Jumat ini bertepatan dengan sebuah sejarah penting dalam kehidupan umat Islam. Dalam catatan sejarah, terutama jika menggunakan kalender hijriyah, hari ini adalah hari lahir nabi Muhammad saw.
Seperti yang kita tahu, beliau lahir bertepatan dengan penyerangan Kabah oleh pasukan gajah. Sehingga tahun itu disebut dengan tahun gajah. Peristiwa penyerangan itu diabadikan dalam Alquran surat Al-Fill ayat 1 sampai 5:
Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah. Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka’bah) itu sia-sia? Dan Dia mengirimkan kapada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat).
Dalam perjalanan selanjutnya, setelah melewati berbagai macam kisah, maka Rasulullah melaksanakan hijrah. Peristiwa hijrah inilah yang dijadikan standar penanggalan Islam. Dengan penanggalan inilah umat Islam melaksanakan ibadahnya dengan lebih teratur dan juga adil.
Misalnya saja untuk aturan berpuasa. Secara konstan, berpuasa Ramadhan akan dilaksanakan pada tanggal sekian hingga tanggal sekian. Dengan menggunakan kalender hijriyah, maka umat Islam di seluruh penjuru dunia akan bisa merasakan berpuasa di berbagai cuaca. Ini menjamin rasa keadilan dengan bangsa di negara lain yang sama-sama menjalankan puasa.
Tapi ada hal yang lebih penting lagi, yaitu kita haurs terbiasa memperhatikan firman-firman Allah dalam Alquran. Karena itu semua adalah pedoman kita sebagai umat Islam. Apalagi jelas setelah Alquran turun dengan sempurna, maka Allah tidak menurunkan wahyu apapun lagi bagi kita umat Islam. Oleh karena itu, Alquran sudah sempurna menjadi petunjuk dalam menjalani kehidupan.
Salah satu ayat yang bisa kita cermati antara lain surat Al Imran ayat 136:
Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.
Dari ayat ini, terlihat janji Allah untuk memberikan pahala berupa ampunan bagi orang-orang yang berbuat baik dan menjalankan perintah-Nya, sekalipun orang itu banyak berbuat dosa. Sebab kalau kita pahami bahwa sebenarnya dosa dan kesalahan itu wajar terjadi. Tetapi yang terpenting, bagaimana kita menyadari dosa dan kesalahan itu kemudian mengakuinya dan mohon ampun serta tunduk di hadapan Allah SWT.

Atau bisa juga kita lihat surat Al Qashash ayat 77 berikut:
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.
Dari ayat ini, kita bisa melihat konsep Islam tentang kebahagiaan dunia dan akhirat. Siapa yang tidak menginginkan kebahagiaan dunia dan akhirat? Kita semua tentu menginginkannya. Hanya yang perlu untuk kita pertanyakan, bagaimana cara untuk meraih keduanya.
Sementara, kita yakini bersama bahwa Islam adalah agama yang ajarannya universal (menyeluruh). Islam satu-satunya agama yang mendapatkan legitimasi (pengakuan) dari Sang Pemiliknya, yaitu Allah swt.
Islam adalah agama yang rahmatan lil alamiin. Tidak didapatkan satu ajaran pun dalam Islam yang merugikan para pemeluknya, tidak ditemukan satu prinsip pun dalam Islam yang mencelakakan para penganutnya. Tetapi pada kenyataannya, banyak kalangan yang hanya menitikberatkan perhatiannya pada dunia dan bagaimana cara untuk mendapatkannya.
Demikianlah inti-inti dari ayat Alquran yang harus kita cermati. Sebab dengan berbuat demikian, tentu kita akan mendapat petunjuk bagaimana cara menjalani hidup ini dengan sempurna sesuai kehendak Allah.
Disarikan dari Ceramah Jumat, 26 Februari 2010 oleh Prof. Dr. Salim Umar.