ASPEK BIOLOGI FAMILI TRIDACNIDAE (KIMA) 

  1. KLASIFIKASI DAN KONDISI POPULASI

Kima  atau  dikenal  sebagai  kerang  raksasa  (Kelas : Bivalvia ;  Suku  Tridacnidae)  merupakan  salah  satu  sumberdaya  hayati  laut  terpenting  yang  telah  lama  dikenel  oleh  penduduk  wilayah  pesisir  kawasan  Indo –  pasifik  sebagai  bahan  makanan. Suku Tridacnidae ini sebenarnya terdiri dari dua genera yaitu Genera Tridacna dan Hippopus.

Berikut di bawah ini adalah klasifikasi dari kima

Domain: EukaryotaWhittaker & Margulis,1978 – eukaryotes

Kingdom:AnimaliaLinnaeus, 1758 – animals

Subkingdom:Bilateria(Hatschek, 1888) Cavalier-Smith, 1983 – bilaterians

Branch:ProtostomiaGrobben, 1908 – protostomes

Infrakingdom:Lophotrochozoa– Lophotrochozoans

Superphylum:Eutrochozoa

Phylum:Mollusca(Linnaeus, 1758) Cuvier, 1795 – Molluscs

Class:BivalviaLinnaeus, 1758 – Bivalves

Subclass:Metabranchia

Superorder:Eulamellibranchia

Order:VeneroidaH. & A. Adams, 1856

Superfamily:Cardioidea

Family:Tridacnidae– Giant Clams

Genera : Tridacna

Spesies : Tridacna gigas, T. derasa, T. squamosa, T. maxima, dan T. crocea.

Genus : Hippopus

Spesies : Hippopus hippopus, H. porcelanus

Sumber (http://zipcodezoo.com/Key/Animalia/Tridacnidae_Family.asp#Taxonomy)

Dari hasil penelitian terbaru yang dilakukan Richter et al. (2008), bahwa di laut merah ditemukan speses kima baru yang sekarang dikenal dengan Tridacna costata.

Akhir-akhir  ini  kima banyak  dieksploitasi secara besar-besaran karena  diketahui  ternyata  dagingnya  memiliki  nilai  gizi  /  protein  yang  tinggi.  Di  samping  itu  cangkangnya  yang  dimanfaatkan  sebagai  peralatan  rumah  tangga,  perhiasan  atau  bahan  pembuatan  tegel  teraso. Hal ini menyebabkan kima merupakan salah satu hewan molusca yang termasuk dalam hewan-hewan yang hampir punah. Untuk mejaga agar kima tetap ada, maka dibeberapa tempat seperti di Phillipina di lakukan penelitian tentang tehnik budidaya kima. Selain itu, dilakukan beberapa upaya restoking di daerah Philipina  guna meningkatkan jumlah populasi kima di alam (Gomez dan Mingoa-Licuana, 2006).

Upaya  penyelamatan  populasi  kima  telah  diatur  oleh  CITES  yang  pada  gilirannya  Indonesia  mengeluarkan  SK  Men  Hut  No  12 / Kpts.  II  /  1987  yang  melarang  penangkapan  dan  perdagangan  kima,  Selanjutnya  tahun  1990  Pemerintah  mengeluarkan  UU  No  5  tahun  1990  tentang  konservasi  ekosistem  dan  biotanya  termasuk  kima  sebagai  biota  laut  yang  telah  langka  dan  dilindungi,  Walaupun  demikian,  adanya  Undang-Undang  saja  belum  mampu  menjamin  terpeliharanya  dan  keutuhan  jenis-jenis  kima (Yusuf, 2000)

  1. MORFOLOGI

Morfologi dari tiap jenis kima ditentukan oleh bentuk luar dari cangkang kima itu sendiri. Perbedaan-perbedaan yang khas dari cangkang dapat dijadikan petunjuk dalam identifikasi kima sampai tingkat spesies Kima seperti halnya jenis-jenis kerang lainya yang memiliki cangkang terdiri dari dua tangkup simetris yang terbuat dari zat kapur yaitu dari dari unsur kalsium karbonat (CaCO3). Zat kapur ini umunnya tersusun dari tiga bentuk kristal yaitu kalsit, aragonit dan vaterit. Ketiga bentuk  kristal ini hampir berbeda pada setiap jenis moluska (Wilbur, 1964 dalam Mujiono, 1988).

Cangkang kima pada umumnya berwarna putih kekuning-kuningan. Permukaan cangkang bagian luar membentuk lekukan dan tonjolan yang tersusun sedemikian rupa sehingga sangat mirip dengan bentuk seperti kipas. Pada bagian yang menonjol tersebut terdapat lipatan berupa lempengan-lempengan yang tajam dan tersusun rapi. Bentuk lipatan-lipatan ini berbeda tergantung dari jenis kima itu sendiri (Mujiono, 1988).

Bagian engsel merupakan bagian ventral, sedangkan bagian tepi yang menghadap ke atas  atau bagian yang bebas merupakan bagian dorsal. Pada bagian ventral didapatkan tempat keluarnya alat perekat (bysus) yang disebut bysal oryfise (Rosewater, 1965). Bagian dorsal dari kima dapat membuka dan menutup apabila kerang tersebut mendapat rangsangan atau sentuhan dari luar. Bagian depan yang disebut anterior merupakan bagian dari tubuh kima yang dimana umbo mengarah kepadanya, sedangkan bagian posterior memiliki arah yang berlawanan dengan arah anterior (Mujiono, 1988).

  1. ANATOMI

Organ dalam kerang diselubungi oleh  mantel yang tebal. Pada bagian permukaan mantel terdapat tempat keluar masuknya air. Lubang keluarnya air dinamakan inhalant siphon atau incurrent siphon. Letaknya ke arah posterior dan memiliki bentuk yang agak memanjang. Lubang tempat keluarnya ari disebut exhalant siphon atau excurrent siphon yang berbentuk bulat dan terletak di bagian dorsal.

Kima memiliki 2 macam otot yang terletak menempel pada dinding bagian dalam cangkang, yaitu otot rekraktor dan aduktor. Otot aduktor merupakan otot yang besar dan kuat serta memiliki fungsi untuk membuka dan menutup cangkang pada saat kima tersebut mendapat rangsangan berupa sentuhan atau serangan oleh predaror. Otot rekraktor bentuknya lebi kecil dan berfungsi sebagi penjulur dan penarik kaki.

Organ lainnya seperti hati, ginjal dan alat pencernaan memiliki bentuk yang sangat sederhana. Sedangkan bagian dari insang kima tresusun dari lembaran berupa lamella yang berbentuk sisir yang disebut ctenida. Ditambahka oleh Rosewater (1965), pasangan insang yang berada di sebelah luar dinamakan demibrant luar, sedangkan pasangan insang yang berada di dalam di namakan demibrat dalam.

  1. CARA HIDUP

Dilihat dari cara hidupnya, kima dapat dibedakan menjadi dua golongan yaitu :

  1. Golongan pembor (boring form) merupakan golongan kima yang bisa melubangi substratnya sehingga hidup kima ini membenamkan seluruh atau semua cangkanya pada substrat.  Mekanisme pemboran ini dimulai pada saat kima masih berukuran 1 – 2 cm. Dengan gerakan yang teratur mereka menekan badannya pada batu karang sehingga badanya masuk ke dalam karang. Selain gerakan fisik, diduga kima menghasilkan zat kimia untuk membantu proses pengeboran.  Hewan kima ini melakukan proses pemboran dengan cara yang unik dimana bagian yang melakukan pemboran adalah bagian engsel (hinge)kima dengan posisi menghdapa ke atas. Pada bebrapa kima yang lainnya, bagian yang melakukan pemboran adalah bagian anterior (Kastoro, 1979 dalam Mujiono, 1988). Kima juga memiliki bysus berfungsi sebagai alat perekat pada substrat. Bysusu ini terbentuk dari dari bahan gelatin yang disekresikan melalui lubang yang bysal orifise (Rosewater, 1965). Maka tidak mengherankan jika kima sangat sulit untuk diangkat bila sudah mengebor pada karang Jenis kima yang termasuk dalam golongan ini adalah Tridacna crocea dan Tridacna maxima.
  2. Golongan yang hidup bebas, menempel atau terbaring  di antara karang atau di substrat berpasir sekitar daerah terumbu karang. Pada umumnya kima yang termasuk dalam golongan ini memiliki ukuran tubuh yang lebih besar bila dibandingkan dengan golongan pertama. Hal ini merupakan adaptasi dalam hidupnya, karena jenis kima ini tidak memiliki alat perekat apapun ataupun kalau ada bysusnya memiliki kuran yang sangat kecil. Dengan ukuran tubuh yang besar dan berat, jenis-jenis kima ini  mampu mempertahankan posisinya sekalipun di hempas oleh arus dan ombak (Rosewater, 1965). Jenis kima yang termasuk dalam golongan ini adalah Tridacna gigas, Tridacna derasa, dan Tridacna squamosa

  1. CARA MAKAN DAN MAKANAN

Setiap organisme di laut memiliki perbedaan cara makan yang sangat bervariasi tergantung dari cara hidup organisme tersebut. Begitu pula dengan kima, organisme yang tidak bisa berpindah-pindah tempat ini memenuhi kebutuhan nutrisinya dengan memiliki cara makan yang bersifat filter feeder atau  bersifat menyaring makanan dengan menggunakan insangnya. Zat-zat yang masuk ke dalam tubuh kima melalui inhalant siphon seperti plankton dan detritus yang ada di kolom perairan akan di seleksi oleh bulu getar yang ada disekitar insang, selanjutnya makanan yang dianggap penting akan diserap oleh mulut sedangkan yang tidak diperlukan akan dikeluarkan lagi melalui exhalant siphon (Grice dan Bell, 1999).

Karena sifat makannya  filter feeder, maka tidak hanya makanan yang di saring oleh kima. Namun semua zat-zat berbahaya seperti logam berat akan ikut tersaring juga. Kima seperti juga bivalvia lainnya dapat mentoleransi dan mengakumulasi logam-logam berat jika konsentrasi logam berat tersebut tidak melebihi batas letal dari kima dan bersifat kronis. Sekarang ini banyak dikembangkan penelitian untuk mengetahui kandungan logam berat daerah terumbu karang dengan kima sebagi bioindikatornya. Dari penelitian yang dilakukan didaptkan bahwa Tridacna crocea lebih banyak menyimpan hasil akumulasi logam berat paling tinggi di bagian ginjal dan paling sedikit dibagian otot (Duquesne dan Coll, 1994).

Selain mendapatkan makanan secara filter feeder, ternyata kima memiliki keistimewaan lainnya dalam mendapatkan makanan. Caranya yaitu dengan melakukan simbiosis mutualisme dengan zooxantella atau dinoflagellata spesies Symbiodinium icroadriaticum.  Zoxantella ini hidup pada daerah sekitar mantel luar kima dan bagian dari sel iridophore (Norton dan Jones, 1992 dalam Norton, et al., 1995). Mantel ini merupakan substrat yang baik bagi zooxantella ini untuk tumbuh. Simbiosis mutualisme ini dilakukan dengan cara zooxantella memanfaatkan ekskresi hasil metabolisme seperti CO2dan bahan anorganik sebagai sumber salah satu komponen penting dalam melakukan proses fotosintesise (Mujiono, 1988). Hasil fotosinteisi berupa zat-zat organik, gula, asam amino dan asam lemak akan diberikan zooxantella kepada kima sebagai sumber makanan. Dengan cara memberikan langsung hasil fotosintesisnya ke aliran darah kima (Ellis, 1999). Beberapa sumber lainnya mengklaim bahwa zooxantella ini membantu kima dalam melakukan proses kalsifikasi sehingga cangkang kima memiliki ukuran yang sangat besar (Mujiono, 1988).

Penambahan Nitrogen inorganik terlarut dalam media budidaya ternyata dapat meningkatkan perumbuhan zooxantella kima (Grice dan Bell, 1997 dalam Grice dan Bell, 1999). Ditambahkan oleh Norton, et al. (1995) bahwa kima dapat mengalami proses pemutihan (bleaching) seperti pada karang. Pemutihan ini disebabkan karena peningkatan suhu perairan, sedangkan pada juvenil kima pemutihan dapat pula disebabkan akibat adanya stress pada saat proses transportasi. Umumnya proses pengembalian ke kondisi semula sangat lama, bahkan dampak pemutihan ini dapat terlihat sampai satu tahun berikutnya. Proses rekruitment zooxantella dapat dilakukan pada saat kondisi fisologis dalam tubuh kima sudah optimum.

Zooxantella selain sebagai sumber makanan bagi kima, berfungsi juga untuk memberikan warna mantel dari kima itu sendiri. Berbeda warna mantel, umumnya mengindikasikan berbeda pula  zooxantella yang berasosiai. Tidak mengherankan jika sekarang ini telah banyak dikembangkan penelitian unutuk menentukan warna dari mantel kima.

  1. UMUR DAN PERTUMBUHAN

Menentukan umur dan kecepatan tumbuh jenis kima agak sulit dan memkan waktu yang lama, hal ini disebabkan karena umur kima dapat mencapai puluhan bahkan ratusan tahun. Diduga umur kima dapat mencapai 8 tahun sampai ratusan tahun (Rosewater, 1965).

Perkiraan kecepatan tumbuh jenis kima  berkisar antara 5 cm – 8 cm pertahun (Rosewater, 1965). Perkiraan tersebut telah banyak diuji dan dibuktikan dengan berbagai cara dan perlatan. Bounham (1965) dalam Mujiono (1988) yang melakukan penelitian pertumbuhan Tridacna gigasdengan menggunakan radioautografi mendapatkan bahwa kima yang berukuran 52 cm diperkirakan berumur 9 tahun. Rosewater (1965) yang melakukan pengamatan umur dan pertumbuhan Tridacna  gigas menyimpulkan bahwa pada ukuran 60 cm kima memiliki umur sekitar 12 tahun. Perason (1965) dalam Mujiono (1988) yang melakukan penelitian untuk jenis kima Tridacna gigas juga menyimpulkan bahwa pada saat kima memimiliki ukuran 50 cm, kima memiliki umur 10 tahun. Diperairan yang tidak mengalami polusi dan yang memiliki peetrasi sinar matahari yang cukup, kima raksasa (T. gigas) memiliki pertumbuhan 0,37 mm/hari (Munro dan Heslinga, 1983; Gomez dan Belda, 1988 dalam Elfwing, et al., 2002). Dari hasil penelitian-penelitian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa kima yang memilikii ukuran 100 cm mempunyai umur berkisar 100 tahun atau lebih. Gambar di bawah ini menunjukkan grafik pertumbuhan untuk beberapa jenis kima hasil penelitian.

Dari hasil monitoring restoking kima yang dilakukan di pulau Solomon, beberapa spesies dari genus Tridacna memilki kecepatan tumbuh yang berbeda-beda. Tridacna deras memiliki rata-rata pertumbuhan 5,0 – 7,5 mm/bulan yang tergantung dari umur spesies yang bersangkutan (Hart, et al., 1998). Sedangkan di daerah Philipina Tridacna derasa memilki pertumbuhan 3,4 – 4,2 mm/bulan (Gomez dan Mingoa, 1993 dalam Hart, et al., 1998). Tridacna maxima memilik pertumbuhan 78,4 mm per 19 bulan, sedangkan Tridacna crocea memiliki pertumbuhan 50,2 mm per 22 bulan (Hart, et al., 1998).  Tridacna squamosa di pulau Solomon memiliki pertumbuhan 4,0 – 7,2 mm/bulan (Foyle, 1997).

Berbagai aktivitas manusia yang kurang ramah lingkungan seperti pembuangan sampah sembarangan, pembuangan limbah yang tidak di treatment terlebih dahulu dan budidaya ikan yang tidak memperhatikan azas konservasi akan memberikan dampak yang negatif terhadap pertumbuhan kima. Dari hasil penelitian yang dilakukan di daerah Phillipina, kima yang tumbuh pada daerah yang mengalami polusi dan memiliki kekeruhan air yang tinggi mengalami penurunan berat tubuh dan panjang cangkang (Gambar 9)(Elfwing, et al., 2002). Selain itu pertumbuhan kima juga dapat menjadi berkurang dengan adanya ektoparasit yang menempel pad tubuh kima. Dengan adanya ektoparasit Turbonilla sp. pertumbuhan T. gigas yang ada di great barier reef berkurang 2,8 – 7 % dibandingkan bila tidak ada ektoparasit. Hal ini disebabkan karena Turbonilla sp ini akan menusukkan proboscisnya ketubuh kima, lalu menghisap nutrisi dan merusak jaringan dalam tubuh kima. Pada juvenil kima, Turbonillasp. dapat menyebabkan kematian (Boglio dan Lucas, 1997).

Beberapa penelitian yang  bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan kima dengan memberikan nutrisi ke zooxantella yang berasosiasi telah dilakukan, salah satunya yaitu dengan penambahan senyawa amonium ke dalam media treatment. Namun dari hasil penelitian ini, ternyata kima yang memiliki ukuran yang berbeda yang diberikan penambahan amonium tidak memberikan peningkatan hasil pertumbuhan yang

Kombinasi budidaya antara kima dan Troncus niloticus ternyata dapat meningkatkan pertumbuhan kedua molusca ini dalam media budidaya 10% lebih cepat dari normalnya. Hal ini disebabkan karena cara makan Troncus niloticus yang bersifat deposit feeder dapat membersihkan alga-alga yang menganggu kualitas air dalam media budidaya. Bagi kima sendiri keuntungan dari kombinasi ini adalah jumlah alga yang melekat di cangkang kima berkurang secara signifikan dan tempat hidup kima selalu dibersihkan oleh T. niloticus(Clarke, et al., 2003)

DAFTAR PUSTAKA

Boglio, E.C. dan J.S. Lucas. 1997. Impacts of ectoparasitic gastropods on growth, survival, and physiology of juvenile giant clams (Tridacna gigas), including a simulation model of mortality and reduced growth rate. Jurnal Aquaculuture Volume 150 : 25 – 43. www.elsevier.com/locate/aqua-online

Clarke, P.J., Toru K., Johann D.B., Ferral L., Cletus P.O. dan John L. 2003. Combined culture of Trochus niloticus and giant clams (Tridacnidae): benefits for restocking and farming. Jurnal Aquaculuture Volume 215 : 123 – 144. www.elsevier.com/locate/aqua-online

Duquesne, S.J. dan J.C. Coll. 1994. Metal accumulation in the clam Tridacna crocea under natural and experimental conditions. Jurnal Aquatic Toxicology Volume 32 : 239 – 253.

Elfwing, T., Eva B., Marilou S., dan Michael T. 2002.  A comparation between site of growth, physiological performance and stress respons in transplanted Tridacna gigas. Jurnal Aquaculuture Volume 219 : 815 – 828. www.elsevier.com/locate/aqua-online

Ellis, Simon. 1999. Lagoon Farming of Giant Clams (Bivalvia: Tridacnidae). Jurnal Center for Tropical and Subtropical Aquaculture Publication Number 139.

Foyle, T.P., Johann D.B., Mark G., dan Idris L. 1997. Survival and growth of juvenile fluted giant clams, Tridacna squamosa, in large-scale grow-out trials in the Solomon Islands. Jurnal Aquaculuture Volume 148 : 85 – 104. www.elsevier.com/locate/aqua-online

Gomez, E.D., dan Mingoa-Licuanan S.S. 2006. Achievements and lessons learned in restocking giant clams in the Philippines. Jurnal Fisheries Research Volume 80 : 46 – 52.

Grice, A.M. dan Bell J.D. 1999. Application of ammonium to enhance the growth of giant clams Tridacna maxima in the land-based nursery: effects of size class, stocking density and nutrient concentration. Jurnal Aquaculuture Volume 170 : 17 – 28. www.elsevier.com/locate/aqua-online

Hart, A.M., Johann D.B., dan Timothy P.F. 1998. Growth and survival of the giant clams, Tridacna derasa, T. maxima and T. crocea, at village farms in the Solomon Islands. Jurnal Aquaculuture Volume 165 : 203 – 220. www.elsevier.com/locate/aqua-online

http://zipcodezoo.com/Key/Animalia/Tridacnidae_Family.asp#Taxonomy. Diakses tanggal 1 Februari 2010.

http://www.fao.org/docrep/field/003/AC293E/AC293E06.htm. Diakses tanggal 1 Februari 2010.

http://www.flickr.com/photos/blupic/1818021583/. Diakses tanggal 1 Februari 2010.

http://www.nps.edu/News/ReadNews.aspx?id=3708&role=pao&area=media. Diakses tanggal 1 Februari 2010.

Mudjiono. 1988. Catatan Beberapa Aspek Kehidupan Kima, Suku Tridacnidae (Molusca, Pelecypoda). Jurnal Oseana, Volume XIII Nomor 2, 37-47.

Norton, J.H., H.C. Prior, B. Baillie, dan D. Yellowlees. 1995. Atrophy of the Zooxanthellal Tubular System in bleached Giant Clams Tridacna Gigas. Journal  of invertebrate Pathology Volume 66 : 307 – 310.

Richter, C., Hilly Roa-Quiaoit, Carin J., Mohammad Al-Zibdah dan Marc K. 2008. Collapse of a New Living Species of Giant Clam in the Red Sea. Jurnal Curent Biology Volume 18 : 1349 – 1354. www.elsevier.com/locate/aqua-online

Rosewater, J. 1965. The family Tridacnidae in the Indo – Pasific. Jurnal Mollusca Volume 1 : 347 -94.

Yusuf, Syafiudin. 2000. Pengembangan Kerang Raksasa (Tridacnidae): Upaya Perlindungan Jenis Dan Alternatif Income Masyarakat Pulau-Pulau Kecil. Makalah Disampaikan pada konperensi nasional II pengelolaan sumberdaya pesisir dan lautan Indonesia. Hotel Sahid : Makassar.