Spesies dan Distribusi Abalon
Abalon dikelompokkan pada kelas gastropoda laut, filum Mollusca, famili Haliotedae dan genus Haliotis. ‘Haliotis’ berarti ‘telinga laut’ – dibayangkan bentuk cangkangnya yang mirip dengan bentuk telinga manusia. Bentuk cangkang yang menyerupai bentuk telinga manusia tersebut dilaporkan oleh Aristottle (347BC) dalam bukunya “Historia Animalum” dimana Aristottle menyebut abalon sebagai “agria lepas” (jenis limpet liar) dan “Thalattion us” (telinga laut) (Olley and Thrower, 1997). Linnaeus dalam bukunya “Systema Naturae, Ed II (1740) menyebutkan bahwa genus “Haliotis” berarti “sea ear” (telinga laut) (Crofts, 1929). Perhitungan (pengumuran) balik dari fosil abalon tersebut telah hidup sekitar 100 juta tahun yang lalu.
Di Indonesia (Gambar 1) dikenal dengan sebutan ‘siput lapar kenyang’. Di Indonesia Timur (Sulawesi, Maluku dan Papua) abalon dikenal dengan nama ‘siput mata tujuh’ karena pada cangkangnya ditemukan lubang respirasi yang berjumlah antara 5-7, atau ‘bia telinga’ karena cangkangnya berbentuk mirip telinga manusia. Di Nusa Tenggara Barat (Lombok dan Sumbawa) abalon dikenal dengan nama ‘siput medau’. Di beberapa negara abalon dikenal dengan nama lokal yang berbeda, misalnya paua (New Zealand), perlemoen (Afrika Selatan), ormer (Inggris), awabi (Jepang), mutton-fish (Australia), silieux (Perancis), jeon-box (Korea), dan orejas de mar (Meksiko).
Secara sistematika abalon tropis diklasifikasikan sebagai berikut :
Kerajaan          :  Animalia
Filum               :  Mollusca
Kelas               :  Gastropoda
Sub-kelas         :  Orthogastropoda
Super-ordo      :  Vetigastropoda
Ordo                :  Archaeogastropoda
Super-famili    :  Haliotoidea
Famili              :  Haliotidae
Genus              :  Haliotis
Spesies            :  Haliotis Asinina
Biota ini ditemukan hampir di semua perairan dunia, hidup pada perairan pantai berbatu, paparan karang dan bersembunyi di celah-celah karang dan lubang batu. Jenis-jenis abalon yang berukuran besar ditemukan hidup di daerah sub tropis, sedang jenis-jenis yang berukuran kecil ditemukan di daerah tropis dan dingin. Di dunia diketahui lebih dari 150 jenis haliotis, namun hanya sekitar 10 % dari semua jenis abalon di dunia yang bernilai ekonomis penting. Di indonesia diketahui ada 7 jenis abalon. Tujuh jenis abalon itu adalah : Haliotis asinina, H.varia, H. Squamata, H. Ovina, H. Glabra, H.planata dan H. Crebrisculpta.
Abalon ditemukan di sepanjang perairan pantai di hampir semua daerah sub tropis dan tropis kecuali daerah amerika selatan dan bagian timur amerika utara, sepanjang pantai bagian timur dan selatan asia, pulau-pulau di samudera pasifik termasuk australia dan new zealand, afrika dan eropa. Abalon ditemukan mulai dari bagian perairan pantai yang dangkal sampai ke perairan laut dalam hingga kedalaman 80-90 m, pada perairan bersuhu dingin (2 derajat celsius) hingga perairan tropis (30 derajat celsius). Pada umumnya abalon di california hidup di perairan dangkal pada kedalaman 0-20 m. Haliotis scalaris di australia bagian selatan dijumpai hidup pada kedalaman 50 m. Beberapa jenis abalon tropis ditemukan pada kedalaman 50-200 m. Abalon  yang ditemukan pada perairan paling dalam (100-400m) adalah abalon florida jenis haliotis pourtalesii.
Semua jenis abalon menyukai perairan dengan kandungan oksigen terlarut tinggi dan kadar garam yang relatif stabil. Sehingga biasanya abalon di alam banyak dijumpai pada perairan pantai dimana ombak laut pecah. Setiap jenis abalon menyukai tipe habitat khusus, berbeda antara spesies yang satu dengan spesies lainnya. Sebagai contoh abalon bibir hijau (H.laevigata) hidup menempati dua tipe habitat. Jenis abalon ini hidup pada perairan dangkal dengan tipe substrat berupa paparan karang. Pada perairan yang tenang, siput ini kadang dijumpai pada habitat berbatu di sekitar area padang lamun. Abalon bibir hijau juga dijumpai di perairan berombak, pada lereng tubir yang tajam berupa batu granit, menempel sepanjang alur-alur atau celah-celah pada lereng tubir pada kedalaman 10-25 m.
Anatomi Abalon
            Bentuk cangkang abalon sangat unik, yaitu satu lembar cangkang yang terbuka lebar dengan sederetan lubang pada tepi sebelah kiri. Lubang-lubang tersebut terus terbentuk sepanjang hidupnya, lubang baru dibentuk sementara lubang yang lama ditutup. Lubang-lubang tersebut oleh abalon digunakan sebagai lubang respirasi, sanitasi dan reproduksi. Jumlah lubang yang terbuka berbeda untuk setiap jenis abalon. Warna lapisan cangkang bagian luar dan bagian dalam juga berbeda untuk setiap jenis abalon. Warna cangkang tidak bisa dipakai sebagai dasar atau patokan untuk membedakan spesies. Cangkang abalon tersusun atas tiga lapisan, lapisan paling luar berupa lapisan tipis bahan organik concholin. Lapisan tengah yang keras tersusun dari kristal kalsium karbonat. Lapisan ketiga yaitu lapisan bagian dalam berupa lapisan mutiara
            Tubuh abalon secara permanen menempel pada pusat cangkangnya menggunakan otot penempel. Abalon menggunakan cangkangnya sebagai perisai pelindung dari serangan predator. Daging abalon sebagai otot gerak atau kaki , menempati sebagian besar rongga di dalam cangkangnya. Kaki abalon berbentuk seperti jamur yang ditaruh terbalik. Dasar otot kaki menempel pada cangkang, sedang bagian terbesar otot kaki mengisi seluruh permukaan cangkang. Otot kaki tersebut sangat kuat dipakai untuk menempel pada substrat dan untuk bergerak dan merayap mencari makan.
            Bila abalon telah menempel kuat pada permukaan substrat maka sulit untuk melepaskannya tanpa melukainya. Bila dipaksa dengan keras cangkangnya akan lepas dari tubuhnya sementara daging atau kakinya tetap menempel kuat pada permukaan substrat. Nelayan menggunakan alat pengait atau pencongkel khusus untuk menangkap abalon tanpa melukainya. Saat abalon pada kondisi rileks cangkangnya akan nampak terangkat dari tubuhnya, demikian juga tubuhnya akan renggang dari permukaan substrat. Pada kondisi tersebut alat pencongkel diselipkan di bawah kaki dan digerakkan dengan kejutan kecil sehingga abalon akan terlepas dari substrat dan terguling untuk kemudian dipungut.
            Pada bagian pinggir tubuh abalon terdapat selaput epipodium, bentuknya bergelambir dan berlipat-lipat dengan banyak sungut-sungut kecil berfungsi sebagai organ sensor. Selaput epipodium dan sungut epipodial akan nampak ketika abalon dalam kondisi rileks dan tidak terganggu. Kepala abalon terletak di bagian depan sebelah kanan, dekat dengan bagian dimana lubang pada cangkang terbentuk. Pada bagian kepala tersebut terdapat mulut, sepasang sungut, sepasang mata dan jaringan parut. Sungut dapat dijulurkan keluar untuk mendeteksi lingkungan. Mata abalon sangat sensitif terhadap cahaya. Abalon menghindari cahaya sehingga pada siang hari abalon akan bersembunyi di dalam lubang atau celah-celah batu dan keluar bergerak pada malam hari. Posisi insang ada tepat di belakang kepala, pada bagian sisi sebelah kiri tubuhnya dimana terdapat lubang-lubang respirasi.
            Organ dalam abalon tersusun melingkar di bawah cangkang. Organ pencernaan, pernafasan, sirkulasi dan reproduksi tersusun melingkari pusat otot atau otot penempel. Lubang anus bermuara tepat di bawah lubang respirasi terbuka pada deretan terakhir. Organ reproduksi terdapat pada bagian kanan berseberangan dengan bagian cangkang yang berlubang. Gonad ini terbungkus dalam selaput berbentuk kantong dan tumbuh membesar dan nampak membengkak pada saat matang gonad dan akan memijah. Gobad betina nampak hijau kebiruan, menghasilkan telur berwarna hijau kebiruan pula. Gonad jantan nampak berwarna krem keputihan. Sperma dan telur keluar dari gonad melalui saluran kecil menuju muara di sekitar ujung anus, kemudian dilepaskan atau disemprotkan di bawah lubang-lubang terbuka pada bagian atas cangkang. Gamet biasanya dikeluarkan melalui lubang respirasi, sedangkan kotoran dilepaskan melalui lubang respirasi paling belakang.
            Organ dalam abalon terbungkus oleh selaput mantel yang tipis tetapi kuat. Selaput tersebut melindungi organ dalam dari lingkungan luar. Selain itu, selaput mantel tersebut mengeluarkan lapisan lendir berupa kalsium karbonat ini terus tersusun, yang lama mengeras dan yang baru melapisi bagian yang mengeras sehingga tumbuh menebal dan membesar sesuai dengan pertumbuhan abalon. Abalon mempunyai darah tetapi tidak berwarna. Kontraksi otot jantung memopa darah dari jantung ke seluruh tubuh dan insang melalui sistem sirkulasi darah yang sederhana. Oksigen diambil dari darah dan karbon dioksida dilepaskan ke darah oleh sel-sel tubuh. Di dalam insang karbondioksida dilepaskan dari darah ke air dan sebaliknya oksigen di air diambil dan diikat oleh darah untuk disirkulasikan ke seluruh sel-sel tubuh. Darah abalon tidak mempunyai sistem pembekuan sehingga apabila terluka abalon secara perlahan akan mati.
Pergerakan dan Makanan Abalon
            Abalon termasuk jenis siput laut herbivora, makanan pokoknya jenis mikro algae bentik termasuk Thalassiosira, Navicula, Cocconeis, Amphora, Platymonas, Melosira, Nitzshia dan beberapa jenis Cyanobacteria. Selain mikro algae, siput dewasa juga memakan jenis-jenis rumput laut lunak seperti laurencia, ulva, hypnea, kappahycus dan gracilaria untuk abalon tropis. Hymenocladia, macrocystis, Ecklonia, Nereocystis, laminaria dan Eisenia untuk abalon sub tropis. Abalon dewasa lebih selektif dalam memilih jenis makanan daripada abalon muda, mereka lebih menyukai algae coklat daripada algae hijau. H. Asinina lebih menyukai algae merah daripada algae coklat. Algae merah (Rhodophyta) mendominasi 72.2% volume makanan yang ada di pencernaan H. Asinina pada berbagai ukuran. Jenis-jenis algae merah tersebut antara lain Laurencia, Hypnea, Amphiroa dan Coelothrix. Hypnea dan Laurencia merupakan pakan yang paling dominan ditemukan di pencernaan H. Asinina.
Juvenil H. Asinina menunjukkan secara nyata aktivitas makan pada malam hari (nocturnal feeding). Periode aktivitas aktif makan terjadi dari jam 18:00 sampai 02:00, dan menurun beberapa jam sebelum matahari terbit. Dalam siklus harian (24 jam), H. Asinina melakukan aktivitas mencari makan sekitar 11 jam. Abalon memakan algae sebanyak 10-30% dari berat tubuhnya per hari (Hahn, 1989). Lanjut aktivitas makan menurun secara drastis selama musim pemijahan (lmai, 1982). Abalon akan memakan makanan dengan nutrisi rendah ketika tidak ada pilihan makanan kesukaannya (Fleming et al, 1996; Setyono, 2003a)
Pergerakan abalon sangat terbatas, jarang berpingah tempat yang jauh dan biasanya mereka menempati area (nice) yang tetap. Juvenil abalon bergerak pada jarak puluhan meter dan pergerakannya semakin menurun sejalan dengan pertumbuhan umur. Abalon dewasa bergerak sangat terbatas dan berkurang pergerakannya sejalan dengan pertambahan ukuran tubuhnya. Pada siang hari abalon bersembunyi pada lubang dan celah bebatuan dan bergerak keluar pada saat gelap untuk mencari makan pada permukaan bebatuan atau memakan algae yang hanyut. Ketika abalon makan, mulut ditekan menempel pada makanan dan radula bergerak menggaruk dan menyobek makanan.
Abalon di alam akan menetap di suatu tempat menunggu makanan hanyut ke lokasi tersebut. Jadi peran pergerakan massa air yang membawa pakan ke habitat abalon sangat penting. Jika pada area dimana abalon tinggal terdapat pakan yang cukup baik algae yang tumbuh pada bebatuan maupun algae yang hanyut, maka abalon akan tumbuh cepat. Sebaliknya jika pakan yang ada di habitat abalon terbatas maka pertumbuhannya akan terhambat. Abalon akan bergerak berpindah tempat ketika makanan sudah sangat jarang didapatkan di lokasi mereka berada.
Variasi perubahan warna pada cangkang abalon diduga ada hubungannya dengan perubahan jenis algae yang dimakan, demikian pula dengan warna dan aroma dagingnya. Oleh karena itu peran pakan alami adalah sangat penting baik untuk kesehatan abalon itu sendiri maupun utamanya berkaitan dengan kualitas cangkang dan daging. Sebagai contoh abalon california (H.rufescens) yang diberi pakan tambahan algae coklat palmaria palmata dan alaria esculenta 10-20% mempunyai laju pertumbuhan yang lebih besar, warna cangkangnya lebih baik dan lebih sehat.
Umur dan Pertumbuhan Abalon
            Abalon subtropis tumbuh dengan cepat mencapai ukuran 40 mm dalam tahun pertama. Pada tahun kedua abalon tersebut mencapai ukuran 60 m, dan pada tahun ketiga sudah mulai memijah dengan ukuran 70 mm. Di Perairan British Colombia, ditemmukan bahwa haliotis kamtschatkana mencapai ukuran sekitar 50 mm pada umur 3 tahun, matang gonad pada umur 4 tahun dan tumbuh mencapai ukuran layak tangkap (100 mm) dalam waktu 6-10 tahun. Dari hasil pengamatan abalon di Australia bagian selatan, nilai rata-rata laju pertumbuhan haliotis laevigata adalah 1,69 mm per bulan. Laju pertumbuhan bersifat linear pada 5 tahun pertama dan kemudian menurun sejalan dengan pertambahan panjang tubuhnya. Nilai rata-rata laju pertumbuhan pada umur satu tahun adalah 1,6 mm per bulan, dan pada umur 3 tahun adalah 2,1 mm per bulan. Di daerah yang sama menemukan bahwa juvenil H.laevigata tumbuh dengan kecepatan 0,9 mm per minggu, dan mencapai ukuran 4 mm pada tahun pertama di peairan west island tetapi dapat mencapai 50 mm pada tahun pertama di perairan teluk waterloo.
            Sementara itu untuk jenis abalon tropis melaporkan bahwa H.asinina tumbuh mencapai ukuran layak tebar (10 mm) dalam waktu sekitar 3 – bulan, mencapai matang gonad pada ukuran 40-50 mm dan diduga mencapai ukuran layak panen (50-60 mm) dalam waktu kurang dari 2 tahun. Haliotis asinina di perairan tropis heron reef, australia bagian timur tumbuh dari ukuran 2 mm ke 3,5 mm dalam waktu 6 bulan, dan dari 2,5 – 5,5 mm dalam waktu 1 tahun. Haliotis asinina dapat tumbuh mencapai ukuran layak jual (cocktail abalon 50 – 60 mm) dalam waktu 12-18 bulan.
Haliotis asinina adalah jenis abalon tropis yang tumbuh paling cepat dengan laju pertumbuhan lebih dari 40 mm/tahun. Meskipun spesies ini tidak tumbuh sebesar abalon sub-tropis, tetapi spesies ini mendapat harga yang bagus di pasar internasional. Haliotis asinina mempunyai ukuran cangkang yang lebih kecil dibandingkan dengan abalon sub-tropis, tetapi ukuran dagingnya dapat mencapai 6-7 kali ukuran cangkangnya. Haliotis asinina dengan ukuran panjang cangkang 10 cm dengan berat total 190 gr mengandung daging 85% atau sekitar 161,5 gr. Laju pertumbuhan (growt rate) abalon sangat bervariasi, tergantung kondisi lingkungan, termasuk kuantitas dan kualitas makanan (makro-algae) yang tersedia, dan frekuensi terjadinya frekuensi kondisi lingkungan yang jelek (badai). Secara umum laju pertumbuhan abalon adalah sekitar 2-3 cm/tahun.
Abalon akan tumbuh cepat jika berpindah dari lingkungan yang jelek dan kurang makanan ke lingkungan yang baik dengan makanan yang berlimpah. Pertambahan berat tubuh abalon berhubungan positif dengan tingkat kandungan protein makanan yang dimakan. Laju pertumbuhan abalon dipengaruhi oleh tiga faktor utama, yaitu temperatur air, makanan (kuantitas dan kualitas), dan aktivitas pemijahan atau perkawinan (spawning). Setelah matang gonad, laju pertumbuhan abalon akan berkurang karena sebagian energi metabolismenya digunakan untuk perkembangan gonad atau proses pembentukan dan pertumbuhan sperma dan telur.
Tidak seperti pada pohon berumur panjang atau pada ikan, penentuan umur pada abalon tidak bisa dilakukan dengan menghitung jumlah ring / lingkaran pertumbuhan (growth rings). Meskipun abalon mempunyai siklus pertumbuhan musiman akibat pengaruh proses reproduksi (musim pemijahan), tetapi pembentukan formasi ring pertumbuhan tidak konsisten.
Untuk menentukan laju pertumbuhan di alam cara yang paling tepat adalah dengan sistem penandaan (tagging) dan mengukur siput yang bertagging pada interval waktu yang ditentukan. Pada tabel berikut memberikan gambaran tentang perbedaan pertumbuhan abalon tropis dengan abalon sub-tropis.
Tabel 1. Pertumbuhan beberapa jenis abalon sub-tropis dan abalon tropis
Nama Ilmiah
Nama Umum
Negara
Zona Suhu
Ukuran pada umur 10 bulan(cm)
Umur mencapai ukuran layak jual (bulan)
H. Rufescens
Red abalon
Amerika
Dingin
2
36-42
H. Fulgens
Green abalon
Meksiko
Dingin
2
36-42
H. Discus
Ezo awabi
Jepang
Dingin
2
30-36
hannai
H. Rubra
Blacklip
Australia
Hangat
3,2
24-48
abalon
H. Diversicolar
Small abalon
Taiwan
Tropis
3,2
Des-18
H. Asinina
Donkey’s
Thailand
Tropis
5-6,5
09-Okt
abalon
Daftar Pustaka

Setyono. 2009, Abalon Biologi dan Reproduksi. LIPI