Anestesi umum
• Definisi : Hilangnya rasa sakit scr sentral disertai
hilangnya kesadaran (revesibel)
• I d e a l : Trias anestesi
1. Sedasi
2. Analgesi
3. Relaksasi
• Pemberian anestesi : 1. Absorbsi rektum
2. Parenteral ( IM & IV)
3. Inhalasi
Anestesi lokal ialah obat yang mampu menghambat konduksi saraf (terutama nyeri) secara reversibel pada bagian tubuh yang spesifik. Anestetika lokal yang ideal :
– tidak iritatif/merusak jaringan secara permanen
– batas kemanan lebar
– onset cepat
– durasi cukup lama
– larut air
– stabil dalam larutan
– dapat disterilkan tanpa mengalami perubahan

Anestetika lokal terdiri dari 3 bagian, gugus amin hidrofilik yang dihubungkan dengan gugus aromatik hidrofobik oleh gugus antara. Gugus antara dan gugus aromatik dihubungkan oleh ikatan amida atau ikatan ester. Berdasarkan ikatan ini, anestetika lokal digolongkan menjadi :
– senyawa ester (prokain, tetrakain,benzokain, kokain)
– senyawa amida (lidokain, dibukain,mepivakain, prilokain)

Mekanisme Kerja
Bekerja langsung pada sel saraf & menghambat kemampuan sel saraf mentransmisikan impuls melalui aksonnya. Target anestetika lokal adalah saluran Na+ yang ada pada semua neuron. Saluran Na+ bertanggung jawab menimbulkan potensial aksi sepanjang akson dan membawa pesan dari badan sel ke terminal saraf . Anestetika lokal berikatan secara selektif pada sal. Na+, sehingga mencegah terbukanya sal.
Kecepatan onset anestetika lokal ditentukan oleh:
– kadar obat dan potensinya
– jumlah pengikatan obat oleh protein dan pengikatan obat ke jaringan lokal
– kecepatan metabolisme
– perfusi jaringan tempat penyuntikan obat.

Administrasi inhalasi anestesi umum
1. Open method: Menggunakan schimmelbusch mask yang ditetesi agen anestesi (biasanya ether atau ethyl chloride). Digunakan untuk anestesi umum pada anak-anak.
2. Semi-open: Adanya katup yang mencegah rebreathing (terhirupnya kembali udara yang dihembuskan) sehingga anestesi yang dihirup tidak tercampur karbondioksida.
3. Semi-closed: Kadang terjadi rebreathing namun anestesi baru terus diberikan.
4. Closed: Respirasi pasien dikontrol secara total. Pasien menghirup agen anestesi yang dicampur dengan oksigen dan karbondioksida yang dikeluarkan dihilangkan/diserap dengan soda lime

Farmakodinamik
Onset, intensitas, dan durasi blokade saraf ditentukan oleh ukuran dan lokasi anatomis saraf. Saluran Na+ penting pada sel otot yang bisa dieksitasi seperti jantung. Efeknya terhadap saluran Na+ jantung adalah dasar terapi anestetika lokal dalam terapi aritmia tertentu (biasanya yang dipakai lidokain). Anestetika lokal umumnya kurang efektif pada jaringan yang terinfeksi dibanding jaringan normal, karena biasanya infeksi mengakibatkan asidosis metabolik lokal, dan menurunkan pH.
Efek Samping
Efek sistem saraf pusat : depresi, stimulasi, atau keduanya, tergantung jalur saraf yang dipengaruhi anestetika lokal.
Overdosis anestetika lokal dapat menyebabkan :
– penurunan transmisi impuls pada neuromuscular junction dan sinaps ganglion
– mengakibatkan kelemahan dan paralisis otot.
Cara Pemberian
Anestetika lokal dapat diberikan dengan cara :
• Anestesi permukaan
• Anestesi infiltrasi
• Anestesi blok
– Anestesi spinal
– Anestesi epidural
– Anestesi kaudal

