Accelerated Learning adalah pembelajaran yang alami, yang didasarkan pada cara orang belajar secara alamiah. Accelerated Learning adalah filosofi kehidupan dan pembelajaran terpadu. Oleh karenanya, Accelerated Learning merupakan pandangan yang sama sekali baru yang mengupayakan demekanisasi (tak berlangsung secara mekanis) dan membuat belajar menjadi manusiawi kembali, serta menempatkan pembelajar (bukan guru, bukan materi, bukan presentasi) tepat di pusat.

Accelerated Learning tidak memandang program belajar sebagai propaganda atau indoktrinasi, atau pengondisian, atau “pelatihan” stimulus/respon, melainkan sarana untuk mengasuh kehidupan dan kecerdasan serta membangkitkan semangat sepenuhnya dalam diri pembelajar.

Praktisi Accelerated Learning mengiginkan agar pembelajar mengalami kegembiraan belajar sebab mereka tahu betapa pentingnya itu. Kegembiraan bukan berarti menciptakan suasana ribut dan hura – hura. Namun kegembiraan ini berarti bangkitnya minat, adanya keterlibatan penuh, dan terciptanya makna, pemahaman, nilai yang membahagiakan pada diri si pembelajar.

Tujuan Accelerated Learning, adalah :

  • Menggugah sepenuhnya kemampuan belajar para siswa
  • Membuart belajar menyenangkan dan memuaskan bagi mereka
  • Memberikan sepenuhnya pada kebahagiaan, kecerdasan, kompetensi, dan keberhasilan mereka sebagai manusia

Accelerated Learning berakar dari penelitian Georgi Lozanov yang berbicara tentang “cadangan pikiran”. Dia menyatakan bahwa kesadaran rasional hanyalah seperti puncak gunung es jika dibandingkan dengan kapasitas mental penuh seseorang. Orang belajar, katanya, pada banyak tingkatan secara simultan, dan sebagian besar bersamaan dengan proses kesadaran rasional kognitif dan verbal.

Proses belajar/mengajar adalah fenomena yang kompleks. Segala sesuatunya berarti. Setiap kata, pikiran, tindakan, dan asosiasi-dan sampai sejauh mana guru mengubah lingkungan, presentasi dan rancangan pengajaran, sejauh itu pula proses belajar berlangsung.

Penelitian sekarang menunjukkan bahwa orang belajar melalui seluruh tubuh dan seluruh pikiran secara verbal, nonverbal, rasional, emosional, fisik, intuitif-pada saat bersamaan.

Inilah sebabnya belajar secara simultan dengan cara menerjunkan diri ini jauh lebih unggul dari pada mempelajari satu hal sedikit demi sedikit secara berturut – turut di luar jalur dan di luar konteks.

Prinsip – prinsip dasar dalam Accelerated Learning, antara lain:

Belajar melibatkan seluruh pikiran dan tubuh

Belajar tidak hanya menggunakan “otak” (sadar, rasional, memakai “otak kiri”, dan verbal) tetapi juga melibatkan seluruh tubuh/pikiran dengan segala emosi, indra, dan sarafnya.

Belajar adalah berkreasi, bukan mengonsumsi

Pengetahuan bukanlah sesuatu yang diserap oleh pembelajar, melainkan sesuatu yang di ciptakan pembelajar. Pembelajaran terjadi ketika seorang pembelajar memadukan pengetahuan dan keterampilan baru ke dalam struktur dirinya sendiri yang telah ada.

Kerjasama membantu proses belajar

Semua usaha belajar mempunyai landasan sosial. Seseorang biasanya belajar lebih banyak berinteraksi dengan kawan – kawannya daripada yang dia pelajari dengancara lain manapun. Suatu komunitas belajar selalu lebih baik hasilnya dari pada beberapa individu yang belajar sendiri – sendiri.

Pembelajaran berlangsung pada banyak tingkatan secara simultan

Belajar bukan hanya neyerap satu hal kecil pada satu waktu secara linear, melainkan menyerap banyak hal sekaligus. Pembelajaran yang baik melibatkan orang pada banyak tingkatan secara simultan (sadar dan bawah sadar, mental dan fisik) dan memanfaatkan seluruh saraf reseptor, indra, jalan dalam system total otak/tubuh seseorang.

Belajar berasal dari mengerjakan pekerjaan itu sendiri (dengan umpan balik)

Belajar paling baik adalah belajar dalam konteks. Pengalaman yang nyata dan konkret dapat menjadi guru yang jauh lebih baik daripada sesuatu yang hipotetis dan abstrak-asalkan di dalamnya tersedia peluang untuk terjun langsung secara total, mendaptkan umpan balik, merenung, dan menerjunkan diri kembali.

Emosi positif sangat membantu pembelajaran

Perasaan menentukan kualitas dan kuantitas belajar seseorang. Perasaan negative menghalangi belajar. Perasaan positif mempercepatnya.

Otak citra menyerap informasi secara langsung dan otomatis.

Sistem saraf manusia lebih merupakan prosesor citra daripada prosesor kata. Gambar konkret jauh lebih mudah ditangkap dan disimpan daripada abstraksi verbal. Mnerjemahkan abstraksi verbal menjadi berbagai jenis gambar konkret akan membuat abstraksi verbal itu lebih cepat dipelajari dan lebih mudah diingat.

Beberapa asumsi pokok Accelerated Learning, antara lain:

Linkungan belajar yang positif

Siswa. dapat belajar paling baik dalam lingkungan fisik, emosi, dan social positif, yaitu lingkungan yang tenang sekaligus menggugah semangat. Adanya rasa keutuhan, keamanan, minat, dan kegembiraan sangat penting untuk mengoptimalkan pembelajaran siswa.

Keterlibatan pembelajar sepenuhnya

Siswa dapat belajar paling baik jika dia terlibat secara penuh dan aktif serta mengambil tanggung jawab penuh ata belajarnya sendiri. Pengetahuan bukan sesuatu yang diserap secara pasif oleh seorang pelajar, melainkan sesuatu yang diciptakan secara aktif oleh pelajar.

Kerja sama diantara pembelajar

Siswa biasanya belajar paling baik dalam lingkungan kerja sama. Accelerated Learning menekankan kerja sama di antara pembelajar dalam suatu lomunitas belajar.

Variasi yang cocok untuk semua gaya belajar

Siswa dapat belajar paling baik jika dia mempunyai banyak variasi pilihan belajar yang memungkinkannya untuk memanfaatkan seluruh indranya dan menerapkan gaya belajar yang disukainya.

Belajar kontekstual

Siswa dapat belajar paling baik dalam konteks. Fakta dan keterampilan yang dipelajari secara terpisah itu sulit diserap dan cenderung cepat menguap. Belajar yang paling baik bias dilakukan dengan mengerjakan pekerjaan itu sendiri dalam proses penyelaman ke “dunia-nyata” terus menerus, umpan balik, perenungan, evaluasi, dan penyelaman kembali.

Secara teknik, terdapat tahapan-tahapan yang harus dilalui dalam mengoperasikan model pembelajaran Accelerated Learning. Diantara tahapan-tahapan tersebut adalah:

  • Teknik Persiapan

Tahap persiapan berkaitan dengan mempersiapkan peserta didik untuk belajar. Ini adalah langkah penting dalam belajar. Tanpa itu, pembelajaran akan lambat dan bahkan bisa berhenti sama sekali. Tujuan tahap persiapan adalah menimbulkan minat para peserta didik, menciptakan peserta didik aktif yang tergugah untuk berpikir, belajar, mencipta, dan tumbuh, mengajak orang keluar dari keterasingan dan masuk kedalam komunitas belajar, dan menyingkirkan rintangan belajar, seperti tidak merasakan adanya manfaat pribadi, tidak peduli dan benci pada topik pelajaran, merasa sangat bosan dan lain sebagainya.

Semua rintangan ini dan yang lainnya dapat menyebabkan stres, dan kemrosotan tajam dalam kemampuan belajar. Menghilangkan atau mengurangi rintangan-rintangan ini akan menghasilkan kemampuan belajar yang semakin meningkat setiap waktu, yaitu diantaranya dengan:

  1. Memberikan sugesti (asumsi) positif, karena asumsi negatif cenderung menciptakan pengalaman negatif, begitupun sebaliknya. Contoh sugesti positif diantaranya adalah: setelah menguasai materi ini, kalian akan mampu….., ini akan sangat penting bagi kalian, belajar hal ini sih keciiil! Dan lain sebagainya.
  2. Menciptakan lingkunagan fisik yang positif, karena jika lingkungan fisik mengilhami timbulnya perasaan negatif dan mengingatkan orang (secara sadar atau tidak sadar) pada pengalaman negatif yang tidak manusiawi, pastilah lingkungan itu akan memberi pengaruh negatif pada pembelajaran. Ada banyak cara untuk menciptakan lingkungan fisik yang positif, diantaranya adalah: sebaiknya guru tidak membuat lingkungan belajar yang menyerupai ruang kelas tradisional, melainkan yang memberi kesan gembira, positif dan membangkitkan semangat lingkungan yang dapat menimbulkan asosiasi positif, seperti membagi ruang kelas menurut fungsinya: susunan tempat duduk seperti gedung teater untuk penyampaian materi, meja bundar untuk untuk tugas kelompok. Dan guru dapat menghiasi ruang belajar dengan periferal, yaitu apa saja dalam lingkungan yang dapat menambah warna, keindahan, minat, serta rangsangan, seperti hiasan dinding dan lain sebagainya.
  3. Tujuan yang jelas dan bermakna. Peserta didik memerlukan gambaran yang jelas tentang tujuan suatu pelajaran dan apa yang akan dapat mereka lakukan (atau peroleh) sebagai hasilnya. Guru dapat menjelaskan ini dengan kata-kata, gambar, contoh, demo atau apa saja yang dapat membuat tujuan itu tampak nyata dan konkret bagi peserta didik.
  4. Manfaat bagi peserta didik. Ada garis halus antara tujuan dan manfaat, tetapi tujuan cenderung dikaitkan dengan “apa”, sedangkan manfaat dikaitkan dengan “mengapa”. Peserta didik dapat belajar paling baik jika mereka tahu mengapa mereka belajar dan dapat menghargai bahwa pembelajaran mereka punya relevansi dan nilai bagi diri mereka secara pribadi. Oleh karena itu, penting sekali untuk sejak awal menggunakan manfaat agar peserta didik merasa terkait dengan topik pelajaran itu secara positif.
  5. Sarana persiapan peserta didik sebelum pembelajaran, yang berisi aneka pilihan peralatan untuk membantu mereka agar siap untuk belajar. Sarana persiapan belajar dapat berupa benda yang berkaitan dengan isi pelajaran dan lain sebagainya.
  6. Lingkungan sosial yang positif. Untuk membantu mempersiapkan peserta didik mendapatkan pengalaman belajar yang optimal, ciptakanlah lingkungan kerja sama sejak awal. Kerja sama antar peserta didik menciptakan sinergi manusiawi yang memungkinkan berbagai wawasan, gagasan, dan informasi mengalir bebas. Dan itu dapat meningkatkan pengalaman belajar bagi semua peserta didik.
  7. Keterlibatan penuh peserta didik. Penting sekali peserta didik diajak terlibat sepenuhnya. Belajar bukanlah aktivitas yang hanya bisa ditonton, melainkan sangat membutuhkan peran serta semua pihak. Bagaimanapun juga, belajar bukan hanya menyerap informasi secara pasif, melainkan aktif menciptakan pengetahuan dan ketrampilan.
  8. Rangsangan rasa ingin tahu. Merangsang ingin tahu peserta didik sangat membantu upaya mendorong peserta didik agar terbuka dan siap belajar, membuat mereka kembali hidup dan membuat mereka siap melebihi diri mereka sebelumnya-dan inilah inti pembelajaran yang baik. Guru dapat menggugah rasa ingin tahu peserta didik diantaranya dengan: memberi masalah untuk dipecahkan secara berkelompok, memainkan permainan tanya jawab, menyuruh peserta didik menyusun berbagai pertanyaan atau mengajukan pemasalahan satu sama lain
  • TahapPenyampaian

Tahap penyampaian dalam siklus pembelajaran dimaksudkan untuk mempertemukan peserta didik dengan materi belajar yang mengawali proses belajar secara positif dan menarik. Tahap penyampaian dalam belajar bukan hanya sesuatu yang dilakukan fasilitator, melainkan sesuatu yang secara aktif melibatkan peserta didik dalam menciptakan pengetahuan di setiap langkahnya.

Tujuan tahap penyampaian adalah membantu peserta didik menemukan materi belajar yang baru dengan cara yang menarik, menyenangkan, relevan, melibatkan panca indra, dan cocok untuk semua gaya belajar. Guru dapat melakukan ini dengan: pengamatan terhadap fenomena dunia nyata, presentasi interaktif, berlatih memecahkan masalah, pengalaman belajar konstektual dari dunia nyata dan lain sebagainya.

  • Teknik Pelatihan

Tahap pelatihan (integrasi) merupakan intisari Accelerated Learning (pembelajaran yang dipercepat). Tanpa tahap penting ini, tidak ada pembelajaran. Bagaimanapun, apa yang dipikirkan dan dikatakan serta dilakukan peserta didiklah yang menciptakan pembelajaran, dan bukan apa yang dipikirkan, dikatakan dan dilakukan oleh instruktur. Peranan instruktur adalah mengajak peserta didik berfikir, berkata, dan berbuat-menangani materi belajar yang baru dengan cara yang dapat membantu mereka memadukannya ke dalam struktur pengetahuan, makna dan keterampilan internal yang sudah tertanam dalam diri. Pembelajaran adalah perubahan. Jika tidak ada waktu berubah, berarti tidak ada pembelajaran yang sejati.

Tujuan tahap pelatihan adalah membantu peserta didik mengintegrasikan dan menyerap pengetahuan dan keterampilan baru dengan berbagai cara. Guru dapat melakukan ini dengan: aktivitas memproses peserta didik, memberi umpan balik secara langsung, simulasi dunia nyata, latihan belajar lewat praktik, dialog secara bepasangan dan berkelompok.

  • Teknik Penampilan

Belajar adalah proses mengubah pengalaman menjadi pengetahuan, pengetahuan menjadi pemahaman, pemahaman menjadi kearifan, dan kearifan menjadi tindakan. Penting untuk disadari bahwa tahap ini bukan hanya tambahan, melainkan menyatu dengan seluruh proses belajar.

Tujuan tahap penampilan hasil adalah membantu pelajar menerapkan dan mengembangkan pengetahuan serta keterampilan baru mereka pada pekerjaan sehingga pembelajaran tetap melekat dan prestasi terus meningkat. Dalam istilah pertanian penampilan hasil sama dengan panen.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *