ANALISIS BUKU
“APAKAH ANAK KITA AUTIS?”

Disusun Oleh :
Dosbiner
[1115051006]

PSIKOLOGI PENDIDIKAN’05
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
2007
Judul Buku : Apakah Anak Kita Autis?
Pengarang : Dr. Hardiono D. Pusponegoro, Sp.A(K)
Tahun Terbit : 2007

Resume:
PENTING SEKALI DIPERHATIKAN
Keluhan orang tua
• Terlambat bicara
• Tidak mau menengok bila dipanggil
• Tidak bias main bersama temannya
• Bicaranya aneh
• Tidak mau diam
• Tidak mau menatap bila diajak berbicara
Hal-hal penting yang dapat dilihat oleh dokter
• Tepuk-tepuk tangan sendiri
• Menggigit-gigit jarinya sendiri
• Menarik-narik rambut sendiri
• Melakukan gerakan berputar berulang-ulang
• Melakukan aktivitas yang sama berulang-ulang, itu-itu saja
• Mengantuk tanpa alas an yang jelas
• Membentur-benturkan kepalanya sendiri
Dijumpai gejala-gejala tersebut diatas pada seorang anak, mungkin benar diagnosisnya adalah autis.

AUTIS MERUPAKAN KELAINAN PERKEMBANGAN ANAK
Autis adalah kelainan perkembangan anak yang masuk dalam kelompok Pervasive Developmental Disorder (PDD).
 PDD merupakan kelompok kelainan perkembangan pada anak yang sifatnya luas dan kompleks, mencakup aspek interaksi social, kognisi, bahasa dan motorik.
 Selain autis, yang termasuk ke dalam kelompok PDD adalah:
­ Asperger syndrome
­ PDD-NOS (Not Otherwise Specified)
­ Rett’s syndrome
­ Childhood Disintegrative Disorder (CDD)
Penting sekali keakuratan diagnosis yang dibuat oleh dokter, karena menentukan prognosis penderita dikemudian hari.

Asperger Syndrome (High Functioning Autism)
Salah satu bentuk Pervasive Developmental Disorder (POD) dimana penderitanya memberikan gambaran klinis yang mirip autis, seperti gangguan interaksi social, minat, aktivitas terbatas tetapi tidak disertai dengan keterlambatan perkembangan bahasa serta tidak didapatkan gangguan kognitif.
Beberapa keadaan yang dapat dijumpai pada penderita Asperger Syndrome:
 Dapat mengenali huruf-huruf alphabet pada usia 3 tahun
 Penderita dapat mengenali bermacam-macam tipe/merek mobil pada usia 4 tahun
 Dapat membaca sebelum usia 5 tahun
 Dapat menyebutkan bermacam-macam logo, missal: logo stasiun TV, logo merek mobil, logo bank, perusahaan penerbangan, dan lain-lain.

Pervasive Developmental Disorder-Not Otherwise Specified (PDD-NOS)
Disebut juga autis atipikal atau dulu disebut MSDD (Multi System Developmental Disorder) istilah yang mulai ditinggalkan. Beberapa gejala tampak mirip seperti penderita autis tetapi tidak lengkap memenuhi criteria diagnostic autis, seperti yang tercantum dalam criteria DSM IV. Intervensi terapi, seperti terapi perilaku dan terapi sensori integrasi memberikan hasil yang baik.

Rett’s Syndrome
Merupakan kelainan genetik, bersifat x-linked recessive, hanya dijumpai pada anak perempuan. Awalnya anak berkembang normal kemudian mengalami kemunduran pada sekitar usia 16-18 bulan dalam hal berbahasa, interaksi social, kognisi, dan timbul gerakan-gerakan stereotipik (berulang-ulang) pada jari-jari tangannya. Tangan penderita tampak seperti memilin-milin sesuatu, bertepuk tangan, atau menempel kemulut. Secara fisik, ukuran lingkar kepala lebih kecil dari normal atau disebut mikrosefali. Pada umumnya dijumpai epilepsy pada penderita Rett’s Syndrome.

Childhood Disintegrative Disorder (CDD)
Kelainan perkembangan ini mirip dengan Rett’s Syndrome, tetapi dapat dijumpai pada anak laki-laki dan perempuan. Perkembangan anak pada awalnya normal, kemudian mengalami kemunduran dalam hal berbahasa, social adaptif, perilakunya mirip penderita autis, dapat dijumpai mulai usia 2 tahun. Paling sering kemunduran terjadi pada usia 8tahun. Ukuran lingkaran kepala anak normal dan tidak dijumpai epilepsy pada penderita ini.

BAGAIMANA CARA MENGENALI ANAK AUTIS?
Orang tua yang memiliki anak autis sering menyampaikan keluhan kepada professional (dokter, dokter spesialis anak, dokter spesialis saraf anak, psikiater anak, psikolog) yang memeriksa anaknya dengan keluhan sebagai berikut:
1. Anak terlambat berbicara
2. Tidak mau menengok bila dipanggil
3. Tidak bias ikut bermain bersama teman sebayanya
4. Berbicara dengan bahasa yang tidak kita mengerti (sering diistilahkan bahasa planet)
5. Anak tidak mau diam (sering disebut anak hiperaktif)
6. Tidak mau menatap lawan bicaranya
7. Bila diperhatikan dan ini biasanya juga terlihat oleh professional yang memeriksanya, anak tampak melakukan gerakan tepuk tangan berulang-ulang, membuat gerakan tangan seperti dikepak-kepak (flapping)
8. Anak menarik-narik rambutnya sendiri berulang-ulang
9. Menggigit-gigit jarinya sendiri
10. Melakukan gerakan memutar-mutar tubuh berulang-ulang (spin)
11. Melakukan aktivitas yang sama berulang-ulang dalam waktu yang cukup lama, misalnya memutar-mutar roda mainan mobil-mobilan.
12. Bila ada keinginan yang tidak terpenuhi anak akan mengamuk, dapat berguling-guling dilantai atau bahkan membentur-benturkan kepala sendiri ke dinding/lantai secara berulang-ulang.
Keluhan dan gejala-gejala tersebut dapat membantu kita untuk mengenali kemungkinan seorang anak menderita autis. Seperti telah dijelaskan sebelumnya, autis sebenarnya merupakan kelainan perkembangan yang termasuk kedalam kelompok Pervasive Developmental Disorder (PDD).
Untuk membuat diagnosis autis, criteria yang digunakan para professional sampai saat sekarang adalah kriteria Diagnostic and Statistical of Manual Mental Disorder. Kriteria ini menguraikan gangguan yang dapat ditemukan pada seorang anak penderita autis, yaitu:
1. Gangguan komunikasi verbal – non verbal
2. Gangguan interaksi sosial
3. Gangguan perilaku dan bermain berupa gerakan-gerakan stereotipik, minat dan aktivitas anak yang terbatas.

GEJALA-GEJALA AUTIS
Gangguan dalam bidang komunikasi verbal maupun non-verbal
 Terlambat bicara atau tidak dapat berkomunikasi
 Mengeluarkan kata-kata yang tidak dapat dimengerti orang lain yang sering disebut sebagai bahasa planet
 Tidak mengerti dan tidak mengeluarkan kata-kata dalam konteks yang sesuai (Gangguan bahasa ekspresif dan reseptif)
 Bicara tidak digunakan untuk komunikasi
 Meniru atau membeo (ekolalia). Beberapa anak sangat pandai menirukan nyanyian, nada maupun kata-katanya, tanpa mengeti artinya
 Kadang bicaranya monoton seperti robot
 Mimik datar
Gangguan dalam bidang interaksi social
 Menolak atau menghindar untuk bertatap mata
 Tidak menoleh bila dipanggil. Karena hal ini, sering diduga bahwa anak mengalami ketulian
 Merasa tidak senang dan menolak bila dipeluk
 Tidak ada usaha untuk melakukan interaksi dengan orang lain
 Bila ingin sesuatu, ia menarik tangan orang yang terdekat dan mengharapkan tangan tersebut melakukan sesuatu untuknya
 Bila didekati untuk bermain justru menjauh
 Tidak berbagi kesenangan untuk orang lain
Gangguan dalam bidang perilaku dan bermain
Umumnya ia seperti tidak mengerti cara bermain. Bermain sangat monoton, stereotipik. Bila sudah senang dengan satu mainan tidak mau mainan yang lain dan cara bermainnya juga aneh. Yang paling sering adalah keterpakuan pada roda atau sesuatu yang berputar.

Gejala-gejala Lain Autis
 Tidak ada atau kurang rasa empati, misalnya melihat anak menangis ia tidak merasakan kasihan tetapi justru merasa terganggu dan anak yang sedang menangis tersebut mungkin akan didatangi dan dipukulinya.
 Tertawa-tawa sendiri, menangis atau marah-marah tanpa sebab yang nyata
 Sering mengamuk tak terkendali (temper tantrum), terutama bila tidak mendapatkan yang diinginkannya, ia bahkan bias menjadi agresif (menyerang) dan destruktif (merusak)
Gangguan dalam persepsi sensoris
 Mencium-cium atau menjilati benda apa saja
 Bila mendengar suara keras langsung menutup telinga
 Tidak menyukai rabaan atau pelukan. Bila digendong cenderung merosot untuk melepaskan diri
 Merasa sangat tidak nyaman bila memakai pakaian dari bahan tertentu.

Pembanding:

Menurut sumber dari website “http://kharisma.de/files/kegiatan/makalah%20dy_seputar%20autisme.pdf” dijelaskan bahwa:
Istilah Autisme berasal dari kata “Autos” yang berarti diri sendiri “Isme”yang berarti suatu aliran. Berarti suatu paham yang tertarik hanya pada dunianya sendiri.
Autistik adalah suatu gangguan perkembangan yang kompleks menyangkut komunikasi,interaksi sosial dan aktivitas imajinasi. Gejalanya mulai tampak sebelum anak berusia 3 tahun. Bahkan pada autistik infantil gejalanya sudah ada sejak lahir. Diperkirakan 75%-80% penyandang autis ini mempunyai retardasi mental, sedangkan 20% dari mereka mempunyai kemampuan yang cukup tinggi untuk bidang-bidang tertentu.
Anak penyandang autistik mempunyai masalah/gangguan dalam bidang :
1. Komunikasi
2. Interaksi sosial
3. Gangguan sensoris
4. Pola bermain
5. Perilaku
6. Emosi

Dalam buku “Autisme pemahaman baru untuk hidup bermakna bagi ortu” dijelaskan bahwa:
Penderita Autisme biasanya dirawat dan disekolahkan dalam sekolah khusus anak autisme. Meskipun anak autis tidak bisa disembuhkan secara sempurna, namun anak tersebut dapat dilatih agar mampu hidup mandiri. Pendidikan yang diberikan pada sekolah khusus tersebut umumnya menekankan pada pemberian stimulasi melalui terapi – terapi (psikoterapi) sehingga anak dapat mengadakan kontak sosial dan mengurangi atau menghilangkan perilaku yang abnormal. misalnya dengan teori penguatan perilaku yaitu memberikan sesuatu yang disukai anak (buku puzzle) dengan syarat dia mau bergabung kembali dengan kelasnya, ataupun Guru jika di sekolah yang mengingatkan anak untuk menatap matanya. Keluarga juga sangat berperan dalam melakukan terapi perilaku. Kesabaran dan ketekunan orang tua untuk berusaha menerima dan memberi stimulasi dengan kata – kata, ataupun dengan memberikan kasih sayang seperti selalu memeluk anak sampai tertidur.
Umumnya terapi – terapi yang digunakan disesuaikan dengan tingkat keparahan gejala-nya, beberapa jenis terapi yang biasa diberikan pada penderita autisme yaitu:
-Terapi Edukasi,
Dengan memberinya pendidikan kognitif secara sederhana dan praktis seperti membaca, menulis atau mengenalkan benda tertentu, anak diberi kumpulan kartu yang berisi gambar dan nama – nama orang disekitarnya, serta hal – hal yang perlu diperhatikan, misalnya gambar oven dengan tulisan hati – hati ini panas atau jangan bicara dengan orang asing.
– Terapi Okupasi
yaitu dengan melatih gerakan motorik otot – ototnya, misalnya dengan melepas baju, atau menaruh tas. misal melatih anak membuat minuman sendiri, yaitu membuka bungkus minuman, lalu mengaduknya, walaupun anak belum bisa mengambil sendiri jenis minuman tersebut.
-Terapi Bicara,
yaitu pemberian stimulus tertentu yang mendorong anak untuk berbicara. Contohnya tiap kali pulang dan masuk rumah selalu berkata “Mami, saya sudah pulang”, tidak peduli ada atau tidak ibunya di tempat itu.
-Terapi obat-obatan, yaitu dengan memberikan obat yang menurunkan hiperaktifitas, sterotipik, menarik diri, kegelisahan, dan afek yang labil. Contohnya obat penenang (sesuai dosis)
-Terapi Makanan,
yaitu dengan memberikan gizi yang cukup pada makanan-nya agar perkembangan sel tubuh tidak terganggu.
Autisme memang tidak dapat disembuhkan secara total, namun demikian diharapkan semakin dini dalam penanganan penderita autisme semakin besar kesempatannya untuk dapat berperilaku normal, mandiri dan mampu menyesuaikan diri terhadap lingkungan sekitarnya.

Dalam buku “How to Live With Autism and Asperger Syndrome” menjelaskan bahwa:
Autisme adalah : neurodevelopmental disorder that manifests itself in markedly abnormal social interaction, communication ability, patterns of interests, and patterns of behavior.
“Cacat pada perkembangan syaraf & psikis manusia, baik sejak janin dan seterusnya; yang menyebabkan kelemahan/perbedaan dalam berinteraksi sosial, kemampuan berkomunikasi, pola minat, dan tingkah laku”.
Autisme cukup luas dan mencakup cukup banyak hal. Ciri-ciri autisme ada banyak dan kebanyakan penderita autisme hanya menderita sebagiannya saja.
Penderita autisme cukup banyak yang ternyata malah menjadi sukses dalam hidupnya Penderita autis banyak yang menjadi pakar pada bidang sains, matematika, komputer, dan lain-lainnya.
Orang tua dapat sangat membantu mengarahkan anak autis untuk mengeksploitasi kelebihan-kelebihannya (seperti: kemampuan untuk fokus & konsentrasi yang luar biasa), dan melatih mereka untuk memperbaiki berbagai kelemahan-kelemahannya.

Dalam website
“http://www.sabda.org/c3i/kategori/anak-parenting/isi/?id=623&mulai=0” dijelaskan bahwa:
Untuk memeriksa apakah seorang anak menderita autis atau tidak, digunakan standar internasional tentang autis. ICD-10 (International Classification of Diseases) 1993 dan DSM-IV (Diagnostic and Statistical Manual) 1994 merumuskan kriteria diagnosis untuk Autis Infantil yang isinya sama, yang saat ini dipakai di seluruh dunia. Kriteria tersebut adalah:
Untuk hasil diagnosa, diperlukan total 6 gejala (atau lebih) dari no. (1), (2), dan (3), termasuk setidaknya 2 gejala dari no. (1) dan masing-masing 1 gejala dari no. (2) dan (3).
1. Gangguan kualitatif dalam interaksi sosial yang timbal balik. Minimal harus ada dua dari gejala-gejala di bawah ini:
o Tak mampu menjalin interaksi sosial yang cukup memadai: kontak mata sangat kurang, ekspresi muka kurang hidup, gerak- gerik kurang tertuju.
o Tidak bisa bermain dengan teman sebaya.
o Tak ada empati (tak dapat merasakan apa yang dirasakan orang lain).
o Kurang mampu mengadakan hubungan sosial dan emosional yang timbal balik.
2. Gangguan kualitatif dalam bidang komunikasi. Minimal harus ada satu dari gejala-gejala di bawah ini:
o Perkembangan bicara terlambat atau sama sekali tak berkembang. Anak tidak berusaha untuk berkomunikasi secara non-verbal.
o Bila anak bisa bicara, maka bicaranya tidak dipakai untuk berkomunikasi.
o Sering menggunakan bahasa yang aneh dan diulang-ulang.
o Cara bermain kurang variatif, kurang imajinatif, dan kurang dapat meniru.
3. Adanya suatu pola yang dipertahankan dan diulang-ulang dalam perilaku, minat, dan kegiatan. Minimal harus ada satu dari gejala di bawah ini:
o Mempertahankan satu minat atau lebih dengan cara yang sangat khas dan berlebihan.
o Terpaku pada suatu kegiatan yang ritualistik atau rutinitas yang tidak ada gunanya.
o Ada gerakan-gerakan aneh yang khas dan diulang-ulang.
o Seringkali sangat terpukau pada bagian-bagian benda.
Sebelum umur 3 tahun tampak adanya keterlambatan atau gangguan dalam bidang:
a. interaksi sosial,
b. bicara dan berbahasa,
c. cara bermain yang monoton, kurang variatif.
Autis bukan disebabkan oleh Sindroma Rett atau Gangguan Disintegratif Masa Kanak. Namun, kemungkinan kesalahan diagnosis selalu ada, terutama pada autis ringan. Hal ini biasanya disebabkan karena adanya gangguan atau penyakit lain yang menyertai gangguan autis yang ada, seperti retardasi mental yang berat atau hiperaktivitas.
Autis memiliki kemungkinan untuk dapat disembuhkan, tergantung dari berat tidaknya gangguan yang ada. Berdasarkan kabar terakhir, di Indonesia ada 2 penyandang autis yang berhasil disembuhkan, dan kini dapat hidup dengan normal dan berprestasi. Di Amerika, dimana penyandang autis ditangani secara lebih serius, persentase kesembuhannya lebih besar.

Dalam buku “Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus Autistik” menjelaskan bahwa:
Banyak sekali definisi yang beredar tentang Autis. Tetapi secara garis besar, Autis, adalah gangguan perkembangan khususnya terjadi pada masa anak-anak, yang membuat seseorang tidak mampu mengadakan interaksi sosial dan seolah-olah hidup dalam dunianya sendiri. Pada anak-anak biasa disebut dengan Autis Infantil.
Schizophrenia juga merupakan gangguan yang membuat seseorang menarik diri dari dunia luar dan menciptakan dunia fantasinya sendiri: berbicara, tertawa, menangis, dan marah-marah sendiri.
Tetapi, ada perbedaan yang jelas antara penyebab dari Autis pada penderita Schizophrenia dan penyandang Autis Infantil. Schizophrenia disebabkan oleh proses regresi karena penyakit jiwa, sedangkan pada anak-anak penyandang Autis Infantil terdapat kegagalan perkembangan.
Gejala Autis Infantil timbul sebelum anak mencapai usia 3 tahun. Pada sebagian anak, gejala-gejala itu sudah ada sejak lahir. Seorang ibu yang sangat cermat memantau perkembangan anaknya sudah akan melihat beberapa keganjilan sebelum anaknya mencapai usia 1 tahun. Yang sangat menonjol adalah tidak adanya atau sangat kurangnya tatap mata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *