1. Pendahuluan

Bambu banyak tumbuh di daerah tropis, membentuk rumpun kecil berkelompok. Pertumbuhan bambu relatif cepat dan berkembang secara maksimal pada musim penghujan. Pada umur 4–6 bulan pertumbuhan bambu sangat pesat, bisa mencapai 7 cm per hari. Proses pengkayuan dicapai pada umur  2–5 tahun, bambu disebut tua atau masak bila berumur 6 – 7 tahun (Narayuda, 1988).




Bambu di pedesaan digunakan sebagai tanaman pelindung, perindang, dan juga sebagai bahan bangunan yang biasa digunakan untuk menggantikan kayu atau bahan bangunan lain. Pada umumnya bagian konstruksi bangunan yang dapat dibuat dari bambu, jauh lebih murah biayanya dibandingkan dengan bahan bangunan lain untuk fungsi yang sama (Morisco, 1999).

Secara botanis bambu digolongkan ke dalam famili Gramineae (rumput) karena berbeda dengan kayu.  Famili Gramineae  dibagi menjadi lima suku antara lain: Dendrocalaminae, Melocanninae, Bambusinae, Arundinaiiae, dan Puellinae (Frick & Koesmartadi, 1999). Sistem penyambungan bambu dengan tali, paku, pasak, dan mur baut

  1. Kelebihan dan Kekurangan Bambu

Beberapa keuntungan dalam hal pemakaian bambu antara lain:

  1. berat jenisnya lebih ringan daripada kayu,
  2. mudah dalam pengerjaan,
  3. mudah dalam penyambungan,
  4. biaya relatif murah,
  5. kuat dan lebih tahan terhadap gempa,
  6. mempunyai daya lentur yang tinggi.

Kekurangan bambu adalah sebagai berikut:

  1. tidak kuat menahan beban tekan,
  2. tidak tahan serangan rayap, cendawan, dan serangga lain,
  3. tidak tahan perubahan cuaca,
  4. mudah lapuk,
  5. mudah terbakar.
  1. Karakteristik Fisik dan Syarat-syarat Bambu

Karakteristik fisik bambu adalah sebagai berikut:

  1. dimensi, tinggi bervariasi antara 10 – 30 m, diameter antara 1 – 30 cm,
  2. perobekan, bambu mudah robek terutama pada daerah antarruas,
  3. daya tahan, bagian pangkal bambu memiliki daya tahan lebih besar daripada bagian tengah dan ujungnya,
  4. kandungan air, bervariasi sesuai dengan umur tanaman dan musim, pada musim penghujan kadar air lebih besar daripada musim kemarau, bambu yang lebih tua kandungan airnya lebih sedikit daripada yang lebih muda,
  5. berat, Berat Jenis bambu berkisar antara 0,5 – 0,79
  6. kekuatan, kuat tarik: 1.000 – 4.000 kg/m2, kuat tekan: 250 – 1.000 kg/m2, modulus kenyal: 100.000 – 300.000 kg/cm2.

Syarat-syarat bambu yang baik digunakan untuk bahan bangunan adalah sebagai berikut:

  1. bambu harus tua,
  2. berwarna kuning jernih atau hijau tua,
  3. berbintik putih pada pangkalnya,
  4. berserat padat dengan permukaan yang mengkilap,
  5. di tempat ruas tidak boleh ada pecah.
  1. Jenis-jenis Bambu

Terdapat bermacam-macam jenis bambu, diantara jenis-jenis yang terpenting karena lebih sering digunakan yaitu:

  1. Bambu wulung
    • Nama botani: Gigantochloa apur Kurz
    • Nama lain: bambu hitam
    • Ruasnya panjang-panjang, cukup kuat dan tidak liat (getas)
    • Diameter batang antara 4 – 8 cm
    • Panjang mencapai 15 m
  2. Bambu tali
    • Nama botani: Gigantochloa verticilata
    • Nama lain: bambu apus
    • Ruasnya panjang-panjang, lembek dan mudah patah
    • Diameter batang antara 6 – 8 cm
    • Panjang mencapai 13 m
  3. Bambu duri
    • Nama botani: Bambusa bambos Voss
    • Nama lain: bambu ori
    • Ruasnya pendek-pendek, kuat, besar, kulit luarnya lebih halus dan keras.
  4. Bambu petung
  • Nama botani: Dendrocalamus asper Bacher
  • Ruasnya pendek-pendek, kuat dan tidak begitu liat
  • Diameter batang antara 10 – 13 cm
  • Panjang mencapai 18 m
  1. Pengawetan Bambu

Pengawetan bambu dimaksudkan untuk mencegah hama dan jamur karena bambu banyak mengandung kanji yang disukai rayap, bubuk dan serangga lain.

Batang bambu sebelum digunakan biasanya direndam terlebih dahulu di air tawar, air sungai, air payau, atau air laut yang diam atau mengalir dalam waktu satu bulan. Perendaman ini bertujuan agar kanji yang terkandung di dalam bambu dapat dicuci atau dihilangkan. Bambu yang sudah direndam harus berwarna pucat (tidak kuning, hijau, atau hitam), berbau asam, dan bila dibelah pada bagian dalam ruas batang tidak terdapat bulu.

Cara pengawetan bambu yang lain adalah dengan diberi obat kimia. Berbagai cara pemberian obat kimia antara lain sebagai berikut:

  1. menuangi batang bambu yang ditempatkan pada posisi pangkal batang di atas dengan larutan bahan pengawet atau solar;
  2. mengulas atau menyemprot batang bambu dengan larutan bahan pengawet atau solar;
  3. merendam batang bambu pada bak atau drum yang diisi larutan bahan pengawet dengan posisi berdiri.

Setelah melalui proses pengawetan dengan diberi larutan bahan pengawet, bambu terlebih dahulu dikeringkan untuk dapat dipergunakan sebagai bahan bangunan. Bahan-bahan kimia pengawet biasanya berupa arsen trioksida, boraks, asam borat, betanaftol, dan naftenat tembaga (Morisco, 1999).

  1. Penggunaan Bambu

Bambu banyak dipergunakan sebagai bagian konstruksi teknik sipil seperti sekat, dinding (gédhèk), penutup lantai, tiang, balok, rangka atap, reng, usuk, langit-langit, pondasi, pipa pengairan, jembatan sederhana dan tiang pancang untuk perbaikan tanah.

Gédhèk atau anyaman bambu dibuat dari kulit bambu, sering dipakai pada bangunan pemukiman sebagai dinding, sekat, pintu, penutup lantai, dan langit-langit. Dinding dari anyaman bambu ini umumnya sering digunakan pada bangunan rumah sederhana.

Sasak dibuat dari anyaman pelupuh. Pelupuh adalah bambu yang dibelah, sekatnya dibuang, dirancah lalu dipukul-pukul. Pelupuh ini merupakan bahan yang cukup baik untuk digunakan sebagai papan dinding atau lantai. Kelaka merupakan rangkaian bambu yang dibelah dua dan dihilangkan sekat-sekatnya lalu ditumpukkan, kelaka dapat dipakai sebagai penutup atap.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *