Suhu dan salinitas merupakan parameter-parameter laut yang sangat penting. Dua parameter ini sangat menentukan sifat perairan, apakah perairan tersebut stabil atau tidak stabil (Rahardjo dan Sanusi, 1982). Selanjutnya Nybakken (1992) menambahkan bahwa gerakan ombak, pasang surut dan adanya substrat yang berbeda-beda merupakan faktor-faktor lingkungan yang sangat mempengaruhi keberadaan organisme di zona intertidal.
Suhu
Suhu adalah salah satu faktor yang sangat penting bagi kehidupan organisme laut, karena mempengaruhi baik aktivitas metabolisme maupun perkembangbiakan organisme tersebut. Banyak jenis kerang yang penyebarannya dibatasi oleh suhu perairan (Hutabarat dan Evans, 1985). Organisme yang mampu mentolerir suhu yang luas disebut Eurithermal, sedangkan yang hanya mampu mentolerir suhu yang sempit disebut Stenothermal (McConnaughey dan Zottoli, 1983). Suhu dapat membatasi sebaran hewan – hewan benthos secara geografik. Suhu yang baik bagi pertumbuhan hewan – hewan benthos adalah berkisar antara 250C – 310C. Suhu rata – rata dimana organisme Kima dapat hidup adalah 280C (Sastry, 1963 dalam Harahap, 1987).
pH
            Jumlah ion hidrogen dalam suatu larutan merupakan penunjuk tingkat keasaman. Lebih banyak ion H+ berarti lebih asam suatu larutan dan lebih sedikit ion H­+ berarti lebih basa larutan tersebut. Keasaman dan kebasaan diukur dengan skala logaritma antara 1 sampai 14 satuan. Satuan ini disebut pH dan skalanya adalah pH. Air laut mempunyai pH yang agak basa, sifat basa dari air laut tersebut disebabkan oleh ion Natrium, kalium dan Kalsium yang terlarut didalamnya (Nybakken, 1992).
            Menurut Suin (1992a), pengukuran pH air dapat dilakukan dengan cara kolorimetri, dengan kertas pH atau dengan pH meter. Penentuan pH harus dilakukan di tempat, karena perubahan kimia yang mungkin terjadi selama penyimpanan sampel air akan mengubah nilai yang sebenarnya.
Salinitas
            Salinitas ialah jumlah (gram) zat-zat yang larut dalam satu kilogram air laut, dengan anggapan bahwa semua karbonat-karbonat telah diubah menjadi oksida-oksida (Rahardjo dan Sanusi, 1982).
            Nontji (1993) mengatakan bahwa ciri paling khas pada air laut adalah rasanya yang asin. Hal ini disebabkan oleh garam-garam yang terlarut dalam air laut. Dalam Oseanologi hal ini dikenal dengan istilah salinitas. Di perairan samudra, salinitas biasanya berkisar 34-35 ppt. Diperairan pantai karena terjadi pengenceran, misalnya karena pengaruh aliran sungai, salinitas bisa turun rendah, sebaliknya di daerah dengan penguapan yang sangat kuat, salinitas bisa meningkat tinggi.
Cara yang paling mudah untuk mengukur salinitas adalah dengan refraktometer. Di laut salinitas biasanya berkisar antara 32 sampai 37,5 ppt (Mcconnaughey dan Zottoli, 1983).
Salinitas air laut mempengaruhi penyebaran hewan benthos seperti bivalvia, karena organisme laut hanya dapat bertoleransi terhadap perubahan salinitas yang kecil dan perlahan (Hutabarat dan Evans, 1985). Salinitas rata – rata untuk Kima dapat hidup adalah 32 000/00 (Harahap, 1987).
  
Kecerahan
Faktor kecerahan suatu perairan berpengaruh terhadap kehidupan organisme di dalamnya. Tinggi rendahnya tingkat kecerahan perairan sangat dipengaruhi intensitas cahaya matahari yang dapat menembus kedalaman lapisan perairan. Intensitas cahaya yang masuk ke dalam perairan akan berkurang dengan semakin besarnya kedalaman perairan (Hutabarat dan Evans, 1985).
Kima hidup pada dasar perairan, sehingga kecerahan perairan yang dibutuhkan Kima pada umumnya mencapai dasar perairan. Keadaan ini ada hubungannya dengan cara hidup Kima yang bersimbiosis dengan algae. Sinar matahari sangat penting untuk terjadinya fotosintesis dari zooxanthellae yang sangat berguna bagi Kima (Rosewater, 1965).
BUTUH DAFTAR PUSTAKA KLIK DISNI