BEBERAPA JENIS HAMA PADA MAGROVE

Balanus amphitrite

Banyak biota yang hidupnya menempelkan dirinya pada tumbuhan mangrove, namun penempelan tersebut dapat menimbulkan masalah serius karena dapat menghambat keberlangsungan hidup dari mangrove. Salah satu biota penempel tersebut adalah teritip, teritip dapat menjadi masalah besar bagi mangrove dikarenakan teritip mengeluarkan cairan penempelan yang dapat berakibat buruk terhadap mangrove. Teritip dapat membuat stress tumbuhan mangrove sehingga mengahambat proses fotosintesis yang harusnya dapat menjadi sumber makanan bagi semua makhluk hidup (Tapilatu and Pelasula, 2012).

            Masyarakat sekitar juga sangat meyakini bahwa hama yang menjadi faktor kematian dari mangrove yang terbanyak adalah teritip, begitupula dengan hasil penelitian yang menunjukkan hama ini yang paling banyak menyerang ketiga desa penelitian.

            Solusi yang dapat dilakukan dalam mengatasi hama Balanus amphitrite  ini adalah dengan melakukan proses penyulaman dan penyiangan, sehingga teritip akan berkurang dan tanaman mangrove akan mampu bertahan.

Crassostrea cucullata

            Crassostrea cucullata adalah hewan yang ditemukan di lingkungan laut dan air payau yang hidupnya dengan cara menempelkan dirinya pada substrat seperti batu, mangrove dan substrat keras lainnya (Ruwa, 1989).

            Widiastuti (1998) mengatakan tiram terdapat pada lahan mangrove yang hidupnya melekat pada batang serta akar dari mangrove. Di mana pada tanaman muda dapat menganggu pertumbuhan tanaman mangrove. Tiram hidup dengan mengeluarkan cairan byssus atau semennya (Fatuchiri and Sutomo, 1978), ini menyebabkan rusaknya struktur batang dan akar dari mangrove yang di tempelinya. Namun selain menjadi hama, tiram mempunyai nilai ekonomis yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat untuk makanan sehari-hari dan juga untuk dijual kepada konsumen. Oleh karena nilai ekonomis dari tiram ini, maka anggapan terhadap hama untuk tiram seakan tidak diperhatikan, sehingga tiram ini tidak diatasi dengan serius.

 

Episesarma versicolor

            Kepiting Episesarma versicolor dikenal sebagai pemakan daun, keadaan ini menjadi dampak negatif bagi tumbuhan mangrove yang masih muda dikarenakan kebiasaannya yang memakan tunas mangrove (Mulyadi, 2010).

Masyarakat mempercayai bahwa jika banyak terdapat semut pada tumbuhan mangrove, maka kepiting Episesarma versicolor ini tidak akan berani untuk mendekati tumbuhan mangrove tersebut. Way and Khoo (1992) menyebutkan bahwa semut rangrang menjadi musuh alami pada sekitar 16 spesies hama yang menyerang spesies tanaman. Semut ini dapat melindungi tanaman-tanaman tersebut dari serangan hama. Offenberg et al., (2006) memperlihatkan bahwa semut rangrang mampu melindungi tanaman mangrove dari serangan kepiting Episesarma versicolor.

 

Pteroma sp.

            Pteroma sp. merupakan ulat kantung yang memiliki perilaku dan morfologi yang unik. Larva dari ulat kantung tersebut selalu dalam kantung. Setelah berkembang, ngengat betina tidak memiliki tungkai dan tidak bersayap sedangkan ngengat jantan berupa ngengat kecil dengan struktur tubuh yang lengkap seperti ngengat pada umumnya (Meilin, 2009).

            Ulat kantung ini sangat berbahaya dikarenakan dapat menyebabkan tumbuhan mangrove menjadi gundul hingga tidak dapat melakukan fotosintesis untuk membentuk jaringan daun. Ulat kantung memakan daun mangrove sehingga daun tersebut akan berubah menjadi warna cokelat, kering dan akan berguguran.

 

Setora nitens

            Setora nitens merupakan hama pemakan daun yang umumnya ditemui pada daun kelapa sawit. Setora nitens juga memakan daun mangrove sehingga menyebabkan daun mangrove akan berlubang dan rontok sebelum waktunya. Ulat api ini sangat penting untuk dibasmi karena dapat menurunkan produksi fotosintesis dari tumbuhan yang ditempatinya.

            Penilitian oleh Adidharma (2004), yaitu konsep pengendalian hama terpadu (PHT) yang merupakan jawaban yang paling tepat untuk menghadapi hama tanaman. Maka untuk mengatasi hama ulat kantung dan ulat api ini, solusi yang terbaik dan tidak akan menimbulkan efek lainnya terhadap mangrove adalah dengan menyiramkan air laut pada tanaman yang terserang hama ulat kantung dan ulat daun.

REFERENSI

 

Tapilatu, Y., and Pelasula, D. 2012. Biota Penempel Yang Berasosiasi Dengan Mangrove di Teluk Ambon Bagian Dalam. Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan, FPIK-IPB. Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis. Vol 4. No 2 : 267-279.

Ruwa, R. K. 1989. Growth of Crassostrea cucullata Born (Bivalvia) at Diverent levels in the Intertidal Zone. Kenya Marine and Fisheries Research Institute. Aquaculture, 88 (1990) : 303-312.

Widiastuti, E. 1998. Distribusi dan Populasi Tiram (Crassostrea cucullata) Ditegakan Mangrove. Universitas Dipenogoro. Laporan Penelitian LIPI.

Mulyadi. 2010. Evaluasi Dan Karakteristik Fauna Akuatik Yang Berasosiasi Dengan Ekosistem Mangrove Di Suaka Margasatwa Muara Angke. Laporan Akhir Program Intensif Peneliti Dan Perekayasa LIPI 2010.

Fatuchiri, M. and Sutomo, A. B. 1978. Perikanan Tiram di Sekitar Hutan Mangrove Perairan Gegara Menyan, Pemanukan, Jawa Barat. Prosiding Seminar Ekosistem Mangrove I : 165-175. MAB-LIPI. Jakarta.

Way, M.J. and K.C. Khoo. 1992. Role of ants in pest management. Annual Review of Entomology 37: 479-503.

Meilin, A., and Sugihartono, M. 2009. Uji Preferensi Ulat Kantung (Pteroma sp.) Terhadap Beberapa Tanaman Mangrove. Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi Edisi Khusus Tahun 2009 : 57-60

Adidharma, D. 2004. Metode Pengendalian Hama Pemakan Daun, Setora nitens (Limacodidae = Lepidoptera) Menuju Perkebunan Kelapa Sawit Organik. Jurnal Simposium Nasional ISSAAS. Pertanian Organik. ISBN 979-964671-5 : 41-46