Anestesi local tipe Amida
Farmakokinetik :Masa kerja relative panjang . Lidakain Prilokain Metavakain efektif selama 60-120 menit, Etidokain dan Bipivakain sampai 400 menit. Seperti anestesi local jenis ester, derivate amida juga masuk kedalam pembuluh darah, tetapi peruraiannya jauh, tidak terjadi di dalam darah melainkan di dalam sel-sel hati.
Efek samping sistemik : Disebabkan oleh absorbs yang terlalu cepat (efek vasodilatator), dan dosis yang terlalu tinggi atau injeksi i.v.ansidental.
>Pada jantung : efek kronotop ,inotrop, dronotop dan batmotropnegetif
Hambatan pada pembentukan dan konduksi rangsang , pengurangan tenagakontraksi
Brandikardi ,blok AV, henti ventriel
>Reaksi alergi : Lebih sering pada anestetik local tipe esterkarena gugus amino pada posisi P  alergi pala (Resiko alergi lebih tingggi pada derivate amida.
Toksistas Lokal
Toksisitas lokal terjadi pada tempat suntikan berupa edema. Abses nekrosis dan gangrene. Komplikasi infeksi hamper selalu disebabkan oleh kelalaian tindakan asepsis dan antisepsis. Iskemia jaringan dan nekrosis disebabkan karena penambahan vasokonstriktor yang disuntikan pada daerah end arteri.
 Toksisitas bergantung pada :
1. Jumlah larutan yang disuntikan
2. Konsentrasi obat
3. Ada tidak nya adrenalin
4. Vaskularisasi tempat suntikan
5. Absorbsi obat
6. Laju destruksi obat
7. Hipersesitivitas
8. Usia
9. Keadaan umum
10. Berat badan
Toksisitas anestesi lokal
 Efek samping terhadap Sistem Tubuh
1. Pada sistem Kardiovaskuler
a. Depresi automatitis miokard
b. Depresi kontraktilitas miokard
c. Dilatasi arterior
d. Dosis yang besar dapat menyebabkan distritmia/kolaps sirkulasi
2. Pada sistem Pernapasan
Relaksasi otot polos bronkus napas berhenti akibat paralise saraf frenikus. Paralise interkostal atau depresi langsung pada pusat pengaturan napas.
3. Pada system saraf pusat (SSP)
SSP rentanterhadap toksisitas anestesi lokal, dengan tanda – tanda awal diantara nya : parestesia lidah, pusing, kepala terasa ringan, tinnitus, pandangan kabur, agitasi, depresi pernapasan, tidak sadar, konvulsi dan koma.
4. Terhadap Imunologi
Golongan dari ester dapat menyebabkan reaksi alergiyang lebih sering, karena golongan dariester merupkan derivate para-amino-benzoid acid (PABA) yang dikenal sebagai allergen.
5. Terhadap sistem musculoskeletal
Bersifat miotoksik. Tambahan adrenalin bias berisiko terhadap kerusakan saraf. Regenarasinya dalam waktu 3-4 minggu.
 Penanganan reaksi toksik dari anestesi lokal
• Hal yang aling utama adalah menjamin oksigen adekuat dengan pernapasan buatan menggunakan oksigen.
• Tremor atau kejang diatasi dengan pemberian dosis kecil “short acting barbiturate” seperti diazepam (valium) 5-10 mg intravena.
• Depresi sirkulasi diatasi dengan pemberian vasopressor secara bolus dilanjutkan dengan drip dalam infus (efedrin, nor adrenalin, dopamine, dsb).
• Bila dicurigai adanya henti jantung (cardiac arrest) reusitasi jantung paru harus segera dilakukan.
Aplikasi anestesi local dan umum dalam kedokteran gigi
Anestesi lokal secara umum diindikasikan pada pencabutan dan preparasi kavitas gigi.Beberapa tipe anestesi lokal antara lain anestesi topical digunakan untuk mengurangi rasa sakitsewaktu penetrasi jarum pada mukosa mulut, insisi abses, pasien yang sangat sensitif saatmencetak rahang, dan mengurangi nyeri pascaoperatif. Anestesi infiltrasi digunakan untuk gigisusu rahang atas/bawah, gigi permanen rahang atas dan gigi anterior rahang bawah. Infiltrasi 0,5-1,0 mllarutan anestesi lokal cukup untuk menganestesi pulpa dari kebanyakan gigi anak. Penyuntikanharus dilakukan dengan hati-hati untuk menghindari kesalahan insersi jarum yang terlalu dalamke jaringan. Anestesiblok digunakan untuk gigi posterior rahang atas/bawah, perawatan yang melibatkan lebih darisatu gigi dan perawatan endodontik. Anestesi intraligamen digunakan untuk prosedurperawatan multikuadran, prosedur perawatan gigi tunggal, perawatan endodontik danperiodontal.

DAFTAR PUSTAKA
Schmitz,Gery; Lapper,Hans;Heidrich,Michael.2003.Farmakologi dan toksikologi EDISI KETIGA . Jakarta : EGC
www.scribd.com › School Work › Homework diambil pada minggu 29 april jam 11:16
Pennington, G. W., Calvey, T. N.(1969). Dental Pharmacology Second Edition. Oxford and Edinburgh: BlackwellScientificPublications

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *