ASUHAN KEPERAWATAN PADA IBU DENGAN SECTIOSECAREA DENGAN INDIKASI PEB

Ns. Yuflihul Khair.,S.Kep

A. PENGERTIAN SECTIO CAESAREA
1. Sectio caesarea adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding perut dan dinding uterus atau vagina atau suatu histerotomi untuk melahirkan janin dari dalam rahim (Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, 2002).
2. Sectio caesarea adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding perut dan dinding uterus. (Sarwono , 2005).
3. Sectio caesarea adalah masa sesudah persalinan yang diperlukan untuk pulihnya kembali alat kandungan yang lamanya 6 minggu. (Obstetri Fisiologi, 1983)

Dalam Operasi Caesar, ada tujuh lapisan yang diiris pisau bedah, yaitu lapisan kulit, lapisan lemak, sarung otot, otot perut, lapisan dalam perut, lapisan luar rahim, dan rahim. Setelah bayi dikeluarkan, lapisan itu kemudian dijahit lagi satu per satu, sehingga jahitannya berlapis-lapis.

B. JENIS – JENIS OPERASI SECTIO CAESAREA
1. Abdomen (sectio caesarea abdominalis)
a. Sectio caesarea transperitonealis
SC klasik atau corporal (dengan insisi memanjang pada corpus uteri)Dilakukan dengan membuat sayatan memanjang pada korpus uteri kira- kira 10 cm.
Kelebihan :
 Mengeluarkan janin dengan cepat tidak mengakibatkan kandung kemih tertarik
 Sayatan bisa diperpanjang proksimal atau distal
 Penjahitan luka lebih mudah
 Penutupan luka dengan reperitonealisasi yang baik
 Perdarahan tidak begitu banyak
 Kemungkinan rupture uteri spontan berkurang atau lebih kecil
Kekurangan :
 Infeksi mudah menyebar secara intra abdominal karena tidak ada reperitonealis yang baik
 SC ismika atau profundal (low servical dengan insisi pada segmen bawah rahim) Dilakukan dengan melakukan sayatan melintang konkat pada segmen bawah rahim (low servical transversal) kira-kira 10 cm
 Luka dapat melebar kekiri, kanan, dan bawah sehingga dapat menyebabkan uteri uterine pecah sehingga mengakibatkan perdarahan banyak Keluhan pada kandung kemih post operasi tinggi

b. SC ektra peritonealis yaitu tanpa membuka peritoneum parietalis dengan demikian tidak membuka cavum abdominal. Vagina (section caesarea vaginalis)
Menurut sayatan pada rahim, sectio caesarea dapat dilakukan sebagai berikut :
1. Sayatan memanjang (longitudinal)
2. Sayatan melintang (Transversal)
3. Sayatan huruf T (T insicion)

C. ETIOLOGI/PENYEBAB SECTIO CAESAREA
Pada persalinan normal bayi akan keluar melalui vagina, baik dengan alat maupun dengan kekuatan ibu sendiri. Dalam keadaan patologi kemungkinan dilakukan operasi sectio caesarea. Faktor-Faktor Penyebab Sectio Caesarea menurut Mochtar (1998) faktor dari ibu dilakukannya sectio caesarea adalah plasenta previa , panggul sempit, partus lama, distosia serviks, pre eklamsi dan hipertensi. Sedangkan faktor dari janin adalah letak lintang dan letak bokong.

Menurut Manuaba (2001) indikasi ibu dilakukan sectio caesarea adalah ruptur uteri iminen, perdarahan antepartum, ketuban pecah dini. Sedangkan indikasi dari janin adalah fetal distres dan janin besar melebihi 4.000 gram. Dari beberapa faktor sectio caesarea diatas dapat diuraikan beberapa penyebab sectio caesarea sebagai berikut :
1. CPD
Chepalo Pelvik Disproportion (CPD) adalah ukuran lingkar panggul ibu tidak sesuai dengan ukuran lingkar kepala janin yang dapat menyebabkan ibu tidak dapat melahirkan secara alami. Tulang-tulang panggul merupakan susunan beberapa tulang yang membentuk rongga panggul yang merupakan jalan yang harus dilalui oleh janin ketika akan lahir secara alami. Bentuk panggul yang menunjukkan kelainan atau panggul patologis juga dapat menyebabkan kesulitan dalam proses persalinan alami sehingga harus dilakukan tindakan operasi (Kasdu, 2003).
Menurut Wiknjosastro (2002) ada beberapa kesempitan panggul, yaitu :
a. Kesempitan pintu atas panggul
Pintu atas panggul biasanya dianggap menyempit jika konjugata vera yang merupakan ukuran paling pendek panjangnya kurang dari 10 cm atau jika diameter transversal yang merupakan ukuran paling lebar panjangnya kurang dari 12 cm, proses persalinan akan memanjang dan kerap kali tidak pernah terjadi persalinan spontan yang efektif sehingga membawa akibat yang serius bagi ibu maupun janinnya.
b. Kesempitan panggul tengah
Bidang obstetrik panggul tengah membentang dari margo inferior simfisis pubis, lewat spina iskiadika, dan mengenai sakrum di dekat sambungan tulang vertebra keempat dan kelima. Meskipun definisi kesempitan pintu atas panggul, namun panggul tengah mungkin sempit kalau jumlah diameter interspinarum dan diameter sagitalis posterior pelvis (normalnya 10,5 plus 5 cm atau 15,5 cm) mencapai 13,5 cm atau lebih kurang lagi.
c. Kesempitan pintu bawah panggul
Kesempitan pintu bawah panggul biasanya diartikan sebagai keadaan dimana distansia tuberculum 8 cm atau lebih kecil lagi. Pintu bawah panggul yang sempit tidak banyak mengakibatkan distosia karena kesempitannya sendiri mengingat keadaan ini sering disertai pula dengan kesempitan panggul tengah.

2. PEB (Pre-Eklamsi Berat)
a. Pengertian PEB
Pre eklampsia adalah sekumpulan gejala yang timbul pada wanita hamil, bersalin dan nifas yang terdiri dari hipertensi, edema dan protein uria tetapi tidak menjukkan tanda-tanda kelainan vaskuler atau hipertensi sebelumnya, sedangkan gejalanya biasanya muncul setelah kehamilan berumur 28 minggu atau lebih (Rustam Muctar, 1998).
Pre Eklamsia adalah penyakit dengan tanda-tanda hipertensi, odem dan protein uria yang timbul karena kehamilan. Penyakit ini umumnya terjadi dalam triwulan ke 3 kehamilan, tetapi dapat terjadi sebelumnya. Misalnya terdapat Molahydatidosa (Sarwono : 2006)
Pre eklampsi berat adalah suatu komplikasi kehamilan yang di tandai dengan takanan darah 160/110 mmHg atau lebih disertai ptoteinuria dan disertai oedema pada kehamilan 20 minggu atau lebih
Pre-eklamsi ialah penyakit dengan tanda-tanda hipertensi, edema, dan proteinuria yang timbul karena kehamilan. Penyakit ini umumnya terjadi pada trimester III kehamilan.

b. Klasifikasi Pre Eklamsia
1) Pre Eklamsi Ringan (PER)
• Tekanan darah sistole 140 atau kenaikan 30 mmHg dengan interval pemeriksaan 6 jam.
• Tekanan darah diastolik 90 atau kenaikan 15 mmHg dengan interval pemeriksaan 6 jam.
• Kenaikan berat badan 1 kg atau lebih dalam 1 minggu.
• protein uria 0,3 gr atau lebih dengan tingkat kualitatif positif 1 sampai positif 2 pada urin katerer atau urin aliran pertengahan.
2) Pre Eklamsi Berat (PEB)
• Tekanan darah 160/110 mmHg.
• Oligouria, urin kurang dari 3 cc/24 jam.
• Protein urin lebih dari 3 gr/liter.
• Keluhan subjektif : nyeri epigastrium, gangguan penglihatan, nyeri kepala, odema paru, dan sianosis gangguan kesadaran.
c. Patofisiologi
Pada pre eklampsia terdapat penurunan plasma dalam sirkulasi dan terjadi peningkatan hematokrit. Perubahan ini menyebabkan penurunan perfusi ke organ, termasuk ke utero plasental fatal unit. Vasospasme merupakan dasar dari timbulnya proses pre eklampsia. Konstriksi vaskuler menyebabkan resistensi aliran darah dan timbulnya hipertensi arterial. Vasospasme dapat diakibatkan karena adanya peningkatan sensitifitas dari sirculating pressors. Pre eklampsia yang berat dapat mengakibatkan kerusakan organ tubuh yang lain. Gangguan perfusi plasenta dapat sebagai pemicu timbulnya gangguan pertumbuhan plasenta sehinga dapat berakibat terjadinya Intra Uterin Growth Retardation.
Edema ialah penimbunan cairan secara umum dan berlebihan dalam jaringan tubuh, dan biasanya dapat diketahui dari kenaikan berat badan serta pembengkakan kaki, jari tangan, dan muka. Edema pretibial yang ringan sering ditemukan pada kehamilan biasa, sehingga tidak seberapa berarti untuk penentuan diagnosis pre-eklamsi.
Kenaikan berat badan setengah kilo setiap minggu dalam kehamilan masih dapat dianggap normal, tetapi bila kenaikan satu kilo seminggu beberapa kali,hal ini perlu menimbulkan kewaspadaan terhadap timbulnya pre-eklamsia. Proteinuria berarti konsentrasi protein dalam air kencing yang melebihi 0,3 gram/liter dalam air 24 jam atau pemeriksaan kualitatif menunjukkan satu atau dua + atau satu gram per liter atau lebih dalam air kencing yang dikeluarkan dengan kateter yang diambil minimal 2 kali dengan jarak waktu 6 jam. Biasanya proteinuria timbul lebih lambat dari pada hipertensi dan kenaikan berat badan karena itu harus dianggap sebagai tanda yang cukup serius (Wiknjosastro, 2002).
Menurut (Manuaba, 1998) gejala pre-eklamsi berat dapat diketahui dengan pemeriksaan pada tekanan darah mencapai 160/110 mmHg, oliguria urin kurang 400 cc/24 jam, proteinuria lebih dari 3 gr/liter. Pada keluhan subjektif pasien mengeluh nyeri epigastrium, gangguan penglihatan dan nyeri kepala.

d. Etiologi Pre Eklamsi
Penyebab pre eklamsia dan eklamsia sampai sekarang belum diketahui. Pre-eklamsi dan eklamsi merupakan kesatuan penyakit yang langsung disebabkan oleh kehamilan, sebab terjadinya masih belum jelas. Setelah perdarahan dan infeksi, pre-eklamsi dan eklamsi merupakan penyebab kematian maternal dan perinatal paling penting dalam ilmu kebidanan.
Teori iskemia plasenta di anggap dapat menerangkan berbagai gejala pre eklamsia yaitu berdasarkan teori iskemia implantasi plasenta, bahan trofoblas akan diserap kedalam sirkulasi yang dapat meningkatkan sensivitas terhadap angiotensia II, renin dan aldosteron, spasme pembuluh darah arteriol dan tertahannya garam dan air. Teori iskemia implantasi plasenta didukung kenyataan sbb:
1) Pre eklamsi dan eklamsia banyak terjadi pada primigravida, kehamilan ganda, hidramnion, dan molahydatidosa.
2) Kejadian makin tua Kehamilan
3) Gejala penyakit berkurang bila terjadi kematian janin. Dengan demikian teori iskemia daerah implantasi plasenta memenuhi untuk menerangkan berbagai gejala klinis PEB dan eklamsia.
e. Faktor predisposisi:
1) Primigravida atau multipara, terutama pada umur reproduksi eksterm, yaitu remaja dan umur 35 tahun ke atas.
2) Multigravida dengan kondisi klinis:
a) Kehamilan ganda dan hidrops fetalis
b) Penyakit vaskuler termasuk hipertensi esensial kronik dan diabetes mellitus
c) Penyakit ginjal
3) Hiperplasentosis
a) Riwayat keluarga pernah Pre eklamsi dan eklamsi
b) Obesitas dan hidramion
c) Gizi yan kurang dan anemi
d) Kasus–kasus dengan asam urat yang tinggi, defisiensi kalsium, defisiensi asam lemak tidak jenuh kurang anti oksidan.

f. Gambaran Klinis PEB
Biasanya tanda-tanda pre eklamsi timbulnya dalam urutan : pertumbuhan berat badan yang berlebihan, di ikuti edema, hipertensi dan akhirnya protein uria. pada pre eklamsi ringan tidak di temukan gejala-gejala subjektif. Pada pre eklamsia berat didapatkan sakit kepala, di daerah frontal, nyeri epigastrium, penglihatan kabur, mual, muntah, sketema, diplopia, gangguan visus lain (nyeri frontal yang hebat) perdarah retina, dan odema pulmonum.

g. Uji Dx Pre Eklamsia
1) uji diasnostik dasar
• pengukuran tekanan darah
• analisis protein dalam urin
• pemeriksaan odema
• pengukuran TFU (Tinggi Fundus Uteri)
• pemeriksaan fundus kopik
b. uji laboratorium dasar
• evaluasi hematologik (haematokrit, jumlah trombosit, morfologi, eritrosit pada sediaan harus darah tepi)
• pemeriksaan fungsi hati,(bilirubin, protein serum, aspartat, aminotranserance, dsb)
• pemeriksaan fungsi ginjal (ureum dan kreatinin)
h. Penatalaksanaan PEB
Pre eklamsia berat (PEB)
1. baringkan ibu miring kiri
2. pasang infus RL/NS
3. injeksi 10 gr Mg504 40% (5 gr IM pada bokong kiri dan kanan)
4. berikan dosis awal 4 mg Mg504 20% IV selama 2 menit
5. rujuk ibu kefasilitas yang memiliki kemampuan penataksanaan gadar obstetrik dan BBL.
6. dampingi ibu ke tempat rujukan. berilah dukungan dan semanagat
Penderita diusahan agar :
• terisolasi sehingga tidak mendapat rangsangan suara/sinar
• terpasang infus D5%/RL
• dilakukan pemeriksaan
7. pemeriksaan umum : pemeriksaan TTV
8. pemeriksaan leopod, DJJ, pemeriksaan dalam (evaluasi pembukaan, dan keadaan janin dalam rahim)
9. pemeriksaan duer kateter
10. evaluasi keseimbangan
11. Terapi
a. sellativa : phenobarbital 3 x 100 mg, vallium 3 x 20 mg.
• menghindari kejang
b. magnesium sulvat : inisial dosis 20 mg IM. observasi : RR tidak kurang dari 16 x/menit, reflek patela positif, urin tidak kurang dari 600 cc/24 jam.
c. valium : inisial dosis 20 mg IV
d. bila terjadi ologourine diberikan glukosa 40 % Iv untuk menarik cairan dari jarinagan sehingga dapat merangsang deuritis
• setelah keadaan pre eklamsia berat dapat di atasi pertimbangkan untuk mengakhiri kehamilan berdasarkan :
3. KPD (Ketuban Pecah Dini)
Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum terdapat tanda persalinan dan ditunggu satu jam belum terjadi inpartu. Sebagian besar ketuban pecah dini adalah hamil aterm di atas 37 minggu, sedangkan di bawah 36 minggu tidak terlalu banyak (Manuaba, 2001).
Ada dua macam kemungkinan ketuban pecah dini, yaitu premature rupture of membran dan preterm rupture of membrane. Keduanya memiliki gejala yang sama yaitu keluarnya cairan dan tidak ada keluhan sakit. Tanda-tanda khasnya adalah keluarnya cairan mendadak disertai bau yang khas, namun berbeda dengan bau air seni. Alirannya tidak terlalu deras keluar serta tidak disertai rasa mules atau sakit perut. Akan terdeteksi jika si ibu baru merasakan perih dan sakit jika si janin bergerak (Barbara, 2009).
Pada sebagian besar kasus, penyebabnya belum ditemukan. Faktor yang disebutkan memiliki kaitan dengan KPD yaitu riwayat kelahiran prematur, merokok, dan perdarahan selama kehamilan (Mochtar, 1998).
4. Janin Besar (Makrosomia)
Makrosomia atau janin besar adalah taksiran berat janin diatas 4.000 gram. Di negara berkembang, 5 % bayi memiliki berat badan lebih dari 4.000 gram pada saat lahir dan 0,5 % memiliki berat badan lebih dari 4.500 gram. Ada beberapa faktor ibu yang menyebabkan bayi besar, yaitu ibu dengan diabetes, kehamilan post-term, obesitas pada ibu, dan lain-lain. Untuk mencegah trauma lahir, maka bedah sesar elektif harus ditawarkan pada wanita penderita diabetes dengan taksiran berat janin lebih dari 4500 gram dan pada wanita nondiabetes dengan taksiran berat janin lebih dari 5000 gram (Glance, 2006).
5. Kelainan Letak Janin
Kelainan-kelainan janin menurut Mochtar (1998) antara lain:
a. Kelainan pada letak kepala
1). Letak kepala tengadah
Bagian terbawah adalah puncak kepala, pada pemeriksaan dalam teraba UUB yang paling rendah. Etiologinya kelainan panggul, kepala bentuknya bundar, anaknya kecil atau mati, kerusakan dasar panggul
2). Presentasi muka
Letak kepala tengadah (defleksi), sehingga bagian kepala yang terletak paling rendah ialah muka.
3). Presentasi dahi
Posisi kepala antara fleksi dan defleksi, dahi berada pada posisi terendah dan tetap paling depan. Pada penempatan dagu, biasanya dengan sendirinya akan berubah menjadi letak muka atau letak belakang kepala.
b. Letak sungsang
Janin yang letaknya memanjang (membujur) dalam rahim, kepala berada di fundus dan bokong di bawah (Mochtar, 1998). Menurut (Sarwono, 1992) letak sungsang merupakan keadaan dimana janin terletak memanjang dengan kepala difundus uteri dan bokong berada di bagian bawah kavum uteri. Dikenal beberapa jenis letak sungsang, yakni presentasi bokong, presentasi bokong kaki, sempurna, presentasi bokong kaki tidak sempurna dan presentasi kaki.
6. Bayi kembar
Tidak selamanya bayi kembar dilahirkan secara caesar. Hal ini karena kelahiran kembar memiliki resiko terjadi komplikasi yang lebih tinggi daripada kelahiran satu bayi. Selain itu, bayi kembar pun dapat mengalami sungsang atau salah letak lintang sehingga sulit untuk dilahirkan secara normal. Kehamilan ganda atau kehamilan kembar adalah kehamilan dengan dua janin atau lebih (Rustam Mochtar, 1998), (1) Faktor-faktor yang mempengaruhi adalah; bangsa, umur, dan paritas sering mempengaruhi kehamilan kembar 2 tel, (2)Faktor obat-obat induksi ovulasi: profertil, clomid, dan hormone gonadotropin dapat menyebabkan kehamilan dizigotik dan kembar lebih dari 2, (3) Faktor keturunan.
7. Faktor hambatan jalan lahir
Adanya gangguan pada jalan lahir, misalnya jalan lahir yang tidak memungkinkan adanya pembukaan, adanya tumor dan kelainan bawaan pada jalan lahir, tali pusat pendek dan ibu sulit bernafas (Dini Kasdu, 2003).

D. PATOFISIOLIGI SECTIO CAESAREA
Anatomi fungsional yang dibahas pada kasus post operasi sectio caesarea terdiri dari anatomi dinding perut dan otot dasar panggul.
a. Anatomi dinding perut
Dinding perut dibentuk oleh otot-otot perut dimana disebelah atas dibatasi oleh angulus infrasternalis dan di sebelah bawah dibatasi oleh krista iliaka, sulkus pubikus dan sulkus inguinalis.
Otot-otot dinding perut tersebut terdiri dari otot-otot dinding perut bagian depan, bagian lateral dan bagian belakang.
1) Otot rectus abdominis
Terletak pada permukaan abdomen menutupi linea alba, bagian depan tertutup vagina dan bagian belakang terletak di atas kartilago kostalis 6-8. origo pada permukaan anterior kartilago kostalis 5-7, prosesus xyphoideus dan ligamen xyphoideum. Serabut menuju tuberkulum pubikum dan simpisis ossis pubis. Insertio pada ramus inferior ossis pubis. Fungsi dari otot ini untuk flexi trunk, mengangkat pelvis.
2) Otot piramidalis
Terletak di bagian tengah di atas simpisis ossis pubis, di depan otot rectus abdominis. Origo pada bagian anterior ramus superior ossis pubis dan simpisis ossis pubis. Insertio terletak pada linea alba. Fungsinya untuk meregangkan linea alba.
3) Otot transversus abdominis
Otot ini berupa tendon menuju linea alba dan bagian inferior vagina musculi recti abdominis. Origo pada permukaan kartilago kostalis 7-12. insertio pada fascia lumbo dorsalis, labium internum Krista iliaka, 2/3 lateral ligamen inguinale. Berupa tendon menuju linea alba dan bagian inferior vagina muskuli recti abdominis. Fungsi dari otot ini menekan perut, menegangkan dan menarik dinding perut.
4) Otot obligus eksternus abdominis
Letaknya yaitu pada bagian lateral abdomen tepatnya di sebelah inferior thoraks. Origonya yaitu pada permukaan luas kosta 5-12 dan insertionya pada vagina musculi recti abdominis. Fungsi dari otot ini adalah rotasi thoraks ke sisi yang berlawanan
5) Otot obligus internus abdominis
Otot ini terletak pada anterior dan lateral abdomen, dan tertutup oleh otot obligus eksternus abdominis. Origo terletak pada permukaan posterior fascia lumbodorsalis, linea intermedia krista iliaka, 2/3 ligamen inguinale insertio pada kartilago kostalis 8-10 untuk serabut ke arah supero medial. Fungsi dari otot ini untuk rotasi thoraks ke sisi yang sama.
b. Otot dasar panggul
Otot dasar panggul terdiri dari diagfragma pelvis dan diagfragma urogenital. Diagfragma pelvis adalah otot dasar panggul bagian dalam yang terdiri dari otot levator ani, otot pubokoksigeus, iliokoksigeus, dan ischiokoksigeus.. Fungsi dari otot-otot tersebut adalah levator ani untuk menahan rectum dan vagina turun ke bawah, otot spincter ani eksternus diperkuat oleh otot mabdor ani untuk menutup anus dan otot pubokavernosus untuk mengecilkan introitus vagina.
c. Patologi
Pada operasi sectio caesarea transperitonial ini terjadi, perlukaan baik pada dinding abdomen (kulit dan otot perut) dan pada dinding uterus. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi penyembuhan dari luka operasi antara lain adalah suplay darah, infeksi dan iritasi. Dengan adanya supply darah yang baik akan berpengaruh terhadap kecepatan proses penyembuhan. Perjalanan proses penyembuhan sebagai berikut :
(1) Sewaktu incisi (kulit diiris), maka beberapa sel epitel, sel dermis dan jaringan kulit akan mati. Ruang incisi akan diisi oleh gumpalan darah dalam 24 jam pertama akan mengalami reaksi radang mendadak,
(2) Dalam 2-3 hari kemudian, exudat akan mengalami resolusif proliferasi (pelipatgandaan) fibroblast mulai terjadi,
(3) Pada hari ke-3-4 gumpalan darah mengalami organisasi,
(4) Pada hari ke 5 tensile strength (kekuatan untuk mencegah terbuka kembali luka) mulai timbul, yang dapat mencegah terjadi dehiscence (merekah) luka,
(5) Pada hari ke-7-8, epitelisasi terjadi dan luka akan sembuh. Kecepatan epitelisasi adalah 0,5 mm per hari, berjalan dari tepi luka ke arah tengah atau terjadi dari sisa-sisa epitel dalam dermis,
(6) Pada hari ke 14-15, tensile strength hanya 1/5 maksimum,
(7) Tensile strength mencapai maksimum dalam 6 minggu. Untuk itu pada seseorang dengan riwayat SC dianjurkan untuk tidak hamil pada satu tahun pertama setelah operasi (Hudaya, 1996).
d. Fisiologi nifas
Perubahan yang terjadi selama masa nifas post sectio caesarea antara lain: (1) Uterus, setelah plasenta dilahirkan, uterus merupakan alat yang keras karena kontraksi dan reaksi otot-ototnya. Fundus uteri ±3 jari di bawah pusat. Ukuran uterus mulai dua hari berikutnya, akan mengecil hingga hari kesepuluh tidak teraba dari luar. Invulsi uterus terjadi karena masing-masing sel menjadi kecil, yang disebabkan oleh proses antitoksis dimana zat protein dinding pecah, diabsorbsi dan dibuang melalui air seni. Sedangkan pada endomentrium menjadi luka dengan permukaan kasar, tidak rata kira-kira sebesar telapak tangan. Luka ini akan mengecil hingga sembuh dengan pertumbuhan endometrium baru di bawah permukaan luka, mulai dari pinggir dan dasar luka, pembuluh darah uterus yang saat hamil dan membesar akan mengecil kembali karena tidak dipergunakan lagi,dinding perut melonggar dan elastisitasnya berkurang akibat peregangan dalam waktu lama (Rustam M, 1998).

E. Manifestasi Klinik/Tanda Dan Gejala Sectio Caesarea
1. Perubahan Fisik
a. Sistem Reproduksi
 Uterus
Involusi : Kembalinya uterus ke kondisi normal setelah hamil. Proses ini dipercepat oleh rangsangan pada puting susu.
Lochea, Komposisi Jaringan endometrial, darah dan limfe.
 Tahap
a. Rubra (merah) : 1-3 hari
b. sanguinolenta : 3-7 hari
b. Serosa (pink kecoklatan) : setelah 2 minggu post partum
c. Alba (kuning-putih) :
Lochea terus keluar sampai 3 minggu.Bau normal seperti menstruasi, jumlah meningkat saat berdiri. Jumlah keluaran rata-rata 240-270 ml.
 Siklus Menstruasi, Ibu menyusui paling awal 12 minggu rata-rata 18 minggu, untuk itu tidak menyusui akan kembali ke siklus normal.
 Ovulasi
Ada tidaknya tergantung tingkat proluktin. Ibu menyusui mulai ovulasi pada bulan ke 3 atau lebih. Ibu tidak menyusui mulai pada minggu ke-6 s/d minggu ke-8. Ovulasi mungkin tidak terlambat, dibutuhkan salah satu jenis kontrasepsi untuk mencegah kehamilan.
 Serviks
Segera setelah lahir terjadi edema, bentuk distensi untuk beberapa hari, struktur internal kembali dalam 2 minggu, struktur eksternal melebar dan tampak bercelah.
 Vagina
Nampak berugae kembali pada 3 minggu, kembali mendekati ukuran seperti tidak hamil, dalam 6 sampai 8 minggu, bentuk ramping lebar, produksi mukus normal dengan ovulasi.
 Perineum
• Episiotomi, Penyembuhan dalam 2 minggu.
• Laserasi
TK I : Kulit dan strukturnya dari permukaan s/d otot
TK II : Meluas sampai dengan otot perineal
TK III: Meluas sampai dengan otot spinkter
TK IV : melibatkan dinding anterior rectal
b. Payudara
Payudara membesar karena vaskularisasi dan engorgement (bengkak karena peningkatan prolaktin pada hari I-III). Pada payudara yang tidak disusui, engorgement akan berkurang dalam 2-3 hari, puting mudah erektil bila dirangsang. Pada ibu yang tidak menyusui akan mengecil pada 1-2 hari.
c. Sistem Endokrin
 Hormon Plasenta,HCG (-) pada minggu ke-3 post partum, progesteron plasma tidak terdeteksi dalam 72 jam post partum normal setelah siklus menstruasi.
 Hormon pituitary, Prolaktin serum meningkat terjadi pada 2 minggu pertama, menurun sampai tidak ada pada ibu tidak menyusui FSH, LH, tidak ditemukan pada minggu I post partum.

d. Sistem Kardiovaskuler
 Tanda-tanda vital,Tekanan darah sama saat bersalin, suhu meningkat karena dehidrasi pada awal post partum terjadi bradikardi.
 Volume darah ,Menurun karena kehilangan darah dan kembali normal 3-4 minggu Persalinan normal : 200 – 500 cc, sesaria : 600 – 800 cc
e. Sistem Respirasi
Fungsi paru kembali normal, RR : 16-24 x/menit, keseimbangan asam-basa kembali setelah 3 minggu post partum.
f. Sistem Gastrointestinal
 Mobilitas lambung menurun sehingga timbul konstipasi.
– Nafsu makan kembali normal.
– Kehilangan rata-rata berat badan 5,5 kg.

g. Sistem Urinaria
 Edema pada kandung kemih, urethra dan meatus urinarius terjadi karena trauma.
 Pada fungsi ginjal: proteinuria, diuresis mulai 12 jam.
 Fungsi kembali normal dalam 4 minggu.
h. Sistem Muskuloskeletal
Terjadi relaksasi pada otot abdomen karena terjadi tarikan saat hamil. Diastasis rekti 2-4 cm, kembali normal 6-8 minggu post partum.
i. Sistem Integumen
Hiperpigmentasi perlahan berkurang.

F. PENGKAJIAN SECTIO CAESAREA
1. Sirkulasi
2. Integritas ego
3. Makanan/cairan
4. Pernapasan
5. Keamanan
G. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Ansietas b.d pengalaman pembedahan dan hasil tidak dapat diperkirakan
2. Nyeri akut b.d insisi, flatus dan mobilitas
3. Resti infeksi b.d destruksi pertahanan terhadap bakteri, perdarahan
4. Resiko ketidakseimbangan nutrisi b.d peningkatan kebutuhan untuk penyembuhan luka, penurunan masukan (sekunder akibat nyeri, mual, muntah)
5. Defisit perawatan diri b.d Penurunan kemampuan ADL adanya nyeri pada masa incisi
H. INTERVENSI KEPERAWATAN
 Diagnosa 1 :
Ansietas b.d pengalaman pembedahan dan hasil tidak dapat diperkirakan
Tujuan :
a. Ansietas berkurang setelah diberikan perawatan dengan
Kriteria hasil
 Tidak menunjukkan traumatik pada saat membicarakan pembedahan
 Tidak tampak gelisah
 Tidak merasa takut untuk dilakukan pembedahan yang sama
 Pasien merasa tenang
Rencana
 Kaji tingkat kecemasan ibu
R/. Tingkat kecemasan ringan dan sedang bisa ditoleransi dengan pemberian pengertian sedangkan yang berat diperlukan tindakan medikamentosa
 Jelaskan mekanisme proses persalinan
R/. Pengetahuan terhadap proses persalinan diharapkan dapat mengurangi emosional ibu yang maladaptive
 Gali dan tingkatkan mekanisme koping ibu yang efektif
R/. Kecemasan akan dapat teratasi jika mekanisme koping yang dimiliki ibu efektif
 Beri support system pada ibu
R/. ibu dapat mempunyai motivasi untuk menghadapi keadaan yang sekarang secara lapang dada asehingga dapat membawa ketenangan hati
 Lakukan pendekatan diri pada pasien
R/ supaya pasien merasa nyaman
 Yakinkan bahwa pembedahan merupakan jalan terbaik yang harus ditempuh untuk menyelamatkan bayi dan ibu.
R/ agar klien mengerti manfaat di SC

 Diagnosa 2 :
Gangguan rasa nyaman ; nyeri b.d insisi, flatus dan mobilitas
Tujuan :
 Nyeri dapat berkurang setelah perawatan 3x 8 jam
Kriteria :
 Pasien tidak mengeluh nyeri/mengatakan bahwa nyeri sudah berkurang
Rencana
 lakukan pengkajian nyeri
R/ Pengukuran nilai ambang nyeri dapat dilakukan dengan skala maupun deskripsi.
 lakukan managemen nyeri
R/ untuk mengurangi rasa nyaman nyeri
 obs. TTV
R/ mengetahui keadaan umum px
 Ajarkan teknik relaksasi nafas dalam.
R/ Pengurangan persepsi nyeri.
 Kolaborasi pemberian analgetika.
R/ Mengurangi onset terjadinya nyeri dapat dilakukan dengan pemberian analgetika oral maupun sistemik dalam spectrum luas/spesifik.
 Kolaborasi pemberian analgetika.
R/ Mengurangi onset terjadinya nyeri dapat dilakukan dengan pemberian analgetika oral maupun sistemik dalam spectrum luas/spesifik.
 berikan linkungan yang tenang dan nyaman
R/ mengurangi rasa nyeri dengan cara pengalihan
 jelaskan tentang sifat nyeri dan kapan nyeri akan berkurang/hilang
R/ informasi dapat membantu mengurangi tingkat nyeri akibat kecemasan

 Diagnosa 3 :
Resiko infeksi b.d destruksi pertahanan terhadap bakteri,luka post operasi, perdarahan
Tujuan :
 Pasien merasa tenang dan infeksi tidak terjadi setelah perawatan selama 24 jam pertama
Kriteria hasil :
 Menunjukkan kondisi luka yang jauh dari kategori infeksi
 Albumin dalam keadaan normal
 Suhu tubuh pasien dalam keadaan normal, tidak demam
Rencana
a.Kaji kondisi keluaran/dischart yang keluar ; jumlah, warna, dan bau dari luka operasi.
 R/ Perubahan yang terjadi pada dischart dikaji setiap saat dischart keluar. Adanya warna yang lebih gelap disertai bau tidak enak mungkin merupakan tanda infeksi.
b.Terangkan pada klien pentingnya perawatan luka selama masa post operasi.
 R/ Infeksi dapat timbul akibat kurangnya kebersihan luka.
c.Lakukan pemeriksaan biakan pada dischart.
 R/ Berbagai kuman dapat teridentifikasi melalui dischart.

d.Lakukan perawatan luka.
 R/ Inkubasi kuman pada area luka dapat menyebabkan infeksi.
e.Terangkan pada klien cara mengidentifikasi tanda inveksi.
 R/ Berbagai manivestasi klinik dapat menjadi tanda nonspesifik infeksi; demam dan peningkatan rasa nyeri mungkin merupakan gejala infeksi.
 Diagnosa 4
Resiko ketidaksaeimbangan nutrisi b.d peningkatan kebutuhan tubuh untuk penyembuhan luka, penurunan masukan (sekunder akibat nyeri, mual, muntah)
Tujuan :
 tidak terjadi perubahan status nutrisi
Kriteria :
 klien mau makan yang cukup
 penyembuhan luka baik
Rencana
 kaji status nutrisi secara continue selama perawatan tiap hari, perhatikan tingkat energi, kondisi, kulit, kuku, rambut, rongga mulut
 tekankan pentingnya trasnsisi pada pemberian makan per oral dengan tepat
 beri waktu mengunyah, menelan, beri sosialisasi dan bantuan makan sesuai dengan indikasi
 berikan penjelasan pentingnya kebutuhan ntrisi ibu
 Diagnosa 5 :
Deficit perawatan diri b.d Penurunan kemampuan ADL karena adanya nyeri pada daerah incise
Tujuan :
 perawatan diri klien terpenuhi
Kriteria hasil :
 klien tampak bersih
 klien tidak bau badan
Rencana
 beri penjelasan tentang pentingnya kebersihan/perawatan diri
 bantu klien dalam melakukan perawatan
I. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK SECTIO CAESAREA
 Tes Laboraturium
 Hemoglobin atau hematokrit (HB/Ht) untuk mengkaji perubahan dari kadar pra operasi dan mengevaluasi efek kehilangan darah pada pembedahan.
 Leukosit (WBC) mengidentifikasi adanya infeksi
 Tes golongan darah, lama perdarahan, waktu pembekuan darah
 Urinalisis/kultur urine
 Pemeriksaan elektrolit
J. PENATALAKSANAAN MEDIS SECTIO CAESAREA
 Penatalaksanaan medis dengan cairan IV sesuai indikasi.
 Anestesia; regional atau general
 Perjanjian dari orang terdekat untuk tujuan sectio caesaria.
 Pemberian oksitosin sesuai indikasi.
 Tanda vital per protokol ruangan pemulihan
 Persiapan kulit pembedahan abdomen
 Persetujuan ditandatangani.
 Pemasangan kateter foley
K. KOMPLIKASI SECTIO CAESAREA
Komplikasi yang bisa timbul pada sectio caesarea adalah sebagai berikut :
1) Infeksi puerperal yang terdiri dari infeksi ringan dan infeksi berat. Infeksi ringan ditandai dengan kenaikan suhu beberapa hari dalam masa nifas, infeksi yang berat ditandai dengan kenaikan suhu yang lebih tinggi bisa terjadi sepsis, infeksi ini bisa terjadi karena karena partus lama dan ketuban yang telah pecah terlalu lama.
2) Perdarahan bisa terjadi pada waktu pembedahan cabang-cabang atonia uteria ikut terbuka atau karena atonia uteria,
3) Terjadi komplikasi lain karena luka kandung kencing, embolisme paru dan deep vein trombosis,
4) Terjadi ruptur uteri pada kehamilan berikutnya (Rustam M, 1998)

MASA NIFAS
A. DEFINISI PUERPERIUM / NIFAS
Adalah masa sesudah persalinan dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhirnya ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil, masa nifas berlangsung selama  6 minggu. (Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, 2002)
adalah masa sesudah persalinan yang diperlukan untuk pulihnya kembali alat kandungan yang lamanya 6 minggu. (Obstetri Fisiologi, 1983)
B. PERIODE
Masa nifas dibagi dalam 3 periode:
1. Early post partum
Dalam 24 jam pertama.
2. Immediate post partum
Minggu pertama post partum.
3. Late post partum
Minggu kedua sampai dengan minggu keenam.
C. PERUBAHAN FISIOLOGIS PADA MASA NIFAS
1. Involusi
involusi uterius adalah perubahan yang merupakan proses kembalinya alat kandungan atau uterius dan jalan lahir setelah bayi lahir hingga mencapai keadaan sebelum hamil.proses involusi terjadi karena adanya proses autolisis aktifitas otot-otot dan iskhemia dimana protein dindig rahim di pecah,diaborsi dan kemudian dibuang melalui urine.
No Waktu TFU Konsistensi After pain Kontraksi
1.

2.

3.

4. Segera setelah lahir

1 jam setelah lahir

12 jam setelah lahir

setelah 2 hari Pertengahan simpisis dan umbilikus

Umbilikus

1 cm di atas pusat

Turun 1 cm/hari

Lembut Terjadi

Berkurang

2. Lokhea
Lokhea adalah sekret luka yang berasal dari luka dalam rahim terutama luka plasenta dan keluar melalui fagina .Lokhea di bedakan sesuai tingkat penyembuhan luka yaitu
a. LokheaRubra
Lokhea ini berwarna merah segar seperti darah haid karena banyak mengandung darah segar dan sisa-sisa selaput ketuban ,.pengeluarannya segera setelah persalinan sampai 2 hari post partum jumlah makin sedikit.
b. Lokhea sanguinolenta
Lokhea ini berwarna merah kuning berisi darah dan lendir karena pengaruh plasma darah,penggeluarannya pada hari ke 3-7 hari post partum
c. Lokhea serosa
Lekhea ini berwarnah kuning kecoklatan atau serum,pengeluarnnya pada hari 7-14 post Partum
d. Lokhea Alba
Berupacairan putih kekuningan pengeluran Setelah 2 minggu hari port partum kadang-kadang. Bila lokhea tetap berwarna merah setelah2 minggu post partum kemungkinantertinggal sisa plasenta atau selaput amnion.
3. Laktasi
Laktasi adalah proses pembentukan dan pengeluaran ASI.fisiologi laktasi itu sendiri adalah pada saat persalinan hormone estrogen dan progesteronmenurun sedangkan prolaktin meningkat.hisapan bayi pada putting susu memacu atau merangsang kelenjar hipofise anterior untuk mempruduksi atau melepaskan proklatin sehingga terjadi sekreksi ASI
Hal-hal yang mempengaruhi pembentukan dan pengeluarkan ASI
-Faktor antomi payudara
-Faktor fisilogis nutrisi ibu
-Faktor istirahat
-Faktor isapan bayi
-Obat-obatan
-Psikologi
4. Masalah-masalah pada masa nifas
-Suhu badan
-Rasa nyeri
-urine
-Darah
-penurunan berat badan
-Defekasi
5. Sistem Endokrin
– Hormon Plasenta
HCG (-) pada minggu ke-3 post partum, progesteron plasma tidak terdeteksi dalam 72 jam post partum normal setelah siklus menstruasi.
– Hormon pituitari
Prolaktin serum meningkat terjadi pada 2 minggu pertama, menurun sampai tidak ada pada ibu tidak menyusui FSH, LH, tidak ditemukan pada minggu I post partum
6. Sistem Kardiovaskuler
– Tanda-tanda vital
Tekanan darah sama saat bersalin, suhu meningkat karena dehidrasi pada awal post partum terjadi bradikardi.
– Volume darah
Menurun karena kehilangan darah dan kembali normal 3-4 minggu
Persalinan normal : 200 – 500 cc, sesaria : 600 – 800 cc.
– Perubahan hematologik
Ht meningkat, leukosit meningkat, neutrophil meningkat.
– Jantung
– Kembali ke posisi normal, COP meningkat dan normal 2-3 minggu.
7. Sistem Respirasi
Fungsi paru kembali normal, RR : 16-24 x/menit, keseimbangan asam-basa kembali setelah 3 minggu post partum.
8. Sistem Gastrointestinal
– Mobilitas lambung menurun sehingga timbul konstipasi.
– Nafsu makan kembali normal.
– Kehilangan rata-rata berat badan 5,5 kg.
9. Sistem Urinaria
– Edema pada kandung kemih, urethra dan meatus urinarius terjadi karena trauma.
– Pada fungsi ginjal: proteinuria, diuresis mulai 12 jam.
– Fungsi kembali normal dalam 4 minggu.
10. Sistem Muskuloskeletal
– Terjadi relaksasi pada otot abdomen karena terjadi tarikan saat hamil. Diastasis rekti 2-4 cm, kembali normal 6-8 minggu post partum.
11. Sistem Integumen
– Hiperpigmentasi perlahan berkurang.
12. Sistem Imun
– Rhesus incompability, diberikan anti RHO imunoglobin
13. Kebutuhan masa nifas
a. fisik
Istirahat,makanan bergizi,udara segar,lingkungan yang bersih
b. Psikologi
Distres waktu persalinan segera di stabilkan dengan sikap badan atau keluarga yang menunjukan simpati,mengakui,menghargai,sebagai mana adanya.
c. Social
– Menemani ibu bila kelihatan kesepian
– Ikut menyayangi anaknya
– menangapi bila memperhatikan kebahagiaan
– Menghibur bila terlihat sedih
d. Psikososial
1. Phase taking in atau tahap tergantungan
Terjadi pada hari 1-2 post partum ,perhatian ibu terhadap kebutuhan dirinya,pasif dan tergantung.Ibu tidak menginginkan kontak dengan bayinya bukan berarti tidak memperhatikan.Dalam phase ini yang diperlukan ibu adalah informasi tentang bayinya,bukan cara merawat bayi.
2. Phase Taking Hold
Phase ini berlangsung sampai kira-kira 10 hari.Ibu berusaha mandiri dan berinisi atif,perhatian terhadap dirinya mengatasi tubuhnya,misalnya kelancaran miksi dan defikasi,melakukan aktifitas duduk,jalan,belajar tentang perawatan diri dan bayinya,timbul kurang percaya diri sehingga mudah mengatakan tidak mampu melakukan perawatan.Pada saat ini sangat dibutuhkan sistem pendukung terutama bagi bagi ibu muda atau primipara karena pada phase ini seiring dengan terjadinya post partum blues.
3. Phase letting Go atau saling ketergantungan
Dimulai sekarang minggu ke 5-6 pasca kelahiran.Tubuh ibu telah sembuh,secara fisik ibu mampun menerima tanggung jawab normaldan tidak lagi menerima peran sakit.Kegiatan seksualnya telah dilakukan kembali.

DAFTAR PUSTKA

Brunner & Suddarth. (2002)Keperawatan Medical Bedah, Edisi 8 Vol 2,EGC,Jakarta
Wilkinson M. Judith. 2006. Buku Saku Diagnosa Keperawatan dengan Intervensi NIC dan Kriteria Hasil NOC, Edisi 7. Jakarta:EGC
Nurjannah Intansari. 2010. Proses Keperawatan NANDA, NOC &NIC. Yogyakarta : mocaMedia
Mochtar, Rustam. 1998. Synopsis Obstetric dan Ginekologi. EGC. Jakarta
Mochtar, Rustam. 1998. Sinopsis obstetric. Jakarta: EGC.
Prawirohardjo, S. 2000. Buku acuan nasional pelayanan kesehatan maternal dan neonatal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka.
Sarwono Prawiroharjo,(2005)., Ilmu Kebidanan, Edisi 2 Cetakan II Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Jakarta.
http//:www.SC/sectio-caesarea.html
http// : www.SC/LP-Sectio-Caesarea.htm
http// : gemeli.blogspot.com//
http// : wordpress.com/healthl//

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *