah Responden
ST= Skor tertinggi dari alternatif
jawaban
SR= Skor terendah dari alternatif
jawaban
Kriteria kurang = antara 20 – 33
Kriteria cukup= antara 34 – 47
Kriteria baik= antara 48 – 60
B I M A B I Vol.II No. 1 Desember 2013 [7]
Berdasarkan tabel 2 tampak bahwa
nilai mata kuliah Asuhan Kebidanan II (Persalinan)
sebagian besar mendapatkan nilai B
(88,6%).
Berdasarkan hasil penelitian, bimbingan
klinik terbagi menjadi pre conference,
selama praktik, dan post conference.
Tabel 3. Distribusi Bimbingan Klinik saat pre
conference yang dilakukan di RSKIA Kota
Bandung
Dari tabel 3 terlihat bahwa aktivitas
bimbingan klinik pre conference yang diberikan
di RSKIA Kota Bandung sebagian besar
sudah dirasakan cukup (77,1%). Walaupun
masih terdapat bimbingan klinik yang dirasakan
kurang sebesar 17,2%.
Tabel 4. Distribusi Bimbingan Klinik saat post
conference yang dilakukan di RSKIA Kota
Bandung
Dari tabel 4 juga terlihat bahwa aktivitas
bimbingan klinik post conference yang diberikan
di RSKIA Kota Bandung sebagian
besar sudah dirasakan cukup (70%). Tetapi
masih terdapat bimbingan klinik post conference
yang dirasakan kurang yaitu sebesar
12,9%.
Tabel 5. Distribusi Bimbingan Klinik yang dilakukan
di RSKIA Kota Bandung
Sedangkan secara keseluruhan aktivitas
bimbingan klinik baik pre, selama
praktik, maupun post conference di RSKIA
Kota Bandung, menurut tabel 4.5 sebagian
besar sudah dirasakan cukup (77,1%). Hanya
masih ada sebagian kecil (2,9%) dirasakan
bimbingan klinik kurang.
Tabel 6 Distribusi Nilai kognitif mahasiswa
praktik di RSKIA Kota Bandung selama mendapatkan
bimbingan klinik
Berdasarkan tabel 6 dapat terlihat
kemampuan kognitif mahasiswa praktik
menurut nilai abjad dengan nilai paling banyak
yaitu nilai B (Baik) sebesar 37,1%. Pada
tabel 4.6 ini pun terlihat bahwa masih terdapat
nilai D pada mahasiswa praktik sebesar
8,6%.
Tabel 7. Distribusi silang Bimbingan klinik
dengan Nilai kognitif mahasiswa praktik di
RSKIA Kota Bandung
>>> Artikel original B I M A B I
Berkala Ilmiah Mahasiswa Kebidanan Indonesia
B I M A B I Vol.II No. 1 Desember 2013 [8]
Berdasarkan tabel 7 menunjukkan
hasil bahwa dengan bimbingan klinik yang
cukup, nilai terbanyak yang diperoleh mahasiswa
praktik adalah nilai B. Tabel silang
antara bimbingan klinik dengan kemampuan
kognitif kemudian dilakukan uji korelasi
kategorik dengan kategorik. Hasil uji menggunakan
Somers’d dengan bimbingan klinik
sebagai variabel bebas dan nilai kemampuan
kognitif sebagai variabel terikat, angka Significancy
menunjukkan nilai p=0,417. Maka,
dapat diambil kesimpulan bahwa secara
statistik tidak terdapat pengaruh antara pemberian
bimbingan klinik terhadap kemampuan
kognitif mahasiswa praktik. Namun, arah
korelasi pada penelitian ini negatif (berlawanan
arah) yaitu r = -0,077 yang berarti jika
semakin besar nilai satu variabel, semakin
kecil nilai variabel lainnya.
Dari hasil penelitian menunjukkan
bahwa dengan bimbingan klinik yang cukup,
nilai terbanyak yang diperoleh mahasiswa
praktik adalah nilai B. Tabel silang antara
bimbingan klinik dengan kemampuan kognitif
kemudian dilakukan uji korelasi kategorik
dengan kategorik. Hasil uji menggunakan
Somers’d dengan bimbingan klinik sebagai
variabel bebas dan nilai kemampuan kognitif
sebagai variabel terikat, angka Significancy
menunjukkan angka 0,417 (p>0,05). Maka,
dapat diambil kesimpulan bahwa secara
statistik tidak terdapat pengaruh antara pemberian
bimbingan klinik terhadap kemampuan
kognitif mahasiswa praktik, korelasinya
tidak bermakna antara kedua variabel yang
diuji. Namun, arah korelasi pada penelitian
ini negatif (berlawanan arah) yaitu r =
-0,077 yang berarti jika semakin besar nilai
satu variabel, semakin kecil nilai variabel
lainnya.
Walaupun bimbingan klinik yang cukup secara
statistik tidak mempengaruhi nilai kemampuan
kognitif menjadi lebih baik. Akan
tetapi, berdasarkan teori yang ada bahwa
proses bimbingan klinik dapat mempengaruhi
pencapaian kompetensi mahasiswa
praktik yang dapat ditinjau dari aspek kognitif,
afektif, maupun psikomotor.
Hasil penelitian ini mungkin saja
terjadi dikarenakan karakteristik mahasiswa
yang berbeda dari setiap institusi
pendidikan. Karakteristik inilah yang dapat
membentuk pemahaman awal mahasiswa
terhadap suatu teori sehingga kemampuan
kognitif yang dimiliki sangat beragam. Seperti
yang telah dijelaskan pada pembahasan
sebelumnya bahwa kemampuan kognitif di
sini sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor
keterbatasan seperti waktu dan tempat
saat melakukan ujian tertulis. Selain itu,
lamanya praktik juga menjadi faktor yang
mungkin mempengaruhi terbentuknya suatu
pemahaman pada kemampuan kognitif mahasiswa.
Selain kemampuan dan pemahaman
dasar yang berbeda, faktor lain yang
juga mempengaruhi kemampuan kognitif
mahasiswa praktik adalah kemungkinan
terjadinya inkonsistensi pelaksanaan bimbingan
klinik oleh pembimbing lapangan
yaitu inkonsistensi pelaksanaan pre dan post
conference. Berdasarkan penelitian, tidak
semua pembimbing lapangan dapat memberikan
bimbingan dengan baik dan sesuai
dengan teori yang ada. Adapun pembimbing
lapangan ini seharusnya ditekankan
pada beberapa kemampuan yang harus dimiliki
seperti memiliki pengetahuan yang
relevan dan keterampilan klinis yang cukup
baik (bisa berdasarkan pengalaman kerja di
rumah sakit), mampu membentuk hubun-
>>> Artikel original B I M A B I
Berkala Ilmiah Mahasiswa Kebidanan Indonesia
B I M A B I Vol.II No. 1 Desember 2013 [9]
an yang santai dan mendukung, mampu melakukan
umpan balik, mampu merangsang
mahasiswa berpikir kritis serta dapat menilai
berpikir kritis serta dapat menilai kebutuhan
belajar, mengawasi dan mengevaluasi pembelajaran
dan kinerja mahasiswa.12,13
Faktor lainnya adalah tempat praktik,
yakni tempat yang digunakan mahasiswa untuk
melatih keterampilan klinik dalam rangka
mencapai kompetensi yang telah ditetapkan.
Dalam hal ini lahan praktik harus memenuhi
kualifikasi tertentu seperti: jumlah dan variasi
kasus-kasus sesuai dengan target kompetensi,
serta yang paling penting adalah
tersedianya sarana dan prasarana bimbingan
antara lain ruang diskusi dan ruang seminar
serta memiliki pembimbing klinik yang
sesuai dengan profesi dan kualifikasi.3,8
Seperti yang dikatakan dalam teori
bahwa domain kognitif merupakan proses
pengetahuan yang lebih banyak didasarkan
perkembangannya dari persepsi, introspeksi,
atau memori siswa. Persepsi dapat terbentuk
dari pembelajaran di kelas, maupun pembelajaran
di tempat praktik. Sehubungan dengan
pembelajaran di tempat praktik merupakan
pembelajaran nyata, biasanya persepsi ini
terbentuk dan melekat lebih lama dibandingkan
hanya sekedar menghafal dari teori
saja. Biasanya persepsi yang terbentuk semakin
lama akan membentuk pemahaman
seseorang akan teori tertentu.5,15Pada proses
bimbingan idealnya pembimbing membantu
individu agar mereka dapat membantu dirinya
sendiri dalam menyelesaikan masalah
yang dihadapinya, serta bimbingan bertitik
tolak (berfokus) pada individu yang dibimbing.
Rasio pembimbing lapangan (bidan di
ruangan) dengan mahasiswa praktik yang
ada RSKIA Kota Bandung secara proporsi
mungkin belum sesuai sehingga fokus yang
ditujukan pada mahasiswa berkurang karena
jumlah mahasiswa yang cukup banyak. Adapun
dalam memenuhi kualifikasi menjadi
pembimbing lapangan harus memenuhi persyaratan
bidan yang telah lulus dari pendidikan
kebidanan DIII/DIV dan sudah bekerja
di rumah sakit minimal 2 tahun.
Bimbingan diarahkan pada individu
dan setiap individu memiliki karakteristik
tersendiri. Oleh karena itu, pemahaman
keragaman dan kemampuan individu yang
dibimbing sangat diperlukan dalam pelaksanaan
bimbingan. Bimbingan dimulai dengan
mengidentifikasi kebutuhan yang dirasakan
oleh individu yang akan dibimbing,
bimbingan harus luwes dan fleksibel sesuai
dengan kebutuhan.11
Setelah dilakukan penelitian secara
analitik cross sectional mengenai pengaruh
pemberian bimbingan klinik oleh pembimbing
lapangan terhadap kemampuan kognitif
mahasiswa praktik disimpulkan bahwa :
1. Langkah bimbingan klinik yang dilakukan
oleh pembimbing lapangan pada saat
pre conference cukup baik.
2. Langkah bimbingan klinik yang dilakukan
oleh pembimbing lapangan pada saat
post conference cukup baik.
3. Kemampuan kognitif mahasiswa praktik
klinik kebidanan pasca bimbingan klinik
kategori baik.
4. Tidak terdapat pengaruh antara pemberian
bimbingan klinik oleh pembimbing
lapangan terhadap kemampuan kognitif mahasiswa
praktik di RSKIA Kota Bandung,
secara statistik korelasi antara kedua variabel
tidak bermakna dengan arah korelasi
negatif (berlawanan arah).
1. Kurikulum program studi D3 kebidanan.
Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan
dan Perguruan Tinggi. 2002
2. Limistran. Faktor-faktor yang mempengaruhi
kinerja pembimbing klinik AKPER
Sapta Karya di Rumah Sakit Dr.
Mohammad Hoesin dan Rumah Sakit
Islam Siti Khadijah Palembang Tahun
2009. Diakses melalui http://isjd.pdii.
>>> Artikel original B I M A B I
Berkala Ilmiah Mahasiswa Kebidanan Indonesia
B I M A B I Vol.II No. 1 Desember 2013 [10]
lipi.go.id/admin/jurnal. 2009
3. Departemen Kesehatan. Pedoman standar
pembelajaran praktik kebidanan. Jakarta:
Pusdiknakes. 2005
4. Sutisna M. Pengembangan kurikulum
inti nasional dan institusional
berbasis kompetensi. Bandung: Program
Kebidanan Fakultas Kedokteran Unpad.
2011
5. Wahyuningsih HP. Etika Profesi Kebidanan.
Yogyakarta: Fitramaya. 2006
6. Peraturan presiden Republik Indonesia
No. 8 Tahun 2012 tentang Kerangka
Kualifikasi Nasional Indonesia. Jakarta:
RI. 2012
7. Morton A, Palmer A. Mentoring, preceptoring
and clinical supervision: A guide
to professional support roles in clinical
practice 2nd edition. Victoria: Blackwell
Science. 2000: 189
8. Matheney Ruth V. Pre and post conference
for students. The American Journal
Of Nursing Volume 69 No. 2. 1997
9. Physical Therapy. Consensus conference
proceedings on standards in clinical education
“Clinical instructor performance
expectation”. University of Minnesota.
2007
10. Hood N, Monahan M. Conducting preclinical
and post-clinical conferences.
The Health Alliance of MidAmerika.
2007
11. Achmad JN. Bimbingan dan konseling
dalam berbagai latar kehidupan. Bandung:
Refika Aditama. 2007: 7, 9-10
12. Aldridge M. Becoming a clinical instructor:
Pearls of Wisdom and Pitfalls. Diakses
melalui http://www.aacn.org/wd/
nti2009
13. Winstanley J, White E. Clinical supervision:
models, measures and best practice.
Journal nurse researcher volume 10 number
4. Australian and New Zealand College
of Mental Health Nurses. 2010
14. White R and Christine E. Clinical teaching
in nursing. UK: Stanley Thornes.
1997
15. Sukardi. Evaluasi pendidikan: prinsip
dan operasionalnya. Bandung: Bumi
Aksara. 2008
16. Suharsimi A. Dasar-dasar evaluasi pendidikan.
Bandung: Bumi Aksara. 2008
17. Notoadmojo S. Metodologi penelitian
kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta. 2010.
18. Nirwan SK. Analisis regresi dan korelasi.
Bandung: Unit Pelayanan Statistika:
FMIPA UNPAD. 2008: 107-108
19. Saefuddin A. Reliabilitas dan validitas.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2007:158
20. Dahlan MS. Statistik untuk kedokteran
dan kesehatan edisi 3. Jakarta: Salemba
Medika. 2008: 157, 168-70
>>> Artikel original B I M A B I
Berkala Ilmiah Mahasiswa Kebidanan Indonesia
B I M A B I Vol.II No. 1 Desember 2013 [11]
Oleh : Ayunda Septi Virdani
Program Studi Pendidikan Bidan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga
ABSTRAK
Seorang anak adalah harapan orang tua yang berharga . Dalam rangka untuk mendapatkan anak yang sehat dan cerdas
dan cocok dengan Periode anak-anak usia 1-5 tahun ( balita ) adalah periode ketika anak sangat membutuhkan makanan
dan gizi dalam jumlah yang cukup dan memadai . Malnutrisi selama periode ini dapat menyebabkan gangguan
pertumbuhan dan perkembangan . Sebuah metode pengasuhan anak yang buruk menyebabkan gangguan gizi bisa .
Metode penelitian yang digunakan studi cross sectional dengan balita di Puskesmas Kalirungkut , Kelurahan
Kalirungkut , Surabaya . Sebagai penduduk selama bulan Juni 2012. Sampel penelitian ini adalah anak
usia 12-59 bulan dan ibu mereka , yang diambil menggunakan teknik random sampling proporsional sebanyak
150 responden . Pengumpulan data meliputi karakteristik anak usia 12-59 bulan , karakteristik keluarga
, metode pengasuhan dilakukan dengan menggunakan checklist , sedangkan status gizi anak diukur
dengan menggunakan indeks berat badan / umur, tinggi / umur dan berat badan / tinggi dibandingkan dengan
Z – nilai standar WHO NCHS – . Uji statistik yang digunakan dalam penelitian ini adalah Spearman .
Hasil penelitian menunjukkan bahwa korelasi antara praktik pemberian makan dengan status gizi balita dalam kategori
berat badan / umur ( r = 0.894 , P < 0,05 ) , tinggi / umur ( r = 0.403 , P < 0,05 ) , dan berat / tinggi ( r = 0.594 , P < 0,05 ) Kata kunci: metode pengasuhan, status nutrisi, anak usia 12-59 bulan. >>> Artikel original B I M A B I
Berkala Ilmiah Mahasiswa Kebidanan Indonesia
B I M A B I Vol.II No. 1 Desember 2013 [12]
ABSTRACT
A child is a valuable expectation of parents. In order to obtain a healthy and smart children and suitable with
theiPeriod of the children aged 1-5 years (toddlers) are the period when the child are in desperate need of food
and nutrition in sufficient quantities and adequate. Malnutrition during this period may cause disruption growth
and development. A bad parenting method leads to a nutrition could disorder.
The methods of study is used cross sectional study with toddlers at the Puskesmas Kalirungkut, Kelurahan
Kalirungkut, Surabaya. As the population during June 2012. The sample of this study is children aged 12-59
months and their mothers, drawn using proportional random sampling technique as much as 150 respondents.
Data collection included the characteristics of children aged 12-59 months, family characteristics, parenting
method is done by using a checklist, while the nutritional status of children was measured using an index weight/
age, height/age and weight/height compared with Z-score WHO-NCHS standard. The statistical test used in this
study is the Spearman’s.
The result showed the correlation between feeding practices with the nutritional status of children in category
weight/age (r= 0,894; P < 0,05), height/age (r= 0,403; P <0,05), and weight/height (r= 0,594; P <0,05). The
correlation between psychosocial stimulation on the category weight/age (r= 0,674; P <0,05), height/age (r= -0,038; P > 0,05), and weight/height (r = 0,884; P < 0,05). The correlation between hygiene and environmental
sanitation on the category weight/age (r = 0,323; P < 0,05), height/age (r = 0,280; P < 0,05), and weight/height (r = 0,055; P > 0,05).
The mother who expected to have applied good mothers parenting still defend it. The mothers to have children
under five years old are underweight nutritional status, should be given counseling by health professionals about
feeding practices, psychosocial stimulation and health practices in order to improv the nutritional status of children
under five.
Key words: parenting method, nutritional status, children aged 12 – 59 months
B I M A B I Vol.II No. 1 Desember 2013 [13]
Prevalensi balita gizi buruk merupakan
indikator Millenium Development
Goals (MDGs) yang harus dicapai disuatu
daerah (kabupaten/kota) pada tahun 2015,
yaitu terjadinya penurunan prevalensi balita
gizi buruk menjadi 3,60% dan prevalensi
balita gizi kurang menjadi 11,90%.1 Angka
kematian balita di provinsi Jawa Timur
pada tahun 2008 sebanyak 714 balita, terdiri
dari balita bawah garis merah (BGM)
terdapat 3,37% dan balita gizi buruk sebanyak
0,62%.2 Hasil studi pendahuluan
di wilayah kerja Puskesmas Kalirungkut,
Kelurahan Kalirungkut Kota Surabaya pada
tahun 2011, menunjukkan jumlah balita
terdapat sebanyak 4.125, balita yang ditimbang
sebanyak 2.710 (65,70%), gizi normal
sebanyak 2.142 balita (79,04%), balita gizi
kurang sebanyak 446 (16,46%), dan balita
gizi buruk sebanyak 122 (4,50%).3 Status
gizi merupakan keadaan tubuh sebagai
akibat konsumsi makanan dan penggunaan
zat gizi. Status gizi dibedakan atas status
gizi buruk, gizi kurang, gizi baik, dan gizi
lebih.4 Pola asuh adalah kemampuan keluarga
dan masyarakat untuk menyediakan
waktu, perhatian dan dukungan dalam memenuhi
kebutuhan fisik, mental dan sosial
dari anak yang sedang tumbuh kembang.5
Pola asuh dapat dimanifestasikan dalam
bentuk pemberian makanan pengganti ASI
pada balita, rangsangan psikososial terhadap
anak, sanitasi lingkungan, dan perawatan
kesehatan dasar anak.6 Penelitian
Perangin-angin (2006) menyatakan bahwa
terdapat hubungan antara praktek pemberian
makan dengan status gizi anak. Dimana
dari 36 orang yang mempunyai status gizi
baik terdapat 26 orang (83,87%) dengan
praktek pemberian makan yang baik dan 10
orang (58,82%) dengan praktek pemberian
makan yang tidak baik. Sedangkan dari 8
orang responden yang mempunyai status
gizi kurang terdapat 2 orang (6,45%) dengan
praktek pemberian makan yang baik dan 6
orang (35,29%) dengan praktek pemberian
makan yang tidak baik.
Rangsangan psikososial yang baik
berkaitan erat dengan asuhan gizi dan kesehatan
yang baik pula sehingga secara tidak
langsung berpengaruh positif terhadap status
gizi, pertumbuhan dan perkembangan.
Kondisi psikososial yang buruk dapat berpengaruh
negatif terhadap penggunaan zat
gizi di dalam tubuh, sebaliknya kondisi
psikososial yang baik akan merangsang hormon
pertumbuhan sekaligus merangsang
anak untuk melatih organ – organ perkembangannya.
5 Keadaan rumah yang baik
misalnya, ventilasi dan pencahayaan yang
cukup, tidak penuh sesak, cukup leluasa untuk
anak bermain, bebas polusi, maka akan
menjamin tumbuh kembang anak.7 Masa
balita adalah masa dimana anak masih sangat
membutuhkan suplai makanan dan gizi
dalam jumlah yang cukup memadai. Pada
masa ini sering terjadi kekurangan gizi yang
diakibatkan oleh pemberian makanan yang
kurang bergizi. Selain itu pada masa ini
anak sering kali sulit makan karena anak sudah
tahu rasa atau mempunyai selera sendiri
terhadap makanan tertentu, sering bosan terhadap
makanan yang diberikan, anak banyak
bermain, atau bisa dikarenakan faktor
kejiwaan misalnya makan terlalu dipaksa.8
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
mengetahui mengetahui hubungan antara
pola asuh terhadap status gizi balita usia
12 – 59 bulan di wilayah kerja Puskesmas
Kalirungkut, Kelurahan Kalirungkut, Kota
Surabaya.
Rancang bangun penelitian ini adalah
penelitian analitik observasional dengan
menggunakan pendekatan cross sectional.
Populasi target dalam penelitian ini
>>> Artikel original B I M A B I
Berkala Ilmiah Mahasiswa Kebidanan Indonesia
>>> Artikel original B I M A B I
Berkala Ilmiah Mahasiswa Kebidanan Indonesia
B I M A B I Vol.II No. 1 Desember 2013 [14]
adalah seluruh ibu yang mempunyai
balita usia 12 – 59 bulan di wilayah
kerja Puskesmas Kalirungkut, Kelurahan
Kalirungkut, Kota Surabaya
sebanyak 2.000 balita tahun 2012.
Pengambilan sampel menggunakan
proportional random sampling dengan
besar sampel adalah 150 responden.
Data dikumpulkan menggunakan pengukuran
dan checklist untuk kedua variabel
penelitian yaitu Pola asuh (pemberian
makanan, rangsangan psikososial,
dan sanitasi lingkungan) dan status gizi.
Data kemudian dianalisis menggunakan
Spearman dengan level signifikansi
<0,05. HASIL Penelitian dilakukan di 15 RW Wilayah kerja Puskesmas Kalirungkut, Kelurahan Kalirungkut, Kecamatan Kalirungkut, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur, terletak di wilayah Surabaya Timur. Jenis pelayanan kesehatan yang tersedia yaitu pelayanan umum, gigi, KIA, KB dan imunisasi, laboratorium, gizi, sanitasi dan posyandu. Karakteristik responden berdasarkan umur menunjukkan sebagian besar berumur 20-35 tahun sebanyak 113 responden (75.3%) Karakteristik berdasarkan pendidikan menunjukkan separuh memiliki tingkat pendidikan SMA sebanyak 75 responden (50%). Karakteristik berdasarkan pekerjaan menunjukkan sebagian besar tidak bekerja sebanyak 89 responden (59.3%). Karakteristik berdasarkan pendapatan sebagian besar memiliki pendapatan diatas UMR sebanyak 80 responden (53,3%). Responden berdasarkan paritas sebagian besar memiliki >3 anak sebanyak 85
responden (56,7%).
Tabel 2 menyatakan hasil uji statistik
menggunakan uji spearman’s rho didapatkan r
= 0,894 dengan nilai p value 0,000 (p value < 0,05) ini menunjukkan bahwa ada hubungan yang positif, kuat dan bermakna antara pola asuh menurut praktek pemberian makan dengan status gizi menurut indikator BB/U. Kondisi ini bermakna bahwa semakin baik praktek pemberian makan maka semakin baik pula status gizi balita menurut indeks BB/U. B I M A B I Vol.II No. 1 Desember 2013 [15] Praktek pemberian makan pada balita di wilayah kerja Puskesmas Kalirungkut, Kelurahan Kalirungkut Surabaya, sebagian besar sudah memenuhi gizi seimbang. Mengkonsumsi makanan yang berprotein tinggi tidak hanya berasal dari hewani, banyak juga bahan makanan harganya terjangkau dan mengandung protein tinggi seperti tahu, tempe dan lain – lain. Disinilah ibu harus mempunyai kreatif untuk mengolah makanan yang bernilai tinggi protein dari harga yang relatif murah. Kunci keberhasilan seorang ibu menanamkan kebiasaan makan anak yang baik sangat tergantung kepada pengetahuan dan keterampilan ibu akan cara dan faedah menyusun makanan yang memenuhi syarat zat gizi. 9 Pola asuh ibu berdasarkan rangsangan psikososial sebagian besar berada pada kategori baik sebesar 71,3%, sedangkan pada kategori kurang yaitu sebesar 28,7%. Kebanyakan anak merasa tidak nyaman dan membosankan saat makan. Hal ini menyebabkan anak sering sekali tidak selera makan. Namun, sebagian besar ibu akan membujuk anaknya apabila anak tidak mau makan dan sebagian lagi, ibu memaksa anaknya bahkan memberi ganjaran apabila anak tidak mau makan. Ganjaran dan hukuman yang wajar merupakan salah satu faktor psikososial. Suasana pada waktu makan dapat mempengaruhi nafsu makan anak. Harapan orangtua yang berlebihan terhadap kebiasaan makan anak, dengan disertai teguran dan paksaan untuk menghabiskan porsi makanan yang disediakan, menjadikan acara makan sebagai hal yang tidak menyenangkan dan berakibat menurunkan nafsu makan anak. 7 Penelitian yang pernah dilakukan oleh Perangin-angin (2006) pada balita di Kelurahan Gundaling I Kecamatan Berastagi Kabupaten Karo menunjukkan bahwa status gizi baik ditemukan sebagian besar 68,75% dengan rangsangan psikososial baik dan kategori tidak baik sebesar 31,25%.11 Kondisi sanitasi rumah pada penelitian ini diukur dari konstruksi rumah, ventilasi, sumber air bersih, sanitasi/ tempat buang air besar dan tempat pembuangan sampah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sanitasi lingkungan baik di wilayah kerja Puskesmas Kalirungkut, Kelurahan Kalirungkut, Surabaya sebagian besar berada pada kategori baik yaitu 80%. Hal ini menunjukkan bahwa praktek sanitasi lingkungan di wilayah tersebut sudah memenuhi target yang di harapkan. Berdasarkan hasil pengamatan ditemukan sebagian besar lingkungan tempat tinggal responden umumnya >>> Artikel original B I M A B I
Berkala Ilmiah Mahasiswa Kebidanan Indonesia
>>> Artikel original B I M A B I
Berkala Ilmiah Mahasiswa Kebidanan Indonesia
B I M A B I Vol.II No. 1 Desember 2103 [16]
dalam keadaan bersih, bangunan rumah responden
sebagian besar tembok, terdapat
ventilasi, jamban, penampungan air masak,
sebagian besar responden juga menutup
tempat penampungan air, dan sudah terdapat
tempat pembuangan sampah.
West (2007) mengemukakan bahwa
apabila balita terkena infeksi, maka
akan terjadi katabolisme dan keseimbangan
protein yang negatif, terjadinya peningkatan
metabolisme energi, peningkatan
glukoneogenesis, resistensi insulin peripheral,
terjadinya perubahan metabolisme
lemak, serta meningkatnya penggunaan
dan pengeluaran beberapa vitamin. Chandra
dan Newberne (1979) mengemukakan
bahwa selama infeksi berlangsung, akan
terjadi malabsorpsi protein dalam usus,
tidak mempunyai selera makan, muntah,
dan terjadinya peningkatan katabolisme
dan peningkatan pengeluaran nitrogen. Hal
ini akan menyebabkan tubuh kekurangan
zat gizi akibatnya terjadi penurunan sintesis
protein dan penurunan regenerasi sel
yang pada akhirnya dapat mempengaruhi
sistem imunitas tubuh sehingga apabila imunitas
tubuh menurun akan cepat terkena
infeksi.11
Pada hasil penelitian Mariani (2008)
menyatakan bahwa status sanitasi rumah
sebagian besar terkategori baik (96,5%)
pada status gizi baik (BB/U). Hal ini meliputi
sarana pembuangan kotoran manusia
atau toilet, hampir 96,5% mempergunakan
toilet untuk buang air besar. Feces (human
excreta) adalah sisa-sisa hasil pencernaan
makanan yang didalamnya banyak terkandung
bakteri-bakteri patogen, salah satunya
bakteri E.Coli yang dapat menyebabkan
penyakit diare. Kesadaran contoh untuk
buang air besar di toilet dapat memperkecil
terjadinya penyebaran penyakit lewat
air. Entjang (2000) mengemukakan bahwa
pembuangan kotoran yang tidak menurut
aturan, memudahkan terjadinya penyebaran
water borne diseases.12
Berdasarkan pembahasan sebelumnya
dapat ditarik kesimpulan bahwa
ada ada hubungan yang kuat dan bermakna
antara pola asuh menurut praktek pemberian
makan dengan status gizi menurut
indikator BB/U, ada hubungan yang kuat
dan bermakna antara pola asuh menurut
rangsangan psikososial dengan status gizi
menurut indikator BB/TB, dan ada hubungan
yang rendah dan bermakna antara pola
asuh menurut sanitasi lingkungan dengan
status gizi menurut indikator BB/U.
` Penelitian ini diharapkan dapat
memberikan kontribusi bagi petugas kesehatan
terutama bidan dalam menurunkan
risiko terjadinya malnutrisi pada balita
dengan diharapkan lebih memfokuskan penyuluhan
terutama bagi ibu yang memiliki
anak balita dalam upaya peningkatan gizi
khususnya tentang penyediaan makanan
dalam tingkat rumah tangga yang sangat
penting untuk mendukung perbaikan gizi
anak balita.
Saran bagi institusi kesehatan diharapkan
lebih meningkatkan pembelajaran
dalam bidang penelitian dan memberikan
tambahan referensi mengenai ilmu
kebidanan terutama gizi balita. Kedepannya
peneliti selanjutnya diharapkan dapat
melakukan penelitian dengan sampel yang
lebih banyak agar lebih valid, mengkaji
lebih dalam mengenai faktor lain yang
mempengaruhi status gizi balita.
DAFTAR PUSTAKA
1. Bappenas, 2010, Laporan pencapaian
tujuan pembangunan Millenium Indonesia
2010, Jakarta: Kementerian
Perencanaan Pembangunan Nasional.
2. Riskesdas, 2010, Hasil laporan riset
kesehatan dasar tahun 2010, Jakarta:
Departemen Kesehatan RI.
3. Dinas Kesehatan Kota Surabaya, 2009,
Profil kesehatan Kota Surabaya, Surabaya:
Dinas Kesehatan Kota Surabaya.
B I M A B I Vol.II No. 1 Desember 2013 [17]
4. Almatsier, 2009, Prinsip dasar ilmu gizi,
Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
5. Engle, P.L, Menon, P., and Haddad, L, 1997,
Care and nutrition concept and measurement,
International Food Policy Research Institute.
6. Lindtjon, BMD, 1993, Nutritional status
and risk of infection among Ethiopian
children, Journal of Tropical Pediatrics.
7. Soetjiningsih, 2008, Tumbuh kembang anak dan
remaja, Jakarta: Ikatan Dokter Anak Indonesia.
8. Santrock, JW, 1998, Child development, 8th
ed, New York San Fransisco: Mc Graw Hill.
9. Suhardjo, 2005, Pangan gizi
dan pertanian, Jakarta: IUP.
10. Perangin – angin, A, 2006, Hubungan pola
asuh dan status gizi anak 0 – 24 bulan pada keluarga
miskin di Kelurahan Gundaling-I Kecamatan
Brastagi Kabupaten Karo Tahun 2006,
skripsi FKM, Universitas Sumatera Utara.
11. West, K.P, 2007, Interaction between nutrition
and infection in the developing world, The
Johns Hopkins University, http://ocw.jhsph.edu/.
12. Mariani, 2002, Hubungan pola asuh makan, konsumsi
pangan dan status kesehatan dengan status
gizi anak balita, Tesis, Institut Pertanian Bogor..
13. Nti, Christina A, Anna Lartey, 2006, Effect
of caregiver feeding behaviorus on
child nutritional status in rural Ghana, International
Journal of Consumers Studies.
14. Kroller, K, Warschburger, P, 2009, “Maternal feeding
strategies and child’s food intake considering
weight and demographic influences using structural
equation modeling”, International Journal of Behavioral
Nutrition and Physical Activity, Germany
15. Fahmida, U, 2003, Multi-micronutrient Supplementation
for infant growth and development
and the contributing role of psychosocial
care, Jakarta: Universitas Indonesia.
>>> Artikel original B I M A B I
Berkala Ilmiah Mahasiswa Kebidanan Indonesia
>>> Artikel original B I M A B I
Berkala Ilmiah Mahasiswa Kebidanan Indonesia
B I M A B I Vol.II No. 1 Desember 2013 [18]
ECLIPSE (ferulic acid-epilepsy therapy): EFEK
ANTIEPILEPTOGENIK EKSTRAK BEKATUL (Rice Bran) SEBAGAI
INHIBITOR N-methyl D-aspartate Receptor (NMDAR) PADA TIKUS
PUTIH JANTAN MODEL EPILEPSI
Debby Amalia Briliansari, Devi Arine
Defi Emilia, Lita Andriani
Kebidanan, Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya, Malang
ABSTRAK
Latar Belakang: Epilepsi dapat menyerang anak-anak, orang dewasa, para orang tua bahkan bayi yang baru
lahir. Sekitar 50 juta penduduk di seluruh dunia mengidap epilepsi. Patofisiologi epilepsi dikaitkan dengan
overstimulasi NMDAR dalam otak. Beberapa penelitian membuktikan bahwa asam ferulat dapat menghambat
overstimulasi NMDAR. Bekatul diketahui mengandung asam ferulat cukup tinggi. Pemanfaatan untuk konsumsi
manusia yang masih terbatas dan ketersediaan yang melimpah di Indonesia menjadikan bekatul berpotensi
sebagai salah satu modalitas terapi preventif berbasis alam untuk penderita epilepsi. Untuk membuktikannya,
dilakukan penelitian praklinis pada tikus wistar jantan.
Metode Penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ekstrak bekatul dalam penghambatan
ekspresi NMDAR pada tikus putih jantan model epilepsi. Luaran yang diharapkan dari kegiatan penelitian ini
adalah berupa artikel ilmiah dan paten. Penelitian menggunakan desain desain true experimental in vivo dengan
metode eksplorasi laboratorium dan metode penelitian eksperimental. Diawali dengan penginjeksian kainic
acid untuk menginduksi epilepsi, tikus dibagi menjadi 5 kelompok perlakuan. Ekstrak bekatul diberikan dengan
dosis 50, 100, dan 200 mg/kgBB selama 6 minggu. Dilanjutkan dengan pembedahan otak tikus dan pembuatan
preparat. Ekspresi NMDAR diamati dengan metode imunohistokimia. Hasil Pada penelitian ini, hasil uji ANOVA
menunjukkan bahwa terdapat perbedaan secara signifikan pada ekspresi NMDAR dengan p=0 (p<0,05).
Kesimpulan: Pemberian ekstrak bekatul mampu menurunkan ekspresi NMDAR pada tikus model epilepsi. Dosis
efektif ekstrak bekatul untuk menurunkan ekspresi NMDAR dalam penelitian ini ditunjukkan pada kelompok
perlakuan 2 yaitu 100 mg/kgBB.
Kata Kunci: Bekatul, NMDAR, Epilepsi
ABSTRACT
Information: The postpartum haemorrhage is the main cause of mother’s mortality around the world. In many
countries, at least one fourth of mother’s mortality were caused by bleeding.
Purpose: To recognize the factors that relating to postpartum haemorrhage
Method: This research was accomplished with descriptive method, with the population of all mothers who birth
and sectio caesaria at Majene District General Hospital period of January 1st 2003 until December 31st 2005.
Result: In the period of January 1st 2003 until December 31st 2005, the case of postpartum haemorrhage was
obtained as high as 71 cases (11.2%) from 635 vaginally and sectio caessarea. The highest postpartum haemorrhage
event according to childbirth type was prolonged labor 46%, childbirth with vacuum extraction 38.1%.
Multiple pregnancy 56.3%, Birth’s distance of < 2 years 24%, parity ≥ 4 14%, mother’s age ≥ 35 years 14.3%.
Education < 6 years 12.5%, ages of pregnancy 26 – 37 weeks 25.0%. Refered patient 34.0% and childbirth assistance
outside hospital by traditional birth attendant 36.1%.
Conclusion: The high of postpartum haemorrhage was caused by a very complex factors, the most common
factor is the delivery assisted by the traditional birth attendant.
Keywords: Rice Bran, NMDAR, Epilepsy
B I M A B I Vol.II No. 1 Desember 2013 [19]
Sekitar 50 juta penduduk di seluruh
dunia mengidap epilepsi (WHO, 2004). Di
Indonesia dapat diperkirakan bahwa bila penduduk
Indonesia saat ini sekitar 220 juta akan
ditemukan antara 1,1 sampai 4,4 juta penderita
penyandang epilepsi (Ramson, 2002).
Beberapa studi membuktikan bahwa obat
antiepilepsi selain mempunyai efek samping
antara lain sakit kepala, anemia, pingsan,
kantuk, dan gangguan pada daya ingat (Halczuk,
2005). Sehingga diperlukan pengembangan
terapi epilepsi ke arah terapi alternatif.
Bekatul dapat ditemukan dengan mudah di
Indonesia. Meskipun bekatul tersedia melimpah
di Indonesia, namun pemanfaatannya
untuk konsumsi manusia masih terbatas.
Padahal nilai gizi bekatul sangat baik, kaya
akan vitamin B, vitamin E, asam lemak esensial,
serat pangan, protein, oryzanol, dan
asam ferulat. (Ardhiansyah, 2005). Dalam
sebuah penelitian yang dilakukan oleh Yan
et al (2001), asam ferulat memiliki efek perlindungan
terhadap neurotoksisitas, dan stres
oksidatif pada otak. Hasil penelitian Yan et
al lainnya (2007) menunjukkan bahwa asam
ferulat dapat menghambat ekspresi NMDAR.
Keterlibatan NMDAR disebut-sebut
sebagai penyebab terjadinya kejang epilepsi
(Sanchez, 2000). Oleh karena itu, penelitian
ini dirancang sebagai tahap awal pembuktian
mengenai efek antiepileptogenik dari ekstrak
bekatul (Rice Bran) untuk menghambat NMDAR
pada tikus putih jantan model epilepsi.
Penelitian ini menggunakan desain
true experimental in vivo dengan metode eksplorasi
laboratorium dan metode penelitian
eksperimental. Induksi Kainic acid (10 mg/
kg) mengacu pada dosis berdasar pada penelitian
Aker et al (2008).
Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Penelitian ini dilakukan di di Laboratorium
Biomedik, Laboratorium Patologi Anatomi,
dan Laboratorium Farmakologi Fakultas
Kedokteran Universitas Brawijaya Malang.
Penelitian dilaksanakan selama 3 bulan
Pembuatan dan Pemberian Ekstrak Bekatul
Bekatul (Rice bran) dicuci sampai bersih,
kemudian dioven dengan suhu 100-120 0C.
Timbang sebanyak 2 kg bekatul ditempatkan
dalam satu wadah dan direndam dengan
etanol 2 x 5 L, diamkan 1 malam sampai
mengendap. Lapisan atas/bagian pelarut
diambil, disaring menggunakan corong
Buchner. Filtrat dipekatkan dengan rotary
evaporator dalam keadaan vakum. Larutan
etanol dibiarkan memisah dengan zat aktif
yang sudah ada dalam labu. Tunggu sampai
aliran etanol berhenti menetes pada labu
penampung.
Induksi Epilepsi
Kainic acid (10 mg/kg) secara intraperitoneal
setelah 6 jam pemberian ekstrak
bekatul. Pengamatan tikus dilakukan setelah
induksi kainic acid.
Pengamatan ekspresi NMDAR dengan metode
imunohistokimia
Prosedur pengamatan imunohistokimia
dengan pewarnaan jaringan menggunakan
antibodi anti-NMDAR1 pada mikroskop
cahaya pembesaran 400 kali. Dipilih lapang
pandang yang paling banyak sel positifnya
dengan pembesaran 400X, selanjutnya dihitung
jumlah sel positif pada lima lapang
pandang searah jarum jam
Pengolahan dan Analisa Data
Langkah-langkah uji hipotesis komparatif
dan korelatif adalah uji normalitas data, uji
homogenitas varian, uji one-way ANOVA,
dan Post Hoc Test (uji Least Significant Difference)
Penelitian ini dinilai bermakna bila
p<0,05. Uji statistik di atas dicek dengan menggunakan progam statistik SPSS (Andika, 2009). >>> Artikel original B I M A B I
Berkala Ilmiah Mahasiswa Kebidanan Indonesia
>>> Artikel original B I M A B I
Berkala Ilmiah Mahasiswa Kebidanan Indonesia
B I M A B I Vol.II No. 1 Desember 2013 [20]
Pada hewan model epilepsi terjadi
stimulus listrik subkonvulsi yang menyebabkan
kejang tonik-klonik. Peningkatan fungsi
sinapsis oleh subtipe reseptor glutamat
NMDA berkontribusi terhadap ekspresi hipereksitasi.
Baik antagonis kompetitif maupun
antagonis yang tidak kompetitif dari
NMDAR menghambat terjadinya kejang.
Analisis elektrofisiologi membuktikan bahwa
respon sinaptik NMDAR lebih tampak pada
hewan model epilepsi dibanding hewan kontrol.
Studi biokimia membuktikan peningkatan
sensitifitas terhadap depolarisasi peningkatan
NMDA tampak pada irisan hipokampus
hewan coba mengindikasikan perubahan intrinsik
pada neuron NMDAR. Peningkatan
sensitifitas NMDAR terdapat pada sel-sel
piramid hipokampus region CA3. Penelitian
saat ini menunjukkan bahwa kanal NMDAR
merupakan heteromerik kompleks yang melengkapi
protein subunit. Jurnal Neurosains
melaporkan peningkatan jumlah NMDAR
pada membran telah diisolasi dari hipokampus
(Goddard et al., 2009; McNamara et al.,
2002; Morrisett et al., 2009; Yeh et al., 2009).
Pada penelitian ini, hasil uji One-way ANOVA
dari ekspresi NMDAR diperoleh signifikansi
p=0 (p<0,05) yang berarti paling tidak ada dua kelompok yang memiliki perbedaan yang bermakna. Dari analisa Post Hoc didapatkan perbedaan yang bermakna antara KN dengan KP dan K3, antara KP dengan K1, K2, dan K3, antara K1 dengan K3, dan antara K2 dengan K3. Namun tidak didapatkan perbedaan yang bermakna antara KN dengan K1 dan K2, dan antara K1 dengan K2. Dengan demikian maka dapat disimpulkan bahwa pada dosis K1 dan K2 mampu menurunkan ekspresi NMDAR pada tikus epilepsi secara bermakna jika dibandingkan KP dan K3, namun hanya pada K2 yang mampu menunjukkan kemampuan menurunkan ekspresi NMDAR seperti pada kondisi normal. Maka pada pemberian ekstrak bekatul terbukti mampu menghambat ekspresi NMDAR yang merupakan prinsip kerja dari obat antiepilepsi, sehingga mampu mencegah terjadinya bangkitan epilepsi (Chapman, 2008). Hasil Pemeriksaan Imunohistokimia Pada proses penyakit epilepsi, terjadi perubahan intrinsik neuron NMDAR pada membran sel-sel piramid hipokampus region CA3. Peningkatan sensitifitas dan respon sinaptik NMDAR pada epilepsi meningkatkan jumlah ekspresi NMDAR (Morrisett et al., 2009). Pada penelitian kami, kelompok kontrol negatif menunjukkan arsitektur hipokampus yang normal pada semua area. Pada kelompok kontrol positif yang diinduksi epilepsi saja, nampak adanya akumulasi warna coklat yang sangat padat menunjukkan peningkatan ekspresi NMDAR dibandingkan dengan kelompok kontrol negatif. Dari kelompok perlakuan 1, 2, dan 3, penurunan ekspresi NMDAR sangat tampak pada kelompok perlakuan 2 yang diberi dosis ekstrak bekatul 100 mg/kgBB. Dari penampang histopatologi di atas, da- B I M A B I Vol.II No. 1 Desember 2013 [21] pat disimpulkan bahwa pemberian ekstrak bekatul mampu memberikan gambaran yang mendekati kondisi pada hipokampus tikus wistar normal. . 1. Pemberian ekstrak bekatul mampu menurunkan ekspresi NMDAR pada tikus model epilepsi. 2. Dosis efektif untuk menurunkan ekspresi NMDAR pada tikus model epilepsi ditunjukkan pada kelompok perlakuan 2 yaitu 100 mg/ kgBB. 1. Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mencari dosis optimal ekstrak bekatul pada manusia 2. Diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai efek ekstrak bekatul terhadap parameter epilepsi untuk mengetahui efek spesifik yang belum diungkap pada penelitian ini seperti EEG, GBP, GABA dll. 1. A., Bragin dkk. 2009. Electrophysiologic analysis of a chronic seizure model after unilateral hippocampal KA injection.. Department of Neurology, UCLA School of Medicine, Los Angeles, California 90095-1769, USA, Epilepsia.;40(9):1210-21. 2. A., Simonyi dkk. 2005. Kainic acid-mediated excitotoxicity as a model for neurodegeneratio. Department of Medical Pharmacology, University of Missouri School of Medicine, Columbia, MO, USA, Mol Neurobiol. 31(1-3):3-16. 3. Aker, Rezzan Gu¨lhan. 2008. Neurobiology of Disease Intra-Amygdaloid Injection of Kainic Acid in Rats with Genetic Absence Epilepsy: The Relationship of Typical Absence Epilepsy and Temporal Lobe Epilepsy. The Journal of Neuroscience 28(31):7828 –7836. 4. Aronica, Eleonora. 2006. Potential New Antiepileptogenic Targets Indicated by Microarray Analysis in a Rat Model for Temporal Lobe Epilepsyi. 5. The Journal of Neuroscience, 25 October 2006, 26(43): 11083-11110; doi: 10.1523/ JNEUROSCI.2766-06.2006. 6. Bush, Paul C. et al. 2009. Increased Pyramidal Excitability and NMDA Conductance Can Explain Posttraumatic Epileptogenesis Without Disinhibition: A Model. J Neurophysiol 82:1748-1758. 7. Cole, Andrew J., Sookyong Koh dan Yi Zheng. 2002. Are seizures harmful: what can we learn from animal models?. Epilepsy Research Laboratory, Massachusetts General Hospital and Department of Neurology, Harvard Medical School, Progress in Brain Research, Vol. 135. 8. D. Jarell A., Temkin N.R dan Anderson G.D. 2001. Antiepileptogenic Agents: How Close Are We?. Volume 61, Number 8, 2001 , pp. 1045-1055(11). D., Kong dkk. 2010. Protective Effect of Resveratrol Against Kainate- Induced Temporal Lobe Epilepsy in Rats. Neurochem Res2009;34(8):1393–1400. 9. Danglot, Lydia, Caroline Le Duigou, LuciaWittner dan Richard Miles. 2005. Effects of focal injection of kainic acid into the mouse hippocampus in vitro and ex vivo. J Physiol 569.3 (2005) pp 833–847 833. 10. Goodman, Jeffrey H. 2005. Chapter 05: Experimental Models of Status Epilepticus. Neuropharmacology Methods in Epilepsy Research. 11. Gradl, T. 2008. Inhibition of NMDAReceptor By Food Additives. Germany. 12. Gunawan, Billy Indra. 2008. Epilepsi Dalam Kehamilan. Diakses pada 31 Desember 2012. Pukul 12.35. 13. Gupta, Yogendra dkk. 2009. Protective Effect of Curcumin Against Kainic Acid Induced Seizures and Oxidative Stress In Rats. Indian J Physiol Pharmacol; 53 (1) : 39–46. 14. J., Zhu, Zheng XY, Zhang HL, dan Luo Q,. 2010. Kainic acid-induced neurodegenerative model: potentials and limitations. 15. Department of Neurosurgery, The First Hospital of Jilin University, Changchun, China J Biomed Biotechnol. 2011;2011:457079. 16. Kigata, Numata. 2009. Oryza sativa. ORYZA OIL & FAT CHEMICAL CO., LTD. Striving For The Development Of The New Functional Food Materials To Promote Health And General Well-Being. 17. Kraus, John E. et al. 2004. Kindling Induces the Long-lasting Expression of a of NMDA Receptors in Hippocampal Region CA3 Novel Population. J Neuroscience 14(7): 4196-4205. 18. Medicinus. 2008. Permasalahan di Reseptor atau Neurotransmitter Epilepsi: Permasalahan di Reseptor. Vol. 21, nov- des, no 4. 2008. ISSN 1979-391x. 19. Michwan, Ardiansyah. 2005. Rice Bran (Bekatul). Bogor: IPB. Rizki. 2011. Mengenal Manfaat Bekatul. http://naturalorganik. multiply. com/ >>> Artikel original B I M A B I
Berkala Ilmiah Mahasiswa Kebidanan Indonesia
>>> Artikel original B I M A B I
Berkala Ilmiah Mahasiswa Kebidanan Indonesia
B I M A B I Vol.II No. 1 Desember 2013 [22]
journal/item /5?&show_ interstitial =1&u=%2Fjournal
%2Fitem. Diakses pada 1 januari 2011. Pukul 12.37 WIB.
20. Wang, Zang et al. 2010. N-Methyl-D-Aspartate Receptor
Subunit 1 Protein Expression In The Hippocampus
And Temporal Cortex Of Kainic Acid-Induced Epilepsy
Rats. Neural Regen Res. 2010;5(14):1045-1049.
21. Yanuarti, Lita. 2011. Penegakan Diagnosis Kejang
Parsial Epilepsi padaAnak.http://www.fkumyecase.
net/wiki/index.php?page=Penegakan+Diagno
sis+Epilepsi+Kejang+Parsial+Kompleks+Pada+An
ak+++. Diakses pada 24 Oktober 2012. Pukul 15:18.
22. Zhang, Yongping et al. 2006. Potent Protection Of
Ferulic Acid Against Excitotoxic Effects Of Maternal
Intragastric Administration Of Monosodium
Glutamate At A Late Stage Of Pregnancy On Developing
Mouse Fetal Brain. European Neuropsychopharmacology
Volume 16, Issue 3, 170-177.
>>> Artikel original B I M A B I
Berkala Ilmiah Mahasiswa Kebidanan Indonesia
B I M A B I Vol.II No.1 Desember 2013 [23]
iBROSS (iron – Brown seaweed): Pengaruh Suplementasi Rumput
Laut Coklat (Sargassum crassifolium) Terhadap Kadar
Hemoglobin, Serum Feritin, dan Volume Rata-Rata Eritrosit pada
Tikus Wistar Hamil Model Anemia Defisiensi Besi (ADB)
Amalia, Debby B.1, Novia, Vinda R.1, M., Alwiyah K.2
1Jurusan Kebidanan, Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya
2Jurusan Gizi, Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya
ABSTRAK
Latar Belakang : Anemia adalah salah satu dari empat masalah gizi utama di Indonesia yang dialami oleh ibu
hamil. Ibu hamil dengan anemia sebagian besar sekitar 62,3 % berupa anemia defisiensi besi (ADB). Kekurangan
asupan zat besi merupakan faktor utama terjadinya ADB pada ibu hamil. Sehingga diperlukan asupan zat
besi yang adekuat sebagai upaya preventif ADB, salah satunya dengan memanfaatkan rumput laut. Rumput
laut coklat jenis Sargassum crassifolium diketahui mengandung zat besi yang tinggi, namun belum banyak dimanfaatkan.
Penyebaran yang luas dan jumlah yang melimpah di Indonesia menjadikan rumput laut jenis ini
berpotensi sebagai salah satu modalitas terapi preventif berbasis alam untuk ibu hamil penderita ADB. Untuk
membuktikannya, dilakukan penelitian praklinis pada tikus wistar hamil.
Metode Penelitian : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suplementasi rumput laut coklat Sargassum
crassifolium terhadap kadar hemoglobin, serum feritin, dan volume rata-rata eritrosit tikus wistar hamil
model ADB. Luaran yang diharapkan dari kegiatan penelitian ini adalah berupa artikel ilmiah dan paten. Penelitian
menggunakan desain eksperimen laboratorium murni, dengan rancangan Pretest-Posttest With Control
Group Design, yang diulang sebanyak 3 kali. Diawali dengan pemberian diet isokalorik rendah zat besi pada
tikus wistar hamil selama 4 minggu, tikus dibagi menjadi 8 kelompok perlakuan. Ekstrak rumput laut diberikan
dengan dosis 18, 36, 72 mg/kgBB dilakukan selama 2 minggu. Penambahan asam askorbat 200 mg diberikan
pada 3 kelompok perlakuan. Kadar hemoglobin, serum feritin, dan volume rata-rata eritrosit dievaluasi sebelum
dan sesudah perlakuan.
Hasil : Tidak terdapat perbedaan secara signifikan pada kadar hemoglobin dengan p=0,509 (p>0,05), serum
feritin dengan p=1 (p>0,05), dan volume rata-rata eritrosit dengan p=0,864 (p>0,05).
Kesimpulan : Pemberian ekstrak rumput laut coklat Sargassum crassifolium selama 2 minggu tidak berpengaruh
terhadap hemoglobin, serum feritin, dan volume rata-rata eritrosit pada tikus wistar hamil model anemia
defisiensi besi.
Kata Kunci: Sargassum crassifolium, Anemia Defisiensi Besi, Hb, Serum Ferritin, MCV
>>> Artikel original B I M A B I
Berkala Ilmiah Mahasiswa Kebidanan Indonesia
>>> Artikel original B I M A B I
Berkala Ilmiah Mahasiswa Kebidanan Indonesia
B I M A B I Vol.II No. 1 Desember 2013 [24]
ABSTRACT
Background: Anemia is one of the four major nutrition problems in Indonesia experienced by pregnant women.
Pregnant women with anemia mostly around 62.3 % in the form of iron deficiency anemia (IDA). Shortage of
iron intake is a major factor in the occurrence of IDA in pregnant women. So, we need an adequate iron intake
as a preventive effort IDA, one of them by utilizing seaweed. Brown seaweed Sargassum crassifolium known to
contain high iron , but has not been used. Widespread distribution and a large amount in Indonesia make this
type of seaweed as a potential nature-based preventive therapeutic for pregnant women with IDA. To prove this,
preclinical studies conducted on pregnant Wistar rats .
Methods: This study aimed to determine the effect of supplementation brown seaweed Sargassum crassifolium
to hemoglobin concentration, ferritin serum, and the average volume of erythrocytes of pregnant Wistar rat IDA
model. Expected outcomes of this research activity is the form of scientific articles and patents. Research design
using pure laboratory experiments, with the pretest-posttest With Control Group Design, which was repeated 3
times. Begin with the administration of a iron-low isokalorik diet on pregnant Wistar rats for 4 weeks, the rats
were divided into 8 treatment groups. Seaweed extract administered at a dose of 18, 36, 72 mg/kgWeight performed
for 2 weeks. The addition of 200mg ascorbic acid administered at 3 treatment groups. Levels of hemoglobin,
ferritin serum, and the average volume of erythrocytes was evaluated before and after treatment.
Results: There were no significant differences in hemoglobin levels with p=0.509 (p>0.05), serum ferritin with
p=1 (p>0.05), and the average volume of erythrocytes with p=0.864 (p>0,05).
Conclusions: Provision of brown seaweed sargassum crassifolium extract for 2 weeks had no effect on hemoglobin,
ferritin serum, and the average volume of erythrocytes in pregnant Wistar rat IDA model.
Keywords: Sargassum crassifolium , Iron Deficiency Anemia , hemoglobin , serum Ferritin , MCV
B I M A B I Vol.II No. 1 Desember 2013 [25]
Anemia adalah salah satu dari empat
masalah gizi utama di Indonesia yang
dialami oleh ibu hamil. Prevalensi anemia
pada ibu hamil di Indonesia adalah 35-75%.
Ibu hamil dengan anemia sebagian besar
sekitar 62,3 % berupa anemia defisiensi
besi (ADB) (Kusumah, 2009; WHO, 2002).
Beberapa upaya telah dilakukan untuk
mencegah terjadinya anemia defisiensi besi
pada ibu hamil seperti perbaikan asupan gizi,
dan suplementasi tablet zat besi. Namun,
sampai saat ini tujuan suplementasi tablet zat
besi belum tercapai sepenuhnya. Tablet zat
besi dapat menimbulkan gejala-gejala seperti
mual, nyeri di daerah lambung, kadang terjadi
diare dan sulit buang air besar serta pusing
karena bau logam. Untuk itulah diperlukan
upaya alternatif penanggulangan resiko
anemia defisiensi besi pada ibu hamil (Departemen
Kesehatan, 2009; Hartono, 2000).
Indonesia merupakan penghasil rumput laut
nomor satu di dunia. Salah satu rumput laut
yang dapat dimakan adalah Sargassum crassifolium,
yang merupakan golongan ganggang
coklat terbesar di laut tropis. Rumput
laut jenis Sargassum crassifolium ini sangat
melimpah dan tersebar luas hampir di seluruh
wilayah laut Indonesia (Atmadja, 2006; Sumarsih,
2001). Dari semua jenis rumput laut
coklat, Sargassum crassifolium merupakan
jenis rumput laut yang mengandung kadar
besi paling tinggi, yaitu 132,65 mg/100 g berat
kering. Berdasarkan rata-rata kadar besinya,
Sargassum crassifolium dapat digunakan
sebagai bahan makanan sumber besi (Mursyidin,
2002; Setyawan, 2004; Garcia, 2007).
Oleh karena itu, penelitian ini dirancang
sebagai tahap awal pembuktian penulis
mengenai pengaruh suplementasi rumput
laut coklat Sargassum crassifolium terhadap
kadar hemoglobin, serum feritin, dan
volume rata-rata eritrosit pada tikus putih
hamil model anemia defisiensi besi (ADB).
.
Penelitian ini menggunakan desain
eksperimen laboratorium murni, dengan
rancangan Pretest-Posttest With Control
Group Design. Diet susu semisintetik rendah
besi sebanyak 4 mg/kg untuk induksi
ADB. Diet dilakukan selama 4 minggu sebelum
penelitian (Kumara et al, 2012).Penelitian
ini dilakukan di Laboratorium Fisiologi,
Laboratorium Farmakologi Fakultas
Kedokteran Universitas Brawijaya Malang,
dan Laboratorium Klinik RSSA Malang.
Penelitian dilaksanakan selama 2 bulan.
Pemberian diet defisiensi besi
Pemberian diet dilakukan menggunakan
sonde lambung
Pembuatan dan Pemberian Ekstrak Rumput
laut
Rumput laut kering 200 g dilarutkan
dalam etanol selama 24 jam, hingga terdapat
endapan, kemudian didinginkan. Ekstrak
rumput laut diberikan selama 2 minggu.
Pembuatan dan pemberian asam askorbat
Asam askorbat diencerkan dengan
akuades sampai 100 ml. Pemberian asam
askorbat dilakukan melalui sonde setelah
pemberian ekstrak rumput laut.
Pengambilan sampel darah tikus
Darah diambil menggunakan spuit
melalui jantung sebanyak 5 ml. Masingmasing
2,5 ml untuk pemeriksaan Hb dan
2,5 ml untuk pemeriksaan serum feritin.
Pengecekan kadar hemoglobin dan MCV
Tabung RB diberi 5000 μl (5 cc)
Reagen Hemoglobin. Tabung RTD diberi 20
μl sampel darah ditambah dengan 5000μl
Reagen Hemoglobin dicampur hingga homogen.
Tabung RPL diberi 20 μl sampel
>>> Artikel original B I M A B I
Berkala Ilmiah Mahasiswa Kebidanan Indonesia
B I M A B I Vol.II No. 1 Desember 2013 [26]
darah dan ditambah dengan 5000 μl Reagen
Hemoglobin didiamkan selama 3 menit pada
suhu kamar. Diukur dengan spektrofotometer,
absorbansi RTD dan abs ( RPL ) terhadap
reagen blanko pada panjang gelombang 578
nm.
Pengecekan kadar serum feritin
Memindahkan reagen yang diperlukan
dari lemari es ke temperatur ruangan
paling tidak 30 menit. Pilih “FER” pada alat
untuk meng’enter’ kode test. Kalibrator harus
diidentifikasi oleh “S1” dan dites pada duplikat.
Jika kontrol akan dites, sebelumnya
diidentifikasi oleh “C1”. Campur kalibrator,
kontrol dan sampel menggunakan Vortex
tipe mixer. Masukkan 100μl pipet kalibrator,
sampel, atau kontrol untuk setiap sampel.
Pengolahan dan Analisa Data
Langkah-langkah uji hipotesis komparatif
dan korelatif adalah uji normalitas
data, uji homogenitas varian, uji one-way
ANOVA, dan Post Hoc Test. Penelitian ini
dinilai bermakna bila p<0,05. Uji statistik di atas dicek dengan menggunakan progam statistik SPSS (Isniyanti, 2012). >>> Artikel original B I M A B I
Berkala Ilmiah Mahasiswa Kebidanan Indonesia
B I M A B I Vol.II No. 1 Desember 2013 [27]
Kombinasi antara diet strategis untuk
meningkatkan zat besi dan konsumsi vitamin
C efektif memperbaiki ADB dengan meningkatkan
kadar hemoglobin dan mengganti cadangan
zat besi. ADB biasanya membaik setelah
pengobatan 6 sampai 8 minggu. (Irene,
2005). Pada penelitian kami, intervensi ADB
pada tikus dilakukan hanya selama 2 minggu
dari waktu total penelitian 2 bulan, hal ini
dikarenakan keterbatasan waktu penelitian
dan keterbatasan bahan penelitian sehingga
hasil yang kami peroleh belum maksimal.
Kosongnya cadangan besi tubuh (depleted
iron store) sehingga penyediaan besi untuk
eritropoesis berkurang, yang pada akhirnya
pembentukan hemoglobin (Hb) berkurang.
Hal ini berakibat pada menurunnya kadar
hemoglobin pada penderita ADB (Tangkahan,
2012). Menurut WHO, pada wanita hamil dikatakan
anemia apabila kadar Hb < 11 g/dl. Pada penelitian ini, hasil uji One-way ANOVA dari kadar Hb diperoleh signifikansi p=0,509 (p>0,05) yang berarti tidak ada kelompok
yang memiliki perbedaan secara bermakna.
Dengan demikian maka dapat disimpulkan
bahwa kadar Hb belum mengalami perubahan
yang bermakna walaupun terjadi sedikit
peningkatan pada P1 dan P3. Sedangkan
pada kelompok lain mengalami penurunan.
Serum ferritin merupakan petunjuk
kadar cadangan besi dalam tubuh. Pemeriksaan
kadar serum ferritin sudah rutin dikerjakan
untuk menentukan diagnosis defisiensi
besi, karena terbukti bahwa kadar
serum ferritin sebagai indikator paling dini
menurun pada keadaan bila cadangan besi
menurun. Pemeriksaan kadar serum feritin
terbukti sebagai indikator paling dini, yaitu
menurun pada keadaan cadangan besi tubuh
menurun. International Nutritional Anemia
Consultative Group (INACG) menetapkan
cut off serum feritin untuk ADB sebesar
0,05) yang berarti tidak ada kelompok
yang memiliki perbedaan secara bermakna.
Dengan demikian maka dapat disimpulkan
bahwa kadar serum feritin belum mengalami
perubahan yang bermakna. Hal ini disebabkan
untuk meningkatkan serum feritin
hingga mendekati normal membutuhkan
konsumsi zat besi lebih dari 400 mg per hari.
Semakin banyak zat besi yang diabsorpsi,
semakin banyak feritin yang dilepaskan
oleh sel mukosa usus halus (Munsey, 2009).
MCV merupakan volume ratarata
eritrosit. MCV akan menurun apabila
kekurangan zat besi semakin parah,
>>> Artikel original B I M A B I
Berkala Ilmiah Mahasiswa Kebidanan Indonesia
B I M A B I Vol.II No. 1 Desember 2013 [28]
dan pada saat anemia mulai berkembang.
MCV merupakan indikator kekurangan zat
besi yang spesifik. Pada ADB jumlah sel
darah merah menurun sejajar dengan penurunan
kadar Hb dan MCV. Kadar MCV
pada ADB adalah < 70 fl (Threesa, 2011). Pada penelitian ini, hasil uji One-way ANOVA dari kadar MCV diperoleh signifikansi p=0,864 (p>0,05) yang berarti tidak
ada kelompok yang memiliki perbedaan
secara bermakna. Dengan demikian maka
dapat disimpulkan bahwa kadar MCV belum
mengalami perubahan yang bermakna
walaupun terjadi sedikit peningkatan pada
K(-), K(+), P1 dan P2. Sedangkan pada
kelompok lain mengalami penurunan.
1. Pemberian ekstrak rumput laut
coklat Sargassum crassifolium tidak berpengaruh
terhadap kadar hemoglobin, serum
feritin, dan volume rata-rata eritrosit
pada tikus wistar hamil model anemia defisiensi
besi.
2. Pemberian ekstrak rumput laut
coklat Sargassum crassifolium ditambah
vitamin C tidak berpengaruh terhadap kadar
hemoglobin, serum feritin, dan volume
rata-rata eritrosit pada tikus wistar hamil
model anemia defisiens
1. Diperlukan penelitian lebih lanjut
dengan waktu intervensi minimal 6
bulan untuk membuktikan efek perbaikan
anemia defisiensi besi pada tikus.
2. Diperlukan penelitian lebih lanjut
mengenai efek ekstrak rumput laut coklat
terhadap parameter anemia defisiensi
besi lain untuk mengetahui efek spesifik
yang belum diungkap pada penelitian
ini seperti TIBC, RDW, serum iron dll.
>>> Artikel original B I M A B I
Berkala Ilmiah Mahasiswa Kebidanan Indonesia
1. Alton, Irene. 2005. Iron Deficiency Anemia:
Chapter 9 (Online). http://www.epi.umn.edu/
let/pubs/adol_book.shtm. Diakses pada tanggal
17 Juli 2013. Pukul 18.03.
2. Andersen, Henriette S. dkk. 2007. Effect of
dietary copper deficiency on iron metabolism
in the pregnant rat.British Journal of Nutrition.
Volume 97,239-246.
3. Chasanah, Isniyanti. 2012. Pengaruh Pemberian
Angkak terhadap Kadar Hb dan Jumlah
Eritrosit pada Tikus Wistar yang Mengalami
Anemia Perdarahan.Under Graduates thesis,
Yogyakarta: Universitas Muhamadiyah Yogyakarta.
4. Garcia-Casal, MN., dkk. 2007. High Iron Content
And Bioavailability In Humans From Four
Species Of Marine Algae. The Journal of Nutrition.;
137:2691-2695.
5. Khusun, Helda dkk. 2012. World Health Organization
Hemoglobin Cut-Off Points for the
Detection of Anemia Are Valid for an Indonesian
Population. American Society for Nutritional
Sciences 0022-3166/99.
6. Kumara, Ruvin, dkk. 2012. Influence of Iron
Deficiency on Olfactory Behavior in Weanling
Rats. Journal of Behavioral and Brain Science,
2012, 2, 167-175.
7. Muhammad, Adang, Osman Sianipar. 2005.
Penentuan Defisiensi Besi Anemia Penyakit
Kronis Menggunakan Peran Indeks sTfR-F. J.
Pathology Vol 1 No 1-new.indd.
8. Notopoero. 2007. Eritropoitin Fisiologi, Aspek
Klinik dan Laboratorik.. Erythropoietin
Physiology, Clinical, and Laboratory Aspect).
Indonesian Journal of Clinical Pathology and
Medical Laboratory, Vol. 14, No. 1, November
2007: 28-36
9. Setyawan dkk. 2004. Analisis Komposisi Nutrisi
Rumput Laut Sargassum crassifolium J.
Agardh. Solo: Universitas Sebelas Maret.
10. Tangkahan. 2012. Kadar Ceruloplasmin Pada
Sirosis Hati (Online). Diakses pada 29 Juli
2013. Pukul 15.14.
B I M A B I Vol.II No.1 Desember 2013 [29]
SELAI KULIT MANGGIS (GARCINIA MANGOSTANA) SEBAGAI
ALTERNATIF PENCEGAHAN DIARE
Ni Kadek Nensi D. P. , Siti Halimatus Nurullaila
Universitas Brawijaya
ABSTRAK
Penyakit diare adalah penyebab utama morbiditas, kematian anak di negara berkembang, dan penyebab
kekurangan gizi. Secara klinis penyebab diare dapat dikelompokkan dalam golongan enam besar yaitu
karena infeksi, malabsorbsi, alergi, keracunan, immuno defisiensi, dan lain-lain. Tetapi yang sering ditemukan
di lapangan ataupun klinis adalah diare yang disebabkan infeksi dan keracunan.
Penelitian mengemukakan bahwa dalam kulit manggis terkandung suatu zat yang mempunyai efek anti
dan mencegah diare. Zat tersebut adalah xhantone yang tidak hanya terkandung dalam kulitnya saja tetapi juga
pada buahnya. Di indonesia persebaran tanaman manggis peluang pengembangannya sangat besar, baik ditinjau
dari potensi lahan, keragaman jenis, maupun dari aspek petani dan teknologi.
Namun bagi masyarakat awam, kulit manggis tidak mempunyai manfaat sehingga biasanya di buang.
Padahal kulit manggis dapat dijadikan sebagai alternatif pencegahan diare karena kandungan zat xanthone
yang terdapat pada kulit manggis.
Salah satu alternatif gagasan yang kami ajukan adalah pengolahan kulit manggis menjadi sebuah
makanan yang mempunyai kandungan gizi yang baik yaitu selai serta mampu memberikan alternatif pencegahan
diare. Cara pembuatan selai itu sendiri cukup mudah. Untuk mengimplementasikan gagasan, maka diperlukan
suatu langkah-langkah strategis agar gagasan yang telah dibuat dapat dijadikan sebagai suatu solusi nyata
terhadap peningkatan kualitas hidup masyarakat melalui bidang kesehatan serta adanya pihak-pihak yang akan
dilibatkan dalam mengimplementasikan gagasan.
Kata kunci : diare, kulit manggis,
ABSTRACT
Diarrhea is a major cause of morbidity, child mortality in developing countries, and cause
of malnutrition. Clinically cause of diarrhea can be grouped into six major categories, infection,
malabsorption, poisoning ,toxicity, immuno-deficiency, and others. But we often found in clinical that
diarrhea caused by infection and poisoning.
Research suggests that the mangosteen peel contained a substance which has the effect of anti
and prevent diarrhea. The substance is xhantone which not only contained in the skin but also on the
fruit. In Indonesia, the development opportunity of spread of mangosteen are very great, both in terms
of the potential of the land, the diversity of species, as well as from growers and technology aspects .
But for ordinary people, mangosteen peel that is usually thrown away is useless. Though mangosteen
peel can be used as an alternative for the prevention of diarrhea by xanthone substance that found in
the mangosteen skin.
One alternative idea that we provide is processing the mangosteen skin into a food that has
a good nutrient content that is jam, and be able to prevent diarrhea. Ways of making jam itself is
quite easy. To implement the idea, we need a strategies so that the idea can be used as a real solution
to improving quality of life through health and the presence of the parties that will be involved in
implementing the idea .
Keywords: diarrhea, skin mangosteen
>>> Artikel original B I M A B I
Berkala Ilmiah Mahasiswa Kebidanan Indonesia
B I M A B I Vol.II No. 1 Desember 2013 [30]
Penyakit diare adalah penyebab utama
morbiditas, kematian anak di negara berkembang,
dan penyebab penting kekurangan gizi.
Menurut catatan WHO, diare membunuh dua
juta anak di dunia setiap tahun, sedangkan
di Indonesia, menurut Surkesnas (2001) diare
merupakan salah satu penyebab kematian
kedua terbesar pada balita (Jangan Anggap
Remeh Diare; Available from : www.medicastore.
com). Pada tahun 2003 diperkirakan
1,87 juta anak-anak di bawah 5 tahun meninggal
karena diare. Delapan dari 10 kematian
ini terjadi dalam dua tahun pertama kehidupan.
Rata-rata, anak-anak di bawah usia
3 tahun pada negara-negara berkembang
mengalami tiga episode diare setiap tahun.
Pada tahun 2004 di Indonesia, diare merupakan
penyakit dengan frekuensi KLB kelima
terbanyak setelah DBD, Campak, Tetanus
Neonatorum, dan keracunan makanan. Angka
kesakitan diare di Kalimantan Tengah
dari tahun 2000-2004 fluktuatif dari 15,87%
sampai 23,45%. Pada tahun 2005 kasus diare
sebanyak 38.979.
Secara klinis penyebab diare dapat
dikelompokkan dalam golongan 6 besar yaitu
karena Infeksi, malabsorbsi, alergi, keracunan,
immuno defisiensi, dan lail-lain.Tetapi
yang sering ditemukan di lapangan ataupun
klinis adalah diare yang disebabkan infeksi
dan keracunan (Depkes RI, Kepmenkes RI
Tentang Pedoman P2D , Jkt , 2002). Adapun
penyebab-penyebab tersebut sangat dipengaruhi
oleh berbagai faktor misalnya keadaan
gizi, kebiasaan atau perilaku, sanitasi
lingkungan, dan sebagainya. Karena itu perlu
adanya pencegahan terhadap diare sehingga
penyakit ini dapat diminimalisir. Pencegahan
harus diusahakan sedapat mungkin
dengan cara pengendalian faktor penyebab
diare. Namun kesadaran masyarakat untuk
mencegah penyakit ini masih rendah misalnya
masyarakat tidak menjaga kebersihan
lingkungan sekitar dengan baik.
Namun pencegahan juga dapat dilakukan
melalui penemuan ide baru untuk menjadikan
suatu limbah kulit manggis menjadi
suatu produk yang menguntungkan. Manggis
merupakan salah satu jenis buah-buahan
yang memiliki kandungan nutrisi yang
tinggi. Buahnya yang mengandung manfaat
tinggi baik dari biji, daging hingga kulitnya
memberikan daya tarik tersendiri bagi
penikmat buah ini. Namun bagi masyarakat
awam, kulit manggis tidak mempunyai
manfaat sehingga biasanya di buang. Padahal
kulit manggis dapat dijadikan sebagai
alternatif anti diare karena kandungan zat
Xanthone yang terdapat pada kulit manggis.
Di Indonesia persebaran tanaman
manggis peluang pengembangannya sangat
besar, baik ditinjau dari potensi lahan,
keragaman jenis, maupun dari aspek petani
dan teknologi. Terdapat sekitar 100 jenis
tanaman manggis yang tumbuh di Indonesia
dari sekitar 400 jenis yang dijumpai di
dunia. Wilayah pertumbuhan tanaman manggis
di Indonesia sangat luas mulai dari dataran
rendah hingga dataran tinggi. Hingga
saat ini sekitar 25 kabupaten tercatat sebagai
penghasil dan penyumbang buah manggis
untuk ekspor dan pemenuhan kebutuhan
dalam negeri, dan ada beberapa daerah telah
mengembangkan manggis meskipun belum
tercatat sebagai penghasil buah manggis.
Hal ini menggambarkan bahwa potensi lahan
dan area masih sangat besar dan dapat
dikembangkan sebagai wilayah atau pusat
pengembangan manggis di Indonesia ( Budidaya
Manggis, 2010 ).
Kondisi kekinian pencetus gagasan
Penyakit diare
Definisi. Menurut WHO (1999) secara
klinis diare didefinisikan sebagai bertambahnya
defekasi (buang air besar) lebih dari
biasanya/lebih dari tiga kali sehari, disertai
dengan perubahan konsisten tinja (menjadi
cair) dengan atau tanpa darah. Sedangkan
>>> Artikel original B I M A B I
Berkala Ilmiah Mahasiswa Kebidanan Indonesia
B I M A B I Vol.II No. 1 Desember 2013 [31]
Depkes RI (2005), diare adalah suatu penyakit
dengan tanda-tanda adanya perubahan
bentuk dan konsistensi dari tinja yang melembek
sampai mencair dan bertambahnya
frekuensi buang air besar biasanya tiga kali
atau lebih dalam sehari. Apabila diare berlangsung
antara satu sampai dua minggu
maka dikatakan diare yang berkepanjangan
(Soegijanto, 2002).
Secara klinis penyebab diare dapat
dikelompokkan dalam golongan enam
besar, tetapi yang sering ditemukan di lapangan
adalah diare yang disebabkan infeksi dan
keracunan. Penyebab diare secara lengkap
adalah sebagai berikut:
a. Infeksi yang dapat disebabkan bakteri
(Shigella, Salmonela, E. Coli, golongan
vibrio, bacillus cereus, Clostridium perfringens,
Staphyiccoccus aureus, Campylobacter
dan aeromonas), virus (Rotavirus,
Norwalk dan norwalk like agen dan
adenovirus) dan parasit, (cacing perut,
Ascaris, Trichiuris, Strongyloides, Blastsistis
huminis, protozoa, Entamoeba histolitica,
Giardia labila, Belantudium coli
dan Crypto)
b. Alergi,
c. Malabsorbsi,
d. Keracunan yang dapat disebabkan bahan
kimiawi dan bahan yang dikandung dan
diproduksi
e. Imunodefisiensi, dan sebab-sebab lain
(Widaya, 2004).
Patofisiologi.
Diare osmotik
Bahan yang tidak dapat diserap meningkat,
osmolaritas dalam rongga usus menarik air
dan elektrolit dari plasma ke rongga usus sehingga
akan meningkatkan diare.
Contoh: Intoleransi makanan, waktu pengosongan
lambung yang cepat, defisiensi enzim
laktase.
Diare sekretorik
Diare Sekretorik ditandai oleh volume feses
yang besar oleh karena abnormalitas cairan
dan transport elektrolit yang tidak selalu berhubungan
dengan makanan yang dimakan.
Diare ini biasanya menetap dengan puasa.
Pada keadaan ini tidak ada malabsorbsi
larutan. Osmolaritas feses dapat diukur dengan
unsur ion normal tanpa adanya osmotic
gap pada feses.
Diare eksudatif
Kerusakan mukosa usus halus atau usus besar
akibat inflamasi. Inflamasi dan eksudasi
dapat terjadi akibat adanya infeksi bakteri,
non infeksi, atau akibat radiasi.
Diare karena gangguan motilitas
Gangguan pada kontrol otonomik menyebabkan
waktu transit usus menjadi lebih
cepat. Misalnya pada diabetes neuropati.
Pengobatan penyakit diare.
Pengobatan diare mempunyai beberapa
tujuan, yaitu memperbaiki atau
mencegah kehilangan cairan dan elektrolit
serta gangguan asam dan basa, menghilangkan
gejala-gejala yang timbul pada
saat diare, mengidentifikasi dan mengobati
penyebab diare, dan mengontrol penyakit
lain yang juga diderita oleh penderita diare,
misalnya diabetes mellitus. Agar pengobatan
diare dapat berhasil dengan baik, maka
pengobatannya harus tepat pada sasaran.
Sasaran yang dituju dalam pengobatan diare
yaitu dehidrasi, kehilangan cairan elektrolit,
dan hilangnya gejala yang menyertai diare.
Pengobatan diare dapat melalui 2 cara, yaitu
pengobatan/terapi non farmakologis dan
terapi farmakologis. ( Theresia, 2007).
Pada dasarnya untuk mengobati diare, lebih
diutamakan terapi non farmakologis seperti
dietary management (mengatur pola
makan) dan mengatur cairan dan elektrolit
dalam tubuh. Yang dimaksud dengan pengaturan
pola makan di sini adalah menghentikan
sementara (selama 24 jam) konsumsi
makanan yang sulit dicerna oleh usus dan
produk yang diolah dari susu. Tetapi dari
penelitian didapatkan bahwa jika diare yang
diderita adalah diare osmotik (karena ada
makanan yang tidak dapat terabsorbsi, misalnya
susu) maka cara ini dapat mengontrol
>>> Artikel original B I M A B I
Berkala Ilmiah Mahasiswa Kebidanan Indonesia
B I M A B I Vol.II No. 1 Desember 2013 [32]
masalah diare tetapi jika yang diderita adalahdiare
sekretorik (misalnya karena infeksi
bakteri sehingga terjadi peningkatan sekresi/
pengeluaran air dan elektrolit) maka cara
ini dikatakan tidak dapat mengurangi diare.
Untuk pengaturan cairan dan elektrolit dapat
dilakukan dengan membuat larutan oralit, caranya
adalah dengan mencampurkan 4 pucuk
sendok gula dan 1 pucuk sendok garam ke
dalam air matang 250 cc. Terapi ini biasa
disebut dengan Oral Rehydration Therapy
yang sangat dianjurkan sebagai terapi pertama
untuk diare terutama bila diare terjadi
selama kurang dari 3 hari dan tidak ada tanda
demam.
Adsorben
Adsorben digunakan untuk mengobati
gejala yang timbul pada diare (terapi simptomatik).
Obat-obat ini tidak membutuhkan
resep dokter dan tidak menimbulkan toksik,
tetapi keefektifannya masih belum dapat
dibuktikan. Aksi kerja dari adsorben sendiri
tidak spesifik. Obat ini mengadsobsi nutrien,
toxin (racun), obat-obat, dan sari-sari buah
yang tercerna. Bila penderita meminum obat
ini bersama dengan obat lain maka jumlah
obat adsorben dalam darah dapat berkurang.
FDA (Food and Drug Administration) merekomendasikan
penggunaan polycarbophil
atau karboadsorben sebagai adsorben yang
efektif. Polycarbophil dapat mengadsobsi 60
kali dibanding beratnya dalam air.Di Indonesia
terdapat beberapa adsorben antara lain
karboadsorben, attapulgit, kombinasi kaolin
dan pektin, kombinasi attapulgit dan pektin.
Sediaan generik tidak tersedia ( Theresia,
2007).
Antimotilitas
Salah satu golongan antimotilitas
adalah Loperamide. Loperamide merupakan
derivat difenoksilat (dan haloperidol, suatu
anti psikotikum) dengan khasiat obstipasi
yang 2-3 kali lebih kuat tetapi tanpa efek terhadap
sistem saraf pusat (SSP) karena tidak
bisa menyeberangi sawar-darah otak oleh karena
itu kurang menyebabkan efek sedasi dan
efek ketergantungan dibanding golongan
opiat lainnya seperti difenoksilatdan kodein
HCl. Loperamide dapat dikombinasikan
dengan antibiotika (amoksisilin, fluoroquinolon,
kotrimoksazol) untuk semua diare
akibat infeksi bakteri atau virus kecuali infeksi
Shigella, Salmonella, dan kolitis pseudomembrankarena
akan memperburuk diare
yang diakibatkan bakteri enteroinvasif akibat
perpanjangan waktu kontak antara bakteri
dan epitel usus (Nugraha, 2007).
Seberapa jauh kondisi kekinian pencetus
gagasan dapat diperbaiki melalui gagasan
yang diajukan
Klasifikasi dan persebaran manggis
Manggis merupakan tanaman budidaya
di daerah tropis. Tumbuhan ini tumbuh
subur pada kondisi dengan banyak mendapat
sinar matahari, kelembapan tinggi, dan
musim kering yang pendek (untuk menstimulasi
perbungaan). Pada kondisi kering,
diperlukan irigasi untuk menjaga kelembapan
tanah. Tumbuhan ini ditanam hingga
ketinggian 1000 m di daerah tropis, namun
pertumbuhan maksimal berlangsung di daerah
dataran rendah.
Di Indonesia persebaran tanaman
manggis peluang pengembangannya sangat
besar, baik ditinjau dari potensi lahan,
keragaman jenis, maupun dari aspek petani
dan teknologi. Terdapat sekitar 100 jenis
tanaman manggis yang tumbuh di Indonesia
dari sekitar 400 jenis yang dijumpai di dunia.
Wilayah pertumbuhan tanaman manggis
di Indonesia sangat luas mulai dari dataran
rendah hingga dataran tinggi.
Klasifikasi
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan
berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan
biji)
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua /
dikotil)
>>> Artikel original B I M A B I
Berkala Ilmiah Mahasiswa Kebidanan Indonesia
B I M A B I Vol.II No. 1 Desember 2013 [33]
Sub Kelas: Dilleniidae Ordo: Theales
Famili: Clusiaceae
Genus: Garcinia
Spesies: Garcinia mangostana
Kandungan kulit manggis sebagai pencegahan
Gastroentritis
Buah manggis (Garcinia mangostana
), merupakan buah yang eksotik karena memiliki
warna yang menarik dan kandungan
gizi yang tinggi, karena itu buah manggis
memiliki prospek yang cukup baik untuk
dikembangkan (Wijaya, 2004). Potensi manggis
tidak hanya terbatas pada buahnya saja,
tetapi juga hampir seluruh bagian tumbuhan
manggis menyimpan potensi yang sangat
bermanfaat bagi kehidupan manusia. Penggunaan
tumbuhan manggis diyakini dapat
menyembuhkan penyakit, beberapa diantaranya
yaitu sebagai antidiare.(Heyne,1987).
Kandungan kimia kulit manggis adalah
xanthone, mangostin, garsinon, flavonoid
dan tanin (Heyne, 1997; Soedibyo, 1998).
Antioksidan yang sangat tinggi yaitu Xanthone.
Xanthone pertama kali ditemukan dan
diteliti oleh ilmuwan Jerman pada tahun 1855
saat mempelajari penyakit disentri, karena
berwarna kuning dan mengkristal dinamakan
“Xanthos” yang berasal dari bahasa Yunani
yang berarti kuning. Sering disebut Ramuan
obat Herbal yang sangat berkhasiat. Xanthone
memiliki sifat antioksidan yang sangat
kuat bahkan melebihi kekuatan vitamin C
dan vitamin E. dan ini berita luar biasa. Beberapa
laboratorium penelitian telah menggarisbawahi
kemampuan Xanthone mengatasi
beberapa bakteri seperti: Staphylococcus
aureus (bakteri penyebab intoksisasi), interococci,
salmonela, helicobacter pylori (bakteri
pencernaan) dan enterococci.
Cara pengolahan kulit manggis sebagai
pencegahan diare
Pada masyarakat tradisional, kulit
buah manggis dimanfaatkan sebagai pencegahan
diare dalam bentuk ramuan. Pembuatan
ramuannya adalah dengan kulit dua buah
manggis dicuci, dipotong – potong dan direbus
dengan tiga gelas air sampai volumenya
tinggal setengahnya. Hasil rebusan yang
telah dingin dan disaring dapat ditambahkan
madu. Diminum dua kali sehari.
Selain dalam bentuk ramuan, kulit
manggis juga dapat diolah menjadi selai.
Selai dari kulit manggis dengan kandungan
zat Xanthone dan Tanin yang mampu memberikan
efek pencegahan diare. Cara pembuatan
selai itu sendiri cukup mudah. Kulit
manggis dicuci hingga bersih lalu rebus
dalam air panas ± 30-45 menit. Kemudian
diamkan selama 12 jam. Setelah itu disaring.
Diamkan hasil saringan selama 1 jam.
Ambil sari buahnya (bagian yang jernih).
Tambahkan gula dan natrium benzoat. Bila
rasa asam masih kurang, tambahkan asam
sitrat sampai rasa asam seimbang lalu panaskan
hingga agak mengental. Masukkan
segera dalam botol.
Langkah-langkah strategis dalam mengimplementasikan
gagasan
Untuk mengimplementasikan gagasan,
maka diperlukan suatu langkahlangkah
strategis agar gagasan yang telah
dibuat dapat dijadikan sebagai suatu solusi
nyata terhadap peningkatan kualitas hidup
masyarakat melalui bidang kesehatan.
Beberapa macam obat-obatan untuk mengatasi
penyakit diare telah banyak beredar di
lingkungan masyarakat. Namun disini kami
hanya menekankan pada pencegahan diare
itu sendiri agar penyakit tersebut tidak menjadi
kronis. Kami mencoba untuk menjadikan
kulit manggis yang dikategorikan sebagai
limbah menjadi sesuatu yang bermanfaat
dan tentunya menyehatkan. Selai dari kulit
manggis dengan kandungan zat Xanthone
dan Tanin yang mampu memberikan efek
pencegahan diare. Cara pembuatan selai itu
>>> Artikel original B I M A B I
Berkala Ilmiah Mahasiswa Kebidanan Indonesia
B I M A B I Vol.II No. 1 Desember 2013 [34]
sendiri cukup mudah. Kulit manggis dicuci
hingga bersih lalu rebus dalam air panas ± 30-
45 menit. Kemudian diamkan selama 12 jam.
Setelah itu disaring. Diamkan hasil saringan
selama 1 jam. Ambil sari buahnya (bagian
yang jernih). Tambahkan gula dan natrium
benzoat. Bila rasa asam masih kurang, tambahkan
asam sitrat sampai rasa asam seimbang
lalu panaskan hingga agak mengental.
Masukkan segera dalam botol.
Potensi buah manggis khususnya kulit manggis
dapat ditingkatkan dengan cara menjaga
kualitas panen manggis (Garcinia Mangostana)
dan melakukan tahapan proses pembuatan
selai kulit manggis sebagai pencegahan
diare sesuai prosedur.
1. Diare adalah bertambahnya defekasi
(buang air besar) lebih dari biasanya/
lebih dari tiga kali sehari, disertai dengan
perubahan konsisten tinja (menjadi cair)
dengan atau tanpa darah. Secara klinis
penyebab diare dapat dikelompokkan
dalam golongan enam besar, tetapi yang
sering ditemukan di lapangan adalah diare
yang disebabkan infeksi dan keracunan.
2. Penyakit diare bisa dicegah dengan
mengkonsumsi buah manggis. Manggis
merupakan salah satu jenis buah-buahan
yang memiliki kandungan nutrisi yang
tinggi. Buahnya yang mengandung manfaat
tinggi baik dari biji, daging hingga
kulitnya memberikan daya tarik tersendiri
bagi penikmat buah ini. Namun bagi
masyarakat awam, kulit manggis tidak
mempunyai manfaat sehingga biasanya
di buang. Padahal kulit manggis dapat dijadikan
sebagai alternatif pencegaha diare
karena kandungan zat Xanthone yang
terdapat pada kulit manggis.
3. Untuk lebih mudah dikonsumsi oleh
masyarakat umum, buah manggis khususnya
kulitnya dapat di olah menjadi
selai yang dewasa ini banyak diminati
oleh masyarakat.
4. Untuk dapat merealisasikan hal tersebut
agar yaitu selai kulit manggis agar
dapat diterima dan dikonsumsi oleh
masyarakat, perlu adanya kerjasama
yang baik dari berbagai pihak seperti
petani, LIPI, Badan POM, Pemerintah
Republik Indonesia (DIKTI) dan dinas
pertanian.
DAFTAR PUSTAKA
1. Bruneton, J., 1999, Pharmacognosy
Phytochemistry Medicinal Plants,
Translated by Caroline K Hatton, 2nd
edition, Lavoiser, France, pp 303-304
2. Chen, X. S., 1966, Active Constituent
Against HIV-I Protease from Garcinia
Mangostana L., Planta Med. 62 (3), pp
381-382
3. Harborne, J. B., 1987, Metode Fitokimi,
Penerjemah : Kosasih Padmawinata,
edisi kedua, ITB, Bandung, pp 94-95
4. Heyne, K., 1987, Tumbuhan Berguna
Indonesia III, Penerjemah: Badan Penelitian
dan Pengembangan Kehutanan,
Yayasan Sarana Wahajaya, Jakarta, pp
1385 –1386
5. Pramudita S.Farm., Theresia Dian.
2007. Penggunaan Adsorben pada Pengobatan
Diare.http://yosefw.wordpress.
com/2007/12/28/penggunaan-adsorbenpada-
pengobatan-diare/. Diaksestanggal
29 September 2011. Jam 15.08 WIB.
6. Robinson, T., 1995, Kandungan Organik
Tumbuhan Tinggi, Penerjemah: Kosasih
Padmawinata, Edisi VI, ITB, Bandung,
pp 191-193
7. Sluis, W.G., 1985, Secoiridoids and
Xanthones in The Genus Centaurium
Hill (Gentianaceae), Drukkerij Elinkwijk
bv, Utrecht, pp 109–114
8. Soedibyo, M., 1998, Alam Sumber Kesehatan,
Balai Pustaka, Jakarta, pp 257–
>>> Artikel original B I M A B I
Berkala Ilmiah Mahasiswa Kebidanan Indonesia
B I M A B I Vol.II No. 1 Desember 2013 [35]
258
9. Solo. 2011. Berbagai Khasiat Kulit Buah
Manggis. http://www.koranjitu.com/lifestyle/
kuliner/rahasia%20dapur/detail_
berita.php?ID=4252. Diakses tanggal 29
September 2011. Jam 15.28 WIB.
10. Sukarna, Y Nugraha. 2007. Penggunaan
Antimotilitas (Lopiramide) pada Diare
Akut Akibat Infeksi. http://yosefw.
wordpress.com/2007/12/28/penggunaanantimotilitas(
lopiramide)-pada-diareakut-
akibat-infeksi/. Diakses tanggal 29
September 2011. Jam 13.45 WIB.
11. Tambunan, R. M., 1998. Telaah Kandungan
dan Aktivitas Antimikroba Kulit
Buah Manggis (Garcinia Mangostana
L.) [Thesis Magister Farmasi], Jurusan
Farmasi, Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam, ITB, Bandung, pp 1
dan 40
12. Wijaya, A., et al., 2004. Development of
Simple Harvesting Pole and Natural Beet
Dying for Mangosteen, Denpasar, pp 1
–11
13. 2011. Cara Kerja Tanin. http://www.
baitulherbal.com/search/cara-kerja-taninmenyembuhkan-
diare/. Diakses tanggal 2
november 2011. Jam 12.35 WIB.
>>> Artikel original B I M A B I
Berkala Ilmiah Mahasiswa Kebidanan Indonesia
B I M A B I Vol. II No.1 Desember 2013 [36]
Bahasa untuk Anak Kita
Oleh : Diana Pratiwi
Program Studi Pendidikan Bidan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga
Bayi sejak dini, setelah mampu melakukan adaptasi fisiologis pernafasan
dan sirkulasi, ternyata juga mampu merespon berbagai hal di sekitar. Misalnya
merespon suara ibu dengan menggerakkan ekstremitas secara teratur1 (Myles,
page 697). Respon-respon kecil itulah yang kemudian membangun kemampuan
berbahasa pada anak. Namun faktanya, terdapat masalah anak terlambat bicara
yang dialami 5-10 persen anak-anak usia prasekolah dan cenderung lebih sering
dialami anak laki-laki ketimbang perempuan2 (detikhealth.com).
Penyebab language impairments pada anak sangat beragam. Donaldson dalam
bukunya Children with Language Impairments (An Introduction) menyebutkan
bahwa penyebab tersebut dapat berasal dari Medis seperti defek dari alat berbicara
dan Linguistik seperti masalah semantik kata (page 10-13). Bayi yang mengalami
language impairments dari segi Medis biasanya dapat lebih dini dideteksi karena
jelas terlihat mata. Sedangkan dari segi Linguistik seringkali sangat terlambat
disadari (Strominger and Bashir 1977; Aram and Nation 1980; Menyuk 1980).
Anak yang menderita language impairments akan beresiko tinggi mengalami
kesulitan membaca, IQ rendah, dan masalah perilaku setelah memasuki tingkat
prasekolah (Donaldson, 1955). Itulah mengapa sangat ditekankan mengenai
pentingnya deteksi dini language impairments pada anak. Salah satu alat ukur
bahasa pada anak yang juga dapat dilakukan oleh orang tua adalah Bus Story
Test (Renfrew, 1969). Tes tersebut menampilkan serangkaian gambar yang harus
diceritakan kembali oleh sang anak. Semakin baik penampilan cerita mereka,
maka kemungkinan recovery dari permasalahan bahasa akan semakin tinggi.
Terdapat beragam deteksi dan rencana penyembuhan untuk anak-anak yang
mengalami language impairments. Tujuan dan kegigihan orang tua menjadi salah
satu kunci keberhasilan pemeriksaan dan upaya penyembuhan. Komunikasi yang
baik dengan praktisi profesional juga menjadi aspek percepatan. Maka, kenali
lebih dini language impairments pada anak anda untuk masa depannya.
>>> Artikel penyegar B I M A B I
Berkala Ilmiah Mahasiswa Kebidanan Indonesia
B I M A B I Vol. II No.1 Desember 2013 [38]
Dilihat dari aspek psikologis, merokok dapat menimbulkan relaksasi, mengurangi
ketegangan, dan melupakan sejenak masalah yang sedang dihadapi. Hal ini kemudian
disadari oleh perokok bahwa ada kondisi yang menyenangkan yang ditimbulkan dengan
merokok. Pada kondisi inilah timbul hasrat atau keinginan untuk mengulangi perilaku
tersebut (conditioning).
Namun hal ini akan berbeda jika ternyata sang perokok itu adalah anak-anak. Masa
anak-anak adalah masa dimana individu memulai dan mencapai pertumbuhan yang hampir
optimal, dan sangat tidak pantas sekali jika anak-anak bahkan anak di usia dini sudah melakukan
rutinitas negatif tersebut, yaitu merokok. Padahal pertumbuhan dan perkembangan
pada masa anak-anak adalah masa yang paling penting dalam rentang kehidupan, karena
pertumbuhan dan perkembanggan pada masa anak-anak akan sangat berpengaruh dan pasti
berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan pada masa-masa selanjutnya.
Bahaya merokok dilihat dari aspek psikologis anak :
1. Mengganggu perkembangan kecerdasan; suatu penelitian di Italia, menunjukkan, anakanak
yang merokok kemampuan untuk belajar membacanya lebih lambat dibandingkan
anak-anak yang ibunya tidak merokok. Penelitian lain di Amerika, menunjukkan, anakanak
berumur 11 tahun yang merokok, kemampuan belajarnya terlambat 6 bulan.
2. Hiperaktif dan cepat lelah; anak-anak yang merokok akan cenderung lebih aktif dibandingkan
anak-anak lain, disebabkan pengaruh rokok yang memberikan rasa percaya diri
yang berlebihan namun keaktifan tersebut tidak akan bertahan lama karena kapasitas paruparu
dari anak tersebut akan berkurang seiring kebiasanya merokok sehingga mengakibatkan
dirinya menjadi cepat lelah.
Maka dari itu, dari penjelasan di atas dapat kita simpulkan bahwa orang tua yang
perokok berisiko tinggi membuat buah hatinya menjadi generasi yang tidak memiliki masa
depan. Mari kita jaga anak kita untuk tidak terpapar asap rokok.
>>> Artikel penyegar B I M A B I
Berkala Ilmiah Mahasiswa Kebidanan Indonesia
B I M A B I Vol. II No.1 Desember 2013 [37]
Pengaruh Tumbang Anak terhadap Orangtua
Perokok
Oleh : Harrizky Prima An-Nisa
Akbid Mitra Husada Karanganyar
Salam BIMABI !
Kali ini, saya ingin mengulas sedikit tentang bagaimana tumbuh kembang
seorang anak yang orang tuanya perokok. Apa saja pengaruhnya terhadap pertumbuhan
dan perkembangan anak itu sendiri baik dilihat dari segi fisik maupun mental seorang
anak dengan orang tuanya yang perokok?
Kondisi seperti ini sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari, di lingkungan
kita, bahkan kita sendiri pun mengalaminya. Seorang anak yang memiliki orang
tua yang perokok jelas dia tergolong perokok pasif. Selama ini, orang hanya melarang
seorang wanita yang merokok karena dapat membahayakan janin maupun bayinya
yang sudah lahir. Padahal, tidak hanya si ibu yang sedang menyusui saja yang perlu
menghentikan merokok. Ayah maupun orang di sekitar ibu dan bayinya, juga harus
menghentikan kegiatan merokok itu.
WHO, badan kesehatan dunia, bahkan memperkirakan hampir sekitar 700 juta
anak atau sekitar setengah dari seluruh anak di dunia ini, termasuk bayi yang masih
menyusu pada ibunya, terpaksa menghirup udara yang terpolusi asap rokok. Dan setiap
tahunnya sekitar kurang lebih 600.000 anak meninggal dunia akibat menjadi perokok
pasif.
Penelitian membuktikan:
• Penelitian di Santiago, Chili, menunjukkan bahwa asap rokok yang terhirup oleh ibu
menyusui dapat menghambat produksi ASI. Dalam waktu tiga bulan, terlihat berat
badan bayi dari ibu yang perokok atau menghirup asap rokok, juga tidak menunjukkan
pertumbuhan yang optimal.
• Asap rokok yang terpaksa dihirup perokok pasif, ternyata mempunyai kandungan
bahan kimia yang lebih tinggi dibandingkan dengan asap rokok yang dihirup oleh si
perokok. Hal ini karena ketika rokok sedang dihirup, tembakau terbakar pada temperatur
lebih rendah. Kondisi ini membuat pembakaran menjadi kurang lengkap dan
mengeluarkan banyak bahan kimia.
• Asap rokok itu sendiri mengandung sekitar 3.000-an bahan kimia beracun, 43 di antaranya
bersifat karsinogen (penyebab kanker). Tak heran jika pengaruh asap rokok pada
perokok pasif itu tiga kali lebih buruk daripada debu batu bara.
• Berbagai penelitian membuktikan asap rokok yang ditebarkan orang lain, imbasnya
bisa menyebabkan berbagai penyakit, bukan saja pada orang dewasa, tapi terutama
pada bayi dan anak-anak. Mulai dari aneka gangguan pernapasan pada bayi, infeksi
paru dan telinga, gangguan pertumbuhan, sampai kolik (gangguan pada saluran
>>> Artikel penyegar B I M A B I
Berkala Ilmiah Mahasiswa Kebidanan Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *